DUA

Di ruang meeting, kursi-kursi masih berantakan, sisa gelas kopi dan berkas proposal berserakan di meja. Para klien sudah meninggalkan ruangan dengan senyum puas. Lukas berdiri sambil melepas jasnya, menyampirkannya di bahu, lalu menatap Sean Affansyah-asisten sekaligus sahabatnya.

"Kerja bagus, Sean. Kalau kamu nggak cepat kasih solusi soal pengiriman itu, mungkin kontrak kita udah gagal," ucap Lukas sambil menepuk bahu pria itu.

Sean tersenyum lebar. "Ya, Bos. Tapi tetap aja, ide dasarnya dari Bos. Saya cuma bantu nyusun kata-kata biar nggak kaku di telinga orang Jepang."

Lukas tertawa kecil, lalu berjalan keluar ruangan. Di belakangnya, Ririn Tamara, sang sekretaris, membawa map tebal berisi dokumen hasil meeting. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Tatapan itu-hangat, penuh kekaguman, sekaligus... sesuatu yang lebih dalam dari sekadar profesionalitas.

"Pak Lukas," ucap Ririn pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang kerja utama. "Tadi waktu Bapak jelaskan soal sistem distribusi itu... keren banget. Kliennya sampai terdiam semua."

Lukas menoleh sebentar, menatapnya sekilas. "Itu hasil kerja tim, Rin. Jangan terlalu memuji saya!"

"Tapi tetap aja, Bapak itu punya aura yang bikin orang yakin sama keputusan Bapak," kata Ririn lagi, senyum tipis muncul di bibirnya.

Sean yang berjalan di belakang mereka menahan tawa kecil. Ia sudah tahu betul kalau Ririn memang menyimpan rasa pada bosnya sejak lama. Tapi ia juga tahu, Lukas terlalu fokus pada pekerjaan dan istrinya, Adelia, untuk menyadari hal-hal seperti itu.

Begitu sampai di depan pintu ruang kerjanya, Lukas menghela napas panjang. "Oke, saya mau istirahat sebentar. Kamu siapkan laporan tambahan buat rapat internal jam dua nanti, ya, Sean. Ririn, tolong pastikan semua dokumen sudah diarsip dengan benar!"

"Siap, Pak!" jawab keduanya hampir bersamaan.

Namun, sebelum Lukas sempat membuka pintu ruangannya, langkahnya terhenti. Matanya menyipit.

Di depan pintu kaca itu, berdiri seorang wanita dengan gaun merah marun, potongan body fit yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Rambut panjang bergelombang jatuh indah ke bahu. Bibirnya dilapisi lipstik merah menyala, sama seperti dulu-gaya yang selalu membuat kepala para pria menoleh dua kali.

Wanita itu tersenyum menggoda. "Hai, Luk!"

Lukas membeku sejenak. "Intan?"

Intan Vadella.

Nama itu saja sudah cukup membuat satu bagian dari masa lalu Lukas bergetar. Mantan kekasihnya. Wanita yang dulu sempat menjadi bagian besar dari hidupnya, sebelum ia bertemu Adelia.

Sean dan Ririn saling berpandangan. Ririn menunduk, jelas merasa tak nyaman, sementara Sean diam-diam berusaha menahan ekspresi kagetnya.

Intan melangkah maju, suara hak sepatunya berdetak lembut di lantai marmer. "Udah lama ya kita gak ketemu, Luk. Aku kangen lihat kamu pakai jas kerja kayak gini. Masih segagah dulu."

Lukas tidak membalas senyumnya. Ia hanya menatap datar. "Ada urusan apa kamu ke sini, Intan? Setahu saya, kamu udah nggak ada hubungan lagi sama Vander Group."

Intan tersenyum, matanya berkilat. "Langsung to the point, ya. Nggak ada sapaan ramah dulu buat mantan kekasih kamu yang cantik ini nih?"

Lukas membuka pintu ruangannya, melangkah masuk, lalu menoleh ke arah Sean dan Ririn. "Tolong, jangan biarkan siapa pun masuk dulu!"

Ririn sempat ingin berkata sesuatu, tapi menahan diri. Intan menatapnya sekilas, matanya tajam-seolah ingin menegaskan siapa yang sebenarnya punya pengaruh pada Lukas dulu.

Pintu tertutup, meninggalkan keduanya berdua di dalam ruangan.

Lukas berjalan ke arah mejanya, menaruh jas, lalu bersandar di tepi meja kerja. "Aku tanya lagi, kamu ke sini mau apa?"

Intan melangkah mendekat. "Tenang aja, aku nggak bawa masalah kok. Aku cuma... kangen ngobrol sama kamu."

"Kangen ngobrol?" Lukas menatapnya datar. "Setelah

semua yang kamu lakukan waktu itu?"

Intan tertawa kecil. "Kamu masih dendam ya?

Padahal, dulu aku cuma... memilih realita. Kamu terlalu sibuk waktu itu, Luk. Dan aku butuh seseorang yang hadir, bukan cuma lewat telepon."

"Dan kamu milih ninggalin aku tanpa penjelasan," balas Lukas tajam.

Intan mendesah pelan. "Ya, dan kamu malah nikah cepat banget. Cuma butuh beberapa bulan buat gantiin aku sama perempuan lain. Cantik sih, istrimu. Aku lihat fotonya di media. Tapi jujur aja, dia nggak seanggun aku, kan?"

Lukas menatap tajam, rahangnya mengeras. "Jaga omongan kamu, Intan!"

Intan tersenyum, langkahnya makin dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa jengkal. "Kenapa? Kamu takut aku ganggu rumah tanggamu? Aku cuma pengin ngobrol kok, nggak lebih."

"Tapi, kamu datang dengan pakaian kayak gitu ke kantor aku, nyatain 'kangen', dan nyindir istri aku. Itu bukan ngobrol, Intan!" kata Lukas, nadanya dingin. "Itu provokasi!"

Tatapan Intan sedikit berubah. Ia tersenyum samar, tapi matanya menyimpan rasa sakit yang tak ia tunjukkan. "Kamu selalu keras, Luk. Tapi, justru itu yang bikin aku nggak pernah bisa bener-bener lupa sama kamu."

Lukas diam. Ia tahu Intan sedang bermain emosi. Ia tahu perempuan itu berbahaya-bukan karena apa yang bisa ia lakukan, tapi karena ia tahu betul bagaimana cara menggoyahkan ketenangan Lukas.

Namun kali ini, Lukas bukan pria yang sama seperti dulu. Ia sudah beristri, sudah punya komitmen yang tak bisa diusik siapa pun.

"Kamu sudah dapat waktu kamu dulu, Intan," katanya datar. "Sekarang aku cuma minta kamu pergi!"

Intan tersenyum pahit, lalu mendekat satu langkah lagi. "Kalau suatu hari kamu sadar kalau dia nggak sekuat kelihatannya... kamu tahu ke mana harus datang."

Ia menatap Lukas sekali lagi-tajam, dalam, penuh maksud-lalu berbalik menuju pintu. Saat membukanya, pandangan mata Ririn yang menunduk membuatnya tersenyum sinis.

"Cantik juga sekretarismu, Luk. Selera kamu emang nggak berubah," katanya dengan nada setengah menggoda, setengah menohok.

Lukas tak menanggapi. Ia hanya berdiri diam di balik meja, menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh.

Begitu pintu tertutup kembali, Lukas menghela napas berat. Ia tahu, kedatangan Intan bukan kebetulan.

Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan... masa lalunya baru saja membuka pintu menuju masalah baru.

Episodes
1 SATU
2 DUA
3 TIGA
4 EMPAT
5 LIMA
6 ENAM
7 TUJUH
8 DELAPAN
9 SEMBILAN
10 SEPULUH
11 SEBELAS
12 DUA BELAS
13 TIGA BELAS
14 EMPAT BELAS
15 LIMA BELAS
16 ENAM BELAS
17 TUJUH BELAS
18 DELAPAN BELAS
19 SEMBILAN BELAS
20 DUA PULUH
21 DUA PULUH SATU
22 DUA PULUH DUA
23 DUA PULUH TIGA
24 DUA PULUH EMPAT
25 DUA PULUH LIMA
26 DUA PULUH ENAM
27 DUA PULUH TUJUH
28 DUA PULUH DELAPAN
29 DUA PULUH SEMBILAN
30 TIGA PULUH
31 TIGA PULUH SATU
32 TIGA PULUH DUA
33 TIGA PULUH TIGA
34 TIGA PULUH EMPAT
35 TIGA PULUH LIMA
36 TIGA PULUH ENAM
37 TIGA PULUH TUJUH
38 TIGA PULUH DELAPAN
39 TIGA PULUH SEMBILAN
40 EMPAT PULUH
41 EMPAT PULUH SATU
42 EMPAT PULUH DUA
43 EMPAT PULUH TIGA
44 EMPAT PULUH EMPAT
45 EMPAT PULUH LIMA
46 EMPAT PULUH ENAM
47 EMPAT PULUH TUJUH
48 EMPAT PULUH DELAPAN
49 EMPAT PULUH SEMBILAN
50 AWAS ADA ADEGAN KIKUK
51 LIMA PULUH SATU
52 LIMA PULUH DUA
53 LIMA PULUH TIGA
54 LIMA PULUH EMPAT
55 LIMA PULUH LIMA
56 LIMA PULUH ENAM
57 LIMA PULUH TUJUH
58 LIMA PULUH DELAPAN
59 LIMA PULUH SEMBILAN
60 ENAM PULUH
61 ENAM PULUH SATU
62 ADA ADEGAN PANAZZZ
63 ENAM PULUH TIGA
64 ENAM PULUH EMPAT
65 ADEGAN LEBIH PANAS
66 TERJADINYA IKATAN KELAM*N
67 ENAM PULUH TUJUH
68 ENAM PULUH DELAPAN
69 ENAM PULUH SEMBILAN
70 TUJUH PULUH
71 TUJUH PULUH SATU
72 TUJUH PULUH DUA
73 AWAS KEMBALI ADEGAN PANAS
74 TUJUH PULUH EMPAT
75 TUJUH PULUH LIMA
76 TUJUH PULUH ENAM
77 TUJUH PULUH TUJUH
78 TUJUH PULUH DELAPAN
79 TUJUH PULUH SEMBILAN
80 DELAPAN PULUH
81 DELAPAN PULUH SATU
82 DELAPAN PULUH DUA
83 DELAPAN PULUH TIGA
84 DELAPAN PULUH EMPAT
85 DELAPAN PULUH LIMA
86 DELAPAN PULUH ENAM
87 DELAPAN PULUH TUJUH
88 DELAPAN PULUH DELAPAN
89 DELAPAN PULUH SEMBILAN
90 SEMBILAN PULUH
91 SEMBILAN PULUH SATU
92 SEMBILAN PULUH DUA
93 SEMBILAN PULUH TIGA
94 SEMBILAN PULUH EMPAT
95 SEMBILAN PULUH LIMA
96 SEMBILAN PULUH ENAM
97 SEMBILAN PULUH TUJUH
98 SEMBILAN PULUH DELAPAN
99 SEMBILAN PULUH SEMBILAN
100 SERATUS
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
128 128
129 129
130 130
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 147
148 148
149 149
150 150
151 151
152 152
153 153
154 154
155 155
156 156
157 157
158 158
159 159
160 160
161 161
162 162
163 163
164 164
165 165
166 166
167 167
168 168
169 169
170 170
171 171
172 172
173 173
174 174
175 175
176 176
177 177
178 178
179 179
180 180
181 181
182 182
183 183
184 184
185 185
186 186
187 187
188 188
189 189
190 190
191 191
192 192
193 193
194 194
195 195
196 186
197 187
198 188
199 189
200 190
201 191
202 192
203 193
204 194
205 195
206 196
207 197
208 198
209 199
210 200
211 211
212 212
213 213
214 214
215 215
216 216
217 217
218 218
219 219
220 220
221 221
222 222
223 223
Episodes

Updated 223 Episodes

1
SATU
2
DUA
3
TIGA
4
EMPAT
5
LIMA
6
ENAM
7
TUJUH
8
DELAPAN
9
SEMBILAN
10
SEPULUH
11
SEBELAS
12
DUA BELAS
13
TIGA BELAS
14
EMPAT BELAS
15
LIMA BELAS
16
ENAM BELAS
17
TUJUH BELAS
18
DELAPAN BELAS
19
SEMBILAN BELAS
20
DUA PULUH
21
DUA PULUH SATU
22
DUA PULUH DUA
23
DUA PULUH TIGA
24
DUA PULUH EMPAT
25
DUA PULUH LIMA
26
DUA PULUH ENAM
27
DUA PULUH TUJUH
28
DUA PULUH DELAPAN
29
DUA PULUH SEMBILAN
30
TIGA PULUH
31
TIGA PULUH SATU
32
TIGA PULUH DUA
33
TIGA PULUH TIGA
34
TIGA PULUH EMPAT
35
TIGA PULUH LIMA
36
TIGA PULUH ENAM
37
TIGA PULUH TUJUH
38
TIGA PULUH DELAPAN
39
TIGA PULUH SEMBILAN
40
EMPAT PULUH
41
EMPAT PULUH SATU
42
EMPAT PULUH DUA
43
EMPAT PULUH TIGA
44
EMPAT PULUH EMPAT
45
EMPAT PULUH LIMA
46
EMPAT PULUH ENAM
47
EMPAT PULUH TUJUH
48
EMPAT PULUH DELAPAN
49
EMPAT PULUH SEMBILAN
50
AWAS ADA ADEGAN KIKUK
51
LIMA PULUH SATU
52
LIMA PULUH DUA
53
LIMA PULUH TIGA
54
LIMA PULUH EMPAT
55
LIMA PULUH LIMA
56
LIMA PULUH ENAM
57
LIMA PULUH TUJUH
58
LIMA PULUH DELAPAN
59
LIMA PULUH SEMBILAN
60
ENAM PULUH
61
ENAM PULUH SATU
62
ADA ADEGAN PANAZZZ
63
ENAM PULUH TIGA
64
ENAM PULUH EMPAT
65
ADEGAN LEBIH PANAS
66
TERJADINYA IKATAN KELAM*N
67
ENAM PULUH TUJUH
68
ENAM PULUH DELAPAN
69
ENAM PULUH SEMBILAN
70
TUJUH PULUH
71
TUJUH PULUH SATU
72
TUJUH PULUH DUA
73
AWAS KEMBALI ADEGAN PANAS
74
TUJUH PULUH EMPAT
75
TUJUH PULUH LIMA
76
TUJUH PULUH ENAM
77
TUJUH PULUH TUJUH
78
TUJUH PULUH DELAPAN
79
TUJUH PULUH SEMBILAN
80
DELAPAN PULUH
81
DELAPAN PULUH SATU
82
DELAPAN PULUH DUA
83
DELAPAN PULUH TIGA
84
DELAPAN PULUH EMPAT
85
DELAPAN PULUH LIMA
86
DELAPAN PULUH ENAM
87
DELAPAN PULUH TUJUH
88
DELAPAN PULUH DELAPAN
89
DELAPAN PULUH SEMBILAN
90
SEMBILAN PULUH
91
SEMBILAN PULUH SATU
92
SEMBILAN PULUH DUA
93
SEMBILAN PULUH TIGA
94
SEMBILAN PULUH EMPAT
95
SEMBILAN PULUH LIMA
96
SEMBILAN PULUH ENAM
97
SEMBILAN PULUH TUJUH
98
SEMBILAN PULUH DELAPAN
99
SEMBILAN PULUH SEMBILAN
100
SERATUS
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127
128
128
129
129
130
130
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
156
157
157
158
158
159
159
160
160
161
161
162
162
163
163
164
164
165
165
166
166
167
167
168
168
169
169
170
170
171
171
172
172
173
173
174
174
175
175
176
176
177
177
178
178
179
179
180
180
181
181
182
182
183
183
184
184
185
185
186
186
187
187
188
188
189
189
190
190
191
191
192
192
193
193
194
194
195
195
196
186
197
187
198
188
199
189
200
190
201
191
202
192
203
193
204
194
205
195
206
196
207
197
208
198
209
199
210
200
211
211
212
212
213
213
214
214
215
215
216
216
217
217
218
218
219
219
220
220
221
221
222
222
223
223

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!