Lorong rumah sakit itu tampak lengang menjelang sore. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya terang yang membuat setiap sudut terlihat bersih dan dingin. Aroma antiseptik bercampur udara AC memenuhi udara, menciptakan suasana steril yang kerap membuat orang merasa sesak tanpa alasan jelas.
Di tengah keheningan itu, langkah sepatu pantofel terdengar teratur.
Tok. Tok. Tok.
Seorang pria berjas putih berjalan menyusuri lorong dengan langkah tenang. Jas dokternya terpasang rapi di tubuh tinggi tegapnya, sementara name tag bertuliskan dr. Gema Dirgantara, Sp.OG tersemat di dada sebelah kiri. Wajahnya terlihat teduh dengan sorot mata hangat yang membuat siapa pun merasa nyaman hanya dengan melihatnya.
Beberapa perawat yang berpapasan spontan berhenti sejenak dan menundukkan kepala hormat.
“Dok.”
“Selamat sore, Dok Gema.”
Pria itu membalas setiap sapaan dengan senyum ramah. Tidak berlebihan, tetapi tulus. Sikapnya yang rendah hati membuat banyak orang di rumah sakit itu segan sekaligus menyukainya. Meski dikenal sebagai salah satu dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit tersebut, Gema tidak pernah bersikap arogan.
Ia bahkan hafal nama sebagian besar perawat dan cleaning service di lantai itu. Sesekali ia juga tak segan membantu mendorong brankar pasien jika keadaan sedang sibuk. Hal kecil yang membuat namanya dihormati bukan hanya karena kemampuan, tetapi juga karena sikapnya.
“Dokter Gema Dirgantara.”
Suara seorang pria membuat langkah Gema terhenti. Ia menoleh dan mendapati seorang dokter lain berjalan mendekat sambil membawa map pasien di tangan.
“Ah, iya. Ada apa, Dokter Fajar?” tanyanya ramah.
Dokter Fajar mengusap tengkuknya pelan, raut wajahnya terlihat sedikit canggung. “Ini, Dok. Saya hari ini mulai cuti satu minggu. Anak saya harus dibawa berobat ke Malaka.”
Nada bicaranya terdengar lelah. Ada gurat kekhawatiran yang jelas terlihat di wajah pria itu, seolah pikirannya sudah lebih dulu pergi memikirkan kondisi sang anak.
Gema memperhatikan lawan bicaranya beberapa detik. Ia tahu Fajar bukan tipe orang yang mudah meminta bantuan, apalagi meninggalkan jadwal operasi. Kalau sampai mengajukan cuti mendadak seperti ini, berarti situasinya memang tidak sederhana.
“Lusa ada operasi sesar pasien saya,” lanjut Fajar hati-hati. “Apa dokter bisa menggantikan saya?”
Lorong kembali hening beberapa saat.
Gema menatap map di tangan Fajar sebelum akhirnya menghela napas pendek. Jadwalnya sebenarnya sudah padat. Dalam dua hari ke depan ia bahkan hampir tidak punya waktu istirahat. Namun melihat raut wajah Fajar yang penuh kecemasan sebagai seorang ayah, sulit baginya untuk menolak.
“Pasien atas nama siapa?” tanyanya tenang.
Wajah Fajar sedikit berubah lega. Ia buru-buru membuka map. “Nyonya Prameswari, Dok. Kondisinya cukup stabil, tapi harus sesar karena posisi bayinya melintang.”
Gema menerima map itu dan membaca cepat isi pemeriksaan di dalamnya. Kebiasaannya selalu teliti bahkan pada hal-hal kecil membuat banyak pasien merasa aman berada di tangannya.
“Oke,” jawabnya akhirnya sambil menutup map. “Saya ambil alih operasinya.”
Raut tegang di wajah Fajar langsung mencair. “Serius, Dok? Terima kasih banyak. Saya benar-benar bingung cari pengganti.”
Gema tersenyum kecil. “Fokus saja sama kesehatan anak dokter. Rumah sakit masih bisa diurus bersama.”
Kalimat sederhana itu sukses membuat Fajar terdiam sesaat. Di dunia kerja yang penuh persaingan dan ego jabatan, sosok seperti Gema terasa langka. Tidak heran banyak dokter muda menjadikannya panutan.
“Semoga anak dokter cepat sembuh,” lanjut Gema tulus.
Fajar mengangguk pelan. “Aamiin. Terima kasih, Dok.”
Setelah percakapan itu selesai, Gema kembali melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Namun kali ini tatapannya sedikit menerawang. Entah kenapa, setiap melihat seorang ayah berjuang demi anaknya, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa ikut terusik.
Sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan di balik kesibukan dan senyum ramahnya.
Jakarta menjadi tempat di mana dr. Gema Dirgantara membangun namanya sebagai salah satu dokter obgyn paling diperhitungkan. Di usianya yang masih terbilang muda untuk seorang spesialis senior, Gema sudah dikenal luas karena kemampuannya menangani berbagai kasus kehamilan berisiko tinggi dan operasi persalinan yang rumit.
Ia bekerja di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota—rumah sakit yang tidak pernah benar-benar tidur. Siang maupun malam, lorong-lorongnya selalu dipenuhi suara langkah tenaga medis, bunyi monitor pasien, dan keluarga yang datang membawa harapan.
Di kalangan tenaga medis, Gema punya reputasi nyaris sempurna. Tangan operasinya terkenal stabil. Cara berpikirnya cepat. Keputusannya jarang meleset dalam kondisi darurat. Tidak sedikit pasien rujukan dari luar kota sengaja datang ke Jakarta hanya untuk ditangani olehnya.
Di depan ruang perawatan bayi, langkah Gema akhirnya terhenti.
Pria itu berdiri diam di balik dinding kaca transparan tempat deretan bayi mungil terbaring dalam boks masing-masing. Sebagian tertidur pulas, sebagian lagi bergerak kecil sambil sesekali menangis lirih. Lampu ruangan yang temaram memantulkan bayangan wajah Gema di kaca.
Tangannya masuk ke saku jas dokter, sementara napasnya terembus pelan.
Dadanya terasa sesak.
Padahal setiap hari ia melihat pemandangan seperti ini. Bayi-bayi lahir dengan selamat. Tangis pertama yang selalu berhasil membuat keluarga pasien menangis haru. Sebagai dokter obgyn, momen kelahiran seharusnya menjadi hal yang paling membahagiakan baginya.
Namun tidak malam ini.
Sorot mata Gema perlahan meredup saat ingatannya kembali menyeretnya pada masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Perceraiannya dengan Hana.
Berita itu dulu sempat mengejutkan banyak orang. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada perselingkuhan. Rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja dari luar. Bahkan kedua orang tua Gema, Risma dan Yudhis, nyaris tidak percaya saat mendengar Hana meminta berpisah.
Semuanya hanya karena satu alasan.
Anak.
Lima tahun lalu—
“Saya mau cerai, Mas.”
Kalimat itu masih teringat jelas di kepala Gema sampai sekarang.
Malam itu Hana duduk di tepi ranjang sambil menggenggam jemarinya sendiri. Wanita yang dinikahinya atas dasar cinta itu bahkan tidak berani menatap matanya secara langsung.
Gema yang saat itu baru pulang kerja sempat mengira istrinya hanya sedang lelah.
“Sayang, kita nggak ada masalah apa pun selama ini. Kenapa kamu minta cerai?”
Hana tertawa kecil, tetapi matanya terlihat basah.
“Masalahnya satu. Aku belum hamil.”
Suasana kamar langsung terasa pengap.
“Aku malu, Mas. Adikku sudah punya dua anak. Tiap kumpul keluarga aku selalu disindir.”
Gema mendekat perlahan. “Tapi keluarga aku nggak pernah memperlakukan kamu seperti itu. Mama sama Papa bahkan sayang banget sama kamu.”
“Itu keluarga Mas,” ucap Hana lirih. “Tapi bukan keluargaku. Buat mereka pernikahan kita gagal.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam tepat di dada Gema.
“Kamu ingat kan dokter bilang kita berdua sehat?” Gema mencoba tetap tenang. “Nggak ada masalah apa pun. Tinggal nunggu waktu saja, Hana.”
Namun Hana menggeleng pelan.
“Aku capek menunggu.”
Hening.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Gema merasa tidak mampu memperbaiki keadaan.
Sebagai dokter, ia terbiasa menyelamatkan banyak orang di meja operasi. Terbiasa mencari solusi dari kondisi paling kritis sekalipun. Tetapi malam itu, ia bahkan tidak mampu mempertahankan rumah tangganya sendiri.
“Aku nggak mau terus jadi bahan omongan keluarga,” lanjut Hana dengan suara bergetar. “Dan… aku nggak mau hidup dengan kemungkinan kalau Mas memang mandul.”
Kalimat terakhir itu membuat Gema membeku.
Ia masih ingat jelas bagaimana dadanya terasa diremas saat mendengar kata itu keluar dari mulut wanita yang paling dicintainya.
Mandul.
Padahal hasil pemeriksaan mereka selama bertahun-tahun menunjukkan tidak ada masalah kesehatan apa pun.
Tetapi bagi sebagian orang, hasil medis tidak sepenting omongan keluarga.
Di depan kaca ruang bayi, Gema memejamkan mata sesaat.
Lima tahun berlalu, tetapi luka itu ternyata belum benar-benar hilang.
Ironis sekali.
Setiap hari tangannya membantu bayi lahir ke dunia.
Namun hingga rumah tangganya hancur, ia bahkan belum pernah mendapat kesempatan mendengar seseorang memanggilnya Ayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Rain Aricia
Sindir balek aja lagi mereka. Lagian kenapa harus dengarkan hujatan orang?
2026-08-10
0
Rhica_Yubie
baca nama gema jadinya gama, eh malah ke inget gamma1🤭
2026-08-13
0
Addb_Rh
padahal rezeky anak pun Tuhan yang atur kasih, kenapa manusia ikut campur bgt si😩
paling gk suka sama orang yg pd julid gt, bikin mental down, bahkan bikin sebuah rumah tangga hancur ya gara-gara omongan manusia itu. 🥲
2026-05-19
0