Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan
Pagi itu, rumah mertua Sarah mulai ramai oleh aktivitas. Udara dingin belum benar-benar menguap, tapi Sarah sudah rapi. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya polos tanpa rias, dan langkahnya pelan menyusuri kamar yang semalam ditempati bersama suaminya.
Sarah menata kembali pakaian yang tadi pagi berserakan. Kemeja kerja, dasi, dan kaus kaki suaminya nyaris menguasai ranjang. Semua ditinggal terburu-buru saat lelaki itu mencari-cari perlengkapan kerja. Leonardo, atau biasa dipanggil Leo, adalah salah satu staf di perusahaan terbesar di Jakarta. Kini ia memegang posisi penting hasil kerja keras bertahun-tahun.
Sementara Sarah, setelah menikah, harus menelan pahit keinginannya untuk menyelesaikan sekolahnya di bidang perhotelan. karena sewaktu SMA dia mengambil SMK bidang pariwisata.
Matanya sempat menatap lemarinya yang kini lebih banyak terisi pakaian formal milik suaminya. Ia menarik napas pelan, menepuk-nepuk lembut perut yang perlahan mulai membesar. Kehamilan ini begitu berarti baginya. Setelah satu tahun penuh penantian dan kehilangan, ya, ia pernah kehilangan jabang bayi yang pertama, Sarah tak ingin kesempatan ini berlalu begitu saja tanpa makna.
Tapi pagi ini, harapan kecilnya kembali digerus oleh kenyataan.
"Mas, hari ini kita ada jadwal USG," ucap Sarah lembut, berdiri di ambang pintu sambil memegang tas kecilnya.
Suaminya, Leo, yang sedang merapikan dasinya di depan cermin, menjawab tanpa menoleh, "Tapi aku kerja, Sarah. Kamu kan bisa pergi sendirian. Jangan manja."
Kata-kata itu seperti kabut dingin yang tiba-tiba menembus jantungnya. Sarah terdiam. Lidahnya kelu sejenak.
"Sesekali, Mas. Anak ini sudah kita tunggu satu tahun lamanya," katanya dengan suara lirih, nyaris seperti bisikan.
Leo mendesah. Ia menoleh, menatap Sarah sekilas, lalu berkata, "Baiklah. Kamu siap-siap. Aku tunggu di mobil."
Sarah tak langsung bergerak. Ia menunduk, mengelus perutnya pelan. Sekalipun akhirnya ditemani, hatinya tahu ia tetap sendiri.
Sarah menuruni anak tangga dengan hati-hati, satu tangannya menenteng tas, yang satu lagi tetap bertengger di atas perutnya. Di ruang tamu, ibu mertuanya tengah duduk di kursi rotan, memandangi layar televisi tanpa benar-benar menonton.
"Ibu, Sarah pamit dulu ya. Jadwal kontrol hari ini," ucap Sarah sopan, sedikit membungkuk.
Ibu mertua Sarah menoleh sekilas, bibirnya melengkung tipis tapi bukan senyum hangat yang Sarah harapkan. Tatapannya cepat menurun ke arah perut Sarah, lalu kalimat itu keluar begitu saja, tajam dan menghujam tanpa jeda.
"Ingat, harus laki-laki. Jangan seperti dulu, dapat anak perempuan. Buktinya malah cepat dipanggil Tuhan, kan? Tandanya semesta tak merestui anak kalian."
Deg.
Waktu seakan berhenti. Suara televisi menghilang, suara burung pun mendadak senyap di telinga Sarah. Hanya kalimat itu yang bergema, mengiris pelan-pelan ke dalam luka lama yang belum sembuh.
Sarah membeku. Sekuat mungkin ia menahan air mata yang mendesak keluar. Ia menggigit bibir bawahnya, menunduk lebih dalam.
"Permisi, Bu," gumamnya pelan, lalu segera berjalan cepat ke luar rumah, seakan jika ia tak segera pergi, hatinya akan runtuh di ambang pintu.
Di luar, angin pagi menyambutnya. Leo sudah duduk di balik kemudi, memainkan ponselnya sambil menunggu. Tapi Sarah merasa lebih sendiri dari sebelumnya.
Ia membuka pintu mobil dan masuk tanpa berkata apa-apa. Sambil mengusap perutnya yang membuncit, ia berbisik dalam hati,
"Nak, entah kamu laki-laki atau perempuan, Mama akan tetap mencintaimu. Tanpa syarat, tanpa harapan palsu dari siapa pun."
Mobil berhenti mulus di depan gerbang rumah sakit. Langit mendung menggantung, seakan meniru suasana hati Sarah yang makin berat. Ia baru saja ingin membuka pintu ketika suara ponsel Leo berdering nyaring.
Leo melirik sekilas layar ponsel, lalu mengangkatnya.
"Iya, Pak. Saya masih di jalan. Oh, begitu? Baik, saya segera ke kantor sekarang."
Sarah menoleh, menanti kalimat berikutnya. Harapannya sederhana: suaminya akan berkata bahwa ia akan menemani, bahwa ia telah meminta izin karena tahu hari ini penting. Bahwa kehadirannya sebagai ayah, hari ini, lebih dari sekadar formalitas.
Namun setelah telepon ditutup, Leo justru mencondongkan badan ke arah Sarah, matanya masih terpaku pada jam tangan di pergelangan.
"Sarah, maaf. Aku harus langsung ke kantor. Tadi ada rapat mendadak. Kamu bisa sendiri, kan?" ucapnya cepat, seolah itu hal biasa.
Sarah terdiam. Ia mencoba menelan kecewa yang kembali menyesak. Lagi-lagi, ia harus sendiri.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawabnya pelan, meski hatinya ingin berkata banyak.
Leo hanya mengangguk, lalu menyalakan mesin mobil kembali setelah Sarah turun. Tak ada pelukan, tak ada genggaman tangan sebagai penguat. Hanya suara pintu yang tertutup perlahan dan deru mobil yang menjauh.
Sarah berdiri mematung di trotoar. Tangannya mengusap perutnya dengan gerakan melingkar.
"Mama kuat, Nak," bisiknya, seakan menenangkan diri sendiri. "Kita akan baik-baik saja, walau cuma berdua."
Ia melangkah masuk melewati pintu lobi kaca rumah sakit, menembus embusan AC yang dingin. Setelah mengurus administrasi sendiri di tengah antrean yang mengular, Sarah berjalan menuju klinik kandungan. Langkah kakinya terasa berat, seberat kepalanya yang pening akibat menahan badai emosi sejak dari rumah.
Ruang tunggu klinik kandungan itu terasa sesak oleh aroma antiseptik yang menyengat dan suara percakapan pelan dari pasangan-pasangan yang menunggu giliran. Sarah duduk di salah satu sudut, memeluk tas kecilnya di pangkuan. Perutnya yang mulai membesar terasa seperti satu-satunya hal yang menguatkan keberadaannya di ruangan itu.
Matanya tak bisa lepas dari pemandangan sekitar. Para wanita hamil dengan tangan digenggam erat oleh suaminya. Ada yang tertawa kecil, ada yang menunjukkan hasil USG sebelumnya dengan penuh semangat, ada pula yang bersandar manja di bahu pasangan mereka.
Sarah menunduk. Dadanya sesak oleh rasa iri yang tak bisa dihindari, meski ia tahu rasa itu hanya akan menambah luka.
Tak lama, namanya dipanggil. "Nyonya Sarah Amelia?"
Di ruang pemeriksaan, Sarah berbaring dengan napas teratur. Lampu langit-langit di atasnya menyilaukan, tapi ia menatap ke atas tanpa berkedip, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut.
Perawat dengan cekatan membantu membuka sedikit bagian pakaian di perutnya. Sesaat kemudian, gel transparan yang dingin dioleskan di atas kulitnya. Sarah sedikit menggigil akibat sensasi kejut dari gel itu, kontras dengan dadanya yang terasa panas menahan gejolak tangis. Namun, ia tetap diam.
Dokter kandungan itu tersenyum seperti biasa, ramah dan tenang. "Bagaimana kabarnya, Bu Sarah?"
"Lumayan, Dok. Sedikit mudah lelah akhir-akhir ini," jawabnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh sunyinya ruangan.
"Wajar. Kandungan tujuh bulan memang sudah cukup memberatkan tubuh. Kita cek ya, kondisi si kecil."
Layar monitor di samping ranjang menyala. Gambar hitam putih muncul, samar namun begitu hidup. Denyut kecil itu terlihat jelas, bergerak aktif, menari-nari dalam rahimnya. Tak lama, suara detak jantung bayi memenuhi ruangan—cepat, ritmis, dan sangat stabil.
Dokter tersenyum lega. "Alhamdulillah. Sehat. Tumbuh kembangnya bagus."
Sarah menahan senyum, tapi matanya mulai basah. Ada rasa syukur yang menyesak di dada, seperti embun yang akhirnya jatuh setelah lama menggantung.
"Jenis kelamin, mau kami sebutkan?" tanya dokter dengan nada hati-hati, menyadari kesendirian pasiennya sejak tadi.
Sarah terdiam sejenak. Pikirannya menari cepat. Wajah dingin suaminya, ucapan tajam ibu mertuanya, dan bayang-bayang harapan palsu yang dipaksakan padanya seketika berputar di kepala. Namun akhirnya, ia mengangguk pelan.
Dokter mengamati layar lebih teliti, memiringkan alat transduser USG-nya sedikit. "Perempuan, Bu. Selamat ya."
Sarah terpaku. Bibir bawahnya bergetar saat ia mencoba menelan rasa yang bercampur aduk. Haru, bahagia, sekaligus khawatir yang teramat sangat. Ia tahu kabar ini tidak akan disambut dengan pelukan hangat oleh orang-orang di rumah.
Namun, saat ia kembali menatap layar monitor—melihat sang putri kecil yang menari bebas tanpa beban di dalam perutnya—semua keraguan itu larut. Ingatannya mendadak melayang pada anak-anak di sekolah inklusi yang dulu ia ajar. Anak-anak yang sering dianggap kurang atau salah oleh dunia, namun selalu ia peluk dengan seluruh jiwa. Insting keibuan dan ketulusan pendidik itu bangkit, bersatu, menjadi perisai kokoh di dalam dadanya. Ia akan menerima anaknya, apa pun kondisinya.
Ia menggenggam perutnya dengan lembut, seakan sedang menggenggam seluruh dunianya.
Tepat saat itu, ponsel Sarah yang diletakkan di atas meja perawat bergetar nyaring. Nama Leo muncul di layar, bersama satu pesan singkat yang baru saja masuk:
"Ibu sudah telepon. Dia tanya hasilnya apa."
Sarah menatap layar ponsel itu. Jarinya membeku di atas papan ketik. Kalimat pendek dari Leo terasa seperti tuntutan sidang, sebuah interogasi dingin, bukan pertanyaan seorang ayah yang merindukan kabar buah hatinya. Tidak ada tanya apakah Sarah baik-baik saja setelah ditinggal sendiri. Tidak ada tanya apakah bayinya sehat. Di rumah itu, bayinya hanyalah sebuah misi untuk memenuhi ego keluarga.
Sarah menarik napas dalam-dalam, menstabilkan gemuruh di dadanya. Ia melirik foto hitam-putih hasil cetakan USG di tangan kirinya. Di sana, sang putri kecil terlihat begitu ringkih, namun justru dari sanalah kekuatan Sarah bersumber. Jika seluruh isi rumah itu menanti seorang anak laki-laki sebagai piala, maka Sarah bersumpah akan menjadi benteng pertama yang melindungi anak perempuannya.
Dokter kandungan yang menyadari perubahan raut wajah Sarah menatapnya penuh simpati. "Ada yang salah, Bu Sarah? Perlu saya panggilkan suami Ibu ke dalam?"
Sarah mendongak, lalu tersenyum tipis. Kali ini, senyum itu bukan topeng untuk berpura-pura kuat. Ada ketegasan baru yang mendadak mengunci matanya.
"Tidak perlu, Dok. Suami saya sibuk kerja. Saya bisa sendiri," jawab Sarah, suaranya kini terdengar tenang dan bulat.
Ia memasukkan foto USG itu ke dalam tas, mendekapnya erat di depan dada. Sarah tidak langsung membalas pesan Leo. Ia memilih mematikan layar ponselnya, memasukkannya ke dalam saku, dan berdiri dari kursi pemeriksaan dengan anggun. Hari ini ia berjalan keluar dari ruangan dokter dengan kepala tegak, siap menghadapi badai yang sudah menantinya di rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Bo-bo
halo KK aku hadir di karyamu.smg sukses selalu y🤲🥰
2026-06-04
0
_Cherryl🍒
Mengubur impian demi berbakti sama suami. tapi suaminya egois bangett padahal minta temenin untuk usg anak dia juga loh. apalagi omongan tajam ibu mertuanya. emang kita tuhan yang bisa menentukan berhak hidup dan mati kapan saja lagian mau anak cewe atau cowo sama aja. bikin gregetan deh.
2026-07-06
0
Renarenn
aku nggak ngerti jalan pikiran ibu mertua mu sarah, ternyata punya suami yang membela kita di setiap masalah sebuah anugerah gara-gara jarang ada laki-laki yang begitu, padahal sebenarnya itu barw minimum.../Whimper/
semangat ya Thir nulis nya/Rose/
2026-08-11
0