Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Bab 1

Aroma obat-obatan memenuhi ruangan rumah sakit. Annisa duduk diam di depan meja dokter sambil menggenggam lembar hasil pemeriksaan di tangannya. Jemarinya gemetar pelan, sementara matanya terus membaca kalimat yang sama berulang kali.

Sudah lima kali dirinya datang ke rumah sakit yang sama. Lima kali melakukan pemeriksaan. Dan lima kali pula hasilnya tidak pernah berubah.

Annisa menelan ludah susah payah sebelum akhirnya mengangkat wajahnya menatap wanita di depannya.

“Dokter Emeli…” suaranya lirih dan bergetar. “Apa saya benar-benar tidak bisa punya anak?”

Dokter Emeli duduk tenang sambil melepas kacamatanya perlahan. Wajahnya tampak iba, meski ada sesuatu yang sulit dijelaskan tersembunyi di balik tatapannya.

“Bu Annisa,” katanya lembut, “kami sudah melakukan pemeriksaan berulang kali. Kondisi rahim Anda memang sangat sulit untuk hamil.”

Dada Annisa terasa sesak.

“Tapi … masih ada kemungkinan kan dok?” tanyanya penuh harap.

Emeli menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Harapannya sangat kecil.” Wanita itu mendorong map hasil pemeriksaan ke arah Annisa. “Secara medis, Anda bisa dikatakan mandul.”

Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepala Annisa. Dunia seakan berhenti berputar sesaat.

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, namun Annisa berusaha keras menahannya.

“Tidak mungkin…” bisiknya pelan. “Saya sehat … saya tidak pernah punya riwayat penyakit serius.”

“Banyak faktor yang bisa menyebabkan infertilitas,” jelas Emeli cepat. “Dan kondisi setiap wanita berbeda.”

Annisa menunduk, pikirannya langsung tertuju pada Haikal.

Suaminya sangat menyukai anak-anak. Bahkan, beberapa bulan terakhir, ibu mertuanya terus menyinggung soal keturunan setiap kali mereka bertemu.

Kalau Haikal tahu hasil ini, apakah pria itu masih akan mempertahankannya.

“Dok…” suara Annisa kembali terdengar lirih. “Apa suami saya nanti masih bisa bahagia kalau bersama saya?”

Pertanyaan itu membuat Emeli terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian wanita itu kembali memasang senyum profesionalnya.

“Cobalah ikhlas menerima keadaan.” Kalimat itu justru membuat hati Annisa semakin hancur.

Air matanya akhirnya jatuh. Annisa menggenggam hasil pemeriksaan itu erat sebelum berdiri perlahan dari kursinya.

“Terima kasih, Dok.”

Emeli mengangguk pelan. “Jaga kesehatan Anda.”

Annisa tersenyum tipis meski terasa pahit, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah lemah.

Pintu tertutup.

Dan saat Annisa benar-benar pergi, senyum di wajah dokter Emeli perlahan menghilang. Wanita itu mengambil ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan singkat pada seseorang.

“Dia percaya.”

Annisa keluar dari rumah sakit dengan langkah pelan.

Langit sore tampak mendung, sama seperti hatinya saat itu. Jemarinya menggenggam erat tas berisi hasil pemeriksaan yang baru saja dia terima. Lagi-lagi hasilnya sama.

Kata itu seperti kutukan yang terus menghantuinya selama lima tahun terakhir pernikahannya dengan Haikal. Tanpa Annisa ketahui, hasil itu bukanlah hasil pemeriksaan yang sebenarnya. Namun, kebohongan yang terus disembunyikan seseorang darinya.

Sesampainya di rumah, suara tawa para wanita langsung terdengar dari ruang tamu.

Rumah itu kembali dipenuhi ibu-ibu komplek yang datang menghadiri arisan Lasmi. Semenjak Haikal naik jabatan dua hari lalu, ibu mertuanya itu semakin gemar mengadakan kumpul-kumpul untuk memamerkan keberhasilan anaknya.

Annisa menarik napas pelan sebelum masuk. Baru beberapa langkah, salah satu ibu-ibu langsung menyapanya.

“Eh, Annisa baru pulang?” tanyanya ramah.

Annisa tersenyum tipis. “Iya, Bu.”

Tatapan beberapa orang langsung jatuh pada dirinya. Ada yang memperhatikan tas di tangannya, ada pula yang saling berbisik pelan. Lalu seorang wanita paruh baya bertanya tanpa rasa sungkan.

“Lima tahun nikah kok belum punya momongan juga sih, Nisa?” Pertanyaan itu membuat suasana sedikit hening.

Annisa menegang. Belum sempat menjawab, Lasmi yang duduk di tengah para tamu langsung mendecak sinis.

“Ya gimana mau punya cucu?” ucapnya sambil menyeruput teh. “Kalau menantunya memang tidak becus kasih keturunan.”

Beberapa ibu langsung tertawa kecil, wajah Annisa memucat.

“Bu…” lirihnya menahan malu. “Kami masih berusaha.”

Lasmi malah tersenyum mengejek.

“Berusaha?” Wanita itu melirik tas Annisa. “Kamu baru pulang dari rumah sakit kan?”

Annisa terdiam.

“Dan hasilnya pasti sama lagi.” Lasmi terkekeh kecil. “Mandul tetap mandul.”

Tawa kecil kembali terdengar di ruang tamu. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam ulu hati Annisa begitu keras. Matanya mulai memanas, harusnya seorang ibu mertua menenangkannya, memberinya semangat atau setidaknya menjaga harga dirinya di depan orang lain. Tetapi, Lasmi justru menghancurkannya tanpa rasa kasihan sedikit pun.

“Kasihan juga Haikal,” sambung salah satu tamu. “Sudah sukses, tapi belum punya penerus.”

Lasmi langsung mengangguk setuju. “Itulah nasib anak saya. Salah pilih istri.”

Annisa mengepalkan jemarinya erat. Dadanya sesak menahan malu dan sakit hati yang bercampur menjadi satu. Tetapi, di depan semua orang itu, dirinya hanya bisa diam. Karena tidak ada seorang pun di rumah itu yang berada di pihaknya.

“Haikal itu sebenarnya pintar,” ucap Lasmi sambil memainkan gelang emas di tangannya. “Sayangnya dulu dia salah pilih istri.”

Annisa yang baru hendak melangkah menuju tangga langsung berhenti.

“Entah perempuan sembarangan dari mana yang dia nikahi,” lanjut Lasmi tanpa rasa bersalah. “Asal-usulnya saja tidak jelas. Haikal itu cuma kemakan cinta buta.”

Tawa beberapa ibu-ibu kembali terdengar. Annisa memejamkan mata sesaat. Kalau saja mereka tahu, kalau saja Lasmi tahu siapa dirinya sebenarnya. Namun, Annisa terlalu lelah untuk membela diri. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas.

Pintu kamar tertutup pelan.

Baru setelah itu Annisa menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Dadanya terasa begitu sakit, tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari dalam tas.

Satu-satunya orang yang ingin dia dengar saat ini hanyalah Haikal, suaminya. Annisa segera menghubungi nomor pria itu.

Beberapa detik kemudian panggilannya tersambung.

[Hallo?] suara Haikal terdengar dingin dari seberang sana.

Masih terdengar suara orang berbicara dan nampak ramai diujung sana.

“Mas…” suara Annisa bergetar pelan. “Kamu sibuk?”

[Ya jelas sibuk.] Nada Haikal terdengar kesal. [Aku lagi kerja.]

Annisa menelan ludah.

“Aku baru pulang dari rumah sakit…”

[Terus?] Jawaban singkat itu membuat hati Annisa semakin ciut.

“Ibu tadi ngomong macam-macam lagi di depan tamu,” lirihnya. “Aku malu, Mas.”

Bukannya menenangkan, Haikal malah menghela napas kasar.

[Annisa, kamu nelepon cuma buat ngadu hal beginian?]

Annisa terdiam.

[Aku capek kerja seharian, jangan tambah pikiranku lagi.]

“Tapi aku cuma—”

[Kata-kata ibu juga nggak ada yang salah,] potong Haikal dingin. [Coba introspeksi diri.]

Air mata Annisa kembali jatuh. “Kamu juga nyalahin aku?”

[Lah memang kenyataannya begitu.] Nada suara Haikal mulai meninggi. [Lima tahun nikah belum punya anak. Ibu malu sama tetangga itu wajar.]

Annisa menutup mulutnya menahan tangis.

“Mas … aku juga sakit dengar semua itu.”

[Kalau sakit ya cari solusi, bukan nangis terus.]

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat di dadanya. Padahal yang paling hancur dengan keadaan ini adalah dirinya sendiri. Namun, tak ada seorang pun yang mencoba memahami perasaannya.

“Udah ya,” ucap Haikal cepat. “Jangan ganggu aku kerja lagi.”

Sambungan telepon terputus. Annisa menatap layar ponselnya kosong. Beberapa detik kemudian, tubuhnya luruh pelan di atas ranjang, tangisnya pecah.

Di rumah itu, bahkan suaminya sendiri tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang untuknya.

Terpopuler

Comments

Iffanaya 😽

Iffanaya 😽

kira² tu dokter disuruh siapa buat manipulasi hasil medis nya Annisa tega bgt, jgn² yg mandul suami nya...
knp gk nyoba periksa ke rumah sakit lain sih 🤦

2026-06-19

0

Yunita Sophi

Yunita Sophi

knp gak ke dokter atau ke rumah sakit lain... biasa nya saking penasaran nya pindah dokter lain...

2026-05-22

0

Nabila hasir

Nabila hasir

wahh dr emely tak tandai sampyn yaaa.
padahal sama2 perempuan tapi dak punya empaty

2026-07-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Episode 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Karya baru
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Episode 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!