TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Tak terdaftar pada peta : 01

“Kenapa kita tidak mengikuti bus rombongan? Malah keluar dari jalur jalan utama?” Dia menaikan topi hitam agar dapat memperhatikan sekitar lebih jelas.

“Diem lu cupu! Banyak banget bacotnya. Tinggal duduk, tau-tau sampai tujuan, protes mulu yang dibesarkan!” hardik pria berambut ikal tengah mengemudikan mobil Toyota Rush.

Yang dibentak tidak begitu peduli apalagi ambil hati kata-kata tajam bak belati. Gadis berpenampilan kurang menarik dimata pria penyuka wanita seksi, kembali menatap keluar jendela mobil. Dia duduk pada bagian belakang, di sebelahnya ada seorang pemuda tengah tertidur.

“Tau tu Kanti, dari tadi gelisah terus bawaannya. Sudah untung dikasih tumpangan, malah gak tahu diri,” cibir gadis memakai kaos pas badan, celana jeans ketat, parasnya cantik dengan senyum menggoda – Mayang, namanya.

Mobil yang dikendarai Abeer terus melaju, semakin jauh dengan bus mengantarkan para mahasiswa berangkat KKN ke daerah pelosok.

“Wuih … bagus banget alamnya, sejuk, gak ada polusi udara, masih seger.” Ahwaya, salah satu peserta KKN yang memilih naik mobil putra orang berpengaruh, menurunkan kaca jendela. “Jarang banget kita bisa menghirup udara seperti ini kalau di kota provinsi.”

“Lu bener, Aya. Yang ada pengab, belum lagi macet parah,” timpal Mayang.

“Lewat rute ini gak perlu dua jam nyampe tujuan, cukup empat puluh menit. Cocok lah menghindari punggung pegel, bokong panas.” Sambara duduk disebelah sang sopir, juga menurunkan kaca jendela.

“Sayang, kamu sudah mengatur tempat tinggal kita selama di pemukiman kumuh itu, kan?” Ahwaya memeluk kekasihnya dari belakang, tidak peduli terhalang kursi mobil.

“Tenang cintaku. Pagi sampai sore kita bertugas, malamnya lembur berpeluh keringat di atas ranjang.” Kedua tangannya memeluk leher sang kekasih lalu menarik agar Aya merunduk. Seperti tidak memiliki rasa malu, mereka berciuman sampai terdengar suara decapan hingga kursi bagian belakang.

“Gua juga pengen. Mayang, sayang buruan raba-raba!” Abeer berseru lalu tertawa.

Sang kekasih menurut, bukan mencium melainkan jari-jari lentiknya mengusap benda pusaka pujaan hatinya.

Dua pasang sejoli itu asik berbuat senonoh, tidak peduli pada gadis berkemeja kebesaran, celana panjang longgar.

Pun, tidak menghiraukan pemuda memakai kaos oblong, topi putih, celana jeans biru, dipadukan dengan warna jaket serupa.

‘Kenapa perasaanku semakin nggak enak? Seperti merasakan pertanda adanya hal buruk yang tengah menanti.’ Candra Kanti, atau sering disapa Kanti, mengusap-usap lengan kemejanya.

Sejauh mata memandang, jalanan mulus itu diapit hutan rimbun berpohon tinggi, terlihat angker.

“Makanlah, bisa sedikit mengurangi rasa cemas.” Genggaman telapak tangan besar terbuka, memperlihatkan sebungkus permen jahe.

Sedikit ragu Kanti mengambilnya, lalu membuka bungkus plastik dan memasukkan permen ke dalam mulutnya.

Entah berapa lama, tapi terasa sudah sangat lama, tiba-tiba mesin mobil mati dengan sendirinya. Kaca jendela otomatis menutup sempurna tanpa ada satupun orang menekan tombol pada sisi pintu.

Kabut tebal menyelimuti kendaraan roda empat itu, cuaca berubah suram layaknya awan mendung menggantung di langit. Suhu turun drastis, udara terasa dingin.

Suasana dalam mobil langsung berisik, terutama Mayang dan Ahwaya, terus bertanya ada apa gerangan.

“Ini kita di mana?” tanya Mayang, nadanya sedikit panik.

“Sial! Gak ada sinyal!” Sambara mengguncang ponselnya.

“Mesin mobilnya gak mau nyala, padahal masih ada bensin, pun sebelum berangkat sudah diperiksa kelayakannya untuk perjalanan jauh.” Abeer berulang kali memutar anak kunci tertancap pada bagian setir.

“Beneran gak ada sinyal, punyaku juga nol garisnya!” pekik Ahwaya.

“Jam pun berhenti berdetak, waktu seakan ikutan tidak berputar,” gumam lirih Kanti sambil memperhatikan jam tangan dan penunjuk waktu pada ponselnya.

“Sebaiknya kita turun dulu, siapa tahu bisa mencari bantuan, atau bila beruntung ada orang lewat,” ujar Aji Sardi, pemuda yang memberikan permen tadi.

“Gila lu! Kita gak tahu diluar itu kondisinya aman atau berbahaya!” tolak Sambara.

“Lantas apa mau tetap di sini, dikepung kabut tebal, bahkan melihat keluar saja kesulitan! Ahwaya, geser kamu! Biar aku yang keluar memeriksa sekitar.” Aji mengancingkan jaketnya.

Ahwaya tidak langsung menurut, terlebih dahulu menatap raut kesal kekasihnya.

Sambara mengangguk. “Kalau ada apa-apa biar dia mati duluan! Kita jangan ada yang menolongnya!”

Candra Kanti tidak tinggal diam, ditariknya resleting jaket berbahan kain, lalu dirinya berlutut demi mengambil tas ransel lumayan besar pada bagian belakang mobil.

“Lu mau kemana, Cupu?!” Abeer memperhatikan Kanti yang tengah berusaha melewati jok tengah.

“Lebih aman berada diluar. Menghindari bila tiba-tiba ada kebocoran pada tangki bensin maupun kehabisan oksigen,” katanya serius, lalu menjejakkan kaki ke jalanan tanah keras.

“Aji, kamu dimana?” panggil Kanti pelan. Dia kesulitan melihat, jarak pandang sangat terbatas.

“Aji Sardi!” Kanti mengencangkan tali ransel terasa berat.

Candra Kanti melangkah pendek-pendek, matanya sangat awas. Bunyi helaan napas seseorang membuatnya siaga.

“Aku gak bisa kemana-mana. Kabut ini bukan awan rendah yang menyentuh permukaan bumi, terbentuk dari uap air yang mengembun akibat suhu dingin, pun tidak bersifat cair, melainkan keras seperti es batu. Coba kamu rasakan daun ini!” Aji memperlihatkan daun hijau kaku.

Kanti menerimanya, tubuhnya langsung bereaksi seperti tersengat listrik tegangan rendah. “Aneh. Daun ini kering, tapi mengapa sangat dingin?”

Brak!

Candra Kanti dan Aji, sama-sama melihat dengan mata menyipit.

“Dalam mobil seperti hampa udara, sama sekali gak ada oksigen.” Abeer terengah-engah, dia dan lainnya seperti ikan tersangkut mata kail.

Mayang memukul udara layaknya mengusir Nyamuk. “Sialan. Sebenarnya kita di mana?”

“Tolong jaga ucapanmu! Jangan sembarangan berkata kasar terlebih kita lagi entah dimana,” Kanti memperingati.

“Diem lu, Cupu! Sok banget gayamu!” Mayang tidak terima ditegur, membalas membentak Kanti.

Ahwaya terbatuk-batuk, tubuhnya menggigil tapi tenggorokan sangat kering.

Sambara bergegas mengambil botol air di samping tas ransel yang dia sandang. “Airnya beku, tapi kenapa gak berembun?”

Semua terkejut, mereka mendekati sang pemuda, ikut memperhatikan air dalam botol masih terisi setengah.

“Ambil peta!” titah Aji Sardi.

Kanti berjongkok, membongkar isi ranselnya. Meskipun kesulitan melihat jelas, tapi masih bisa melihat sekeliling dengan jarak pandang cuma satu meter saja.

“Ini.” Ia serahkan kertas berisi kopian peta konvensional.

Aji menyalakan senter kecil, mengamati garis-garis melintang, membujur serta pola membentuk berbagai provinsi. “Tadi kita lewat jalur ini … terus berbelok arah ke sini ….”

“Ada apa? Kenapa diam, ada yang salah?” degub jantung Kanti terdengar nyaring sampai terdengar oleh Ahwaya.

“Cepat katakan, Aji! Jangan bikin gua cemas!” hardik Sambara, dia tidak pintar membaca peta.

“Jalan yang tadi kita lalui setelah berpisah dengan bus, tidak ada dalam peta ini.” Jari telunjuknya menyusuri garis hitam diatas kertas.

“Lu bercanda ‘kan?!”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Secret Admire

Secret Admire

Bismillah.. hadir buat cerita horor kak cublik... 🥰 Candra Kanti🥰 jadi kangen sama Laila dan Juragan Pramudya 🤭

2026-05-12

2

Tuty Yatun

Tuty Yatun

untuk karya kak cublik aku pasti slalu hadir,,semua karya kakak mau horor ato roman aku suka semua,,semoga yg baru ini jg ceritanya bagus jg ya kak

2026-05-12

4

Shee_👚

Shee_👚

akhirnya baca ini juga setelah maraton baca kisah bidan laila, biar nyambung bacanya🤭

2026-05-20

2

lihat semua
Episodes
1 Tak terdaftar pada peta : 01
2 Mulai merasakan kejanggalan : 02
3 Langit merah : 03
4 Laila Ngatemi cemas : 04
5 Penginapan : 05
6 Jarik tenun gringsing : 06
7 Ketagihan daging Rusa : 07
8 Jalan-jalan : 08
9 Mayang entah di mana : 09
10 Ada mangsa : 10
11 Berharap terbebas dari belenggu : 11
12 Mimpi tak diingat : 12
13 Berusaha mencari bantuan : 13
14 Rindu keluarga : 14
15 Kebakaran : 15
16 Mulai menunjukkan taring : 16
17 Tidak membuahkan hasil : 17
18 Mencari pintu : 18
19 Usaha seorang ibu : 19
20 Kita terlambat : 20
21 Reka ulang : 21
22 Aul : 22
23 Terperangkap : 23
24 Aksata : 24
25 Makan rebusan : 25
26 Lolongan : 26
27 Hipnotis : 27
28 Mencari pintu rahasia : 28
29 Butiran garam kasar : 29
30 Macam hewan : 30
31 Cara kehilangan paling keji : 31
32 Berlomba dengan waktu : 32
33 Permintaan maaf : 33
34 Rencana perburuan liar : 34
35 Pertolongan terhalang : 35
36 Lilis tak pernah ada : 36
37 Maju atau mundur : 37
38 Mengunci mangsa : 38
39 Salah satu hilang : 39
40 Menaruh rasa curiga : 40
41 Cindaku : 41
42 Mencari cara : 42
43 Mengatur strategi : 43
44 Bukan senjata biasa : 44
45 Menampakkan wujud : 45
46 Membuka portal: 46
47 Terkecoh : 47
48 Hilang semangat hidup : 48
49 Perburuan : 49
50 CANDRA KANTI! : 50
51 Pintu rahasia : 51
52 Kesadaran mulai menipis : 52
53 Pembalasan : 53
54 Puncak bulan purnama : 54
55 Tewas : 55
56 Penglihatan menjadi nyata : 56
57 Jiwanya diculik : 57
58 Tangis di lantai dingin : 58
59 Menunggu hasil visum : 59
60 Rasa bersalah : 60
61 Mengalami amnesia : 61
62 Desa Sunyi : 62
63 Kesedihan sulit dijelaskan : 63
64 Percobaan menghentikan napas : 64
65 Sosok misterius : 65
66 Obsesi dan ambisi : 66
67 Pelarian dan rencana licik : 67
68 Pernikahan tinggal sehari lagi : 68
69 Penyerangan besar-besaran : 69
70 Henti napas : 70
71 Belum tau namanya : 71
72 Fakta diungkapkan : 72
73 Kanti menangis ketakutan : 73
74 Jiwa mulai sekarat : 74
75 Jangan pernah merasa bersalah : 75
76 Sulit membedakan : 76
77 Tak bisa mengabaikan : 77
78 Masih terobsesi : 78
79 Perasaan aneh : 79
80 Ayo pulang kampung : 80
81 Menentukan pilihan : 81
82 Terima kasih Dokter : 82
83 Janji teruntuk Nyai : 83
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Tak terdaftar pada peta : 01
2
Mulai merasakan kejanggalan : 02
3
Langit merah : 03
4
Laila Ngatemi cemas : 04
5
Penginapan : 05
6
Jarik tenun gringsing : 06
7
Ketagihan daging Rusa : 07
8
Jalan-jalan : 08
9
Mayang entah di mana : 09
10
Ada mangsa : 10
11
Berharap terbebas dari belenggu : 11
12
Mimpi tak diingat : 12
13
Berusaha mencari bantuan : 13
14
Rindu keluarga : 14
15
Kebakaran : 15
16
Mulai menunjukkan taring : 16
17
Tidak membuahkan hasil : 17
18
Mencari pintu : 18
19
Usaha seorang ibu : 19
20
Kita terlambat : 20
21
Reka ulang : 21
22
Aul : 22
23
Terperangkap : 23
24
Aksata : 24
25
Makan rebusan : 25
26
Lolongan : 26
27
Hipnotis : 27
28
Mencari pintu rahasia : 28
29
Butiran garam kasar : 29
30
Macam hewan : 30
31
Cara kehilangan paling keji : 31
32
Berlomba dengan waktu : 32
33
Permintaan maaf : 33
34
Rencana perburuan liar : 34
35
Pertolongan terhalang : 35
36
Lilis tak pernah ada : 36
37
Maju atau mundur : 37
38
Mengunci mangsa : 38
39
Salah satu hilang : 39
40
Menaruh rasa curiga : 40
41
Cindaku : 41
42
Mencari cara : 42
43
Mengatur strategi : 43
44
Bukan senjata biasa : 44
45
Menampakkan wujud : 45
46
Membuka portal: 46
47
Terkecoh : 47
48
Hilang semangat hidup : 48
49
Perburuan : 49
50
CANDRA KANTI! : 50
51
Pintu rahasia : 51
52
Kesadaran mulai menipis : 52
53
Pembalasan : 53
54
Puncak bulan purnama : 54
55
Tewas : 55
56
Penglihatan menjadi nyata : 56
57
Jiwanya diculik : 57
58
Tangis di lantai dingin : 58
59
Menunggu hasil visum : 59
60
Rasa bersalah : 60
61
Mengalami amnesia : 61
62
Desa Sunyi : 62
63
Kesedihan sulit dijelaskan : 63
64
Percobaan menghentikan napas : 64
65
Sosok misterius : 65
66
Obsesi dan ambisi : 66
67
Pelarian dan rencana licik : 67
68
Pernikahan tinggal sehari lagi : 68
69
Penyerangan besar-besaran : 69
70
Henti napas : 70
71
Belum tau namanya : 71
72
Fakta diungkapkan : 72
73
Kanti menangis ketakutan : 73
74
Jiwa mulai sekarat : 74
75
Jangan pernah merasa bersalah : 75
76
Sulit membedakan : 76
77
Tak bisa mengabaikan : 77
78
Masih terobsesi : 78
79
Perasaan aneh : 79
80
Ayo pulang kampung : 80
81
Menentukan pilihan : 81
82
Terima kasih Dokter : 82
83
Janji teruntuk Nyai : 83

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!