Hujan deras yang mengguyur kota seolah menjadi saksi bisu kejatuhan Mahesa yang begitu telak. Malam itu, dia terpaksa menyeret koper-kopernya menuju halte bus terdekat, meninggalkan rumah yang kini menjadi benteng asing baginya. Di sampingnya, Clarissa terus meracau, suaranya melengking tinggi, menyalahkan Mahesa atas segala nasib buruk yang menimpa mereka.
"Ini semua salahmu, Mahesa! Seharusnya kamu punya simpanan rahasia! Kamu bilang kamu berkuasa, kamu bilang kamu tak tersentuh! Kamu itu anak tunggal dan satu-satunya pewaris Perusahaan Dirgantara! Tak seharusnya kita di perlakukan sehi-na ini!" Clarissa mencengkeram lengan baju Mahesa, kuku-kukunya yang patah menggores kain jas yang mulai berbau apek terkena air hujan.
"Diamlah! Jangan menambah rasa sakit di kepalaku, Clarissa!"
"Bagaimana aku bisa diam, Mahesa! Sekarang kita tak punya apa-apa! Bahkan semua investasiku berupa berlian dan tas ada di apartemen. Sedangkan semua perhiasan yang melekat di tubuhku tadi di ambil alih oleh ibumu yang serakah itu!" teriak Clarissa.
"Diam! Dia ibuku! Dia tak serakah! Jaga ucapanmu Clarissa! Jangan buat aku marah padamu! Jangan pernah hanya menyalahkan aku!"
"Kita akan tinggal dimana? Hari sudah semakin malam! Tak mungkin kan kita akan tinggal di jalanan!" Tanya Clarissa setelah beberapa saat diam.
"Mana tas mu!"
"Mau apa?"
"Aku bilang mana tasmu? Bukannya kamu selalu menyimpan uang cash di sana! Kita harus mencari kamar kontrakan untuk tidur!" Bentak Mahesa.
"Tapi ..."Clarissa tampak enggan memberikan tasnya.
Namun Mahesa mengambil dengan paksa dan ternyata benar di dalam sana ada beberapa lembar uang.
Mereka menyewa sebuah kamar kontrakan sempit di gang kumuh pinggiran kota. Kamar itu berukuran tidak lebih dari 3x3 meter. Tidak ada pendingin ruangan, apalagi kasur empuk. Hanya ada satu tikar tipis yang sudah koyak di sudut ruangan.
"Ini? Kamu membawa kita ke tempat seperti ini?" jerit Clarissa begitu mereka masuk ke dalam kontrakan.
Suaranya menggema di ruangan sempit itu, memicu batuk dari penghuni sebelah.
"Mahesa, ini gila! Aku tidak bisa hidup seperti ini! Di mana apartemenku? Semua tas branded, koleksi perhiasan, dan koleksi sepatu mahalku ada di sana! Kamu bilang kamu akan bertanggung jawab!"
Mahesa, yang sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat, menjatuhkan tubuhnya ke lantai yang dingin. Dia menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Semua sudah disita, Clarissa. Kamu tidak dengar pengawal itu? Itu properti perusahaan. Semuanya milik Dirgantara."
"Tapi kamu anaknya! Kamu satu-satunya, pewaris Dirgantara! Kenapa semuanya begini! Ini semua karena istrimu yang sok polos nyatanya dia adalah ib-lis sesungguhnya!"
"Bukannya kamu yang memintaku untuk lebih cepat menceraikan Inara. Bahkan kamu minta sebelum pengangkatan aku! Dan ini yang kamu mau kan?"
"Jadi kamu menyalahkan aku? ini semua bukan salahku! Ini salahmu yang bodoh karena bisa masuk ke dalam permainan wanita iblis itu, Mahesa. Aku tak mau tahu, pokoknya kamu harus bisa mendapatkan hak mu sebagai anak dari keluarga Dirgantara! Dan kembalikan hidup mewahku seperti sebelumnya!"
Mahesa tak punya tenaga untuk menjawab rentetan ucapan Clarissa. Otaknya terlalu penuh dengan rasa kaget dan tak mengira dengan kehidupannya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Ayahnya sendiri yang bahkan mengusir dan melemparnya ke jurang kemiskinan.
"Inara..." batin Mahesa.
Malam itu, mereka tidak makan. Uang yang tersisa hanya cukup untuk membayar sewa satu bulan. Clarissa terus meracau, memaki nasib, memaki Inara, dan memaki Mahesa hingga dia kelelahan dan tertidur dalam posisi duduk bersandar di dinding.
Fajar menyingsing dengan warna kelabu yang memuakkan, membawa serta aroma selokan yang menusuk hidung. Mahesa terbangun dengan punggung yang kaku akibat tidur di lantai semen yang lembap. Di sampingnya, Clarissa masih terlelap, wajahnya yang penuh dengan cakaran kuku, riasan luntur kini terlihat kuyu dan pucat pasi.
Tanpa membangunkan wanita itu, Mahesa melangkah keluar, tekadnya bulat. Dia harus menemui papanya. Dia yakin, ini semua hanyalah hukuman sementara. Papanya hanya sedang marah besar. Menurutnya kesalahan yang dia lakukan kepada Inara tak besar. Dan yang yang dia berikan kepada Clarissa tak akan membuat perusahaan besar itu bangkrut.
Dengan sisa uang di saku, dia menumpang angkutan kota yang pengap menuju pusat bisnis di jantung kota, tempat gedung pencakar langit Dirgantara Group berdiri megah.
Sesampainya di sana, dia tidak bisa lagi melenggang masuk melalui pintu utama dengan langkah angkuh seperti dulu. Dia sudah tak memiliki akses untuk masuk ke dalam gedung. Langkahnya dihentikan oleh dua orang satpam yang kini tampak jauh lebih intimidatif daripada biasanya.
"Mau apa kamu ke sini, Tuan Mahesa?" tanya salah satu satpam dengan nada dingin yang tidak disembunyikan.
"Minggir! Aku ingin bertemu Papa. Aku anaknya, jangan berani-beraninya kalian menghalangiku!" bentak Mahesa, mencoba memanggil kembali sisa-sisa wibawanya yang sudah hancur.
"Mohon maaf, Tuan. Instruksi dari atasan jelas. Siapa pun yang tidak berkepentingan. terutama Anda, dilarang masuk ke area properti perusahaan," jawab satpam itu sembari memposisikan tubuhnya sebagai barikade.
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!
Inara 36
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 89 Episodes
Comments
nely_48
msh blm sadar jg ternyata kau mahesa, msh angkuh n merasa benar az apa yg kau lakukan pd inara,, astaga dragon mahesa mahesa
2026-06-12
0
Oma Gavin
mampusss kamu mahesa tanpa ayahmu dan dirgantara kamu bukan siapa" hanya gembel jalanan cocok dgn clarisa perempuan murahan
2026-06-12
0
Ambu Rinddiany Thea
sugan teh rek toubat nya eta s mahesaaa , ehh kalah beki oleng otakna teh
2026-06-12
1