Bab 2: Selain Berjuang, Aku Tak Punya Apa-apa
Sebelum nama Hartono membuat lantai toilet Meridian terasa lebih dingin, Vanessa pernah percaya bahwa nama keluarga hanya berguna untuk mengisi formulir sekolah.
Di Semarang, nama Wijaya tidak membuka pintu apa pun. Tidak ada sopir, tidak ada rumah besar, tidak ada orang yang mendadak menunduk hanya karena mendengar marganya. Nama itu menempel pada rumah kontrakan dua kamar di gang sempit, sofa tua yang pernya menusuk paha, dan suara Mama yang selalu berusaha terdengar tenang saat tetangga bertanya kapan Papa pulang.
Papa jarang pulang saat bisnisnya mulai runtuh.
Hendra Wijaya dulu punya toko bahan bangunan kecil. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat Vanessa kecil percaya keluarganya baik-baik saja. Lalu satu rekan bisnis kabur, utang menumpuk, dan Papa mulai mengenal alasan-alasan yang datang bersama rokok murah. Malam-malam tertentu, Vanessa terbangun oleh suara pintu diketuk keras. Mama akan menyuruhnya masuk kamar, tapi dinding rumah mereka terlalu tipis untuk menyembunyikan kata tagihan.
"Nessa, jangan takut," bisik Lily suatu malam, sambil duduk di tepi ranjangnya. Seragam perawat Mama masih berbau antiseptik dan hujan. "Kamu belajar saja yang pintar. Urusan orang dewasa biar Mama yang pikirkan."
Vanessa yang waktu itu baru kelas enam menatap tangan Mama. Ada bekas plester di punggung tangannya, kulitnya kering karena terlalu sering mencuci tangan di rumah sakit.
"Kalau Nessa pintar, utang Papa hilang?"
Lily terdiam terlalu lama.
Sejak itu Vanessa mengerti, belajar bukan jalan keluar yang manis. Belajar adalah satu-satunya alat yang tidak bisa disita orang.
Ia tumbuh menjadi anak yang tahu harga fotokopi, tahu kapan harus pura-pura kenyang, tahu cara menulis esai beasiswa dengan kalimat yang membuat guru BK menangis. Oma yang tinggal beberapa gang dari rumah menjadi tempat pelarian paling aman. Di rumah Oma, Vanessa tidur di ruang depan dekat rak piring, mendengarkan radio lawas dan suara Oma merapalkan doa sebelum lampu dimatikan.
"Kamu itu anak perempuan," kata Oma suatu sore, sambil menyisir rambut Vanessa yang kusut. "Dunia suka menguji anak perempuan lebih keras. Jadi kamu harus punya kaki sendiri."
"Kalau punya kaki sendiri, boleh lari jauh?"
Oma tertawa, lalu mencubit pipinya. "Boleh. Tapi jangan lupa pulang kalau hatimu capek."
Vanessa mengingat kalimat itu bertahun-tahun kemudian saat turun dari bus di Jakarta dengan satu koper, satu tas ransel, dan surat penerimaan Universitas Indonesia yang ia lindungi seperti akta kelahiran kedua. Beasiswa menutup uang kuliah, tapi hidup tidak hanya meminta uang kuliah. Ada kos, makan, fotokopi, pulsa, buku, dan kebutuhan Mama yang selalu ia masukkan ke daftar teratas.
Di kampus, orang-orang mengenal Vanessa sebagai perempuan yang selalu terburu-buru. Pagi kuliah, siang menjadi penerjemah lepas untuk dosen tamu, malam mengetik transkrip wawancara, akhir pekan mengajar bahasa Inggris anak SMP. Ia belajar Mandarin dari kelas tambahan, Jerman dari program kampus, Spanyol dari kerja terjemahan murah yang awalnya membuat kepalanya nyaris pecah. Bahasa-bahasa itu bukan hobi. Bahasa adalah tangga.
"Kamu manusia atau aplikasi kamus?" tanya Lina, teman satu kelas yang kelak menjadi rekan kerja, saat melihat Vanessa membawa tiga buku tata bahasa sekaligus.
"Aplikasi kamus tidak perlu bayar kost. Aku perlu."
Lina tertawa, lalu sejak itu mulai membelikan Vanessa roti setiap kali gadis itu terlihat terlalu pucat. Vanessa menerima roti itu dengan protes basa-basi, tapi diam-diam menyimpannya sebagai bukti bahwa kebaikan kecil bisa muncul tanpa meminta imbalan.
Di tahun kedua, Bryan datang seperti adegan film kampus yang terlalu rapi.
Ia senior populer, ketua acara, suaranya hangat, wajahnya cukup tampan untuk membuat adik tingkat pura-pura bertanya soal jadwal rapat. Bryan memanggil Vanessa "Dek Nessa" dengan nada yang awalnya terdengar melindungi. Ia meminjamkan buku, mengantar pulang setelah kegiatan malam, dan membuat Vanessa yang selalu merasa harus kuat akhirnya boleh merasa dijaga.
"Kamu tidak harus selalu sendirian," kata Bryan di depan perpustakaan, saat hujan membuat halaman kampus mengilap. "Kadang orang lain boleh bantu."
Vanessa ingin percaya. Maka ia percaya.
Hubungan itu bertahan sampai Vanessa sadar bantuan Bryan selalu datang dengan tali yang makin pendek. Ia marah jika Vanessa menerima proyek terjemahan dari laki-laki lain. Ia menunggu di depan kos tanpa kabar. Setelah putus, ia menelepon puluhan kali, mengirim pesan panjang tentang pengkhianatan, lalu muncul di acara kampus seolah dirinya korban.
Malam ketika Bryan memblokir jalan pulang dan berkata, "Kamu berubah setelah merasa pintar," Vanessa akhirnya memahami satu hal. Tidak semua orang yang memegang payung benar-benar ingin melindungi dari hujan. Sebagian hanya ingin menentukan ke mana kamu berjalan.
Sejak itu ia membuat aturan pertama.
Jangan main di kandang sendiri.
Aturan itu terdengar lucu saat ia mengatakannya kepada Lina bertahun-tahun kemudian, tapi lahir dari rasa takut yang tidak lucu sama sekali. Kampus terlalu kecil, kantor terlalu rapat, gosip terlalu cepat. Vanessa tidak mau hidupnya dijadikan tontonan hanya karena ia pernah membuka pintu untuk orang yang salah.
Lalu Vincent Tanuwijaya datang di masa pascasarjana, membawa dunia yang lebih halus.
Vincent tidak mengejar seperti Bryan. Ia rapi, ambisius, bicara tentang karier dengan nada yang membuat masa depan terdengar seperti spreadsheet. Mereka bertemu di sebuah seminar penerjemahan bisnis. Ia menyukai cara Vanessa berpikir cepat, Vanessa menyukai bahwa Vincent tidak takut pada perempuan yang lebih pintar bicara.
"Kita cocok," kata Vincent setelah tiga bulan. "Kamu pekerja keras. Aku juga. Kita bisa tumbuh bersama."
Bersama. Kata itu dulu terdengar mewah.
Untuk pertama kalinya, Vanessa membiarkan dirinya membayangkan hidup yang tidak terus-menerus berlari. Mereka makan di tempat sederhana, membagi tagihan tanpa drama, saling mengoreksi CV, saling mengirim lowongan kerja. Ketika Vincent mengajak bertemu keluarganya, Vanessa membeli blus baru dengan uang hasil menerjemahkan dokumen legal sepanjang tiga puluh halaman.
Rumah keluarga Vincent tidak sebesar rumah konglomerat, tapi cukup untuk membuat Vanessa salah tingkah. Ada piano di ruang tamu, foto keluarga dengan jas formal, dan tante-tante yang menilai dari ujung rambut sampai sepatu. Vanessa tersenyum sopan, menjawab pertanyaan tentang kuliah, pekerjaan, keluarga.
"Papa usaha sendiri?" tanya ibu Vincent.
Vanessa menggenggam gelas teh sedikit lebih erat. "Dulu, Tante. Sekarang sedang memulihkan kondisi. Mama perawat."
Tidak ada yang salah dari jawaban itu. Namun setelahnya, udara berubah. Percakapan tetap berjalan, tapi senyumnya tidak lagi sampai ke mata.
Dua minggu kemudian, Vincent mengajaknya bertemu di kafe. Ia memesan americano seperti biasa, tapi tidak menyentuhnya.
"Nessa, aku sudah bicara dengan keluargaku."
Vanessa menatap buih tipis di cangkirnya. Entah kenapa, ia sudah tahu sebelum Vincent melanjutkan.
"Mereka merasa... latar belakang kita berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Vincent menghela napas seperti orang baik yang dipaksa melakukan hal jahat. "Keluargamu tak sederajat denganku."
Kalimat itu tidak keras. Justru karena diucapkan pelan, ia masuk lebih dalam.
Vanessa tidak menangis di depan Vincent. Ia bahkan sempat tersenyum. "Terima kasih sudah menjelaskan dengan bahasa yang hemat."
"Nessa, jangan sinis. Ini bukan soal kamu tidak baik."
"Tentu. Ini soal sofa rumahku terlalu tua untuk standar keluargamu."
Wajah Vincent memucat. Vanessa berdiri, meletakkan uang untuk kopinya, lalu pergi sebelum lututnya sadar bahwa ia seharusnya roboh.
Ia baru menangis malamnya, di kamar kos, sambil duduk di lantai karena kasur terasa terlalu empuk untuk orang yang baru saja diberi tahu bahwa asal-usulnya adalah cacat. Tangisnya tidak lama. Vanessa tidak punya kemewahan untuk hancur berhari-hari. Paginya ia mengirim lamaran kerja ke lima perusahaan, menerima proyek terjemahan tambahan, dan menempel satu kalimat di dinding kamarnya.
Selain berjuang, aku tak punya apa-apa.
Kalimat itu menjadi mantra. Ia mengantar Vanessa masuk ke Meridian Global sebagai staf administrasi kontrak, naik menjadi sekretaris eksekutif, lalu menjadi orang yang bisa membuat tiga direktur menunggu karena Bu Diana membutuhkan catatannya lebih dulu. Ia membeli softlens agar terlihat lebih segar di kantor, belajar memilih blazer diskon yang jatuhnya seperti mahal, dan berlatih tersenyum tanpa membiarkan siapa pun melihat retakan di baliknya.
Cinta, menurut Vanessa, bukan prioritas. Cinta adalah ruangan bagus yang boleh dikunjungi jika semua tagihan sudah dibayar dan tidak ada orang yang menunggu obat di rumah.
Masalahnya, tubuh manusia kadang tidak setertib rencana karier.
Ia tetap punya keinginan. Ia tetap suka disentuh dengan benar, tetap suka merasa diinginkan tanpa harus dimiliki, tetap ingin tertawa setelah malam yang panjang. Bedanya, ia belajar membuat batas. Tidak dengan rekan kampus. Tidak dengan teman kantor. Tidak dengan orang yang bisa menghancurkan ruang kerja yang ia bangun susah payah.
Jangan main di kandang sendiri.
Vanessa mengira aturan itu cukup kuat untuk menjaga hidupnya tetap rapi.
Sampai sebuah nama baru mulai bergerak menuju Meridian, membawa bayangan yang belum ia kenal, dan membuat semesta seperti sedang menyiapkan lelucon paling berbahaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments