Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Kobaran yang Merenggut Segalanya

Menteng, Jakarta Pusat

11 September 2000

Langit siang itu seharusnya biru cerah, namun kini tertutup selimut asap hitam pekat yang membumbung tinggi hingga menembus awan. Di Jalan R.M. Panji Soeroso, keheningan lingkungan yang biasanya tenang mendadak pecah oleh teriakan panik dan deru napas yang memburu. Lidah api yang ganas melahap dinding, jendela, dan atap sebuah rumah besar bergaya klasik yang sejak lama menjadi kebanggaan warga sekitar. Bau asap menyengat bercampur dengan aroma kayu terbakar dan sesuatu yang lain—bau yang menyakitkan hati dan sulit dilupakan—terbawa angin ke seluruh penjuru jalan.

"Air! Kita butuh lebih banyak air, cepat!" teriak seorang warga sambil memegangi ujung selang yang airnya mulai menyusut.

"Ambil selang dari rumah Pak RT! Yang besar!" sahut orang lain sambil berlari tergopoh-gopoh.

"Pak Arya! Bu Citra! Kalian di dalam sana?!" panggil tetangga sebelah rumah dengan suara parau, matanya menatap tak percaya pada kobaran api yang semakin meluas.

Beberapa pria berbadan tegap nekat melangkah maju, bahu mereka bergotong-royong mendobrak pintu depan yang sudah hangus di bagian pinggir. Namun hawa panas yang menyengat seketika menghantam wajah mereka, memaksa mereka mundur terhuyung-huyung sambil menutup hidung dan mulut. Api telah menguasai hampir seluruh bangunan, menjadikannya sebuah neraka yang menyala di tengah pemukiman elit.

Rumah itu milik pasangan yang sangat dihormati dan dikenal hampir semua orang di lingkungan tersebut: Ir. Arya Arsyad Sikumbang dan istrinya, dr. Citra Denta Kanaya, dokter yang murah hati dan tak pernah menolak membantu siapa pun yang datang meminta pertolongan. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang paling ramah, paling dermawan, dan paling bahagia di antara tetangga lainnya. Tak seorang pun menyangka bahwa rumah yang penuh kasih sayang itu kini berubah menjadi lautan api yang mencekam.

Tak lama kemudian, deru mesin mobil Toyota Land Cruiser 100 terdengar mendekat, lalu berhenti mendadak di tepi jalan tepat di belakang kerumunan warga. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar turun dengan wajah yang tegang luar biasa. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya meski ia belum bergerak jauh dari mobil. Itu adalah AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang.

Belum sempat ia menutup pintu mobil belakang, dua anak laki-laki kembar berusia lima tahun meloncat keluar dengan pakaian tidur yang belum sempat diganti. Mata mereka membelalak tak percaya melihat rumah yang kini tak lagi berbentuk seperti tempat mereka pulang setiap hari.

"Ayah! Bunda!" seru yang satu, Bhumi, suaranya melengking penuh harap sekaligus takut.

"Adik Nadya!" sahut Bayu, kakak beradik yang lain, matanya mencari-cari di antara kepulan asap seolah bisa melihat sosok adik kecil mereka di sana.

Keduanya berlari sekuat tenaga menuju gerbang rumah yang sudah terbakar, tak peduli pada panas yang semakin terasa di kulit mereka.

"Bhumi! Bayu! Jangan ke sana!"

Andi segera melangkah lebar, menangkap kedua bocah itu di tengah lari mereka, lalu memeluk keduanya erat-erat seolah takut kehilangan mereka juga. Tubuh mungil kedua keponakannya itu gemetar hebat di dalam pelukannya.

"Jangan... jangan ke sana, Nak. Berbahaya sekali."

"Tapi Ayah sama Bunda masih ada di dalam! Harus kita selamatkan!" teriak Bhumi sambil meronta kuat, air mata mulai mengalir deras di pipinya.

"Adik Nadya juga belum keluar! Dia takut gelap, Om! Dia takut api!" Bayu menangis semakin keras, tangannya mencengkeram seragam pamannya.

Andi memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya terasa sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menindih paru-parunya. Ia tahu betul peluang untuk menyelamatkan mereka sudah hilang sejak api pertama kali muncul.

"Maafkan Om... maafkan Om, Nak. Om hanya sempat menyelamatkan kalian berdua dari tempat penitipan anak tadi. Sisanya... sisanya terlambat."

Tangis kedua bocah itu akhirnya pecah sepenuhnya. Mereka berhenti meronta, hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil terus memanggil nama kedua orang tua dan adik perempuan mereka yang masih terperangkap di dalam bangunan yang semakin runtuh. Hati Andi hancur melihat kepolosan yang direnggut secara paksa dari jiwa kedua anak itu.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Andi merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor yang sudah sangat hafal di kepalanya.

"Tirta..."

"Ya, Yah? Ada apa?" suara di seberang sana terdengar bingung mendengar nada bicara ayahnya yang berantakan.

"Kamu lihat berita di televisi? Atau dengar kabar apa pun soal kebakaran di Menteng?"

"Iya... barusan ada di berita. Itu... itu rumah Om Arya, kan?"

"Iya. Itu rumah mereka."

Suara di seberang telepon mendadak hening total selama beberapa detik, seolah waktu berhenti berputar.

"Bawa motor ke sini sekarang. Ayah butuh bantuanmu untuk membawa Bhumi dan Bayu pergi dari sini."

"Lima menit lagi, Yah. Aku segera meluncur," jawab Tirta singkat dan tegas, lalu sambungan terputus.

 

Tak lama berselang, deru mesin sepeda motor yang kencang terdengar mendekat, lalu berhenti mendadak di pinggir jalan. Seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun dengan wajah yang masih memancarkan ketegasan namun penuh kecemasan melepas helmnya, lalu berlari menerobos kerumunan warga menuju ayahnya. Itu adalah Tirta Aji Pamungkas .

"Ayah! Bagaimana keadaan di dalam?" tanyanya napas terengah-engah.

Andi tak menjawab, hanya menyerahkan kunci mobil yang sudah siap di tangannya.

"Bawa Adik kecil kembar kamu,Bhumi dan Bayu pulang ke rumah . Jangan biarkan mereka melihat apa yang terjadi di sini lebih lama lagi."

Tirta mengangguk paham meski hatinya ikut bergetar. Ia berbalik menghampiri kedua keponakan sepupunya yang masih duduk di tepi trotoar dengan mata bengkak.

Ia membuka pintu mobil, lalu berjongkok di depan mereka dan tersenyum lembut—senyum yang berusaha menyembunyikan kesedihan yang sama besarnya.

"Hei... kok dua jagoan Abang ini menangis? Katanya anak laki-laki harus kuat," ucapnya pelan sambil mengusap kepala mereka.

"Rumah kita terbakar, Bang... semuanya hilang," jawab Bhumi lirih.

"Ayah sama Bunda... mereka belum keluar," tambah Bayu dengan suara yang terputus-putus.

Tirta menelan ludah dengan susah payah agar isak tangisnya sendiri tak keluar. Ia merangkul bahu mereka berdua.

"Ayo ikut Abang dulu, ya. Nanti kita bicara banyak-banyak di rumah."

"Nggak mau! Aku nunggu Ayah sama Bunda!" tolak Bayu.

"Adik Nadya masih di sana! Aku nunggu dia!" seru Bhumi.

Tirta menutup matanya sejenak, menarik napas panjang untuk mengumpulkan kekuatan, lalu kembali tersenyum tipis.

"Kalau kalian tetap di sini, Ayah Abang malah makin susah bekerja menolong orang lain. Nanti Ayah Abang jadi sedih kalau melihat kalian sakit karena asap."

Perlahan namun pasti, ia menggendong Bayu lebih dulu dan memasukkannya ke kursi belakang, lalu kembali menggendong Bhumi. Kedua bocah itu akhirnya menurut, meski tangis mereka tak kunjung berhenti dan mata mereka terus menatap ke arah rumah yang kini tinggal puing-puing menyala.

 

Beberapa menit kemudian, sirine mobil polisi dan ambulans terdengar beriringan. Kendaraan pemadam kebakaran pun tiba dengan pasukan lengkap, segera menyusun strategi untuk memadamkan sisa api yang masih menyala di sela-sela reruntuhan.

Seorang anggota polisi berpangkat Brigadir Polisi Dua menghampiri Andi dan memberi hormat dengan sikap tegap namun wajahnya penuh kesungguhan.

"Siap, Komandan. Pasukan sudah lengkap di lokasi."

AKBP Andi membalas hormat itu dengan gerakan yang mantap, meski hatinya sedang berkeping-keping.

"Segera amankan seluruh area lokasi. Pasang garis polisi di sekeliling rumah. Jangan ada seorang pun—termasuk warga—yang masuk sebelum api benar-benar padam dan dinyatakan aman oleh petugas pemadam."

"Siap, Komandan!"

"Setelah itu, segera bentuk tim olah tempat kejadian perkara. Periksa setiap jengkal tanah dan puing dengan teliti. Jangan sampai ada jejak yang terlewat."

"Siap dilaksanakan, Komandan!"

Andi mengangguk pelan, lalu kembali memandang rumah yang kini tinggal rangka yang hangus. Di balik kobaran api itu terdapat adik kandungnya sendiri, Arya—sahabat seperjuangannya, orang yang selalu ia andalkan—beserta istri dan anak bungsunya. Namun sebagai seorang pemimpin dan penegak hukum, ia terpaksa menyembunyikan duka pribadinya di balik sikap profesional yang teguh.

 

Menjelang malam, suasana di lingkungan rumah sudah mulai sepi. Warga perlahan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang masih gelisah, sementara petugas kebersihan dan tim penyelamat masih bekerja di lokasi. Sementara itu, di kamar jenazah rumah sakit pusat kota, suasana jauh lebih hening, dingin, dan menyayat hati.

Lampu ruangan yang berwarna putih terang memantulkan kesunyian yang menyesakkan. Seorang dokter forensik melepaskan sarung tangan karetnya yang sudah lembap, lalu meletakkannya di atas meja dengan gerakan lambat. Di hadapannya berdiri Bripda Arif, tangan kanannya memegang buku catatan kecil sementara tangan kirinya mencatat setiap penjelasan dengan teliti.

"Hasil identifikasi DNA dan pemeriksaan awal sudah keluar," ujar dokter itu dengan nada datar namun berat.

"Bagaimana hasilnya, Dok? Apakah benar korban bertiga?" tanya Arif hati-hati.

Dokter itu mengangguk pelan, lalu menunjuk lembaran kertas di meja.

"Korban pertama dipastikan adalah Ir. Arya Arsyad Sikumbang. Kesesuaian data keluarga seratus persen."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Korban kedua adalah dr. Citra Arka Denta Kanaya. Identitas terkonfirmasi melalui ciri khas medis dan sampel biologis."

Ia berhenti sejenak, seolah memberanikan diri untuk menyebutkan nama yang paling menyakitkan.

"Korban ketiga adalah Nadya Arka Denta Prameswari, anak bungsu berusia Satu Setengah tahun."

Bripda Arif menunduk dalam, matanya terasa panas.

"Jadi... ketiganya meninggal di tempat, Dok?"

Dokter kembali mengangguk, namun ekspresinya kini berubah serius.

"Bukan hanya itu, Bripda. Kami menemukan hal yang sangat mencurigakan pada tubuh korban sebelum api menyentuhnya."

Ia membuka beberapa lembar laporan pemeriksaan awal.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di bagian belakang kepala. Peluru masuk dari jarak dekat, dan keduanya sudah meninggal sebelum api mulai menjilat tubuh mereka."

Mata Arif langsung terbelalak kaget.

"Berarti... ini bukan kecelakaan murni? Bukan kebakaran yang tak sengaja terjadi?"

"Benar sekali. Ini bukan kecelakaan biasa," tegas dokter itu.

Ruangan mendadak terasa semakin dingin, seolah suhu udara turun drastis. Dokter itu kembali melanjutkan dengan suara yang makin pelan namun jelas.

"Pada korban perempuan dewasa, Bu Citra, juga ditemukan indikasi kuat adanya kekerasan seksual yang dilakukan beberapa jam sebelum kematiannya. Ada luka memar dan robekan yang tidak berhubungan dengan kebakaran."

Arif mengepalkan tangannya erat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

"Ya Tuhan... sungguh kejam," desisnya pelan.

"Selain itu," tambah dokter,

"kondisi jasad menunjukkan adanya tanda-tanda mutilasi atau pengrusakan tubuh yang dilakukan setelah korban meninggal dunia, kemungkinan besar untuk menyamarkan jejak kejahatan."

Kedua orang itu terdiam selama beberapa detik, hanya suara detak jam dinding yang terdengar memecah keheningan.

"Kesimpulan sementara dari tim forensik," ujar dokter itu akhirnya, "ini adalah kasus pembunuhan berencana yang kemudian disamarkan sebagai kebakaran rumah untuk menghapus bukti."

Bripda Arif mengangguk pelan, menyimpan buku catatannya dengan hati-hati seolah itu beban yang sangat berat.

"Baik, Dok. Saya akan segera melaporkan hasil lengkap ini kepada Komandan Andi."

 

Di luar rumah sakit, malam telah larut sepenuhnya. Langit Jakarta tampak kelabu tanpa bintang, seolah ikut berduka atas kejadian yang mengerikan itu. Bripda Arif segera menekan nomor ponsel atasannya.

"Komandan..."

"Iya, Rif. Sudah ada hasil?" suara Andi terdengar berat dan lelah di seberang sana.

"Laporan awal pemeriksaan jenazah sudah selesai, Pak."

"Bagaimana... bagaimana hasilnya?"

Arif menarik napas panjang, berusaha menahan getar di suaranya.

"Korban dipastikan bertiga, Pak. Pak Arya, Bu Citra, dan Nadya. Tidak ada yang selamat."

Terdengar hening sejenak.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di belakang kepala, Pak. Mereka sudah meninggal sebelum kebakaran terjadi."

Hening kembali menyelimuti sambungan telepon.

"Dan Bu Citra..." Arif menggigit bibir bawahnya, "ditemukan bukti kekerasan seksual sebelum dibunuh, serta tanda-tanda pengrusakan tubuh setelahnya."

Terdengar suara benda berat jatuh pelan di seberang sana—ponsel di tangan Andi hampir terlepas dan jatuh ke lantai.

Rahang Andi mengeras, matanya yang semula dipenuhi air mata dan kesedihan perlahan berubah tajam, dipenuhi amarah yang membara.

"Siapa pun pelakunya..." ucapnya pelan namun mengancam, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, "...aku akan menemukan mereka sampai ke ujung dunia. Aku pastikan mereka tidak akan lolos dari hukum dan pembalasan yang setimpal."

Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari hiruk-pikuk sirine dan tangis duka, di sebuah ruangan remang-remang yang tertutup rapat, seseorang perlahan menekan tombol mati pada televisi yang baru saja menayangkan berita kebakaran di Menteng. Senyum tipis namun dingin dan penuh kemunafikan muncul di sudut bibirnya.

"Api memang pandai menghapus jejak, membakar bukti hingga tak berbentuk lagi," gumamnya pelan pada bayangannya sendiri di dinding.

"Tapi sayang sekali... tidak semuanya bisa dihapus begitu saja."

 

Episodes
1 Kobaran yang Merenggut Segalanya
2 Silek Minangkabau ,Silek Harimau Dalam Novel Hakim Dari Kegelapan
3 Bhumi Dan Bayu
4 Lembayung senja Dari Timur
5 Tanah Para Leluhur Tanah Minang
6 Duka Dibalik Kebenaran
7 Menitipkan Dua Jiwa Di Tanah Pusaka
8 Menjemput Impian Di Lereng Singgalang
9 Pertemuan Dengan Keluarga
10 Menjemput Impian Di Lereng Singgalang Bagian 2
11 Tiga Panglima Singgalang
12 Menjemput Impian Di Lereng Singgalang Bag 3
13 Langkah Terakhir Di Lereng Gunung Singgalang
14 Langkah Terakhir Di Lereng Gunung Singgalang Bag 2
15 Meniti Harapan Maju Kedepan
16 Pelangi Di Desa Pande Sikek
17 Sumpah Para Harimau Di Lereng Gunung Singgalang
18 Senda Gurau Di Depan Rumah Gadang
19 Mendung Di Nagari Pande Sikek
20 Amanah Suci Dari Tanah Para Leluhur
21 Pulang Ke Tanah Kelahiran
22 Kembali Ke Masa Lalu
23 Masihkah Ada Senyum
24 Senandung Lembut Sang Bayu
25 Bhumi Dan Anindya
26 Meraih Harapan dan Impian
27 Langkah Pertama Menuju Cita-cita
28 Antara Cinta Dan Benci Yang Menyatu
29 Kamar yang Bercerita
30 Perjanjian Hati dan Harapan Masa Depan
31 Janji di Bawah Langit Berbintang
32 Bhumi Dan Anindya Bag 2
33 Meniti Impian Menuju Masa Depan
34 CINTA YANG DIPERJUANGKAN, CINTA YANG DIPERSIAPKAN
35 PERPISAHAN YANG MEMBAWA KEKUATAN
36 JANJI SUCI SANG PENJAGA HATI
37 Antara Jarak Yang Bertaut Satu Hati
38 Cahaya Bahagia di Ujung Lelah
39 ANUGERAH YANG MENYEMPURNAKAN HIDUP
40 SAAT DUA MALAJKAT KECIL MENGINJAK BUMI
41 Demi Waktu Yang Kembali Bersama
42 JINGGA SORE DAN KISAH YANG MENGHANGATKAN HATI
43 PESAN TERAKHIR DI RUANG PERAWATAN VVIP
44 PERPISAHAN DI TANAH KEMBALI KEPADA SANG PENCIPTA
45 Keadilan di Atas Lautan Bisnis
46 Meniti Asa Sang Penuai Harapan
47 Meniti Asa Sang Penuai Harapan Bag 2
48 DI BALIK MEEKANISME KEKUASAAN
49 PERTEMUAN YANG MENYIMPAN JEJAK LAMA
50 PINTU RAHASIA DAN WARISAN CAKAR HARIMAU
51 Anakia Bersaudara
52 Misteri Lantai Berdarah
53 Sang Kegelapan
54 Pembalasan Di Lorong Berdarah
55 Pembalasan Dari Sang Kegelapan
56 Kebohongan Yang Tersamarkan
57 PESAN DARI RUANG OTOPSI
58 BEBAN KEBENARAN DAN KERENDAHAN HATI
59 SENYUM DI TENGAH DUKA
60 Delpa Sulawesi
61 Balas Dendam Tanpa Suara
62 KISAH KEMBALINYA SANG PENGUASA
63 RUNTUHNYA KEKUASAAN GELAP
64 PEMBALASAN YANG TERTUNDA
65 Fajar YANG MENYINARI KEBENARAN
66 SENYUM DAN KASIH SAYANG DI TENGAH KESEDERHANAAN
67 AIR MATA DAN JANJI KEADILAN
68 Suara Kebenaran Dibalik Dinding Pengadilan
69 UJIAN KEBENARAN DI RUANG SIDANG
70 KEBENARAN TAK BISA DITEKAN OLEH AMARAH
71 Kemenangan Kebenaran Yang Tak Terbantahkan
72 PERMINTAAN KEADILAN BAGI HARUN BARAKATI
73 JANJI KEPADA SAHABAT DAN KELUARGA
74 KEPULANGAN YANG DIRINDUKAN
75 KEPULANGAN YANG DINANTI
76 PELUKAN, ISTIRAHAT, DAN KASIH SAYANG TANPA BATAS
77 RUMAH LAMA, SAHABAT LAMA, DAN GOTONG ROYONG YANG MENGHANGATKAN HATI
78 RUMAH LAMA, SAHABAT LAMA, DAN KENANGAN YANG TAK PERNAH PUDAR
79 TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN, NASIHAT YANG MENGHANGATKAN HATI
80 KEHANGATAN RUMAH, DOA, DAN PERJALANAN MENUJU KEBAHAGIAAN
81 SUARA DI TENGAH KERUMUNAN: KEADILAN DI ATAS TANAH YANG DIKHIANATI
82 TOPENG KEKUASAAN GELAP DI BALIK DINDING KACA
83 KEPULANGAN DI TENGAH KERUMUNAN: SATUKAN KEKUATAN HUKUM UNTUK KEBENARAN
84 Pelangi Di Antara Langit Senja
85 KETAKUTAN YANG MEMBAWA PERSATUAN
86 MALAM DAN BUKU LAMA: JEJAK Sang Kegelapan
87 BULAN SABIT DAN BAYANGAN DI GEDUNG LATUMAHINA
88 RAPAT YANG TERGANGGU: BAYANGAN DI BALIK KEKUASAAN GELAP
89 Kembalinya Sang Kegelapan
90 Pembalasan Kematian Anak Buah Latumahina
91 Persekutuan Jahat Para Mafia
92 KEDATANGAN SANG PENGHUKUM
93 DENTUMAN KEADILAN YANG MEMATIKAN
94 Sang Penghukum
95 TIGA PILAR JATUH DI TANGAN SANG BAYANGAN
96 Lelah Ditengah Pembalasan
97 DI ANTARA NAFAS YANG MEMBURU DAN TITIK MATI
98 KELELAHAN, KEMENANGAN, DAN KEMANUSIAAN YANG TERSISA
99 JALAN PULANG YANG BERAT
100 LAPORAN DI TENGAH KETEGANGAN: JEJAK PENJAGAL DAN HANTU SENYAP
101 TERBANGUN DI TENGAH KESIBUKAN, PANGGILAN KASIH SAYANG
102 Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh
103 LIARKAN RASA
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Kobaran yang Merenggut Segalanya
2
Silek Minangkabau ,Silek Harimau Dalam Novel Hakim Dari Kegelapan
3
Bhumi Dan Bayu
4
Lembayung senja Dari Timur
5
Tanah Para Leluhur Tanah Minang
6
Duka Dibalik Kebenaran
7
Menitipkan Dua Jiwa Di Tanah Pusaka
8
Menjemput Impian Di Lereng Singgalang
9
Pertemuan Dengan Keluarga
10
Menjemput Impian Di Lereng Singgalang Bagian 2
11
Tiga Panglima Singgalang
12
Menjemput Impian Di Lereng Singgalang Bag 3
13
Langkah Terakhir Di Lereng Gunung Singgalang
14
Langkah Terakhir Di Lereng Gunung Singgalang Bag 2
15
Meniti Harapan Maju Kedepan
16
Pelangi Di Desa Pande Sikek
17
Sumpah Para Harimau Di Lereng Gunung Singgalang
18
Senda Gurau Di Depan Rumah Gadang
19
Mendung Di Nagari Pande Sikek
20
Amanah Suci Dari Tanah Para Leluhur
21
Pulang Ke Tanah Kelahiran
22
Kembali Ke Masa Lalu
23
Masihkah Ada Senyum
24
Senandung Lembut Sang Bayu
25
Bhumi Dan Anindya
26
Meraih Harapan dan Impian
27
Langkah Pertama Menuju Cita-cita
28
Antara Cinta Dan Benci Yang Menyatu
29
Kamar yang Bercerita
30
Perjanjian Hati dan Harapan Masa Depan
31
Janji di Bawah Langit Berbintang
32
Bhumi Dan Anindya Bag 2
33
Meniti Impian Menuju Masa Depan
34
CINTA YANG DIPERJUANGKAN, CINTA YANG DIPERSIAPKAN
35
PERPISAHAN YANG MEMBAWA KEKUATAN
36
JANJI SUCI SANG PENJAGA HATI
37
Antara Jarak Yang Bertaut Satu Hati
38
Cahaya Bahagia di Ujung Lelah
39
ANUGERAH YANG MENYEMPURNAKAN HIDUP
40
SAAT DUA MALAJKAT KECIL MENGINJAK BUMI
41
Demi Waktu Yang Kembali Bersama
42
JINGGA SORE DAN KISAH YANG MENGHANGATKAN HATI
43
PESAN TERAKHIR DI RUANG PERAWATAN VVIP
44
PERPISAHAN DI TANAH KEMBALI KEPADA SANG PENCIPTA
45
Keadilan di Atas Lautan Bisnis
46
Meniti Asa Sang Penuai Harapan
47
Meniti Asa Sang Penuai Harapan Bag 2
48
DI BALIK MEEKANISME KEKUASAAN
49
PERTEMUAN YANG MENYIMPAN JEJAK LAMA
50
PINTU RAHASIA DAN WARISAN CAKAR HARIMAU
51
Anakia Bersaudara
52
Misteri Lantai Berdarah
53
Sang Kegelapan
54
Pembalasan Di Lorong Berdarah
55
Pembalasan Dari Sang Kegelapan
56
Kebohongan Yang Tersamarkan
57
PESAN DARI RUANG OTOPSI
58
BEBAN KEBENARAN DAN KERENDAHAN HATI
59
SENYUM DI TENGAH DUKA
60
Delpa Sulawesi
61
Balas Dendam Tanpa Suara
62
KISAH KEMBALINYA SANG PENGUASA
63
RUNTUHNYA KEKUASAAN GELAP
64
PEMBALASAN YANG TERTUNDA
65
Fajar YANG MENYINARI KEBENARAN
66
SENYUM DAN KASIH SAYANG DI TENGAH KESEDERHANAAN
67
AIR MATA DAN JANJI KEADILAN
68
Suara Kebenaran Dibalik Dinding Pengadilan
69
UJIAN KEBENARAN DI RUANG SIDANG
70
KEBENARAN TAK BISA DITEKAN OLEH AMARAH
71
Kemenangan Kebenaran Yang Tak Terbantahkan
72
PERMINTAAN KEADILAN BAGI HARUN BARAKATI
73
JANJI KEPADA SAHABAT DAN KELUARGA
74
KEPULANGAN YANG DIRINDUKAN
75
KEPULANGAN YANG DINANTI
76
PELUKAN, ISTIRAHAT, DAN KASIH SAYANG TANPA BATAS
77
RUMAH LAMA, SAHABAT LAMA, DAN GOTONG ROYONG YANG MENGHANGATKAN HATI
78
RUMAH LAMA, SAHABAT LAMA, DAN KENANGAN YANG TAK PERNAH PUDAR
79
TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN, NASIHAT YANG MENGHANGATKAN HATI
80
KEHANGATAN RUMAH, DOA, DAN PERJALANAN MENUJU KEBAHAGIAAN
81
SUARA DI TENGAH KERUMUNAN: KEADILAN DI ATAS TANAH YANG DIKHIANATI
82
TOPENG KEKUASAAN GELAP DI BALIK DINDING KACA
83
KEPULANGAN DI TENGAH KERUMUNAN: SATUKAN KEKUATAN HUKUM UNTUK KEBENARAN
84
Pelangi Di Antara Langit Senja
85
KETAKUTAN YANG MEMBAWA PERSATUAN
86
MALAM DAN BUKU LAMA: JEJAK Sang Kegelapan
87
BULAN SABIT DAN BAYANGAN DI GEDUNG LATUMAHINA
88
RAPAT YANG TERGANGGU: BAYANGAN DI BALIK KEKUASAAN GELAP
89
Kembalinya Sang Kegelapan
90
Pembalasan Kematian Anak Buah Latumahina
91
Persekutuan Jahat Para Mafia
92
KEDATANGAN SANG PENGHUKUM
93
DENTUMAN KEADILAN YANG MEMATIKAN
94
Sang Penghukum
95
TIGA PILAR JATUH DI TANGAN SANG BAYANGAN
96
Lelah Ditengah Pembalasan
97
DI ANTARA NAFAS YANG MEMBURU DAN TITIK MATI
98
KELELAHAN, KEMENANGAN, DAN KEMANUSIAAN YANG TERSISA
99
JALAN PULANG YANG BERAT
100
LAPORAN DI TENGAH KETEGANGAN: JEJAK PENJAGAL DAN HANTU SENYAP
101
TERBANGUN DI TENGAH KESIBUKAN, PANGGILAN KASIH SAYANG
102
Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh
103
LIARKAN RASA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!