Tes Pertama

Pena di tangan Aisha terasa begitu berat saat digesekkan di atas kertas putih tebal itu. Setelah membubuhkan tanda tangan, ia meletakkan pena dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Kontrak itu resmi mengikatnya. Mulai hari ini, ia bukan lagi seorang wanita bebas, melainkan seorang Ibu Susu yang terikat aturan ketat di dalam mansion megah ini.

Adrian menarik dokumen itu, memeriksanya sekilas dengan tatapan puas yang dingin, lalu memasukkannya kembali ke dalam laci meja kerja marmernya.

"Kontrak sudah sah," ujar Adrian sembari berdiri. "Bi Asih akan mengantarmu ke paviliun belakang. Di sana adalah tempat tinggalmu. Tapi sebelum kamu mulai bertugas secara resmi, ada satu hal lagi yang harus kita lakukan."

Aisha mendongak, matanya yang sembap menatap Adrian dengan bingung. "Hal apa, Tuan?"

"Tes pertama," jawab Adrian singkat. "Tadi malam, anakku dalam kondisi setengah sadar karena kritis. Sekarang, dia sudah jauh lebih segar. Aku ingin melihat apakah dia benar-benar menerima kehadiranmu atau tidak saat dia terjaga penuh."

Adrian berjalan melewati Aisha tanpa menunggu jawaban, mengisyaratkan agar wanita itu mengikutinya kembali ke lantai dua.

---

Di dalam kamar bayi, suasananya kini jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Kamar itu begitu luas, dengan dinding yang dicat warna biru pastel lembut dan dipenuhi perabotan bayi premium yang diimpor langsung dari luar negeri.

Kael sedang berbaring di dalam boks bayi yang terbuat dari kayu kokoh bertirai kelambu putih. Bayi mungil itu sudah terbangun. Sepasang mata bulatnya yang jernih mengerjap-ngerjap menatap langit-langit kamar, sementara tangan-tangan mungilnya yang terbungkus sarung tangan kain bergerak acak di udara.

Dokter pribadi Adrian dan Bi Asih sudah berdiri di dekat boks, menunggu kedatangan mereka dengan raut wajah tegang. Bagaimanapun, tes saat bayi terjaga sepenuhnya adalah penentu apakah insting sang bayi benar-benar menolak atau menerima ibu susu tersebut.

"Tuan Adrian, Den Kael baru saja terbangun sekitar sepuluh menit yang lalu. Kondisi fisiknya jauh lebih stabil berkat ASI tadi malam," lapor Dokter dengan nada suara rendah agar tidak mengejutkan sang bayi.

Adrian mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah Aisha yang berdiri kaku di ambang pintu, tampak sangat canggung dan minder melihat kemewahan di sekelilingnya.

"Aisha, mendekatlah," perintah Adrian, suaranya terdengar seperti titah yang tidak boleh dibantah. "Gendong dia."

Aisha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia melangkah perlahan, mendekati boks bayi tersebut. Begitu matanya menatap sosok Kael yang sedang mengerjap sehat, rasa hangat langsung menjalar di sekujur tubuh Aisha. Kerinduan mendalam kepada bayinya sendiri yang telah tiada mendadak menjelma menjadi limpahan kasih sayang untuk Kael.

Aisha mengulurkan kedua tangannya yang bersih ke dalam boks. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian, ia menyelipkan lengannya di bawah leher dan punggung kecil Kael, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

Begitu tubuh mereka bersentuhan, Kael mendadak terdiam. Gerakan tangan dan kakinya yang tadinya acak langsung terhenti.

Adrian maju satu langkah, matanya menyipit tajam, memperhatikan setiap detail reaksi putranya dengan napas yang tertahan. Jika Kael menangis atau meronta sekarang, maka keberadaan Aisha di rumah ini akan sia-sia.

Namun, ketakutan itu tidak terjadi.

Kael justru mengendus kecil, mengarahkan wajah mungilnya ke dada Aisha, mencari aroma khas yang menenangkannya tadi malam. Mengingat instruksi dokter, Aisha dengan perlahan menyingkap sedikit pakaian khususnya untuk menyusui secara tertutup, lalu memosisikan Kael dengan nyaman di lengan kirinya.

Saat mulut mungil Kael berhasil menggapai sumber ASInya, bayi itu langsung menyusu dengan sangat lahap. Matanya yang bulat sempat menatap wajah Aisha selama beberapa detik—seolah sedang mengenali wajah "ibu" barunya—sebelum akhirnya sepasang kelopak mata kecil itu perlahan meredup, menikmati kehangatan dan rasa aman dalam dekapan Aisha.

Keheningan di kamar itu mendadak pecah oleh helaan napas lega dari Dokter dan Bi Asih.

"Luar biasa..." bisik Dokter dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. "Ini benar-benar luar biasa, Tuan Adrian. Tidak ada penolakan sama sekali. Den Kael merasa sangat aman di pelukan Aisha. Tes pertama berhasil dengan sangat sempurna."

Bi Asih mengusap air mata haru di sudut matanya. "Benar, Tuan. Den Kael seperti menemukan ibunya kembali."

Adrian tetap bergeming di tempatnya berdiri. Tatapannya terpaku pada pemandangan di depannya. Ada sesuatu yang aneh yang bergejolak di dalam dadanya saat melihat bagaimana tenangnya Kael di pelukan Aisha. Selama ini, Adrian mengira bahwa uang dan fasilitas medis tercanggih bisa menyelesaikan segalanya, namun pemandangan ini membuktikan sebaliknya. Wanita rapuh di depannya memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uangnya yang melimpah: ketulusan seorang ibu.

Meskipun hatinya sedikit tersentuh, ego dan dinding keangkuhan Adrian dengan cepat mengambil alih kembali. Ia mendehem pelan, mengembalikan raut wajahnya menjadi sedingin es.

"Bagus kalau begitu," kata Adrian datar, memecah suasana haru. "Tes selesai. Bi Asih, setelah Kael selesai menyusu, segera antar Aisha ke paviliun belakang agar dia bisa beristirahat dan bersiap untuk jadwal menyusu berikutnya."

Aisha hanya menunduk pelan tanpa suara, membiarkan jemari mungil Kael yang bebas menggenggam erat ujung daster katunnya, seolah bayi itu enggan melepaskan pelukan hangat yang baru saja ditemukannya.

---

Bersambung

Terpopuler

Comments

Deni marvianawati

Deni marvianawati

jadi tugas aisha hanya menyusui aja yaa, waah Tuan Adrian nanti pengen nyus* juga looh lama² 🤣

2026-07-21

1

lihat semua
Episodes
1 Malam Kelam di Rumah Mertua
2 Sayembara Rahasia dan Keajaiban di Kamar Bayi
3 Takdir di Balik Pintu Kerja Sang CEO
4 Tes Pertama
5 Kontrak Ibu Susu
6 Kamar di Paviliun Belakang
7 Tatapan Dingin Sang CEO
8 Kehangatan yang Mulai Mencair
9 Masa Lalu Adrian
10 Gangguan dari Masa Lalu Aisha
11 Perlindungan Rahasia Sang CEO
12 Getaran yang Tak Seharusnya
13 Batasan yang Goyah
14 Pencarian dalam Senyap
15 Penyerbuan di Tengah Malam (Akhir Bagian Pertama)
16 Dua Detak Jantung di Paviliun
17 Badai yang Belum Usai
18 Benturan Dua Kasta
19 Rencana di Balik Layar
20 Kejutan yang Menanti
21 Panggung Sandiwara dan Kilat Amarah
22 Sisa Badai dan Pengakuan yang Terlambat
23 Episode 23: Runtuhnya Kerajaan Angkuh
24 Dendam dari Balik Jeruji
25 Pengintai di Balik Kabut Malam
26 Jebakan di Balik Jeruji
27 Aliansi yang Tak Terduga
28 Eksekusi di Ruang Sidang
29 Babak Baru di Balik Sangkar Emas
30 Langkah Pertama di Gedung Utama
31 Fajar Baru di Rumah Utama
32 Tamu dari Paris
33 Dingin di Balik Senyuman
34 Gesekan Pertama di Lantai Atas
35 Benih Keraguan
36 Retakan di Dinding Es
37 Pecahnya Kepercayaan
38 Runtuhnya Kerajaan Udara
39 Cahaya di Atas Menteng
40 Bayang-Bayang dari Masa Lalu
41 Rahasia di Balik Lemari Besi
42 Pertemuan di Remang Veranda
43 Jerat dari Masa Lalu
44 Badai di Kafe Veranda
45 Ikatan yang Lebih Kental dari Darah
46 Akhir dari Sebuah Badai
47 Fajar Baru dan Bara yang Tersimpan
48 Bisikan di Lorong Gelap
49 Retakan Dua Saudara
50 Jejak di Bawah Hujan
51 Perang Terbuka
52 Singa-Singa Muda Arkan
53 Mahkota yang Sebenarnya
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Malam Kelam di Rumah Mertua
2
Sayembara Rahasia dan Keajaiban di Kamar Bayi
3
Takdir di Balik Pintu Kerja Sang CEO
4
Tes Pertama
5
Kontrak Ibu Susu
6
Kamar di Paviliun Belakang
7
Tatapan Dingin Sang CEO
8
Kehangatan yang Mulai Mencair
9
Masa Lalu Adrian
10
Gangguan dari Masa Lalu Aisha
11
Perlindungan Rahasia Sang CEO
12
Getaran yang Tak Seharusnya
13
Batasan yang Goyah
14
Pencarian dalam Senyap
15
Penyerbuan di Tengah Malam (Akhir Bagian Pertama)
16
Dua Detak Jantung di Paviliun
17
Badai yang Belum Usai
18
Benturan Dua Kasta
19
Rencana di Balik Layar
20
Kejutan yang Menanti
21
Panggung Sandiwara dan Kilat Amarah
22
Sisa Badai dan Pengakuan yang Terlambat
23
Episode 23: Runtuhnya Kerajaan Angkuh
24
Dendam dari Balik Jeruji
25
Pengintai di Balik Kabut Malam
26
Jebakan di Balik Jeruji
27
Aliansi yang Tak Terduga
28
Eksekusi di Ruang Sidang
29
Babak Baru di Balik Sangkar Emas
30
Langkah Pertama di Gedung Utama
31
Fajar Baru di Rumah Utama
32
Tamu dari Paris
33
Dingin di Balik Senyuman
34
Gesekan Pertama di Lantai Atas
35
Benih Keraguan
36
Retakan di Dinding Es
37
Pecahnya Kepercayaan
38
Runtuhnya Kerajaan Udara
39
Cahaya di Atas Menteng
40
Bayang-Bayang dari Masa Lalu
41
Rahasia di Balik Lemari Besi
42
Pertemuan di Remang Veranda
43
Jerat dari Masa Lalu
44
Badai di Kafe Veranda
45
Ikatan yang Lebih Kental dari Darah
46
Akhir dari Sebuah Badai
47
Fajar Baru dan Bara yang Tersimpan
48
Bisikan di Lorong Gelap
49
Retakan Dua Saudara
50
Jejak di Bawah Hujan
51
Perang Terbuka
52
Singa-Singa Muda Arkan
53
Mahkota yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!