Kontrak Ibu Susu

Sore harinya, setelah Kael tertidur lelap akibat kekenyangan, Bi Asih mengantarkan Aisha menuju paviliun belakang. Bangunan tersebut terpisah dari mansion utama, melewati sebuah koridor panjang yang dikelilingi taman asri dengan pembatas dinding kaca.

Meski disebut "paviliun belakang", fasilitas di dalamnya tetap terasa sangat mewah bagi Aisha. Kamar tidurnya luas, dilengkapi dengan ranjang king size, kamar mandi dalam yang bersih, serta sebuah lemari besar yang sudah diisi penuh dengan pakaian baru yang longgar, bersih, dan sangat nyaman untuk seorang ibu yang sedang menyusui.

"Istirahatlah di sini, Nak Aisha," ujar Bi Asih lembut sembari menata beberapa perlengkapan bayi di atas meja. "Semua keperluanmu sudah disiapkan oleh Tuan Adrian. Jika kamu butuh apa-apa, tinggal tekan tombol telepon di dinding ini, langsung tersambung ke dapur utama."

Aisha tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Terima kasih, Bi. Tempat ini... terlalu bagus untuk saya."

"Ini semua demi kenyamananmu, karena kenyamananmu memengaruhi kualitas air susumu untuk Den Kael," jawab Bi Asih dengan nada menenangkan sebelum pamit undur diri dari kamar.

Saat pintu tertutup, keheningan malam mulai merayap masuk. Aisha duduk di tepi ranjang, menatap pakaian barunya. Kemewahan ini tidak lantas membuat hatinya tenang. Pikirannya kembali melayang pada bayinya yang malang, yang bahkan belum sempat ia timang namun sudah dinyatakan meninggal oleh mertuanya yang kejam.

Aisha meremas dadanya yang terasa ngilu oleh rasa rindu, hingga akhirnya ia tertidur dalam tangisan yang tertahan di balik bantal.

---

Keesokan paginya, Aisha kembali dipanggil ke ruang kerja Adrian di mansion utama. Kali ini, di atas meja marmer sang CEO, sudah ada dua map dokumen yang terbuka serta sebuah amplop tebal berwarna cokelat.

Adrian duduk dengan posisi tegap, tatapannya sedingin es, mengawasi Aisha yang berjalan masuk dengan kepala menunduk.

"Duduk," perintah Adrian singkat.

Aisha duduk di kursi kulit di hadapan Adrian, merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan.

"Kemarin kita sudah sepakat secara lisan. Hari ini, dokumen hitam di atas putih ini harus kita patuhi bersama," kata Adrian, menggeser salah satu dokumen ke hadapan Aisha. "Ini adalah **Kontrak Ibu Susu** secara detail. Ada beberapa poin tambahan yang wajib kamu tanda tangani dan patuhi tanpa bantahan."

Adrian mengetukkan pulpennya ke meja, membacakan poin-poin tersebut dengan nada suara yang tegas dan mengintimidasi.

"Pertama, statusmu di rumah ini adalah rahasia mutlak. Di luar rumah ini, tidak boleh ada satu pun orang, termasuk media atau keluargamu, yang tahu bahwa kamu adalah ibu susu dari putraku. Jika rahasia ini bocor dari mulutmu, hukumannya adalah penjara."

Aisha meneguk ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk pelan. "Baik, Tuan."

"Kedua," lanjut Adrian, matanya menyipit tajam. "Kamu dilarang keras membawa atau menunjukkan emosi pribadi yang berlebihan di depan Kael. Ingat posisimu, kamu bukan ibunya, kamu hanya penyedia ASI yang dibayar. Jangan pernah berharap atau bermimpi untuk menaikkan kastamu melalui anakku."

Kata-kata Adrian yang begitu tajam terasa seperti sembilu yang mengiris hati Aisha. Pria di depannya benar-benar tidak memiliki celah kehangatan. Ia memperlakukan kasih sayang seorang ibu seperti sebuah transaksi bisnis semata.

"Dan yang ketiga," Adrian menggeser amplop cokelat tebal ke arah Aisha. "Ini adalah uang muka untuk bulan pertama tugasmu. Jumlahnya seratus juta rupiah. Uang ini akan masuk ke rekeningmu setiap bulan, di luar semua fasilitas hidup dan jaminan kesehatan yang kamu terima di rumah ini."

Aisha menatap amplop tebal itu dengan tatapan kosong. Bagi orang lain, uang sejumlah itu adalah keberuntungan luar biasa. Namun bagi Aisha yang baru saja kehilangan bayinya, uang melimpah itu terasa hambar. Kehadiran Kael-lah yang sebenarnya menjadi satu-satunya alasan mengapa ia bersedia bertahan di tempat yang asing dan dingin ini.

"Saya tidak butuh uang sebanyak ini, Tuan Adrian. Seperti yang saya katakan kemarin, saya hanya ingin..."

"Aku tidak menerima penolakan," potong Adrian dengan cepat dan mutlak. "Keluarga Arkan tidak pernah berutang budi pada siapa pun, apalagi mempekerjakan orang tanpa bayaran. Ambil uang itu, tandatangani kontraknya, dan jalankan tugasmu dengan benar."

Aisha mengembuskan napas pasrah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas meterai yang telah disediakan.

Setelah selesai, Adrian menarik kembali dokumen tersebut. Sesaat, tatapan mata mereka saling beradu. Ada ketegangan yang aneh di antara mereka—Adrian dengan keangkuhan dan kedinginannya yang membenteng, serta Aisha dengan kerapuhan namun menyimpan keteguhan hati yang luar biasa demi melindungi bayi mungil yang kini bergantung hidup padanya.

"Mulai hari ini, kontrak ini resmi berjalan," ucap Adrian pelan, mengunci dokumen tersebut ke dalam brankas pribadinya.

Pertemuan itu berakhir, menandai dimulainya babak baru kehidupan Aisha di bawah atap kediaman sang CEO dingin, tanpa ia sadari bahwa kontrak yang baru saja ia tanda tangani akan menyeretnya ke dalam pusaran rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari masa lalunya.

---

Bersambung

Episodes
1 Malam Kelam di Rumah Mertua
2 Sayembara Rahasia dan Keajaiban di Kamar Bayi
3 Takdir di Balik Pintu Kerja Sang CEO
4 Tes Pertama
5 Kontrak Ibu Susu
6 Kamar di Paviliun Belakang
7 Tatapan Dingin Sang CEO
8 Kehangatan yang Mulai Mencair
9 Masa Lalu Adrian
10 Gangguan dari Masa Lalu Aisha
11 Perlindungan Rahasia Sang CEO
12 Getaran yang Tak Seharusnya
13 Batasan yang Goyah
14 Pencarian dalam Senyap
15 Penyerbuan di Tengah Malam (Akhir Bagian Pertama)
16 Dua Detak Jantung di Paviliun
17 Badai yang Belum Usai
18 Benturan Dua Kasta
19 Rencana di Balik Layar
20 Kejutan yang Menanti
21 Panggung Sandiwara dan Kilat Amarah
22 Sisa Badai dan Pengakuan yang Terlambat
23 Episode 23: Runtuhnya Kerajaan Angkuh
24 Dendam dari Balik Jeruji
25 Pengintai di Balik Kabut Malam
26 Jebakan di Balik Jeruji
27 Aliansi yang Tak Terduga
28 Eksekusi di Ruang Sidang
29 Babak Baru di Balik Sangkar Emas
30 Langkah Pertama di Gedung Utama
31 Fajar Baru di Rumah Utama
32 Tamu dari Paris
33 Dingin di Balik Senyuman
34 Gesekan Pertama di Lantai Atas
35 Benih Keraguan
36 Retakan di Dinding Es
37 Pecahnya Kepercayaan
38 Runtuhnya Kerajaan Udara
39 Cahaya di Atas Menteng
40 Bayang-Bayang dari Masa Lalu
41 Rahasia di Balik Lemari Besi
42 Pertemuan di Remang Veranda
43 Jerat dari Masa Lalu
44 Badai di Kafe Veranda
45 Ikatan yang Lebih Kental dari Darah
46 Akhir dari Sebuah Badai
47 Fajar Baru dan Bara yang Tersimpan
48 Bisikan di Lorong Gelap
49 Retakan Dua Saudara
50 Jejak di Bawah Hujan
51 Perang Terbuka
52 Singa-Singa Muda Arkan
53 Mahkota yang Sebenarnya
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Malam Kelam di Rumah Mertua
2
Sayembara Rahasia dan Keajaiban di Kamar Bayi
3
Takdir di Balik Pintu Kerja Sang CEO
4
Tes Pertama
5
Kontrak Ibu Susu
6
Kamar di Paviliun Belakang
7
Tatapan Dingin Sang CEO
8
Kehangatan yang Mulai Mencair
9
Masa Lalu Adrian
10
Gangguan dari Masa Lalu Aisha
11
Perlindungan Rahasia Sang CEO
12
Getaran yang Tak Seharusnya
13
Batasan yang Goyah
14
Pencarian dalam Senyap
15
Penyerbuan di Tengah Malam (Akhir Bagian Pertama)
16
Dua Detak Jantung di Paviliun
17
Badai yang Belum Usai
18
Benturan Dua Kasta
19
Rencana di Balik Layar
20
Kejutan yang Menanti
21
Panggung Sandiwara dan Kilat Amarah
22
Sisa Badai dan Pengakuan yang Terlambat
23
Episode 23: Runtuhnya Kerajaan Angkuh
24
Dendam dari Balik Jeruji
25
Pengintai di Balik Kabut Malam
26
Jebakan di Balik Jeruji
27
Aliansi yang Tak Terduga
28
Eksekusi di Ruang Sidang
29
Babak Baru di Balik Sangkar Emas
30
Langkah Pertama di Gedung Utama
31
Fajar Baru di Rumah Utama
32
Tamu dari Paris
33
Dingin di Balik Senyuman
34
Gesekan Pertama di Lantai Atas
35
Benih Keraguan
36
Retakan di Dinding Es
37
Pecahnya Kepercayaan
38
Runtuhnya Kerajaan Udara
39
Cahaya di Atas Menteng
40
Bayang-Bayang dari Masa Lalu
41
Rahasia di Balik Lemari Besi
42
Pertemuan di Remang Veranda
43
Jerat dari Masa Lalu
44
Badai di Kafe Veranda
45
Ikatan yang Lebih Kental dari Darah
46
Akhir dari Sebuah Badai
47
Fajar Baru dan Bara yang Tersimpan
48
Bisikan di Lorong Gelap
49
Retakan Dua Saudara
50
Jejak di Bawah Hujan
51
Perang Terbuka
52
Singa-Singa Muda Arkan
53
Mahkota yang Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!