Episode 3

Bab 3: Detak Jantung Pertama

Dan di sudut pandangnya, sisa cahaya biru Sistem Modifier berkedip tipis, seperti mata yang baru terbuka sepenuhnya.

“Jantung berhenti!”

Suara anestesi menghantam ruang operasi seperti alarm kebakaran.

Beberapa tangan bergerak bersamaan. Perawat mengambil defibrillator. Perfusionist bersiap menaikkan kembali dukungan mesin jantung paru. Dokter Fajar maju setengah langkah, tapi Ardi sudah lebih dulu meletakkan needle holder ke tray.

“Jangan naikkan bypass penuh,” kata Ardi.

Nada suaranya tidak tinggi.

Justru karena terlalu tenang, semua orang menoleh.

“Ardi?” Fajar menatap monitor yang hampir datar. “Kita kehilangan irama.”

“Bukan kegagalan graft. Ini aritmia karena transisi tekanan terlalu cepat.” Ardi menekan dua jari ke area jantung kecil itu, merasakan getaran samar yang hampir hilang. “Kalau kita naikkan bypass penuh sekarang, aliran baliknya bisa merusak sambungan posterior.”

“Tapi kalau dibiarkan, dia henti jantung.”

“Saya tahu.”

Satu detik.

Dua detik.

Di luar kaca, Hendro sudah bergerak mendekat. Wajahnya pucat, tapi di matanya ada kilatan gelap, kilatan orang yang melihat musuhnya hampir jatuh ke jurang.

Ardi tidak melihatnya.

Semua pengetahuan Lanjutan yang baru saja masuk ke kepalanya bekerja seperti peta hidup. Ia melihat bukan hanya jantung Livi yang diam, tapi juga aliran yang seharusnya lewat, titik tekanan yang terlalu tajam, dan satu simpul kecil pada anastomosis yang membuat irama baru itu tersandung.

“Adrenalin mikro. Siapkan defibrillator energi rendah,” katanya. “Pak Fajar, tolong pegang suction di sini. Jangan sentuh jahitan posterior.”

Fajar hanya ragu sepersekian detik.

Lalu ia mengangguk. “Ikuti dia.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali bergerak.

Ardi mengambil forceps halus. Tangannya masuk ke area yang nyaris tidak memberi ruang untuk kesalahan. Ia tidak bisa membongkar ulang sambungan. Tidak ada waktu. Ia hanya perlu membebaskan sedikit tarikan pada tepi pembuluh, cukup agar aliran pertama tidak menghantam dinding rapuh seperti palu.

“Energi?”

“Siap, Dok.”

“Tunggu.”

Ardi menarik benang seperempat milimeter.

Seperempat milimeter yang menentukan hidup mati.

“Sekarang.”

Tubuh Livi tersentak kecil.

Garis EKG melompat liar, lalu jatuh lagi.

“Belum,” kata anestesi, suara mulai pecah.

“Sekali lagi. Energi sama. Jangan naikkan.”

“Dokter Ardi, saturasi turun!”

“Sekali lagi.”

Defibrillator menyala.

Tubuh kecil itu tersentak untuk kedua kalinya.

Satu detik kemudian, garis di monitor bergerak.

Bukan garis kuat. Bukan irama sempurna. Hanya gelombang kecil, ragu-ragu, seolah jantung itu sendiri belum yakin apakah ia berani kembali.

Beep.

Semua orang membeku.

Beep.

Ardi menahan napas.

Beep.

“Irama sinus kembali,” bisik anestesi. “Lemah, tapi kembali.”

Di bawah lampu operasi, jantung Livi berdenyut.

Kecil.

Rapuh.

Hidup.

Tidak ada yang bersorak. Belum. Semua orang terlalu takut jika suara mereka membuat keajaiban itu pecah. Ardi melanjutkan koreksi sambungan, menutup kebocoran mikro, menyesuaikan tekanan bertahap, dan mengarahkan tim seperti orang yang sejak awal memang diciptakan untuk berdiri di meja itu.

Waktu kehilangan bentuk.

Satu jam menjadi serangkaian angka di monitor. Dua jam menjadi keringat di balik masker. Tiga jam menjadi benang, darah, suction, instruksi pendek, dan tatapan Fajar yang semakin lama semakin sulit menyembunyikan keterkejutannya.

Ketika mesin jantung paru akhirnya dilepas sepenuhnya, tidak ada penurunan tekanan.

Ketika perdarahan diperiksa, tidak ada kebocoran besar.

Ketika dada Livi ditutup sementara untuk observasi, monitor menunjukkan irama yang stabil.

Beep.

Beep.

Beep.

Suara itu sederhana, tapi bagi Ardi, itu seperti pintu besi lapas yang terbuka untuk kedua kalinya.

Perawat instrumen yang sejak tadi menahan napas akhirnya berbisik, “Alhamdulillah...”

Satu orang menyusul. Lalu yang lain.

Ruangan operasi yang dingin mendadak dipenuhi napas lega yang tertahan terlalu lama.

Fajar melepas sarung tangan luarnya dan menatap Ardi. Di balik masker, matanya merah karena lelah dan sesuatu yang lebih dalam.

“Kamu...” Ia berhenti, mencari kalimat yang masuk akal. “Sejak kapan kamu bisa melakukan itu?”

Ardi merasakan panel biru samar muncul di tepi pandangnya.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Selesai!】 ║

║ Transplantasi Jantung Darurat ║

║ ║

║ Hadiah: +10 PM ║

║ Saldo: 10 PM ║

║ ║

║ Bonus: Buku Skill Kosong x1 ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Dadanya bergetar.

Ini nyata.

Sistem itu nyata.

Ia menunduk, pura-pura memeriksa catatan akhir operasi agar tidak ada yang melihat perubahan di wajahnya. “Saya pernah membaca beberapa laporan kasus, Pak.”

Fajar menatapnya.

“Laporan kasus tidak mengajari tangan seseorang bergerak seperti itu.”

Ardi tidak menjawab.

Fajar tidak memaksa. Mungkin karena masih banyak staf di ruangan itu. Mungkin karena Livi masih harus dibawa ke ICU. Mungkin juga karena sebagai dokter, ia tahu ada beberapa keajaiban yang lebih baik disimpan dulu sampai pasien melewati masa kritis.

Pintu ruang operasi terbuka menjelang subuh.

Hartono berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangnya terdorong. Pria itu tampak seperti sudah menua sepuluh tahun dalam satu malam. Kemejanya kusut. Matanya merah. Di tangannya ada tasbih kecil yang sejak tadi ia genggam tanpa sadar.

“Dokter?”

Fajar melepas masker. “Operasi selesai. Kondisi masih kritis dan harus dipantau ketat di ICU, tapi jantungnya sudah berdetak stabil.”

Hartono terdiam.

Seolah kalimat itu terlalu besar untuk langsung masuk ke kepalanya.

Lalu bahunya turun.

Ia menutup wajah dengan satu tangan. Tidak ada tangis keras. Hanya napas yang pecah, napas seorang ayah yang baru saja melihat anaknya dikembalikan dari tepi jurang.

“Alhamdulillah,” bisiknya. “Alhamdulillah...”

Brankar Livi didorong keluar menuju ICU. Hartono berjalan di sampingnya, tapi sebelum melewati Ardi, ia berhenti.

“Anda yang tadi memegang operasi?”

Koridor mendadak hening.

Beberapa perawat menoleh. Hendro berdiri tidak jauh dari dinding, wajahnya gelap. Ia jelas mendengar.

Fajar membuka mulut, mungkin hendak menjelaskan struktur tim dan tanggung jawab DPJP, tapi Hartono sudah menatap langsung ke Ardi.

Ardi memilih jawaban yang aman. “Saya membantu di bawah tanggung jawab Dokter Fajar.”

Hartono memandang Fajar.

Fajar diam satu detik, lalu berkata, “Kalau Dokter Ardi tidak ada di meja tadi, Livi mungkin tidak melewati operasi.”

Kalimat itu jatuh di koridor seperti palu.

Hendro menunduk, rahangnya mengeras.

Hartono kembali menghadap Ardi. Pria yang biasa membuat direktur perusahaan berdiri saat ia masuk ruangan itu tiba-tiba membungkuk.

Cukup dalam.

“Dokter Ardi,” katanya dengan suara bergetar, “Anda menyelamatkan satu-satunya harta saya.”

Ardi refleks maju setengah langkah. “Pak Hartono, tidak perlu seperti itu. Saya dokter.”

“Justru karena Anda dokter, saya harus berterima kasih dengan benar.” Hartono mengangkat wajah. Matanya basah, tapi sorotnya sudah kembali tajam. “Mulai hari ini, kalau Anda membutuhkan sesuatu yang masih bisa dilakukan manusia, hubungi saya.”

Hendro mendengar itu.

Dan untuk pertama kalinya, wajahnya bukan hanya iri.

Ada takut tipis di sana.

Ardi tidak langsung menerima janji itu. Ia tahu orang besar tidak pernah memberi kalimat seperti itu tanpa bobot. Tapi ia juga tahu hidupnya tidak lagi berada di posisi yang bisa menolak semua tangan yang datang.

“Saya hanya ingin Livi melewati masa kritis dulu,” katanya.

Hartono menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Baik. Kita bicarakan setelah anak saya bangun.”

ICU menelan brankar Livi di balik pintu kaca.

Fajar menepuk bahu Ardi. “Pulanglah sebentar. Kamu sudah berdiri sejak malam.”

“Saya bisa tunggu.”

“Itu perintah, bukan saran. Kamu tenaga kontrak, ingat? Jangan mati sebelum SIP kamu kembali.”

Humor kering itu membuat beberapa perawat tersenyum lelah. Ardi pun hampir tersenyum, meski hanya sebentar.

Ia mengambil barang dari loker. Foto Gatra dan Sari masih di sana, terlipat aman. Ketika jarinya menyentuh kertas itu, panel biru kembali muncul, lebih jinak daripada di ruang operasi.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【SISTEM MODIFIER】 ║

║ ║

║ Status Pengguna: Ardi Pratama ║

║ Poin Modifikasi: 10 PM ║

║ ║

║ Skill Aktif: ║

║ ▸ Transplantasi Jantung Paralel ║

║ Kiri - Lanjutan ║

║ ║

║ Inventaris: ║

║ ▸ Buku Skill Kosong x1 ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menutup mata sesaat.

Selama dua tahun, ia hanya punya kenangan, utang, dan nama buruk.

Sekarang ia punya sesuatu yang tidak dimiliki Hendro, tidak diketahui Dewi, dan tidak bisa dirampas Rangga Pradana dengan laporan palsu.

Senjata.

Tapi senjata ini bukan untuk membunuh.

Senjata ini untuk menyelamatkan orang, mengembalikan namanya, dan menjemput anak-anaknya pulang.

Langit Surabaya mulai kelabu ketika Ardi sampai di kost. Lorong sempit itu masih lembap. Bau kopi sachet dari kamar sebelah bercampur dengan deterjen murah. Dunia di luar rumah sakit tampak terlalu biasa setelah semalaman melihat seorang anak hampir mati.

Ia masuk kamar, mengunci pintu, lalu duduk di tepi kasur.

Kakinya baru terasa lemas.

Tangannya gemetar sedikit setelah semua ketegangan lepas. Ia menatap telapak tangannya lama-lama. Tangan yang sama pernah diborgol. Tangan yang sama tadi memegang jantung seorang anak dan menariknya kembali dari garis datar.

Panel Sistem Modifier melayang sunyi di depannya.

“Poin Modifikasi,” gumamnya. “Buku Skill Kosong. Upgrade skill.”

Ia tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena hidupnya tiba-tiba menjadi lebih tidak masuk akal daripada fitnah yang dulu menghancurkannya.

Di meja kecil, foto Gatra dan Sari ia tegakkan bersandar pada gelas plastik.

Gatra tersenyum lebar dalam foto itu. Sari memegang baju kakaknya dengan tangan kecil.

Ardi menyentuh bingkai foto murah itu dengan ujung jari.

“Ayah sekarang punya senjata, Nak,” katanya pelan. “Tunggu Ayah sedikit lagi.”

Ponselnya bergetar.

Pesan dari rumah sakit.

Livi stabil di ICU.

Belum sempat Ardi membalas, panel biru di depannya berkedip lagi.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Baru Terdeteksi!】 ║

║ Misi Perak: Luka Wajah Sang Bintang║

║ ║

║ Target: Rania Ayu ║

║ Kondisi: Cedera wajah akibat ║

║ kecelakaan lokasi syuting ║

║ ║

║ Hadiah: 20 PM + Bakat Pasif ║

║ Batas Waktu: 6 jam ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menatap panel itu.

Di luar, azan Subuh mulai terdengar dari masjid kecil ujung gang.

Ia belum tidur. Tubuhnya nyaris runtuh.

Tapi untuk pertama kalinya setelah keluar dari neraka, rasa lelah itu tidak terasa seperti kekalahan.

Itu terasa seperti awal.

Terpopuler

Comments

Euis Supriathi

Euis Supriathi

kembali lagi ke sifat manusia,, iri dengki dan panas dengan kesuksesan org

2026-07-13

0

Te HUTU

Te HUTU

ada juga ya dokter yang iri dengan rekannya sesama dokter?

2026-07-07

2

Yosaphat Samar

Yosaphat Samar

cerita yg mantap penuh semangat

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!