Episode 5

Bab 5: Orang Kaya dari Kalimantan

“Dokter Ardi, ini Hartono Harahap. Saya ingin berterima kasih secara pribadi. Bisakah kita bertemu?”

Ardi berdiri di koridor RSUD Soetomo, masih memegang kartu nama Yuni di satu tangan dan ponsel di tangan lain.

Ia belum tidur sejak semalam. Di kepalanya masih ada bunyi monitor Livi, wajah Rania yang menangis di depan cermin, dan angka biru Sistem Modifier yang kini diam di sudut pandangnya.

Poin Modifikasi: 20 PM.

Uang di dompetnya belum sampai Rp 300.000, tapi di dalam sistem ia punya modal yang tidak bisa dilihat siapa pun.

“Pak Hartono,” kata Ardi, menjaga suaranya tetap formal, “Livi masih di ICU. Saya rasa Bapak lebih baik tetap di rumah sakit.”

“Saya sudah di rumah sakit,” jawab Hartono. “Dokter Fajar bilang kondisi Livi stabil. Saya tidak akan lama. Ada tempat makan kecil di seberang jalan, dekat parkiran lama. Saya tunggu di sana kalau Anda berkenan.”

Ardi diam sebentar.

Ia membayangkan Hartono di restoran hotel, ruang VIP, pengawal, meja panjang, dan kalimat-kalimat besar yang membuat orang kecil merasa harus menunduk. Tapi tempat makan kecil di seberang rumah sakit?

Itu bukan cara orang kaya pamer.

Itu cara orang kaya yang sengaja menurunkan jarak.

“Baik, Pak. Saya ke sana.”

Dokter Fajar muncul dari ruang tindakan, melihat wajah Ardi, lalu mengangkat alis. “Hartono?”

Ardi mengangguk.

“Pergi saja. Tapi jangan terlalu lama. Kamu masih harus hidup sampai sore.”

“Pak Fajar juga belum tidur.”

“Saya kepala IGD. Kurang tidur itu sudah termasuk tunjangan jabatan.” Fajar melirik ponselnya, lalu suaranya menjadi lebih serius. “Ardi, hati-hati menerima bantuan. Orang seperti Hartono punya jaringan besar. Bantuan mereka bisa jadi pintu, bisa juga jadi tali.”

Ardi menyimpan kartu Yuni ke dompet. “Saya tahu.”

“Tapi kalau dia tulus, jangan sok kuat sendiri.”

Kalimat itu membuat Ardi berhenti.

Fajar tidak menatapnya seperti atasan. Ia menatapnya seperti orang yang tahu betapa mahalnya harga berdiri sendirian.

Ardi mengangguk pelan. “Saya akan ingat.”

Warung makan itu berada di sudut jalan, beratap seng, dengan kipas angin dinding yang berputar malas. Aromanya sederhana: nasi panas, soto ayam, kopi hitam, dan minyak goreng yang sudah terlalu lama dipakai. Beberapa keluarga pasien duduk dengan mata lelah, makan tanpa banyak bicara.

Di meja paling belakang, Hartono Harahap duduk tanpa pengawal di sampingnya.

Kemejanya sudah diganti, tapi wajahnya masih menunjukkan malam panjang. Di atas meja ada dua gelas teh tawar panas. Tidak ada menu mahal. Tidak ada ruang privat.

Ketika Ardi datang, Hartono berdiri.

“Dokter Ardi.”

“Pak Hartono.”

Mereka berjabat tangan.

Genggaman Hartono kuat, tapi kali ini tidak menekan. Ia menunjuk kursi. “Silakan. Saya pesan teh tawar. Kalau Anda mau makan, pesan apa saja.”

Perut Ardi sebenarnya kosong, tapi ia belum yakin bisa menelan. “Teh cukup, Pak.”

Hartono mengangguk pada penjaga warung, lalu menunggu sampai mereka berdua benar-benar tidak terganggu.

“Livi membuka mata sebentar tadi,” katanya.

Ardi menatapnya. “Respons neurologis?”

“Dokter ICU bilang baik. Dia belum bisa bicara banyak, tapi dia menekan tangan saya.” Hartono menunduk pada gelas teh. “Tangannya kecil sekali. Semalam saya pikir... saya pikir saya akan kehilangan dia.”

Suara pria itu pecah di bagian akhir.

Ardi tidak menyela.

Ia tahu bagaimana rasanya menahan dunia dengan satu foto anak di dompet. Hartono punya tambang, kebun, perusahaan, orang-orang yang menunggu instruksinya. Tapi ketika anaknya terbaring di meja operasi, semua itu menyusut menjadi satu tangan kecil yang masih mau menggenggam.

“Ibunya Livi meninggal lima tahun lalu,” lanjut Hartono. “Sejak itu, dia satu-satunya rumah saya.”

Ardi menunduk sedikit. “Saya turut berduka.”

“Saya dengar Anda punya dua anak.”

Jari Ardi berhenti di sisi gelas.

Hartono tidak pura-pura tidak tahu. Orang seperti dia pasti sudah melakukan pengecekan dasar. Namun cara ia mengatakannya tidak seperti penyidik.

“Gatra dan Sari,” kata Ardi.

“Mereka tinggal dengan ibu mereka?”

“Untuk sekarang.”

Hartono menangkap jeda itu. “Untuk sekarang.”

Ardi mengangkat mata. “Saya akan mengambil mereka kembali lewat jalur hukum.”

“Hak asuh?”

“Ya.”

Hartono bersandar perlahan. “Saya dengar Anda pernah masuk penjara.”

Kalimat itu tidak tajam, tapi tetap membuat udara di antara mereka berubah.

Ardi sudah terlalu sering mendengar kata itu sebagai hinaan. Dari mulut Hendro, dari pesan Dewi, dari bisik-bisik koridor. Namun Hartono mengucapkannya seperti fakta yang perlu ditempatkan di meja sebelum mereka bicara lebih jauh.

“Saya pernah dipenjara,” kata Ardi. “Tapi saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan.”

“Malpraktik?”

“Kasusnya dibuat tampak seperti itu. Bukti yang meringankan hilang. Kesaksian berubah. MKEK memberi rekomendasi buruk. Setelah itu SIP saya dicabut dan jaksa membawa kasus ke pengadilan.”

Hartono diam.

Ardi melanjutkan, kali ini suaranya lebih rendah. “Orang yang berada di baliknya adalah Rangga Pradana. Dia juga dekat dengan mantan istri saya.”

Nama Rangga membuat mata Hartono menyipit sedikit.

“Surya Pradana punya anak bernama Rangga.”

“Orang yang sama.”

Di meja sebelah, seorang bapak tua menyeruput soto. Sendok beradu dengan mangkuk. Suara kecil itu terasa aneh di tengah pembicaraan yang tiba-tiba membuka luka lama.

Hartono mengaduk teh tanpa meminumnya. “Saya tidak suka ikut urusan rumah tangga orang. Tapi saya sangat tidak suka orang memakai hukum untuk menghancurkan hidup orang lain.”

Ardi menatapnya. “Pak Hartono, saya tidak minta Bapak berperang untuk saya.”

“Saya juga tidak menawarkan perang.”

Hartono mengeluarkan satu kartu dari dompet kulit hitam. Kartu itu sederhana, hanya nama firma hukum dan nomor langsung.

“Pengacara keluarga saya di Surabaya. Mereka biasa menangani sengketa perusahaan, pidana bisnis, dan perkara keluarga tingkat tinggi. Saya sudah minta mereka meninjau kemungkinan pemulihan nama Anda, pembukaan kembali berkas, dan persiapan hak asuh anak.”

Ardi tidak langsung mengambil kartu itu.

Utang pengacaranya Rp 200 juta saja sudah menjerat leher. Firma hukum keluarga Hartono pasti bernilai berkali-kali lipat.

“Saya tidak bisa membayar mereka sekarang.”

Hartono menatapnya lurus. “Saya tidak meminta Anda membayar.”

“Saya juga tidak mau menjadi orang yang berutang budi tanpa batas.”

Untuk pertama kalinya, Hartono tersenyum tipis.

“Bagus. Itu artinya Anda bukan penjilat.” Ia mendorong kartu itu sedikit. “Anggap ini bukan utang. Anggap ini jembatan. Anda menyelamatkan anak saya bukan karena saya kaya. Anda bahkan tidak tahu siapa saya saat masuk ruang operasi. Jadi saya membantu Anda bukan karena ingin membeli Anda.”

Ardi menatap kartu itu.

Nama firma tercetak rapi: Kantor Hukum Prabowo & Rekan.

Sebuah jembatan.

Selama dua tahun, semua pintu tertutup dari dalam. Sekarang seseorang meletakkan kunci di atas meja, dan Ardi harus cukup waras untuk tidak menolaknya hanya demi gengsi.

Ia mengambil kartu itu.

“Terima kasih, Pak Hartono.”

“Ada satu lagi.” Hartono mengeluarkan ponsel. “Sekretaris saya sudah menghubungi kantor Dinas Kesehatan. Bukan untuk memaksa. Hanya menanyakan prosedur yang benar agar SIP Anda tidak tertahan karena gosip lama.”

Ardi menahan napas.

SIP.

Satu lembar izin itu memisahkan dirinya dari posisi dokter yang hanya boleh membantu dan dokter yang bisa berdiri penuh atas nama sendiri.

“Pak Hartono, itu...”

“Dokter Fajar juga akan menyiapkan rekomendasi medis. Saya hanya memastikan surat itu sampai ke meja yang tepat, bukan hilang di laci orang yang takut pada nama Pradana.”

Nama Pradana diucapkan tanpa emosi, tapi Ardi mendengar bobotnya.

Hartono bukan Hendro yang bersembunyi di balik jabatan kecil. Hartono bergerak melalui jalur resmi, tapi jalur resmi yang dibersihkan dari tangan-tangan kotor.

“Saya tidak bisa menjanjikan hasil,” kata Hartono. “Tapi saya bisa menjanjikan proses yang adil.”

Untuk beberapa detik, Ardi tidak berkata apa-apa.

Proses yang adil.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi orang yang pernah dihancurkan oleh proses palsu, keadilan bukan kata besar. Keadilan adalah meja yang tidak dimiringkan sebelum permainan dimulai.

“Itu sudah cukup,” kata Ardi akhirnya.

Hartono mengangguk. “Kalau suatu hari Anda perlu bicara tentang anak-anak Anda, pengacara saya akan mendengar. Kalau Anda perlu dokumen medis lama, kami cari jalurnya. Kalau ada orang menekan Anda di rumah sakit, beri tahu Dokter Fajar dulu. Kalau tidak selesai, beri tahu saya.”

Ardi hampir tertawa kecil. “Pak Hartono membuatnya terdengar mudah.”

“Tidak mudah. Tapi lebih mudah kalau Anda tidak sendirian.”

Kata-kata itu masuk lebih dalam daripada yang Ardi duga.

Ia memikirkan Gatra di balik pintu rumah Ibu Sumiati. Suara kecil yang memanggil “Ayah?” lalu menghilang. Ia memikirkan Sari yang mungkin bahkan tidak mengerti mengapa ayahnya tidak pernah datang menjemput.

Di sakunya, foto anak-anak terasa seperti punya berat sendiri.

“Saya akan menjemput mereka,” kata Ardi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hartono.

Hartono tidak memberi nasihat kosong. Ia hanya berkata, “Kalau Anda mencintai mereka seperti saya mencintai Livi, maka Anda akan menang. Tidak cepat. Tapi Anda akan menang.”

Ponsel Ardi bergetar.

Kali ini dari Dokter Fajar.

Ardi mengangkat. “Pak?”

Suara Fajar tidak lagi santai.

“Ardi, kembali ke IGD sekarang. Ada kecelakaan di jalan luar kota. Korban utama pejabat Dinas Kesehatan Jawa Timur. Kondisinya buruk. Ambulans kita diminta jemput ke lokasi.”

Ardi berdiri begitu cepat sampai kursinya berderit.

Di saat yang sama, panel biru Sistem Modifier menyala di tepi pandangnya.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Baru Terdeteksi!】 ║

║ Misi Lapangan: Detik-detik di Jalan║

║ ║

║ Target: Stabilkan korban trauma ║

║ sebelum tiba di RSUD Soetomo ║

║ ║

║ Hadiah: 20 PM + Bonus Pembuka ║

║ Batas Waktu: 90 menit ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menutup telepon, lalu menatap Hartono. “Maaf, Pak. Saya harus pergi.”

Hartono ikut berdiri.

“Selamatkan dia, Dokter.”

Ardi menyimpan kartu firma hukum ke dompet, tepat di belakang foto Gatra dan Sari.

“Itu rencananya.”

Terpopuler

Comments

awesome moment

awesome moment

stl didholimi, semesta membuka pintu

2026-06-29

2

Syalari sholeh

Syalari sholeh

org² yg d tolong Ardi ini lh nanti yg akn bntu dia dpt hak asuh anak,SIP,dan keadiln

2026-08-15

0

Tia hadiansyah

Tia hadiansyah

Yg benar pasti akan menang💪

2026-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!