Bab 4: Nisan di Bawah Pohon Dewandaru.

Fajar menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya jingga yang menembus sela-sela rimbunnya pohon bambu di lereng Gunung Lawu. Namun, kehangatan matahari pagi itu sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menggelayuti hati Erlang. Pemuda itu berdiri dengan tubuh tegak, meski kedua lengannya yang memegang gagang cangkul tampak gemetar.

Di hadapannya, sebuah lubang sedalam dada telah selesai digali. Di samping lubang itu, terbujur kaku jasad Ki Suro yang sudah rapi dibungkus dengan kain blacu putih milik mereka satu-satunya.

Erlang menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya dengan lengan baju yang kotor oleh tanah. Ia berlutut di tepi lubang, menatap wajah paman gurunya untuk yang terakhir kali sebelum menutup kain putih itu sepenuhnya.

"Paman Suro... sekarang Paman sudah tidak sakit lagi. Istirahatlah yang tenang di sini," bisik Erlang, suaranya tercekat di tenggorokan.

Dengan hati-hati, Erlang mengangkat jasad Ki Suro dan menurunkannya ke dalam liang lahat. Setiap kepalan tanah yang ia jatuhkan kembali ke dalam lubang terasa begitu berat, seolah ia sedang mengubur sebagian dari jiwanya sendiri. Setelah lubang itu tertutup rapat dan membentuk gundukan tanah yang rapi, Erlang mengambil sebuah bilah kayu dewandaru yang sudah ia bentuk menjadi nisan sederhana. Ia menancapkannya di bagian kepala.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah jalan setapak hutan. Erlang menoleh dengan waspada, tangan kanannya langsung siaga di dekat gagang cangkul. Seorang lelaki paruh baya berbaju kain kasar muncul membawa seikat kayu bakar. Itu adalah Kang jaya, salah satu pencari kayu dari desa bawah yang sesekali lewat di dekat pondok mereka.

"Lho, Erlang? Apa yang terjadi?" tanya Kang Jaya terkejut, matanya beralih dari wajah Erlang yang sembap ke gundukan tanah baru di bawah pohon dewandaru. "Apakah... Ki Suro sudah tiada?"

Erlang mengangguk lemah, mencoba mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Iya, Kang. Paman Suro meninggal tadi malam. Penyakit paru-parunya sudah tidak bisa ditahan lagi."

Kang Jaya mendesah panjang, meletakkan ikat kayunya lalu berjalan mendekat. Ia menepuk pundak Erlang dengan prihatin. "Turut berduka ya, Le. Ki Suro orang baik. Selama ini dia sering membantuku kalau aku tersesat atau butuh air di gunung. Kenapa kamu tidak minta bantuan orang desa bawah untuk menguburkannya?"

"Paman Suro pernah berwasiat, Kang. Kalau dia meninggal, dia ingin dikuburkan di sini, di bawah pohon dewandaru dekat pondok. Dia tidak ingin merepotkan orang-orang desa," jawab Erlang jujur.

"Lalu... setelah ini kamu mau bagaimana, Erlang? Kamu mau tinggal sendirian di pondok tengah hutan begini?" tanya Kang Jaya dengan nada khawatir. "Ikut aku saja ke desa bawah. Kamu bisa tinggal di rumahku, membantu mengurus ladang. Setidaknya kamu punya tempat bernaung."

Erlang menatap nisan kayu Ki Suro, lalu mengalihkan pandangannya ke arah hamparan lembah di bawah gunung. Wasiat terakhir sang paman kembali berdengung di telinganya: Pergilah ke selatan, cari Mbah Wiro di Parangtritis... carilah guru sakti.

"Terima kasih banyak atas kebaikan Kang Jaya," kata Erlang sambil membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. "Tapi saya tidak bisa tinggal di desa bawah. Saya harus pergi, Kang. Ada amanah dan janji yang harus saya penuhi kepada Paman Suro dan mendiang orang tua saya."

"Pergi? Memangnya kamu mau pergi ke mana, Le? Dunia di luar sana itu luas dan keras untuk pemuda seumurmu yang belum tahu apa-apa," ujar Kang Jaya mencoba menasihati.

"Saya mau ke selatan, Kang. Ke tempat yang namanya Parangtritis," jawab Erlang polos.

Kang Jaya terbelalak, menatap Erlang seolah pemuda itu sudah gila. "Parangtritis?! Itu kan jauh sekali di ujung selatan tanah Jawa, Erlang! Kamu tahu jalannya? Punya uang berapa kamu untuk bekal perjalanan sejauh itu?"

Erlang menggaruk tengkuknya, tersenyum kecut. "Jujur... saya tidak tahu jalannya, Kang. Nanti sepanjang jalan saya bisa bertanya pada orang-orang. Kalau soal uang... saya tidak punya uang sama sekali. Bekal saya cuma beberapa potong singkong bakar, pakaian ganti, dan sebilah pisau kecil ini."

"Gusti Allah... itu namanya modal nekat, Erlang! Jalan ke selatan itu melewati hutan-hutan lebat yang banyak penyamunnya, belum lagi binatang buas. Kamu ini cuma tahu silat dasar yang diajarkan Ki Suro, kan? Bagaimana kalau kamu dicegat di jalan?" Kang Jaya menggeleng-gelengkan kepala penuh kecemasan.

"Paman Suro selalu bilang, kalau kita berniat baik dan jujur, Gusti Allah pasti akan melindungi, Kang. Saya tidak berniat cari musuh, saya cuma mau mencari seseorang dan mencari guru untuk belajar silat lebih tinggi," kata Erlang dengan binar mata yang penuh tekad, tidak goyah sedikit pun oleh peringatan Kang Jaya.

Melihat keteguhan di mata Erlang, Kang Jaya akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah. Ia merogoh kantong kain di pinggangnya, mengeluarkan beberapa keping koin tembaga lusuh, lalu merampas tangan Erlang untuk meletakkannya di telapak tangan pemuda itu.

"Ini... aku cuma punya sedikit uang sisa menjual kayu kemarin. Ambil ini. Jangan menolak! Setidaknya ini bisa buat kamu membeli makan atau jamu di pasar nanti," kata Kang Jaya tegas ketika melihat Erlang hendak mengembalikan uang itu.

Erlang menatap koin-koin di tangannya, matanya kembali berkaca-kaca karena terharu. "Kang Jaya... ini terlalu banyak. Terima kasih banyak, Kang. Saya tidak akan melupakan kebaikan sampeyan."

"Sudah, simpan baik-baik. Jangan dipamerkan di depan orang asing," pesan Kang Jaya. "Lalu, kapan kamu mau berangkat?"

"Sekarang juga, Kang. Tapi sebelum pergi, ada satu hal lagi yang harus saya lakukan," ucap Erlang misterius.

Erlang melangkah masuk ke dalam pondok kayu yang telah menaunginya selama delapan tahun terakhir. Ia memandangi amben bambu yang kosong, tungku tanah liat yang sudah dingin, dan sudut-sudut ruangan yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama Ki Suro. Erlang mengambil sebuah obor bambu, menyalakannya dengan sisa batu api di dapur, lalu melangkah kembali ke halaman.

Tanpa ragu, Erlang melemparkan obor menyala itu ke atas atap rumbia pondoknya.

"Erlang! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Kang Jaya kaget, reflek maju selangkah seolah ingin memadamkan api.

"Biarkan saja, Kang," cegah Erlang lembut, menahan lengan Kang Jaya. "Pondok ini didirikan Paman Suro untuk menyembunyikan saya. Sekarang Paman sudah tidak ada, dan saya harus pergi. Saya tidak ingin tempat ini digunakan oleh orang-orang jahat atau penyamun hutan untuk hal yang tidak benar. Biarlah pondok ini ikut pergi bersama kenangan Paman Suro."

Dalam hitungan menit, api menjalar dengan cepat, melahap dinding bambu kering dan atap rumbia. Asap hitam membubung tinggi ke langit, menciptakan suara gemeretak kayu yang terbakar hebat. Erlang berdiri diam, membiarkan hawa panas api menerpa wajahnya. Di balik kobaran api itu, ia melihat masa lalunya perlahan runtuh dan menjadi abu.

Setelah api mulai mengecil dan menyisakan puing-puing yang menghitam, Erlang membalikkan badannya. Ia menggendong buntalan kain berisi pakaian dan singkong bakar di pundaknya, lalu menyampirkan pisau kecil di pinggang.

"Saya berangkat sekarang, Kang Jaya. Tolong sesekali kalau Kang Jaya lewat sini, tengok makam Paman Suro di bawah pohon itu, ya," pamit Erlang, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya yang baru lima belas tahun.

Kang Jaya menepuk lengan Erlang dengan erat. "Pasti, Le. Pasti aku tengok. Berhati-hatilah di jalan. Jaga dirimu baik-baik. Jangan mudah percaya pada orang asing di luar sana."

"Matur nuwun, Kang. Selamat tinggal," kata Erlang.

Erlang mulai melangkah, meninggalkan area pondok yang kini telah rata dengan tanah. Ia berjalan mantap menyusuri jalan setapak hutan yang licin akibat embun pagi, menuju arah selatan yang sama sekali belum pernah ia ketahui petanya. Langkah kakinya memang masih polos, bekalnya sangat minim, dan ilmunya pun seadanya, namun sebuah tekad membara di dalam dadanya telah membakar habis rasa takutnya untuk memulai pengembaraan panjang yang akan mengubah garis takdir hidupnya.

Episodes
1 Bab 1: Malam Berdarah di Lereng Gunung Lawu
2 Bab 2: Kehidupan di Pondok Terpencil.
3 Bab 3: Wasiat Terakhir Ki Suro.
4 Bab 4: Nisan di Bawah Pohon Dewandaru.
5 Bab 5: Pertemuan di Pinggir Hutan Roban.
6 Bab 6: Kitab Tanpa Nama.
7 Bab 7: Membaca Aksara Kuno.
8 Bab 8: Perubahan Tak Kasatmata.
9 Bab 9: Singgah di Desa Kaliwungu.
10 Bab 10: Keajaiban Meniru Jurus.
11 Bab 11: Pesona Pertama: Roro Wilis
12 Bab 12: Dengki yang Menyalakan Api.
13 Bab 13: Tabib Dadakan.
14 Bab 14: Pamit di Bawah Gerimis.
15 Bab 15: Menuju Selatan.
16 Bab 16: Keributan di Kedai Kediri.
17 Bab 17: Bahu-Membahu.
18 Bab 18: Perjalanan Bersama.
19 Bab 19: Misteri Mbah Wiro.
20 Bab 20: Menolong Desa Nelayan.
21 Bab 21: Sekali Pandang, Seribu Jurus.
22 Bab 22: Pengagum Baru: Mirah Sang Anak Nelayan
23 Bab 23: Percikan Cemburu Pertama.
24 Bab 24: Tantangan dari Pendekar Muda Lokal.
25 Bab 25: Menang Tanpa Merendahkan.
26 Bab 26: Petunjuk dari Surat yang Terbakar.
27 Bab 27: Kejanggalan di Mata Sekar.
28 Bab 28: Terjebak di Hutan Larangan.
29 Bab 29: Malam di Dalam Gua.
30 Bab 30: Singgah di Kota Kadipaten.
31 Bab 31: Pesona Erlang yang Tak Terbendung.
32 Bab 32: Kecemburuan Sekar Memuncak.
33 Bab 33: Erlang yang Teguh.
34 Bab 34: Serangan Pembunuh Bayaran Bertopeng.
35 Bab 35: Rekaman Jurus Hitam.
36 Bab 36: Rahasia Terbongkar.
37 Bab 37: Menuju Ibu Kota Kerajaan.
38 Bab 38: Menolong Perguruan Bangau Putih.
39 Bab 39: Dyah Puspita, Sang Pewaris Perguruan.
40 Bab 40: Rasa Bersalah Dyah Puspita.
41 Bab 41: Sifat Iri Para Murid Senior.
42 Bab 42: Racun yang Menjadi Penawar.
43 Bab 43: Hati Sekar yang Teriris.
44 Bab 44: Dialog Hati ke Hati di Atas Atap.
45 Bab 45. Memasuki Gerbang Ibu Kota.
46 Bab 46. Penyusupan ke Istana.
47 Bab 47. Pengkhianat di Dalam Selimut.
48 Bab 48. Sayembara Pendekar Istana.
49 Bab 49: Babak Penyisihan: Dominasi Mutlak.
50 Bab 50: Gadis Manja dari Kadipaten Timur.
51 Bab 51. Hasutan Para Pangeran.
52 Bab 52: Penguasaan Jurus Tingkat Dewa.
53 Bab 53: Momen Kelembutan Sekar.
54 Bab 54: Gandasari bertemu Sekar.
55 Bab 55 Babak Final: Melawan Tangan Kanan Patih.
56 Bab 56: Kilatan Memori.
57 Bab 57: Kebenaran yang Terkuak di Arena.
58 Bab 58: Tuduhan Patih Ararya.
59 Bab 59: Pertempuran di Alun-Alun.
60 Bab 60: Melindungi Sang Putri.
61 Bab 61: Derita membuat Cinta semakin kuat.
62 Bab 62: Mampir di perguruan bangau putih.
63 Bab 63: Dyah Puspita yang sakit rindu.
64 Bab 64: Sekar bertemu Dyah Puspita.
65 Bab 65: Perlakuan Erlang terhadap Puspita.
66 Bab 66: Perbincangan Serius.
67 Bab 67: Keluar dari Perguruan Bangau Putih
68 Bab 68: Pertarungan Erlang dan Pengorbanan Roro Wilis
69 Bab 69: Erlang Sang Penyembuh
70 Bab 70: Rombongan Menuju Gunung Lawu
71 Bab 71: Datangnya Dyah Puspita, Guru Besar, dan Rombongan Perguruan Aliran Putih
72 Bab 72: Kesepakatan Bersama
73 Bab 73: Kedatangan Gandasari
74 Bab 74: Penyempurnaan Kitab Tanpa Nama
75 Bab 75. Cetak Biru Strategi Semesta
76 Bab 76. Singgah di Batas Kota
77 Bab 77. Jebakan di Lembah Sunyi
78 Bab 78. Pembelotan Massal Prajurit
79 Bab 79. Malam Sebelum Badai
80 Bab 80. Fajar Berdarah di Gerbang Barat
81 Bab 81. Badai Panah Hujan Beracun
82 Bab 82. Penyelamatan di Penjara Bawah Tanah
83 Bab 83. Amukan Tiga Pendekar Golongan Hitam
84 Bab 84. Istana yang Terkepung
85 Bab 85. Puncak Ilmu Kitab Tanpa Nama
86 Bab 86. Pembersihan Sisa Badai
87 Bab 87. Desakan Rakyat dan Para Tetua
88 Bab 88. Pertemuan Lima Hati di Taman Istana
89 Bab 89. Maklumat Larangan Menambah Selir
90 Bab 90. Hari Penobatan Agung
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1: Malam Berdarah di Lereng Gunung Lawu
2
Bab 2: Kehidupan di Pondok Terpencil.
3
Bab 3: Wasiat Terakhir Ki Suro.
4
Bab 4: Nisan di Bawah Pohon Dewandaru.
5
Bab 5: Pertemuan di Pinggir Hutan Roban.
6
Bab 6: Kitab Tanpa Nama.
7
Bab 7: Membaca Aksara Kuno.
8
Bab 8: Perubahan Tak Kasatmata.
9
Bab 9: Singgah di Desa Kaliwungu.
10
Bab 10: Keajaiban Meniru Jurus.
11
Bab 11: Pesona Pertama: Roro Wilis
12
Bab 12: Dengki yang Menyalakan Api.
13
Bab 13: Tabib Dadakan.
14
Bab 14: Pamit di Bawah Gerimis.
15
Bab 15: Menuju Selatan.
16
Bab 16: Keributan di Kedai Kediri.
17
Bab 17: Bahu-Membahu.
18
Bab 18: Perjalanan Bersama.
19
Bab 19: Misteri Mbah Wiro.
20
Bab 20: Menolong Desa Nelayan.
21
Bab 21: Sekali Pandang, Seribu Jurus.
22
Bab 22: Pengagum Baru: Mirah Sang Anak Nelayan
23
Bab 23: Percikan Cemburu Pertama.
24
Bab 24: Tantangan dari Pendekar Muda Lokal.
25
Bab 25: Menang Tanpa Merendahkan.
26
Bab 26: Petunjuk dari Surat yang Terbakar.
27
Bab 27: Kejanggalan di Mata Sekar.
28
Bab 28: Terjebak di Hutan Larangan.
29
Bab 29: Malam di Dalam Gua.
30
Bab 30: Singgah di Kota Kadipaten.
31
Bab 31: Pesona Erlang yang Tak Terbendung.
32
Bab 32: Kecemburuan Sekar Memuncak.
33
Bab 33: Erlang yang Teguh.
34
Bab 34: Serangan Pembunuh Bayaran Bertopeng.
35
Bab 35: Rekaman Jurus Hitam.
36
Bab 36: Rahasia Terbongkar.
37
Bab 37: Menuju Ibu Kota Kerajaan.
38
Bab 38: Menolong Perguruan Bangau Putih.
39
Bab 39: Dyah Puspita, Sang Pewaris Perguruan.
40
Bab 40: Rasa Bersalah Dyah Puspita.
41
Bab 41: Sifat Iri Para Murid Senior.
42
Bab 42: Racun yang Menjadi Penawar.
43
Bab 43: Hati Sekar yang Teriris.
44
Bab 44: Dialog Hati ke Hati di Atas Atap.
45
Bab 45. Memasuki Gerbang Ibu Kota.
46
Bab 46. Penyusupan ke Istana.
47
Bab 47. Pengkhianat di Dalam Selimut.
48
Bab 48. Sayembara Pendekar Istana.
49
Bab 49: Babak Penyisihan: Dominasi Mutlak.
50
Bab 50: Gadis Manja dari Kadipaten Timur.
51
Bab 51. Hasutan Para Pangeran.
52
Bab 52: Penguasaan Jurus Tingkat Dewa.
53
Bab 53: Momen Kelembutan Sekar.
54
Bab 54: Gandasari bertemu Sekar.
55
Bab 55 Babak Final: Melawan Tangan Kanan Patih.
56
Bab 56: Kilatan Memori.
57
Bab 57: Kebenaran yang Terkuak di Arena.
58
Bab 58: Tuduhan Patih Ararya.
59
Bab 59: Pertempuran di Alun-Alun.
60
Bab 60: Melindungi Sang Putri.
61
Bab 61: Derita membuat Cinta semakin kuat.
62
Bab 62: Mampir di perguruan bangau putih.
63
Bab 63: Dyah Puspita yang sakit rindu.
64
Bab 64: Sekar bertemu Dyah Puspita.
65
Bab 65: Perlakuan Erlang terhadap Puspita.
66
Bab 66: Perbincangan Serius.
67
Bab 67: Keluar dari Perguruan Bangau Putih
68
Bab 68: Pertarungan Erlang dan Pengorbanan Roro Wilis
69
Bab 69: Erlang Sang Penyembuh
70
Bab 70: Rombongan Menuju Gunung Lawu
71
Bab 71: Datangnya Dyah Puspita, Guru Besar, dan Rombongan Perguruan Aliran Putih
72
Bab 72: Kesepakatan Bersama
73
Bab 73: Kedatangan Gandasari
74
Bab 74: Penyempurnaan Kitab Tanpa Nama
75
Bab 75. Cetak Biru Strategi Semesta
76
Bab 76. Singgah di Batas Kota
77
Bab 77. Jebakan di Lembah Sunyi
78
Bab 78. Pembelotan Massal Prajurit
79
Bab 79. Malam Sebelum Badai
80
Bab 80. Fajar Berdarah di Gerbang Barat
81
Bab 81. Badai Panah Hujan Beracun
82
Bab 82. Penyelamatan di Penjara Bawah Tanah
83
Bab 83. Amukan Tiga Pendekar Golongan Hitam
84
Bab 84. Istana yang Terkepung
85
Bab 85. Puncak Ilmu Kitab Tanpa Nama
86
Bab 86. Pembersihan Sisa Badai
87
Bab 87. Desakan Rakyat dan Para Tetua
88
Bab 88. Pertemuan Lima Hati di Taman Istana
89
Bab 89. Maklumat Larangan Menambah Selir
90
Bab 90. Hari Penobatan Agung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!