Bab 5: Pertemuan di Pinggir Hutan Roban.

Sudah hampir dua minggu sejak Erlang meninggalkan puing-puing pondoknya di lereng Gunung Lawu. Langkah kaki modal nekatnya kini telah membawanya sampai ke pinggiran Hutan Roban, sebuah kawasan yang terkenal sangat angker dan rawan oleh serbuan para penyamun. Matahari siang itu bersinar sangat terik, membuat pelipis pemuda lima belas tahun itu dibanjiri keringat.

Erlang menghentikan langkahnya di bawah sebatang pohon beringin besar yang rindang. Ia menurunkan buntalan kainnya, lalu duduk bersandarkan akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Dengan tangan agak gemetar karena lelah, ia membuka buntalannya dan mengambil sepotong singkong bakar terakhir yang sudah agak keras dan dingin.

"Tinggal satu potong ini bekal dari rumah. Uang pemberian Kang Jaya juga cuma sisa dua keping tembaga," gumam Erlang pada diri sendiri, menatap miris makanan di tangannya.

Baru saja Erlang hendak menggigit singkong tersebut, indra pendengarannya yang tajam karena terbiasa hidup di tengah keheningan hutan gunung menangkap sebuah suara aneh. Itu adalah suara erangan lirih yang tertahan, disusul oleh suara semak-semak yang tersibak kasar tak jauh dari tempatnya duduk.

“Uhg... keparat... darahku...”

Erlang langsung waspada. Ia menaruh kembali singkongnya ke dalam kain, lalu tangan kanannya reflek memegang gagang pisau kecil di pinggangnya. Dengan langkah yang sangat pelan dan berhati-hati, ia mendekati semak belukar yang berada sekitar sepuluh langkah di sebelah kirinya.

Saat menyingkap daun-daun talas yang lebar, mata Erlang terbelalak. Di balik semak-semak itu, terkapar seorang kakek tua berambut putih panjang yang acak-acakkan. Pakaian kain sutra birunya yang semula tampak mewah kini sudah robek-robek dan basah kuyup oleh darah segar. Dada dan perut kakek itu mengalami luka sayatan yang sangat lebar dan dalam.

"Astagfirullah... Kakek tidak apa-apa?" tanya Erlang spontan, melupakan rasa waspadanya dan langsung berlutut di samping tubuh kakek tua itu.

Kakek tua itu terkejut. Mata tuanya yang mulai sayu berkedip perlahan, menatap wajah polos Erlang dengan pandangan curiga. "S-siapa kau... Uhuk! Apakah kau... anak buah bandit-bandit bajingan itu?" tanya sang kakek dengan suara tercekat di tenggorokan, mencoba menggerakkan tangannya yang gemetar untuk menyerang, namun langsung terkulai lemas karena kehabisan tenaga.

"Bukan, Kek! Bukan! Saya Erlang, saya cuma pengembara numpang lewat. Saya bukan penyamun," sahut Erlang panik, dengan cepat memegangi tangan kakek itu agar tidak banyak bergerak. "Luka Kakek parah sekali. Siapa yang tega berbuat seperti ini?"

Kakek tua itu membuang napas berat, memuntahkan segumpal darah hitam dari sudut bibirnya. "Gerombolan... penyamun Hutan Roban. Mereka mengeroyokku... jumlah mereka terlalu banyak, ada dua puluh orang lebih. Mereka... mereka menginginkan apa yang kubawa..."

"Dua puluh orang?!" Erlang bergidik ngeri membayangkannya. "Kek, bertahanlah. Saya punya sedikit air dan makanan. Tunggu sebentar."

Erlang berlari cepat kembali ke pohon beringin tempat buntalannya berada. Ia mengambil jeriken bambu kecil berisi sisa air minumnya dan sepotong singkong bakar terakhir tadi, lalu bergegas kembali ke sisi sang kakek.

"Ini, Kek. Minum dulu airnya perlahan-lahan," kata Erlang sambil menopang bagian belakang kepala kakek tua itu dengan lengannya, lalu mengalirkan air ke dalam mulut yang pecah-pecah tersebut.

Kakek tua itu meneguk air minum dari Erlang dengan rakus. Setelah beberapa tegukan, napasnya yang tadinya memburu agak sedikit mereda, meskipun wajahnya tetap sepucat kain kafan. "Terima kasih... Nak Erlang. Tenggorokanku rasanya tadi seperti terbakar," bisik sang kakek lemah.

"Sama-sama, Kek. Ini, saya juga punya singkong bakar. Walaupun agak keras, mungkin bisa sedikit menambah tenaga Kakek," ujar Erlang sambil menyodorkan makanan terakhirnya dengan tulus, tanpa memikirkan bahwa setelah ini perutnya sendiri yang akan kelaparan.

Kakek tua itu menatap potongan singkong di tangan Erlang, lalu beralih menatap mata pemuda itu yang jernih dan tanpa pamrih. Kakek itu terkekeh lemah, sebuah tawa yang terdengar sangat getir. "Kau anak yang aneh... Di tempat seberbahaya ini, kau malah memberikan bekal terakhirmu pada orang asing yang sekarat seperti aku. Apakah kau tidak takut kelaparan?"

"Paman saya selalu berpesan, kalau melihat orang kesusahan, kita harus menolong semampu kita, Kek. Masalah lapar... nanti malam kan saya bisa mencari buah hutan atau bertapa menahan lapar. Yang penting luka Kakek ini harus ditutup dulu," jawab Erlang polos sembari merobek bagian bawah baju kain kasarnya sendiri untuk dijadikan kain perban darurat.

"Tidak usah repot-repot, Nak Erlang... Uhuk! Jangan buang-buang bajumu," cegah kakek tua itu sambil memegang pergelangan tangan Erlang. Cengkeramannya terasa sangat aneh, meskipun fisiknya sekarat, ada aliran kehangatan tak kasatmata yang sempat menjalar ke telapak tangan Erlang. "Aku ini seorang pesilat yang sudah puluhan tahun malang melintang. Aku tahu persis batas kemampuan tubuhku sendiri. Pukulan tenaga dalam berselimut racun dari pemimpin penyamun itu sudah menghancurkan jantung dan limfaku. Ajalku... sudah berada di ujung tenggorokan."

"Tapi, Kek... pasti ada cara untuk menyembuhkannya! Kalau kita cari tabib di desa terdekat bagaimana?" tanya Erlang dengan nada memohon. Ia tidak tega melihat orang tua meninggal di depannya lagi, mengingatkannya secara langsung pada kematian Ki Suro dua minggu lalu.

"Tidak akan sempat, Nak. Jarak ke desa terdekat dari pinggir hutan ini butuh waktu setengah hari perjalanan kaki. Uhuk!" Kakek tua itu kembali terbatuk darah. Pandangan matanya mulai meredup, menyempit, dan tampak berkabut. "Dengarkan aku baik-baik, Erlang... Waktuku tidak lebih dari beberapa hitungan napas lagi."

Erlang menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mengangguk pelan. "Iya, Kek. Saya mendengarkan. Apa yang bisa saya bantu untuk Kakek?"

Kakek tua itu tersenyum lembut, sebuah senyuman ikhlas dari seorang pendekar tua yang merasa telah menemukan akhir dari perjalanan panjangnya di tempat yang tepat. "Tuhan rupanya masih baik kepadaku... Di saat-saat terakhir, Dia tidak mengirimkan musuh jahat untuk mencincang jasadku, melainkan mengirimkan seorang pemuda berhati murni seperti dirimu untuk menemani sisa napasku..."

"Kek..." Erlang meremas tangan kakek itu, merasakan kehangatan di tubuh orang tua itu yang perlahan-lahan mulai mendingin dan berubah menjadi kaku.

"Singkongmu... simpan saja untuk dirimu sendiri... Jalani pengembaraanmu dengan baik, Nak Erlang... Tetaplah menjadi orang baik... jangan biarkan dunia yang kejam ini... mengubah hatimu..." Suara kakek tua itu semakin mengecil, bergetar, lalu menghilang ditiup angin hutan yang berembus pelan.

"Kek? Kakek tua?" panggil Erlang dengan cemas.

Kakek tua itu tidak menjawab lagi. Sepasang matanya perlahan menutup sepenuhnya. Sentuhan tangannya yang tadi memegang pergelangan tangan Erlang kini terlepas dan jatuh terkulai di atas tanah yang berlumuran darah. Napas terakhir telah berembus dari dadanya yang terluka.

Erlang terdiam di tempatnya berlutut, menatap jasad kakek tua yang baru saja ditemuinya beberapa menit lalu itu. Suasana di pinggiran Hutan Roban mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara kicauan burung liar di kejauhan. Erlang menghela napas panjang, menaruh potongan singkong bakarnya di samping jasad sang kakek, lalu menundukkan kepalanya sejenak untuk mendoakan ketenangan jiwa sang pendekar tua yang malang tersebut.

Episodes
1 Bab 1: Malam Berdarah di Lereng Gunung Lawu
2 Bab 2: Kehidupan di Pondok Terpencil.
3 Bab 3: Wasiat Terakhir Ki Suro.
4 Bab 4: Nisan di Bawah Pohon Dewandaru.
5 Bab 5: Pertemuan di Pinggir Hutan Roban.
6 Bab 6: Kitab Tanpa Nama.
7 Bab 7: Membaca Aksara Kuno.
8 Bab 8: Perubahan Tak Kasatmata.
9 Bab 9: Singgah di Desa Kaliwungu.
10 Bab 10: Keajaiban Meniru Jurus.
11 Bab 11: Pesona Pertama: Roro Wilis
12 Bab 12: Dengki yang Menyalakan Api.
13 Bab 13: Tabib Dadakan.
14 Bab 14: Pamit di Bawah Gerimis.
15 Bab 15: Menuju Selatan.
16 Bab 16: Keributan di Kedai Kediri.
17 Bab 17: Bahu-Membahu.
18 Bab 18: Perjalanan Bersama.
19 Bab 19: Misteri Mbah Wiro.
20 Bab 20: Menolong Desa Nelayan.
21 Bab 21: Sekali Pandang, Seribu Jurus.
22 Bab 22: Pengagum Baru: Mirah Sang Anak Nelayan
23 Bab 23: Percikan Cemburu Pertama.
24 Bab 24: Tantangan dari Pendekar Muda Lokal.
25 Bab 25: Menang Tanpa Merendahkan.
26 Bab 26: Petunjuk dari Surat yang Terbakar.
27 Bab 27: Kejanggalan di Mata Sekar.
28 Bab 28: Terjebak di Hutan Larangan.
29 Bab 29: Malam di Dalam Gua.
30 Bab 30: Singgah di Kota Kadipaten.
31 Bab 31: Pesona Erlang yang Tak Terbendung.
32 Bab 32: Kecemburuan Sekar Memuncak.
33 Bab 33: Erlang yang Teguh.
34 Bab 34: Serangan Pembunuh Bayaran Bertopeng.
35 Bab 35: Rekaman Jurus Hitam.
36 Bab 36: Rahasia Terbongkar.
37 Bab 37: Menuju Ibu Kota Kerajaan.
38 Bab 38: Menolong Perguruan Bangau Putih.
39 Bab 39: Dyah Puspita, Sang Pewaris Perguruan.
40 Bab 40: Rasa Bersalah Dyah Puspita.
41 Bab 41: Sifat Iri Para Murid Senior.
42 Bab 42: Racun yang Menjadi Penawar.
43 Bab 43: Hati Sekar yang Teriris.
44 Bab 44: Dialog Hati ke Hati di Atas Atap.
45 Bab 45. Memasuki Gerbang Ibu Kota.
46 Bab 46. Penyusupan ke Istana.
47 Bab 47. Pengkhianat di Dalam Selimut.
48 Bab 48. Sayembara Pendekar Istana.
49 Bab 49: Babak Penyisihan: Dominasi Mutlak.
50 Bab 50: Gadis Manja dari Kadipaten Timur.
51 Bab 51. Hasutan Para Pangeran.
52 Bab 52: Penguasaan Jurus Tingkat Dewa.
53 Bab 53: Momen Kelembutan Sekar.
54 Bab 54: Gandasari bertemu Sekar.
55 Bab 55 Babak Final: Melawan Tangan Kanan Patih.
56 Bab 56: Kilatan Memori.
57 Bab 57: Kebenaran yang Terkuak di Arena.
58 Bab 58: Tuduhan Patih Ararya.
59 Bab 59: Pertempuran di Alun-Alun.
60 Bab 60: Melindungi Sang Putri.
61 Bab 61: Derita membuat Cinta semakin kuat.
62 Bab 62: Mampir di perguruan bangau putih.
63 Bab 63: Dyah Puspita yang sakit rindu.
64 Bab 64: Sekar bertemu Dyah Puspita.
65 Bab 65: Perlakuan Erlang terhadap Puspita.
66 Bab 66: Perbincangan Serius.
67 Bab 67: Keluar dari Perguruan Bangau Putih
68 Bab 68: Pertarungan Erlang dan Pengorbanan Roro Wilis
69 Bab 69: Erlang Sang Penyembuh
70 Bab 70: Rombongan Menuju Gunung Lawu
71 Bab 71: Datangnya Dyah Puspita, Guru Besar, dan Rombongan Perguruan Aliran Putih
72 Bab 72: Kesepakatan Bersama
73 Bab 73: Kedatangan Gandasari
74 Bab 74: Penyempurnaan Kitab Tanpa Nama
75 Bab 75. Cetak Biru Strategi Semesta
76 Bab 76. Singgah di Batas Kota
77 Bab 77. Jebakan di Lembah Sunyi
78 Bab 78. Pembelotan Massal Prajurit
79 Bab 79. Malam Sebelum Badai
80 Bab 80. Fajar Berdarah di Gerbang Barat
81 Bab 81. Badai Panah Hujan Beracun
82 Bab 82. Penyelamatan di Penjara Bawah Tanah
83 Bab 83. Amukan Tiga Pendekar Golongan Hitam
84 Bab 84. Istana yang Terkepung
85 Bab 85. Puncak Ilmu Kitab Tanpa Nama
86 Bab 86. Pembersihan Sisa Badai
87 Bab 87. Desakan Rakyat dan Para Tetua
88 Bab 88. Pertemuan Lima Hati di Taman Istana
89 Bab 89. Maklumat Larangan Menambah Selir
90 Bab 90. Hari Penobatan Agung
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1: Malam Berdarah di Lereng Gunung Lawu
2
Bab 2: Kehidupan di Pondok Terpencil.
3
Bab 3: Wasiat Terakhir Ki Suro.
4
Bab 4: Nisan di Bawah Pohon Dewandaru.
5
Bab 5: Pertemuan di Pinggir Hutan Roban.
6
Bab 6: Kitab Tanpa Nama.
7
Bab 7: Membaca Aksara Kuno.
8
Bab 8: Perubahan Tak Kasatmata.
9
Bab 9: Singgah di Desa Kaliwungu.
10
Bab 10: Keajaiban Meniru Jurus.
11
Bab 11: Pesona Pertama: Roro Wilis
12
Bab 12: Dengki yang Menyalakan Api.
13
Bab 13: Tabib Dadakan.
14
Bab 14: Pamit di Bawah Gerimis.
15
Bab 15: Menuju Selatan.
16
Bab 16: Keributan di Kedai Kediri.
17
Bab 17: Bahu-Membahu.
18
Bab 18: Perjalanan Bersama.
19
Bab 19: Misteri Mbah Wiro.
20
Bab 20: Menolong Desa Nelayan.
21
Bab 21: Sekali Pandang, Seribu Jurus.
22
Bab 22: Pengagum Baru: Mirah Sang Anak Nelayan
23
Bab 23: Percikan Cemburu Pertama.
24
Bab 24: Tantangan dari Pendekar Muda Lokal.
25
Bab 25: Menang Tanpa Merendahkan.
26
Bab 26: Petunjuk dari Surat yang Terbakar.
27
Bab 27: Kejanggalan di Mata Sekar.
28
Bab 28: Terjebak di Hutan Larangan.
29
Bab 29: Malam di Dalam Gua.
30
Bab 30: Singgah di Kota Kadipaten.
31
Bab 31: Pesona Erlang yang Tak Terbendung.
32
Bab 32: Kecemburuan Sekar Memuncak.
33
Bab 33: Erlang yang Teguh.
34
Bab 34: Serangan Pembunuh Bayaran Bertopeng.
35
Bab 35: Rekaman Jurus Hitam.
36
Bab 36: Rahasia Terbongkar.
37
Bab 37: Menuju Ibu Kota Kerajaan.
38
Bab 38: Menolong Perguruan Bangau Putih.
39
Bab 39: Dyah Puspita, Sang Pewaris Perguruan.
40
Bab 40: Rasa Bersalah Dyah Puspita.
41
Bab 41: Sifat Iri Para Murid Senior.
42
Bab 42: Racun yang Menjadi Penawar.
43
Bab 43: Hati Sekar yang Teriris.
44
Bab 44: Dialog Hati ke Hati di Atas Atap.
45
Bab 45. Memasuki Gerbang Ibu Kota.
46
Bab 46. Penyusupan ke Istana.
47
Bab 47. Pengkhianat di Dalam Selimut.
48
Bab 48. Sayembara Pendekar Istana.
49
Bab 49: Babak Penyisihan: Dominasi Mutlak.
50
Bab 50: Gadis Manja dari Kadipaten Timur.
51
Bab 51. Hasutan Para Pangeran.
52
Bab 52: Penguasaan Jurus Tingkat Dewa.
53
Bab 53: Momen Kelembutan Sekar.
54
Bab 54: Gandasari bertemu Sekar.
55
Bab 55 Babak Final: Melawan Tangan Kanan Patih.
56
Bab 56: Kilatan Memori.
57
Bab 57: Kebenaran yang Terkuak di Arena.
58
Bab 58: Tuduhan Patih Ararya.
59
Bab 59: Pertempuran di Alun-Alun.
60
Bab 60: Melindungi Sang Putri.
61
Bab 61: Derita membuat Cinta semakin kuat.
62
Bab 62: Mampir di perguruan bangau putih.
63
Bab 63: Dyah Puspita yang sakit rindu.
64
Bab 64: Sekar bertemu Dyah Puspita.
65
Bab 65: Perlakuan Erlang terhadap Puspita.
66
Bab 66: Perbincangan Serius.
67
Bab 67: Keluar dari Perguruan Bangau Putih
68
Bab 68: Pertarungan Erlang dan Pengorbanan Roro Wilis
69
Bab 69: Erlang Sang Penyembuh
70
Bab 70: Rombongan Menuju Gunung Lawu
71
Bab 71: Datangnya Dyah Puspita, Guru Besar, dan Rombongan Perguruan Aliran Putih
72
Bab 72: Kesepakatan Bersama
73
Bab 73: Kedatangan Gandasari
74
Bab 74: Penyempurnaan Kitab Tanpa Nama
75
Bab 75. Cetak Biru Strategi Semesta
76
Bab 76. Singgah di Batas Kota
77
Bab 77. Jebakan di Lembah Sunyi
78
Bab 78. Pembelotan Massal Prajurit
79
Bab 79. Malam Sebelum Badai
80
Bab 80. Fajar Berdarah di Gerbang Barat
81
Bab 81. Badai Panah Hujan Beracun
82
Bab 82. Penyelamatan di Penjara Bawah Tanah
83
Bab 83. Amukan Tiga Pendekar Golongan Hitam
84
Bab 84. Istana yang Terkepung
85
Bab 85. Puncak Ilmu Kitab Tanpa Nama
86
Bab 86. Pembersihan Sisa Badai
87
Bab 87. Desakan Rakyat dan Para Tetua
88
Bab 88. Pertemuan Lima Hati di Taman Istana
89
Bab 89. Maklumat Larangan Menambah Selir
90
Bab 90. Hari Penobatan Agung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!