The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Part 1: Siapa?

System Glitch

Waktu: 07:15 AM

Kepalanya terasa seperti baru saja dihantam palu godam. Bukan sekadar pusing biasa, melainkan denyutan brutal yang seolah ingin membelah tengkoraknya menjadi dua.

Stella menarik napas dengan kasar, langsung tersedak oleh udara yang dipenuhi aroma menyengat. Bau alkohol murahan yang menguap bercampur dengan parfum bernuansa musk sintetik dan floral yang saking tajamnya, membuat isi perutnya bergejolak mual.

Ia membuka mata perlahan. Pandangannya kabur selama beberapa detik, dihiasi bintik-bintik hitam, sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar berpola ukiran emas yang luar biasa mewah. Sayup-sayup terdengar ritme konstan rintik hujan yang membentur kaca jendela besar di sisi ruangan.

Ini bukan kamarnya. Dan yang lebih penting... ini bukan hidupnya.

Ingatan terakhirnya sebelum kegelapan menelan kesadarannya adalah rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Sebuah kecelakaan? Penyakit? Semuanya masih terasa buram. Ia hanya ingat rasa dingin yang merayapi ujung-ujung jarinya, napas yang terputus, dan kemudian... tidak ada apa-apa. Kehampaan total.

"Ugh..." Stella mengerang, memaksakan diri untuk bertumpu pada sikunya dan duduk.

Tubuhnya terasa sangat aneh. Ada sensasi ringan yang tidak familier, tapi di saat yang sama otot-ototnya terasa lemas tak bertenaga, seolah ia baru saja berlari maraton sejauh puluhan kilometer.

Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Ia berada di sebuah Presidential Suite bergaya klasik khas Eropa. Dari celah gorden tebal berwarna burgundy yang sedikit terbuka, ia bisa melihat siluet gedung-gedung tua kota London yang diselimuti kabut pagi yang basah.

Namun, pesona kota London sama sekali tidak tercermin di dalam kamar ini. Kondisinya lebih mirip kapal pecah setelah diterjang badai.

Pecahan gelas kaca berserakan di atas karpet beludru merah, bantal-bantal sofa terlempar sembarangan ke segala arah, dan di ujung kasur king-size yang berantakan, teronggok sebuah gaun malam berwarna merah menyala yang robek parah di bagian kerahnya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Stella menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

Napasnya tercekat seketika.

Matanya membelalak horor menatap tubuhnya sendiri. Ia hanya mengenakan pakaian dalam sutra hitam yang sangat, sangat minim.

Terlalu terbuka sampai-sampai ia merasa seperti sedang tidak memakai apa-apa. Kepanikan mulai merambat naik dari perut ke tenggorokannya, mencekik pita suaranya.

Tanpa membuang waktu, ia segera menyambar jubah mandi putih tebal berlogo The Grand Savoy London yang tersampir sembarangan di kursi terdekat.

Ia membungkus tubuhnya rapat-rapat, mengikat sabuknya kuat-kuat seolah itu adalah baju zirah pelindungnya, lalu terhuyung-huyung melangkah menuju kamar mandi bermarmer hitam di sudut ruangan.

Saat ia menyalakan lampu dan menatap bayangannya di cermin wastafel, Stella menahan napas. Tangannya mencengkeram tepi wastafel kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Orang asing menatap balik ke arahnya.

Wajah di cermin itu bukanlah wajahnya yang dulu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa struktur wajah ini memiliki pesona yang sangat kuat.

Garis keturunan campuran Asia-Amerika terlihat sangat kental dan tegas tulang pipi yang tinggi dan elegan, mata monolid yang tajam namun memikat, serta hidung bangir yang proporsional.

Tidak ada rambut merah menyala yang norak, melainkan gelombang rambut gelap kecokelatan yang sebenarnya terlihat sangat mahal. Seharusnya, itu adalah wajah yang bisa membuat siapa saja menoleh dua kali di jalan.

Sayangnya, kecantikan alami itu terkubur di bawah riasan yang mengerikan dan berlebihan. Eyeliner hitam tebal telah meluber ke bawah matanya akibat air mata atau keringat, membuatnya terlihat seperti rakun yang kurang tidur.

Lipstik merah terang menodai gigi, dagu, bahkan sudut bibirnya. Rambut bergelombangnya kusut masai seperti sarang burung yang baru saja diterjang angin topan.

Belum lagi aroma parfum menyengat yang sedari tadi menguar dari pori-pori kulitnya sendiri.

Itu sama sekali bukan wanginya. Ia benci wangi semacam ini. Ia selalu lebih suka sesuatu yang tenang, menenangkan, seperti aroma White Tea & Peony.

"Apa-apaan ini? Tubuh siapa ini?" Stella bergumam, suaranya terdengar serak, parau, dan sangat asing di telinganya sendiri.

Ia dengan panik menyalakan keran berlapis emas. Air es yang dingin mengalir deras.

Stella menangkupkan air ke wajahnya, mencucinya secara brutal, menggosok sisa-sisa makeup tebal itu hingga kulitnya memerah, berharap semua kegilaan ini hanyalah mimpi buruk akibat demam tinggi.

Tiba-tiba, sebuah suara elektronik yang dingin, datar, dan tanpa emosi menggema tepat di dalam tengkoraknya. Bukan melalui telinga, melainkan beresonansi langsung di dalam otaknya.

[ Ding! ]

[ Mendeteksi anomali pada detak jantung Host. ]

[ Proses netralisasi racun tingkat menengah di dalam aliran darah sedang berlangsung... 90%... 100%. Selesai. ]

[ Sinkronisasi jiwa 100% berhasil. Selamat datang di London, Host. ]

Gerakan tangan Stella membeku di udara. Air menetes perlahan dari dagunya, jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi tik... tik... tik... yang mendadak terdengar sangat keras.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Kamar mandi marmer itu kosong melompong. Hanya ada dirinya dan pantulannya di cermin.

"Siapa itu?! Siapa yang bicara?!" teriaknya, suaranya melengking menembus kesunyian kamar hotel mewah tersebut.

Jantungnya berdebar sangat kencang hingga nyaris melompat keluar dari rusuknya.

"Keluar! Jangan macam-macam denganku, aku bisa lapor kepolisian London sekarang juga! Di mana kau menyembunyikan speaker-nya?!"

[ Peringatan: Host terdeteksi mengalami tingkat kepanikan yang berisiko merusak pemulihan sel. Menyarankan Host untuk mengatur napas dan bersikap lebih rasional. ]

"Rasional?! Kau menyuruhku rasional setelah aku bangun di tubuh orang lain dan ada suara robot di kepalaku?!"

Stella menyambar sebuah botol kaca berisi bath salt dari rak, memegangnya tinggi-tinggi layaknya senjata mematikan.

Matanya menyalang liar ke setiap sudut ruangan, bersiap melempar botol itu ke siapa pun yang berani melangkah masuk.

Bukannya ketakutan atau memberikan ancaman balik, suara itu malah menghela napas.

Ya, suara elektronik tak berwujud itu terdengar menghela napas panjang dengan sangat manusiawi, seolah sedang menghadapi anak kecil yang merepotkan.

Tiba-tiba, udara di depan wajah Stella beriak. Setitik cahaya kebiruan muncul, berputar seperti pusaran air kecil, lalu membesar seukuran bola bisbol.

Cahaya itu meledak kecil dengan bunyi poof! yang pelan. Asap tipis mengepul di udara.

Dari balik asap itu, perlahan muncul sebuah siluet.

Itu adalah seekor rubah. Tapi bukan rubah biasa. Ukurannya tak lebih besar dari seekor anak kucing berusia dua bulan.

Bulunya seputih salju, terlihat luar biasa lembut dan bersih. Ia melayang begitu saja di udara, sekitar tiga puluh sentimeter dari wajah Stella, mengibaskan kesembilan ekor kecilnya dengan gerakan yang sangat elegan dan penuh kebanggaan.

Namun, yang membuat Stella kehilangan kata-kata hingga rahangnya nyaris jatuh ke lantai adalah ekspresi wajah hewan itu.

Rubah itu menyilangkan kedua kaki depannya di depan dada, menatap Stella dengan pandangan meremehkan yang luar biasa sombong.

Matanya yang berwarna biru es memancarkan kecerdasan dan keangkuhan yang tak wajar untuk seekor hewan peliharaan.

"Turunkan botol kaca itu, Bodoh. Kau pikir bisa melukaiku dengan benda murahan begitu? Atau kau mau memecahkannya lalu menangis karena kakimu tertusuk beling?"

Mulut kecil rubah itu bergerak, dan suara sarkas yang jernih keluar darinya, tak lagi terdengar seperti robot penerjemah.

Stella membelalak. Cengkeramannya mengendur. Botol bath salt di tangannya terlepas, jatuh berdebum ke atas keset handuk di lantai. "K-kucing mutan... bisa bicara?"

To be Continued

Terpopuler

Comments

Evi Marena

Evi Marena

awal yg bagus menurut q...mudah2an makinseru kedepannya thorrr😘

2026-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1: Siapa?
2 Bab 2: Transmigrasi & Sistem?
3 Part 3: Pertemuan Beku
4 Part 4: Berhasil melarikan diri
5 Part 5: Jejak yang Hilang
6 Part 6: Cincin berlian
7 Part 7: Nona Cegil dan Rencana Gila
8 Part 8: Sang Predator
9 Part 9: Nona Tengil
10 Part 10: Mata Obsidian
11 Part 11: Takhta Nona Onar
12 Part 12: Kemenangan Mutlak
13 Part 13: Keluarga Menjijikan
14 Part 14: Tamu tak Diundang
15 Part 15: Runtuhnya Topeng
16 Part 16: Jendela Status
17 Part 17: Rencana Ular
18 Part 18: Tarian Aneh
19 Part 19: Ular Pengganggu
20 Part 20: Wangi Pria Berbahaya
21 Part 21: Teritori Sang Predator
22 Part 22: Teritori Sang Predator 2
23 Part 23: Barter Nyawa dan Berlian
24 Part 24: Permainan dimulai
25 Part 25: Perangkap Siber
26 Part 26: Permainan Selesai
27 Part 27: Tinta Emas dan Undangan Berdarah Dingin
28 Part 28: Siap Bertempur
29 Part 29: Gaun Merah
30 Part 30: Langkah Sang Ratu
31 Part 31: Sticky Note Merah Muda Neon
32 Part 32: Makan siang Bersama
33 Part 33: Toko Sistem
34 Part 34: Trik Kecil Nona Tengil
35 Part 35: Jepit Rambut Mutiara
36 Part 36: Tatapan Neo
37 Part 37: Rencana Lain
38 Part 38: Laporan Rahasia
39 Part 39: Kopi Pahit
40 Part 40: Panggung Eksekusi Sang Ratu
41 Part 41: Detik-detik Rencana Chloe
42 Part 42: Kehancuran Chloe
43 Part 43: Bantuan Kotor
44 Part 44: Momen yang terganggu
45 Part 45: Banedict
46 Part 46: Cemburu Sang Predator
47 Part 47: Buket Bunga
48 Part 48: Cincin Berlian
49 Part 49: Malam Lelang
50 Part 50: Sepuluh juta Poundsterling
51 Part 51: Kalung Sang Tuan
52 Part 52: Memancing Neo
53 Part 53: Beli Skill 'Ahli Strategi Bayangan'
54 Part 54: Obsesi Kelam
55 Part 55: Klaim Sang Predator
56 Part 56: Tanda Kepemilikan
57 Part 57: Tawaran kopi pria berambut keemasan
58 Part 58: Ruang Baja dan Sangkar Kaca
59 Part 59: Musuh yang kembali bergerak
60 Part 60: Menara Timur
61 Part 61: Ratu Licik
62 Part 62: Misi di Pagi Hari
63 Part 63: Tiga Menit
64 Part 64: Titik Buta
65 Part 65: Bidikan Sempurna
66 Part 66: Serangan Balik
67 Part 67: Permainan Baru, Dimulai.
68 Part 68: Bidak Hitam
69 Part 69: Kembali bermain
70 Part 70 : Malam membara
71 Part 71: Cetak Biru?
72 Part 72: Beraksi
73 Part 73: Titik Koordinat
74 Part 74: Ledakan Dahsyat
75 Part 75: Sisa Asap
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Part 1: Siapa?
2
Bab 2: Transmigrasi & Sistem?
3
Part 3: Pertemuan Beku
4
Part 4: Berhasil melarikan diri
5
Part 5: Jejak yang Hilang
6
Part 6: Cincin berlian
7
Part 7: Nona Cegil dan Rencana Gila
8
Part 8: Sang Predator
9
Part 9: Nona Tengil
10
Part 10: Mata Obsidian
11
Part 11: Takhta Nona Onar
12
Part 12: Kemenangan Mutlak
13
Part 13: Keluarga Menjijikan
14
Part 14: Tamu tak Diundang
15
Part 15: Runtuhnya Topeng
16
Part 16: Jendela Status
17
Part 17: Rencana Ular
18
Part 18: Tarian Aneh
19
Part 19: Ular Pengganggu
20
Part 20: Wangi Pria Berbahaya
21
Part 21: Teritori Sang Predator
22
Part 22: Teritori Sang Predator 2
23
Part 23: Barter Nyawa dan Berlian
24
Part 24: Permainan dimulai
25
Part 25: Perangkap Siber
26
Part 26: Permainan Selesai
27
Part 27: Tinta Emas dan Undangan Berdarah Dingin
28
Part 28: Siap Bertempur
29
Part 29: Gaun Merah
30
Part 30: Langkah Sang Ratu
31
Part 31: Sticky Note Merah Muda Neon
32
Part 32: Makan siang Bersama
33
Part 33: Toko Sistem
34
Part 34: Trik Kecil Nona Tengil
35
Part 35: Jepit Rambut Mutiara
36
Part 36: Tatapan Neo
37
Part 37: Rencana Lain
38
Part 38: Laporan Rahasia
39
Part 39: Kopi Pahit
40
Part 40: Panggung Eksekusi Sang Ratu
41
Part 41: Detik-detik Rencana Chloe
42
Part 42: Kehancuran Chloe
43
Part 43: Bantuan Kotor
44
Part 44: Momen yang terganggu
45
Part 45: Banedict
46
Part 46: Cemburu Sang Predator
47
Part 47: Buket Bunga
48
Part 48: Cincin Berlian
49
Part 49: Malam Lelang
50
Part 50: Sepuluh juta Poundsterling
51
Part 51: Kalung Sang Tuan
52
Part 52: Memancing Neo
53
Part 53: Beli Skill 'Ahli Strategi Bayangan'
54
Part 54: Obsesi Kelam
55
Part 55: Klaim Sang Predator
56
Part 56: Tanda Kepemilikan
57
Part 57: Tawaran kopi pria berambut keemasan
58
Part 58: Ruang Baja dan Sangkar Kaca
59
Part 59: Musuh yang kembali bergerak
60
Part 60: Menara Timur
61
Part 61: Ratu Licik
62
Part 62: Misi di Pagi Hari
63
Part 63: Tiga Menit
64
Part 64: Titik Buta
65
Part 65: Bidikan Sempurna
66
Part 66: Serangan Balik
67
Part 67: Permainan Baru, Dimulai.
68
Part 68: Bidak Hitam
69
Part 69: Kembali bermain
70
Part 70 : Malam membara
71
Part 71: Cetak Biru?
72
Part 72: Beraksi
73
Part 73: Titik Koordinat
74
Part 74: Ledakan Dahsyat
75
Part 75: Sisa Asap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!