Sebelum Ophelia sempat mengemas apa pun, terdengar suara deru mesin mobil di luar. Bukan satu, tapi tiga mobil. Lampu sorot menyorot masuk melalui jendela ruang tamu, menerangi ruangan seperti panggung teater yang menakutkan.
Giorgio bergegas ke jendela, lalu mundur dengan wajah pucat pasi. "Mereka sudah datang."
Ophelia berjalan ke arah pintu, tetapi kakinya terhenti. Ia melihat bayangan-bayangan besar keluar dari mobil. Dua di antaranya membuka pintu gerbang. Dan di tengah, dengan jas hitam dan tato ular melingkar di lehernya, berdiri Don Salvatore.
Pria itu tersenyum ke arah rumah, melambai kecil seperti seorang tetangga yang ramah.
"Ayo, cepat keluar," kata Salvatore dengan suara keras, cukup untuk didengar dari dalam rumah. "Aku datang menjemput jaminan.”
Ophelia membuka pintu. Wajahnya terasa dingin seketika. Di depan pagar, lima pria kekar berdiri dengan tangan di saku jas mereka. Salvatore, pria besar menjijikkan itu berjalan mendekat, langkahnya tenang, penuh percaya diri.
"Kau … Ophelia?” katanya sambil mendekat, "Aku mengagumi keberanianmu. Kau tidak menangis, tidak memohon. Kau hanya berdiri di sana, menatapku seperti aku ini sampah di jalanan."
"Aku tidak akan pernah menangis di depanmu," jawab Ophelia, suaranya datar.
Salvatore tertawa keras. "Bagus! Kau wanita yang kuat." Ia menatap ke belakang Ophelia, ke arah ruang tamu di mana Miranda terjatuh dan Giorgio bersembunyi di sudut. "Giorgio! Keluar! Jangan sembunyi di balik rok anak tirimu, dasar pengecut!"
Giorgio keluar dengan langkah gemetar. "Tuan Salvatore, seperti yang aku janjikan ... jaminan yang baru ..."
"Ya, aku lihat. Ophelia Martin. Gadis yang lebih muda dari sebelumnya. Sangat cocok. Kau terlihat lebih bersih dari wanita kemarin.”
Ophelia mengepalkan tangannya. Salvatore mendekat, menatap matanya dengan sorot yang tajam. "Jangan takut. Kau akan menjadi tamu kehormatan di sana. Dan jika kau mencoba kabur, ibumu akan menanggung akibatnya. Tapi kau pasti sudah tahu itu."
Ophelia mengangguk. Ia menoleh ke belakang, menatap ibunya yang kini berdiri di ambang pintu, menangis. Miranda meraih pagar, jari-jarinya pucat karena ketakutan.
"Ophelia ..." isak Miranda.
Ophelia menahan air matanya. Ia tidak mau menangis di depan Salvatore. Ia tidak mau memberikan kepuasan pada pria ular itu.
Tapi di hatinya, rasa sakit itu membuatnya menahan amarah begitu besar. Ia ingin berteriak pada ibunya. “Lihat apa yang kau pilih, Mom! Kau memilih cintamu, dan kau kehilangan aku!"
Sebaliknya, dia hanya berkata pelan. “Aku sayang padamu."
Seorang anak buah Salvatore membuka pintu mobil hitam. Ophelia melangkah, tetapi sebelum masuk, dia berbalik ke arah Giorgio. Matanya menatap pria itu dengan penuh kebencian.
"Kau bilang kau mencintai ibuku," katanya lantang. "Tapi kau baru saja menjual anaknya kepada mafia untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Itu bukan cinta. Kau bajiingan. Dan suatu hari, kau akan membayar semuanya. Aku berjanji."
Giorgio menunduk, tak bisa berkata-kata.
Ophelia melangkah masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup dengan bunyi yang berat. Dari balik kaca mobil, dia melihat ibunya berusaha mengejar, tetapi dua anak buah Salvatore menghalangi jalannya.
Miranda berteriak namanya, tetapi suaranya tenggelam.
Salvatore duduk di sebelahnya, tersenyum puas. "Perjalanan pertama kita. Jangan khawatir, kami akan memperlakukanmu dengan baik. Kau aset berharga sekarang. Dan aku tidak pernah merusak aset."
Ophelia tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela saat rumahnya, rumah yang penuh kenangan bersama ayah kandungnya, rumah yang kini telah dikotori oleh pengkhianatan? menghilang di balik tikungan.
Di dadanya, ada rasa geram yang berubah menjadi sumpah serapah yang buruk untuk Giorgio. Ia akan bertahan.
Ia akan belajar menghadapi Salvatore. Dan suatu hari, dia akan membalas semua ini untuk ibunya yang bodoh, untuk ayahnya yang telah tiada, dan untuk dirinya sendiri yang kehilangan masa mudanya di malam yang dingin ini.
Mobil melaju ke dalam kegelapan, membawa Ophelia menuju dunia yang akan mengubahnya selamanya.
*
*
Di tengah perjalanan, ponsel Salvatore berdering. Pria itu berdehem sesaat sebelum mengangkatnya.
“Halo, Bos. Aku sudah membawanya,” kata pria itu.
Ophelia mendengarkan tapi tak menoleh pada Salvatore.
“Baik, Bos. Aku akan ke Red Casteel,” lanjut Salvatore.
‘Tunggu … dia punya bos? Jadi bukan dia ketuanya? Lalu siapa? Apakah dia lebih menyeramkan dari pria ular ini?’ batin Ophelia, dia penasaran dengan hal itu.
(JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE DI SETIAP BAB YA)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
d'she wu
smoga Miranda segera sadar dgn kebodohannya & pergi meninggalkan si Mokondo yg tlah menghabiskan harta warisan suami pertamanya juga tega menjual ophelia
2026-07-05
2
Zee²
g papa phelia jagan takut.
bosnya ganteng ko 🤭 nanti km kalo udah ketemu bakal bahagia g bakal kekurangan apa pun🤭😁
2026-07-02
1
Ayna Adam
Sabar ya Ophelia,q yakin km kuat menghadapi semua ini
Lanjut lagi kak updatenya 😊
2026-07-02
2