It Girl Gadungan

Suasana kantin SMA Gelanggang Alam saat jam istirahat sudah mirip pasar malam minus komidi putar.

Bau uap soto bercampur dengan aroma minyak gorengan panas.

Semua itu beradu dengan lengkingan suara ibu kantin yang sibuk menagih bayaran murid-murid.

Sesuai janjinya di kelas tadi, Lintang duduk di pojok kantin dengan wajah semringah.

Di depannya, Zahiya sedang khusyuk menghadapi semangkuk bakso urat dan es teh manis jumbo.

"Makan yang banyak, Zah. Anggap aja itu komisi atas jasa suci lu yang udah mempertemukan gua dengan masa depan," ujar Lintang.

Ia menopang dagu sambil menatap Zahiya dengan pandangan bangga.

Zahiya mengunyah baksonya lambat-lambat. "Gue sengaja pesen yang paling mahal, Lin. Mumpung lu lagi kesurupan jin dermawan."

"Santai. Buat makcomblang internasional spek lu, dompet gue selalu siap lahir batin," balas Lintang enteng.

Biarpun otaknya sering geser dan lantam, Lintang ini sebenarnya salah satu murid emas di sekolah.

Otaknya encer di urusan akademik. Peringkat paralelnya selalu konsisten di papan atas.

Suaranya kalau sudah memegang mikrofon bisa membuat merinding, dan gerakannya saat menari di acara pensi selalu sukses membuat satu sekolah histeris.

Sayangnya, semua bakat bintang itu sering tenggelam karena kelakuannya yang kelewat bobrok dan susah diatur.

Baru saja Lintang mau mencuri satu butir bakso milik Zahiya, suasana di sekitar meja panjang dekat penjual jus mendadak berbisik-bisik.

Lintang refleks menoleh. Di sana, Arka baru saja duduk bersama Leon.

Namun, yang membuat kornea mata Lintang mendadak berkedut panas adalah kehadiran Gardena.

Cewek kelas 12 IPS 1 itu datang tidak sendirian. Ia melangkah anggun didampingi dua dayang-dayang setianya, Sherly dan Fanya.

Gardena langsung menggeser duduk di dekat Arka dengan senyum paling manis miliknya.

"Hai, Arka," sapa Gardena mendayu-dayu.

Arka diam saja. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Cowok itu tetap fokus pada mangkok siomay di depannya.

Namun, Gardena sama sekali tidak menyerah.

"Congrats ya, menang lagi di kejuaraan silat tingkat provinsi kemarin. Aku yakin sih, kamu emang nggak pernah kalah," ujar Gardena, memberikan validasi penuh.

Arka masih bergeming bagai batu es.

"Oh iya, kemarin aku habis liburan dari Bandung. Terus aku sengaja bawain oleh-oleh spesial buat kamu," lanjut Gardena dengan wajah excited ala-ala memberikan kejutan.

Gardena merogoh tas kecilnya, lalu menyodorkan sebuah gelang hitam berbandul huruf G (Gifarka) ke hadapan Arka.

Arka hanya melirik benda itu sekilas tanpa minat.

Tanpa meminta izin, Gardena dengan nekat langsung menarik pergelangan tangan kanan Arka. Ia memakaikan gelang itu di sana.

Arka tetap diam, membiarkan pergelangan tangannya dipasangi gelang dengan ekspresi malas berdebat.

"Cocok deh di tangan kamu. Nih, aku juga pakai," ujar Gardena riang sambil memamerkan pergelangan tangannya sendiri yang memakai gelang serupa. Sama-sama berhuruf G.

"Ihh, cocok banget tahu, Den! Sumpah, kelihatan kompak banget!" seru Sherly heboh dari belakang.

"Iya bener! Berasa kayak gelang kapel tau nggak, emang jodoh nggak kemana!" timpal Fanya memanasi suasana.

Dari pojok kantin, sepasang mata Lintang sudah menyipit tajam menatap pemandangan itu. Jiwa bar-barnya langsung meronta gila.

"Zah, bentar. Ada uler keket lagi pamer gelang murah," bisik Lintang ketus.

Tanpa membuang waktu, Lintang bangkit dari kursinya. Ia setengah berlari riang menghampiri meja Arka.

"Arkaaaa!" seru Lintang sengaja dengan volume yang cukup terdengar.

Ia langsung berdiri tepat di samping tempat duduk Arka. Cowok stoik itu perlahan mendongak. "Kenapa?"

"Gue mau shareloc alamat rumah gue, biar lu nggak telat buat acara Sabtu sore nanti," ujar Lintang manis, sengaja menunjukkan senyum secukupnya yang dibuat seimut mungkin.

"WA aja," ujar Arka singkat.

Lintang langsung menyengir tanpa dosa. "Hehe, masalahnya gue lagi nggak ada paketan nih. Hotspot doong, Mas Crush."

Arka mengembuskan napas pendek, merasa pasrah dengan kelakuan gadis di sampingnya ini. "Sini ponselnya."

Lintang dengan cepat menyodoran ponselnya yang ber-casing penuh stiker lucu.

Tanpa banyak bicara, Arka meraih ponsel Lintang. Jemari kokohnya bergerak cepat menyalakan hotspot dari ponselnya sendiri, lalu menghubungkan jaringan internet ke ponsel Lintang.

Setelah tersambung, Arka menyodorkan ponsel itu kembali. Lintang menerimanya dengan mata berbinar, lalu buru-buru menekan tombol share location di ruang obrolan mereka.

"Udah masuk belum, Ka?" tanya Lintang.

Arka melirik layar ponselnya yang tergeletak di meja. "Udah."

"Coba liat dulu, kali aja gue salah shareloc malah ngirim alamat rumah tetangga gue," pinta Lintang mencari alasan.

"Gak usah," kata Arka datar.

"Iiiih, coba liat duluuu, nanti kalau lu nyasar ke rumah pak RT gimana?" bujuk Lintang lagi dengan nada merengek.

Arka akhirnya mengalah. Ia kembali membuka ponselnya untuk memeriksa peta lokasi yang dikirim Lintang.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Lintang.

Dengan gerakan cepat, Lintang langsung membungkukkan tubuhnya ke depan. Kepalanya sengaja disejajarkan sangat dekat dengan kepala Arka, ikut melongok melihat layar ponsel cowok itu.

Aroma parfum manis buah beri dari rambut Lintang mendadak menguar di indra penciuman Arka, membuat cowok itu sempat menghentikan gerakan jemarinya selama satu detik.

Sementara itu, di seberang meja, wajah Gardena dan kedua dayang-dayangnya langsung berubah masam dan pucat karena kalah telak oleh modus tingkat dewa milik Lintang.

"Lintang! Ngapain sih duduk deket-deket begitu? Arka risih tahu!" ujar Gardena dengan nada ketus.

Persona anggun yang tadi dipamerkan Gardena runtuh seketika melihat kedekatan Lintang dan Arka.

Lintang perlahan mendongak, menatap Gardena dengan malas.

Ia kembali menegakkan tubuhnya, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan santai.

"Arka emang risih sama gue," ujar Lintang enteng. "Tapi dia pasti lebih risih dipasangin gelang kapel dua ribuan sama lu."

Wajah Gardena langsung memerah padam menahan malu.

"Oh iya, sekalian gue mau pamer nih," lanjut Lintang dengan wajah penuh kebanggaan.

"Gue satu kelompok sama Arka buat tugas Prakarya bazar nanti. Berdua doang!"

Lintang mengangkat tangan kanannya, membentuk pose dua jari tepat di depan wajah Gardena.

"Nggak bisa kan, lu? Yahaaa! Cuma masangin gelang doang mah nggak usah bangga. Bentar lagi juga dibuang sama Arka," panasi Lintang tanpa ampun.

Gardena yang sudah berada di puncak emosi langsung menunjuk wajah Lintang. "Kamu-!"

"Udah," potong Arka dengan suara beratnya yang dingin.

Seketika atmosfer di meja kantin itu mendadak senyap. Arka mengalihkan pandangannya, melirik tajam ke arah Lintang. "Balik ke meja lu."

"Nggak mau," ujar Lintang santai tanpa rasa takut sedikit pun.

Melihat Lintang yang keras kepala, Arka tidak mendebat lagi. Ia memutar kepalanya, beralih melirik Gardena tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Tatapan mata elang Arka begitu mengintimidasi. Gardena yang merasa seperti akan segera diamuk langsung salah tingkah.

"Arka... aku duluan ya. Jangan diilangin gelangnya, oke?" pamit Gardena buru-buru demi menyelamatkan muka.

Tanpa menunggu jawaban Arka, Gardena langsung memberi isyarat pada kedua dayang-dayangnya. Mereka bertiga langsung balik kanan dan bubar jalan dari kantin.

Lintang bertepuk tangan heboh merayakan kemenangannya.

Leon yang duduk di seberang Arka sampai menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

"Gila lu, Lin. Pawang uler spek lu emang nggak ada tandingannya di sekolah ini," puji Leon setengah menyindir.

Lintang mengibaskan rambutnya angkuh. "Makanya, jangan meragukan kemampuan Lintang Gentariana."

"Tapi ucapan lu tadi agak keterlaluan nggak sih? Kasihan juga tuh anak orang mukanya sampai kayak kepiting rebus," sahut Leon sambil menyuap sisa siomaynya.

"Biarin aja. Siapa suruh caper duluan sama crush gue," balas Lintang telak.

Setelah drama kantin selesai dan musuhnya menyingkir, Lintang melirik ke arah Arka yang kembali fokus pada ponselnya.

"Udah, ah. Misi selesai, gue mau balik ke meja gue dulu. Bye, Mas Crush!" Lintang melengos begitu saja dengan langkah riang yang melompat-lompat kecil.

Leon memperhatikan punggung mungil Lintang sampai kembali ke mejanya, lalu menoleh ke arah Arka.

"Ka, asli... lu nggak capek apa hari-hari diurusin sama dua cewek sekaligus begitu?" tanya Leon penasaran.

"Nggak ngurus," ujar Arka datar.

Tangan kiri Arka bergerak naik, memegang gelang hitam berhuruf G yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

Dengan satu tarikan kasar yang kuat tanpa ragu, Arka memutus gelang tersebut.

Kretek!

Tali gelang itu putus total. Tanpa ekspresi, Arka melemparkan potongan gelang itu begitu saja ke dalam kotak sampah kecil di bawah meja kantin.

Leon melotot, hampir tersedak ludahnya sendiri. "Anjir, beneran dibuang!"

Arka tidak menyahut. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu bangkit berdiri meninggalkan Leon yang masih syok di tempat.

Episodes
1 Cowok Itu Lagi
2 Contekan Gratis
3 Ketika Teman Bertindak
4 It Girl Gadungan
5 Kerkom With Crush
6 Benang Merah
7 First Heroic Action
8 Kerkom to Kencan (?)
9 Syarat di Ujung Garis
10 Benang Merah ll
11 Crush to Husband
12 Pengantin Baru
13 Panic Attack
14 Baby Cerelac
15 Sekelas to Sekamar
16 7 Menit Bunda
17 Selesai Boleh Pulang
18 Sambutan dari Semesta
19 Raga Menolak, Jiwa Bertindak
20 Hak Milik yang Terusik
21 Harga Sebuah Tuduhan
22 Vodka vs Brotowali
23 Ego Buta
24 Suami Takut Istri (?)
25 Kabar Burung
26 Kepanasan
27 Antara Gengsi dan Roti Isi
28 Keamanan Cinta Pertama
29 Kembali 'Pulang'
30 Efek Samping Kemarahan
31 Pikun Membawa Petaka
32 Rival (?)
33 Cegil is Back
34 Crusher vs crushed
35 Penyusup
36 Melodi yang Membakar
37 Salah Paham
38 Asap dan Gengsi
39 Riang Berganti Rungkad
40 Kelam di Balik Temaram
41 Salah Paham Lagi
42 Di Bungkam Pingsan
43 Susu Hangat Pukul Lima
44 Pelampiasan Liar
45 Luka dan Rahasia
46 Identitas Palsu
47 Iblis Masa Lalu
48 Perginya Dermaga
49 Pangkuan Mami
50 Pesan Terakhirnya
51 Latar Belakangnya
52 Menjemput Kapal
53 Tumbuhnya Damai
54 Menenun Luka
55 Evaluasi Rumah Tangga
56 Rekonsiliasi Pagi
57 Backstreet Pukul 06.25
58 Kilas Balik
59 Kuasa Ny. Xilessanto
60 Rayuan Prik Si Stoik
61 Bentuk Bunda yang Lain
62 Gagal Terkam
63 Mas Imam
64 Ganti Kontak
65 Istri Kecilnya
66 Skandal 1
67 Deklarasi Setengah Valid
68 Resmi di Mata Publik
69 The Dominant
70 Otoritas Sejuk
71 Spekulasi Hati
72 Bukan Lagi Rukun Islam
73 Merah Segar
74 Scan QR di Tengah Lapangan
75 Gara-Gara Sebotol Minuman
76 Lantangnya Lintang
77 60 yang Membawa Petaka
78 Ketika Sabuk Hitam Tak Berguna
79 Hak Istimewa
80 Domestic Era
81 Berdua Lagi, Lagi Berdua
82 Awas Ada Gundik!
83 Pulpen Kematian
84 Cari Faksi
85 Offended
86 Disonansi
87 Anestesi
88 Penebusan
89 Serah Terima
90 Macet di Hari Minggu
91 Karamelove
92 Lampu Hijau, Tanda Merah
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok Itu Lagi
2
Contekan Gratis
3
Ketika Teman Bertindak
4
It Girl Gadungan
5
Kerkom With Crush
6
Benang Merah
7
First Heroic Action
8
Kerkom to Kencan (?)
9
Syarat di Ujung Garis
10
Benang Merah ll
11
Crush to Husband
12
Pengantin Baru
13
Panic Attack
14
Baby Cerelac
15
Sekelas to Sekamar
16
7 Menit Bunda
17
Selesai Boleh Pulang
18
Sambutan dari Semesta
19
Raga Menolak, Jiwa Bertindak
20
Hak Milik yang Terusik
21
Harga Sebuah Tuduhan
22
Vodka vs Brotowali
23
Ego Buta
24
Suami Takut Istri (?)
25
Kabar Burung
26
Kepanasan
27
Antara Gengsi dan Roti Isi
28
Keamanan Cinta Pertama
29
Kembali 'Pulang'
30
Efek Samping Kemarahan
31
Pikun Membawa Petaka
32
Rival (?)
33
Cegil is Back
34
Crusher vs crushed
35
Penyusup
36
Melodi yang Membakar
37
Salah Paham
38
Asap dan Gengsi
39
Riang Berganti Rungkad
40
Kelam di Balik Temaram
41
Salah Paham Lagi
42
Di Bungkam Pingsan
43
Susu Hangat Pukul Lima
44
Pelampiasan Liar
45
Luka dan Rahasia
46
Identitas Palsu
47
Iblis Masa Lalu
48
Perginya Dermaga
49
Pangkuan Mami
50
Pesan Terakhirnya
51
Latar Belakangnya
52
Menjemput Kapal
53
Tumbuhnya Damai
54
Menenun Luka
55
Evaluasi Rumah Tangga
56
Rekonsiliasi Pagi
57
Backstreet Pukul 06.25
58
Kilas Balik
59
Kuasa Ny. Xilessanto
60
Rayuan Prik Si Stoik
61
Bentuk Bunda yang Lain
62
Gagal Terkam
63
Mas Imam
64
Ganti Kontak
65
Istri Kecilnya
66
Skandal 1
67
Deklarasi Setengah Valid
68
Resmi di Mata Publik
69
The Dominant
70
Otoritas Sejuk
71
Spekulasi Hati
72
Bukan Lagi Rukun Islam
73
Merah Segar
74
Scan QR di Tengah Lapangan
75
Gara-Gara Sebotol Minuman
76
Lantangnya Lintang
77
60 yang Membawa Petaka
78
Ketika Sabuk Hitam Tak Berguna
79
Hak Istimewa
80
Domestic Era
81
Berdua Lagi, Lagi Berdua
82
Awas Ada Gundik!
83
Pulpen Kematian
84
Cari Faksi
85
Offended
86
Disonansi
87
Anestesi
88
Penebusan
89
Serah Terima
90
Macet di Hari Minggu
91
Karamelove
92
Lampu Hijau, Tanda Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!