Arkaholic

Arkaholic

Cowok Itu Lagi

Senin Pagi yang Laknat

Senin pagi yang laknat. Lapangan SMA Gelanggang Alam sudah berubah menjadi wajan raksasa yang siap memanggang ratusan murid menjadi matang secara merata.

Di barisan paling depan kelas dua belas, Lintang Gentariana sudah tidak tahan lagi. Gadis mungil bertinggi 150 cm itu menyeka keringat di lehernya yang mulai lengket.

"Pak! Panas banget ini, Pak! Kita udah kayak ikan asin di wajan!" teriak Lintang tiba-tiba. Suaranya yang melengking tajam seketika membelah kekhidmatan pengumuman yang akan diberitakan selesai upacara.

Tawa pecah di seluruh lapangan. Pak Wisma, guru piket, langsung melotot tajam dari pinggir lapangan seolah ingin menelan Lintang hidup-hidup.

"Lintang! Diam atau kamu saya jemur sampai siang!" bentak Pak Wisma.

"Siap, Pak! Lintang kembali ke mode khidmat bin saleha!" balas Lintang cepat sambil memberi hormat sekaku militer, membuat Zahiya, sahabat di sebelahnya, hanya bisa menunduk menahan malu.

Namun, penderitaan fisik itu menguap begitu saja saat pengeras suara podium berbunyi kresek-kresek. Kepala Sekolah maju ke depan mikrofon dengan senyum lebar.

"Hari ini, kita patut bangga. Mari kita beri tepuk tangan untuk Ananda Gifarka Xilessanto dari kelas 12 IPS 2 yang baru saja meraih juara satu lomba silat antarprovinsi!"

Mendengar nama itu, mata Lintang langsung berbinar. Efek kepanasan mendadak hilang, digantikan oleh hormon kebahagiaan yang melonjak drastis.

"Anjay! Crush gue itu!" teriak Lintang heboh sambil melompat kegirangan. "Gas terus, Arka! Nanti traktir es teh jumbo, ya!"

Anak-anak cowok kelas IPS 2 langsung bersorak memanasi suasana, sementara Zahiya buru-buru menarik rok Lintang dengan panik. "Diem, Lintang! Urat malu lu beneran udah putus, ya?!"

Di tengah kegilaan itu, sosok Gifarka Xilessanto berjalan maju membelah barisan. Cowok itu bertubuh tinggi menjulang, tegap, dengan ekspresi sedingin es batu di dalam kulkas yang tidak pernah pindah dari tempatnya.

Tatapannya lurus ke depan, sama sekali tidak peduli pada teriakan memalukan Lintang yang menggema seantero sekolah.

Karena terlalu asyik berteriak sambil melompat-lompat menatap ketampanan Arka, kaki Lintang tidak sengaja tersangkut sepatu Zahiya. Tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan. Lintang terjerembap ke depan, tepat ke arah jalur berjalan Arka yang baru saja lewat di samping barisannya.

Bruk!

Lintang memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya tanah lapangan. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Sebuah tangan kekar berseragam putih-abu menahan lingkar pinggangnya dengan sigap, mencegah wajah Lintang mencium bumi secara tragis.

Bau parfum maskulin segar langsung menusuk indra penciuman Lintang.

Deg!

Saat ia membuka mata, wajah datar Arka hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Seisi lapangan mendadak hening seketika.

Lintang mengerjapkan mata, terpesona. "Aura jodoh gue..." gumam Lintang super pelan, masih sempat-sempatnya kesurupan cinta.

Arka tidak tersenyum. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Lintang. Alih-alih membantu Lintang berdiri dengan romantis seperti di adegan drama Korea, Arka justru mendekatkan wajahnya ke telinga Lintang.

"Gak usah akting," bisik Arka, suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan mengintimidasi. "Berdiri sendiri, atau gue lepas."

Lintang tersentak. Belum sempat Lintang membalas ucapan ketus itu, tangan Arka tiba-tiba melepas pegangannya begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa rasa kemanusiaan.

Bruk!

"Aduh! Pantat seksi gue!" pekik Lintang spontan saat bokongnya sukses menghantam rumput lapangan yang keras.

Arka langsung berdiri tegap, merapikan lipatan seragamnya yang sedikit kusut tanpa dosa. Ia menatap Lintang dari ketinggian dengan tatapan sedatar garis lurus.

"Gue udah bilang. Berdiri sendiri," ucap Arka dingin, lalu melangkah pergi begitu saja membelah barisan murid, menuju podium untuk menerima pialanya.

Lintang menganga di tanah. "Sialan," umpatnya sambil mengusap pantatnya yang berdenyut. "Ganteng sih ganteng, tapi kelakuannya minus spek dajjal!"

"Lintang Gentariana! Keluar dari barisan sekarang!"

Suara menggelegar Pak Wisma dari jarak dua meter langsung membuat bulu kuduk Lintang meremang. Saat ia menoleh, Pak Wisma sudah berdiri dengan wajah merah padam dan berkacak pinggang. Di belakangnya, Zahiya sudah pasrah sambil menutup wajahnya dengan topi upacara.

"Mampus gue," gumam Lintang pasrah.

"Ikut saya ke depan tiang bendera! Hormat di sana sampai pengumuman selesai!" titah Pak Wisma kejam, menunjuk area panas di tengah lapangan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat Arka berdiri menerima piala.

Bukannya lemas karena dihukum, mata Lintang justru kembali berbinar. "Siap dilaksanakan dengan penuh cinta, Pak!" seru Lintang bersemangat.

Ia langsung bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di roknya, lalu melangkah centil menuju area tiang bendera. Langkah kaki Lintang sengaja dibuat melewati jalur Arka yang baru saja berbalik setelah menerima piala dari Kepala Sekolah.

Saat posisi mereka sejajar, Lintang sengaja memperlambat langkahnya. Ia mendongak, menatap Arka yang sedang mendekap piala emas besar di dadanya.

"Selamat ya, Kakang Arka sayang," bisik Lintang dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat. Ia mengedipkan sebelah matanya genit. "Pialanya berat, ya? Mau tukeran bawa hati aku aja gak? Dijamin enteng dan bikin bahagia lahir batin."

Arka menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengeras. Ia menatap Lintang dengan tatapan sedingin kutub utara. "Minggir. Gak usah ganggu."

"Ih, galak banget sih jodoh gue," cerocos Lintang tanpa urat malu. Ia malah sengaja bergeser selangkah, menghalangi jalur jalan Arka. "Lu tega banget tadi ngelepasin gue sampe jatuh betulan. Sebagai gantinya, nanti pas istirahat lu harus temenin gue minum es teh di kantin. Anggap aja itu denda karena udah menelantarkan aset berharga sekolah kayak gue."

Beberapa anak OSIS yang berjaga di sekitar podium langsung menahan tawa mendengar godaan maut Lintang. Mereka tidak habis pikir dengan keberanian gadis mungil ini.

"Lintang! Malah pacaran! Cepat ambil posisi hormat!" teriak Pak Wisma lagi dari kejauhan, membuat suasana makin riuh oleh siulan murid-murid lain.

Lintang refleks memanyunkan bibirnya. Ia menatap Arka lagi dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Tuh, liat. Gue dijemur demi mendukung prestasi lu, Arka. Lu gak ada niatan buat payungin gue pake piala lu itu?"

Arka tidak membalas. Ia hanya menghela napas pendek yang terdengar sangat jengah, lalu melangkah menyamping menghindari Lintang tanpa memedulikan racauan gadis itu lagi. Ekspresi wajahnya tetap sedatar papan tulis, seolah Lintang hanyalah seonggok angin lalu yang berisik.

"Dih, sombong banget si es batu," gumam Lintang sambil terkekeh pelan.

Dengan santai, Lintang berjalan menuju tiang bendera yang terik. Ia mengambil posisi tegap, lalu mengangkat tangan kanannya untuk menghormat ke arah bendera Merah Putih yang berkibar malas. Meskipun matahari membakar kulitnya, mata Lintang tetap melirik ke arah barisan kelas IPS 2, memperhatikan punggung tegap Arka yang mulai kembali ke barisannya.

Di samping tiang bendera, Lintang mulai bersenandung pelan, mengarang melodi acak dengan lirik yang membuat guru piket di dekatnya geleng-geleng kepala.

"Panas-panas berjemur diri... demi abang Arka yang pujaan hati... walau dilepas sampai jatuh membumi... cintaku padamu takkan pernah mati..." nyanyi Lintang dengan suara merdu yang mendayu-dayu.

"Lintang! Hormat yang benar, jangan malah nyanyi dangdut!" tegur Pak Wisma yang mendengarnya dari jarak beberapa meter.

"Ini bukan dangdut, Pak! Ini lagu cinta beraliran pop-alternatif khusus buat masa depan saya!" sahut Lintang lantang, sama sekali tidak merasa bersalah.

Dari kejauhan di barisan IPS 2, Arka yang baru saja kembali ke tempatnya tanpa sengaja mendengar sahutan melengking Lintang. Ia melirik sekilas ke arah tiang bendera, melihat siluet mungil yang berdiri tegap di bawah terik matahari namun tetap terlihat sangat aktif dan tidak bisa diam.

Leon yang berdiri di belakang Arka menyenggol bahu sang atlet silat jahil. "Gila, fans fanatik nomor satu lu emang gak ada duanya, Ka. Dihukum jemur begitu aja masih sempet-sempetnya konser mini buat lu."

Arka tidak menyahut. Ia hanya menatap lurus ke depan, fokus pada pengumuman yang tersisa.

Setelah melewati satu jam penuh siksaan dijemur di dekat tiang bendera, bel tanda upacara selesai akhirnya berdering. Namun, bagi murid-murid kelas 12 IPS 2, penderitaan hari Senin baru saja dimulai.

Episodes
1 Cowok Itu Lagi
2 Contekan Gratis
3 Ketika Teman Bertindak
4 It Girl Gadungan
5 Kerkom With Crush
6 Benang Merah
7 First Heroic Action
8 Kerkom to Kencan (?)
9 Syarat di Ujung Garis
10 Benang Merah ll
11 Crush to Husband
12 Pengantin Baru
13 Panic Attack
14 Baby Cerelac
15 Sekelas to Sekamar
16 7 Menit Bunda
17 Selesai Boleh Pulang
18 Sambutan dari Semesta
19 Raga Menolak, Jiwa Bertindak
20 Hak Milik yang Terusik
21 Harga Sebuah Tuduhan
22 Vodka vs Brotowali
23 Ego Buta
24 Suami Takut Istri (?)
25 Kabar Burung
26 Kepanasan
27 Antara Gengsi dan Roti Isi
28 Keamanan Cinta Pertama
29 Kembali 'Pulang'
30 Efek Samping Kemarahan
31 Pikun Membawa Petaka
32 Rival (?)
33 Cegil is Back
34 Crusher vs crushed
35 Penyusup
36 Melodi yang Membakar
37 Salah Paham
38 Asap dan Gengsi
39 Riang Berganti Rungkad
40 Kelam di Balik Temaram
41 Salah Paham Lagi
42 Di Bungkam Pingsan
43 Susu Hangat Pukul Lima
44 Pelampiasan Liar
45 Luka dan Rahasia
46 Identitas Palsu
47 Iblis Masa Lalu
48 Perginya Dermaga
49 Pangkuan Mami
50 Pesan Terakhirnya
51 Latar Belakangnya
52 Menjemput Kapal
53 Tumbuhnya Damai
54 Menenun Luka
55 Evaluasi Rumah Tangga
56 Rekonsiliasi Pagi
57 Backstreet Pukul 06.25
58 Kilas Balik
59 Kuasa Ny. Xilessanto
60 Rayuan Prik Si Stoik
61 Bentuk Bunda yang Lain
62 Gagal Terkam
63 Mas Imam
64 Ganti Kontak
65 Istri Kecilnya
66 Skandal 1
67 Deklarasi Setengah Valid
68 Resmi di Mata Publik
69 The Dominant
70 Otoritas Sejuk
71 Spekulasi Hati
72 Bukan Lagi Rukun Islam
73 Merah Segar
74 Scan QR di Tengah Lapangan
75 Gara-Gara Sebotol Minuman
76 Lantangnya Lintang
77 60 yang Membawa Petaka
78 Ketika Sabuk Hitam Tak Berguna
79 Hak Istimewa
80 Domestic Era
81 Berdua Lagi, Lagi Berdua
82 Awas Ada Gundik!
83 Pulpen Kematian
84 Cari Faksi
85 Offended
86 Disonansi
87 Anestesi
88 Penebusan
89 Serah Terima
90 Macet di Hari Minggu
91 Karamelove
92 Lampu Hijau, Tanda Merah
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Cowok Itu Lagi
2
Contekan Gratis
3
Ketika Teman Bertindak
4
It Girl Gadungan
5
Kerkom With Crush
6
Benang Merah
7
First Heroic Action
8
Kerkom to Kencan (?)
9
Syarat di Ujung Garis
10
Benang Merah ll
11
Crush to Husband
12
Pengantin Baru
13
Panic Attack
14
Baby Cerelac
15
Sekelas to Sekamar
16
7 Menit Bunda
17
Selesai Boleh Pulang
18
Sambutan dari Semesta
19
Raga Menolak, Jiwa Bertindak
20
Hak Milik yang Terusik
21
Harga Sebuah Tuduhan
22
Vodka vs Brotowali
23
Ego Buta
24
Suami Takut Istri (?)
25
Kabar Burung
26
Kepanasan
27
Antara Gengsi dan Roti Isi
28
Keamanan Cinta Pertama
29
Kembali 'Pulang'
30
Efek Samping Kemarahan
31
Pikun Membawa Petaka
32
Rival (?)
33
Cegil is Back
34
Crusher vs crushed
35
Penyusup
36
Melodi yang Membakar
37
Salah Paham
38
Asap dan Gengsi
39
Riang Berganti Rungkad
40
Kelam di Balik Temaram
41
Salah Paham Lagi
42
Di Bungkam Pingsan
43
Susu Hangat Pukul Lima
44
Pelampiasan Liar
45
Luka dan Rahasia
46
Identitas Palsu
47
Iblis Masa Lalu
48
Perginya Dermaga
49
Pangkuan Mami
50
Pesan Terakhirnya
51
Latar Belakangnya
52
Menjemput Kapal
53
Tumbuhnya Damai
54
Menenun Luka
55
Evaluasi Rumah Tangga
56
Rekonsiliasi Pagi
57
Backstreet Pukul 06.25
58
Kilas Balik
59
Kuasa Ny. Xilessanto
60
Rayuan Prik Si Stoik
61
Bentuk Bunda yang Lain
62
Gagal Terkam
63
Mas Imam
64
Ganti Kontak
65
Istri Kecilnya
66
Skandal 1
67
Deklarasi Setengah Valid
68
Resmi di Mata Publik
69
The Dominant
70
Otoritas Sejuk
71
Spekulasi Hati
72
Bukan Lagi Rukun Islam
73
Merah Segar
74
Scan QR di Tengah Lapangan
75
Gara-Gara Sebotol Minuman
76
Lantangnya Lintang
77
60 yang Membawa Petaka
78
Ketika Sabuk Hitam Tak Berguna
79
Hak Istimewa
80
Domestic Era
81
Berdua Lagi, Lagi Berdua
82
Awas Ada Gundik!
83
Pulpen Kematian
84
Cari Faksi
85
Offended
86
Disonansi
87
Anestesi
88
Penebusan
89
Serah Terima
90
Macet di Hari Minggu
91
Karamelove
92
Lampu Hijau, Tanda Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!