45

..

  Aroma obat-obatan khas ruang perawatan VVIP rumah sakit swasta itu perlahan menusuk indra penciuman Gala. Kelopak mata sang aktor terbaik peraih Piala Citra itu mengerjap lambat, terasa sangat berat dan perih akibat pembengkakan di sekitar wajahnya. Begitu kesadarannya mulai terkumpul, rasa nyut-nyutan yang teramat dahsyat langsung menghantam rahang, perut, dan ulu hatinya—efek sisa kebrutalan amukan Elang Adytama semalam.

Gala menoleh kaku ke samping. Pandangannya yang agak kabur menangkap sosok Regal yang sedang tertidur pulas di sofa penunggu dengan posisi mulut sedikit terbuka saking lelahnya.

Gala mencoba menggerakkan tubuh tegapnya untuk duduk, namun rintihan tertahan langsung keluar dari bibirnya yang pecah. "Ugh... s-sialan... badan gua remuk beneran," gumam Gala parau, suaranya serak hampir habis.

Suara rintihan Gala langsung membuat Regal tersentak bangun dari sofanya. Pria yang baru saja sah jadi bapak baru itu langsung menghambur mendekati ranjang Gala dengan wajah panik bercampur gemas.

"Lu udah sadar, Gal?! Astagfirullah, akhirnya nyawa lu balik juga ke badan, Su!" seru Regal, buru-buru mengambilkan segelas air putih hangat lalu membantu Gala minum menggunakan sedotan dengan sangat telaten.

Gala menghela napas panjang setelah tenggorokannya terasa sedikit lega. Dia melirik ke arah pintu kamar rawat yang tertutup rapat. "Abang-abang yang lain... ke mana, Gal?" tanya Gala kaku.

"Udah pada pulang subuh tadi," jawab Regal sambil menarik kursi untuk duduk di samping ranjang. "Semalam pas gua telepon grup kalau lu masuk IGD dalam kondisi sekarat babak belur, si Jean, Vernon, Keenan, sama Galen langsung konvoi ke sini, Mereka panik banget, tapi gua bilang lu cuma kecelakaan kecil pas lewat mansion Elang. Mereka gak tahu masalah asli lu apa, makanya pas dokter bilang lu udah aman, mereka balik karena harus pada ngantor pagi ini."

Regal menjeda kalimatnya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius dan menyelidik. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Gala. "Sekarang, lu jujur sama gua, Gal. Lu ada masalah apa sama si Elang sampai lu bisa terkapar mengenaskan di lantai marmer rumahnya? Lu utang judi? Atau lu gak sengaja ngerusak mobil sport kesayangannya?!" tanya Regal kepo tingkat dewa.

Gala terdiam sejenak. Dia memejamkan mata elangnya rapat-rapat, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk jujur kepada sahabat sehidup sematinya ini.

"Gua... gua semalam ke mansion Bang Elang murni buat ngelamar Yaya, Gal," bisik Gala dengan suara baritonnya yang sangat rendah.

Regal mengernyit bingung, sedetik kemudian dia tertawa renyah. "Hahaha! Ya pantesan lu digebukin, bego! Lu ngapain ngelawak malam-malam bawa anak orang? Lu frustrasi amat jadi jomblo karatan sampai becandanya kelewatan?!"

"Gua gak bercanda, Regal," potong Gala tegas, menatap lurus mata Regal dengan pandangan yang teramat pekat, serius, dan tanpa sensor. "Yaya... Yaya beneran udah tek dung alias hamil anak gua. Jalan lima minggu. Makanya semalam gua langsung dihajar habis-habisan sama Bang Elang."

Hening.

Senyuman di wajah Regal langsung membeku seketika seolah-olah dia baru saja disandera oleh alien. Otaknya nge-lag total selama sepuluh detik penuh mencoba mencerna untaian kalimat keramat dari mulut Gala.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

PLAAAKKK!

Tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa perikemanusiaan, telapak tangan Regal langsung mendarat sukses ngegeplak keras puncak kepala Gala yang sebenarnya masih terbalut kain perban putih rumah sakit!

"Aduhh!! Sakit, bego!!" pekik Gala spontan memegangi kepalanya yang makin berdenyut pening akibat geplakan maut itu.

"GAK ADA OTAK LU, GAL!!! ASUU LU, GALASKY!!!" teriak Regal frustrasi, melompat dari kursinya sambil menjambret rambutnya sendiri saking merasa kenyataan ini seribu kali lebih gila daripada film thriller.

Regal berjalan mondar-mandir di dalam kamar rawat seperti orang kesurupan, menunjuk wajah lebam Gala dengan tangan gemetaran parah. "Gila lu ya! Pantesan kemarin pas bini gua lahiran lu mukanya aneh bin kaku, ternyata di apartemen lu lagi sibuk bikin adonan baru sama anaknya bang Elang?! Lu bener-bener kriminal, Gal! Elang itu nitipin anak gadisnya karena lu dianggap cowok paling suci jomblo karatan yang gak punya nafsu! Lah, sekarang lu malah menjebol benteng keponakan gua sendiri sampai garis dua?!" cerocos Regal bertubi-tubi dengan napas memburu karena bengek menahan syok.

Gala hanya bisa mendengus pasrah, meraba kepalanya yang diperban. "Gua khilaf, Gal... tapi gua siap tanggung jawab lahir batin. Gua gak bakal kabur," bela Gala dengan sisa-sisa wibawa aktornya.

"Tanggung jawab kepala lu peyang! Lu gak tahu aja semalam pas Elang nutup telepon, dia langsung nelpon si Shaka di Harvard!" seru Regal, "Shaka udah tahu kalau adiknya hamil gara-gara lu! Lu siap-siap aja, Gal. Bentar lagi Shaka mendarat dari Amerika, lu bukan cuma dihadapkan sama parang si Elang, tapi lu bakal disidang meja hijau sama seluruh sirkel AIS! Nyawa lu bener-bener di ujung tanduk sekarang, Su!"

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!