Bab 5: Perubahan yang Tak Disadari

Sejak pagi itu, suasana di kediaman Pratama terasa berubah total. Tidak lagi terasa dingin dan kaku seperti gudang penyimpanan barang mahal, melainkan perlahan mulai terasa hangat seperti rumah yang sesungguhnya. Perubahan itu terlihat jelas pada sikap Arga sendiri—meski ia berusaha keras menyembunyikannya, namun orang-orang di sekitarnya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Selama dua hari masa pemulihannya, Arga benar-benar menuruti semua saran Laras tanpa banyak membantah. Ia memakan bubur hangat yang dibuat sendiri oleh tangan istrinya itu, meminum obat tepat waktu, dan bahkan rela berbaring diam saat biasanya ia tidak bisa diam lebih dari satu jam memikirkan pekerjaannya. Setiap kali Laras bergerak menjauh sedikit saja, matanya seolah secara otomatis melacak keberadaannya.

“Sudah cukup, Arga. Kamu masih butuh istirahat total,” tegur Laras lembut saat melihat Arga mencoba bangkit hendak membuka laptopnya.

Arga menghela napas panjang, lalu menatap wajah Laras dengan pandangan yang kini terasa lebih lembut dari biasanya. “Bagaimana aku bisa diam saja jika terbiasa mengurus segalanya? Rasanya seperti terikat.”

“Tubuhmu butuh istirahat agar tenaganya kembali pulih. Percayalah, pekerjaan tidak akan lari kemana. Tapi kalau tubuhmu rusak, semua yang kau bangun bisa runtuh seketika,” jawab Laras sambil melipat selimut di kakinya. “Selama dua hari ini, biarkan aku yang menggantikan tugas menjaga keadaan tetap berjalan. Sudah bicara dengan sekretarismu, yang paling mendesak saja akan dikirimkan laporannya nanti sore.”

Mendengar itu, Arga hanya bisa mengangguk pasrah. Anehnya, mendengar nada bicara Laras yang sedikit memerintah itu justru tidak membuatnya marah atau terganggu. Sebaliknya, ada rasa tenang yang menyelimuti hatinya—sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

“Kamu benar-benar berbeda dari wanita mana pun yang pernah aku kenal,” gumam Arga pelan, cukup terdengar oleh Laras.

Laras tersenyum tipis, matanya menerawang sejenak. “Karena aku juga tidak berusaha menjadi orang lain. Aku hanya menjadi diriku sendiri. Aku tidak meminta apa pun darimu selain kesempatan untuk hidup dengan harga diri dan diperlakukan selayaknya manusia.”

Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Arga. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sering melihat dunia hanya melalui kacamata transaksi dan keuntungan. Ia lupa bahwa rasa hormat dan kepercayaan tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Dan Laras telah mengajarkannya hal itu hanya dalam waktu singkat.

Sore harinya, sesuai janji, sekretaris Arga datang membawa beberapa berkas penting. Begitu masuk, sekretaris itu sedikit terkejut melihat pemandangan yang jarang sekali dilihatnya: Tuan Arga sedang duduk bersandar di tempat tidur, sementara Nyonya Laras berdiri di sampingnya, sesekali menjelaskan isi berkas dengan bahasa yang sederhana namun tepat sasaran. Sikap Arga tidak lagi memerintah dengan nada tinggi, melainkan mendengarkan dengan perhatian luar biasa.

“Laporan ini menunjukkan penurunan minat konsumen pada lini produk terbaru kita. Mungkin kemasannya terkesan terlalu mewah dan kurang sesuai dengan selera pasar menengah yang menjadi sasaran utama,” jelas Laras setelah membaca data penjualan itu sekilas.

Arga mengernyitkan dahi memeriksa grafiknya. “Memang benar. Tim pemasaran berpendapat kemewahan itu nilai tambah. Tapi kau melihatnya dari sisi lain.”

Laras mengangguk. “Karena aku tumbuh di lingkungan yang menjadi sasaran pasar itu. Kami ingin kualitas bagus, tapi tidak ingin membayar terlalu mahal hanya untuk kemasan yang akhirnya dibuang begitu saja. Sesuaikan nilai dengan manfaatnya, mungkin hasilnya akan berbeda.”

Sekretaris itu menahan napas, menunggu reaksi marah dari atasannya. Namun yang didengarnya justru jawaban Arga yang penuh pertimbangan. “Pikiranmu masuk akal. Nanti malam aku akan minta tim untuk evaluasi ulang. Terima kasih sudah melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.”

Setelah sekretaris itu pergi, Arga menatap Laras dengan pandangan baru—bukan lagi sebagai istri kontrak, melainkan sebagai sosok yang bisa menjadi pendamping berpikir. “Ternyata kau juga punya pandangan yang tajam soal bisnis. Kenapa tidak pernah kau ceritakan sebelumnya?”

Laras tertawa kecil. “Karena aku tidak tahu apakah pendapatku akan didengar atau dianggap mengganggu urusan tuan rumah. Lagipula, ini hanya pengamatan sederhana saja.”

“Mulai sekarang, sampaikan saja apa yang kau pikirkan. Aku janji akan mendengarkannya,” ucap Arga tegas, kali ini terdengar seperti janji tulus, bukan sekadar perintah.

 

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Berita tentang kehadiran Laras dan pengaruhnya mulai didengar oleh pihak yang tidak menyukainya. Termasuk mantan kekasih Arga, Karin—wanita yang pernah melukai hatinya di masa lalu. Ia mendengar kabar bahwa Arga kini bersikap lunak dan bahkan melindungi seorang gadis biasa, membuat rasa iri dan keinginan untuk memiliki kembali terbangkitkan dalam dirinya.

Suatu hari, saat Arga sudah kembali bekerja dan Laras sedang sendirian di rumah, seorang tamu tak diundang datang melangkah masuk dengan sikap angkuh dan percaya diri. Itu Karin, mengenakan pakaian bermerek, wajahnya terlihat cantik namun matanya menyimpan kebencian tersembunyi.

“Jadi kau Nyonya Pratama yang baru itu?” sapa Karin dingin sambil memandang Laras dari ujung kepala hingga kaki. “Tidak seberapa pun rupanya. Aku penasaran apa trik yang kau gunakan hingga bisa membuat Arga menerima gadis dari kelas bawah sepertimu.”

Laras tetap tenang berdiri menyambutnya, tidak tergoyahkan oleh tatapan meremehkan itu. “Selamat datang. Silakan duduk. Tapi jika kau datang hanya untuk menilai penampilanku, kurasa kau membuang waktumu sendiri. Aku adalah istri Arga sekarang, dan itu fakta yang sah.”

Karin tertawa sinis sambil duduk santai di sofa seolah itu rumahnya sendiri. “Istri di atas kertas saja. Jangan bermimpi Arga akan jatuh cinta padamu. Aku mengenalnya lebih baik dari siapa pun. Hatinya sudah mati dan dia tidak akan pernah percaya lagi pada wanita. Dulu dia mencintaiku sepenuh hati, namun aku yang pergi—karena aku tahu dia terlalu dingin dan kaku. Kalau kau berharap mendapatkan hatinya, kau hanya akan menyia-nyiakan usia mudamu saja.”

Kata-kata itu memang menusuk tepat ke titik lemah Laras. Ia sadar posisinya, sadar masa lalu Arga, namun ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja.

“Mungkin kau benar soal masa lalu,” jawab Laras tenang namun tegas. “Tapi masa lalu bukan jaminan masa depan. Jika dia pernah terluka, itu bukan alasan bagiku untuk menyakiti dia lagi. Aku tidak datang untuk meminta cintanya secara paksa. Aku datang untuk menjaga janji, dan jika pada akhirnya dia bisa membuka hatinya kembali, itu adalah anugerah. Jika tidak, aku tetap akan menjaga harga diriku sendiri. Setidaknya aku tidak pernah pergi meninggalkannya saat dia jatuh, dan tidak kembali hanya karena mendengar dia mulai berubah menjadi lebih baik.”

Wajah Karin berubah merah karena tersindir. Ia hendak membalas dengan kata-kata pedas lagi, namun suara berat dan tegas terdengar dari pintu masuk.

“Dia benar. Kau tidak punya hak bicara apa pun tentang hidupku atau istriku.”

Semua orang menoleh. Arga berdiri di ambang pintu, sorot matanya menyala tajam menatap Karin dengan kedinginan yang lebih dalam dari biasanya. Ia datang lebih awal dari jadwalnya karena ingin memastikan keadaan Laras, dan tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan itu.

Karin terkejut, lalu berusaha menyunggingkan senyum manja seperti dulu. “Arga… aku hanya ingin melihatmu saja. Aku merindukanmu, dan menyadari bahwa tidak ada pria lain yang bisa menggantikan posisimu. Mari kita lupakan masa lalu dan mulai lagi…”

“Sudah terlambat,” potong Arga dingin tanpa ragu sedikit pun. “Yang kau rindukan bukan aku, melainkan kekuasaan dan kemapananku. Dulu aku bodoh karena buta melihat kebenaran. Sekarang mataku sudah terbuka. Satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku sekarang adalah Laras. Keluarlah dari rumah ini, dan jangan pernah menjejakkan kaki lagi di sini atau mendekati dia. Jika tidak, jangan salahkan aku jika nama bisnismu hancur sampai ke akarnya.”

Tatapan Arga begitu mengerikan hingga membuat Karin gemetar ketakutan. Ia menatap tajam ke arah Laras dengan pandangan iri, lalu berjalan tergesa-gesa keluar dengan rasa malu yang mendalam.

Begitu pintu tertutup, Arga segera berbalik menghadap Laras. Tangannya secara refleks menggenggam bahu istrinya lembut namun kuat. “Dia tidak menyakitimu atau mengucapkan hal yang membuatmu takut?” tanyanya dengan nada khawatir yang jelas terdengar.

Laras menggeleng sambil tersenyum lega. “Tidak. Aku sudah bisa menjawabnya sendiri. Tapi terima kasih sudah datang tepat waktu dan memperjelas posisiku.”

Arga menghela napas lega, lalu menarik Laras masuk ke dalam pelukan dadanya secara tiba-tiba. Pelukan itu hangat, kokoh, dan membuat Laras tertegun tidak menyangka.

“Maafkan aku karena membiarkan masa lalunya mengganggu kedamaianmu,” bisik Arga di telinganya. “Tapi mulai hari ini, aku ingin membuat janji baru—bukan lagi janji kontrak bisnis yang dingin, tapi janji sebagai suami. Aku akan melindungimu dari siapa pun, apa pun harganya. Perlahan-lahan… aku akan mencoba menjadi pria yang pantas mendampingimu.”

Detak jantung Laras berdegup kencang luar biasa. Di pelukan itu, ia bisa merasakan ketulusan yang mengalir dari tubuh Arga. Dinding es itu benar-benar mulai runtuh, digantikan oleh perasaan yang tumbuh semakin kuat setiap harinya.

“Terima kasih, Arga,” bisik Laras membalas pelukan itu dengan lembut. “Aku akan menunggumu, selama waktu yang dibutuhkan.”

Di tengah kehangatan pelukan itu, mereka sama-sama sadar: perjalanan cinta mereka baru saja dimulai—bukan dari awal yang indah, melainkan dari paksaan yang perlahan berubah menjadi ikatan yang paling kuat yang pernah mereka rasakan. Namun ujian dan rintangan belum selesai. Masih banyak rahasia, kecemburuan, dan ancaman yang akan menguji keteguhan hati mereka di masa depan

Terpopuler

Comments

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Melupakan emang semudah itu, tapi kenyataan pahit waktu lo ninggalin Arga gak akan semudah itu untuk dilupakan... Lagian Arga udah punya istri, ngapain harus balik sama cewek modelan lo?

2026-07-30

1

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Arga kemarin lagi apes aja... Dapet cewek modelan Karin...

2026-07-30

1

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Banyak cangkem nih🗿

2026-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Harga Diri Demi Keluarga
2 Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda
3 Bab 3: Perlindungan yang Tak Disadari
4 Bab 4: Di Balik Dinding Es
5 Bab 5: Perubahan yang Tak Disadari
6 Bab 6: Benih Cinta yang Tumbuh Subur
7 Bab 7: Di Antara Bukti dan Kepercayaan
8 Bab 8: Terungkapnya Kebenaran
9 Bab 9: Kebahagiaan yang Terukir Nyata
10 Bab 10: Janji Sepanjang Masa
11 Bab 11: Masa Remaja dan Tantangan Baru
12 Bab 12: Ujian bagi Generasi Berikutnya
13 Bab 13: Ikatan yang Semakin Menguat
14 Bab 14: Janji Sepanjang Masa
15 Bab 15: Jejak Cinta yang Terus Melangkah
16 Bab 16: Cahaya di Setiap Generasi
17 Bab 17: Jejak yang Terus Berjalan
18 Bab 18: Kisah yang Tak Pernah Berakhir
19 Bab 19: Menemukan Jalan Sendiri
20 Bab 20: Akar yang Tak Pernah Layu
21 Bab 21: Akhir yang Tak Pernah Berakhir
22 Bab 22 Bunga yang Mekar di Setiap Jalan
23 Bab 23: Langkah yang Berbeda
24 Bab 24: Rahasia di Balik Kesibukan
25 Bab 25: Pertemuan yang Tak Disangka
26 Bab 26: Janji di Bawah Langit Senja
27 Bab 27: Bayang Keraguan yang Datang
28 Bab 28: Keputusan yang Tak Terduga
29 Bab 29: Jejak yang Menghilang
30 Bab 30: Kedatangan yang Dinanti
31 Bab 31: Pertemuan yang Kembali Terjalin
32 Bab 32: Restu yang Datang Tulus
33 Bab 33: Persiapan Penuh Makna
34 Bab 34: Hari Penuh Doa
35 Bab 35: Langkah Menuju Kehidupan Baru
36 Bab 36: Ujian Kecil yang Menguatkan Ikatan
37 Bab 37: Buah dari Kesabaran yang Tulus
38 Bab 38: Jejak Kebaikan yang Menyebar
39 Bab 39: Kembali pada Awal yang Berbeda
40 Bab 40: Warisan Cinta yang Abadi
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Harga Diri Demi Keluarga
2
Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda
3
Bab 3: Perlindungan yang Tak Disadari
4
Bab 4: Di Balik Dinding Es
5
Bab 5: Perubahan yang Tak Disadari
6
Bab 6: Benih Cinta yang Tumbuh Subur
7
Bab 7: Di Antara Bukti dan Kepercayaan
8
Bab 8: Terungkapnya Kebenaran
9
Bab 9: Kebahagiaan yang Terukir Nyata
10
Bab 10: Janji Sepanjang Masa
11
Bab 11: Masa Remaja dan Tantangan Baru
12
Bab 12: Ujian bagi Generasi Berikutnya
13
Bab 13: Ikatan yang Semakin Menguat
14
Bab 14: Janji Sepanjang Masa
15
Bab 15: Jejak Cinta yang Terus Melangkah
16
Bab 16: Cahaya di Setiap Generasi
17
Bab 17: Jejak yang Terus Berjalan
18
Bab 18: Kisah yang Tak Pernah Berakhir
19
Bab 19: Menemukan Jalan Sendiri
20
Bab 20: Akar yang Tak Pernah Layu
21
Bab 21: Akhir yang Tak Pernah Berakhir
22
Bab 22 Bunga yang Mekar di Setiap Jalan
23
Bab 23: Langkah yang Berbeda
24
Bab 24: Rahasia di Balik Kesibukan
25
Bab 25: Pertemuan yang Tak Disangka
26
Bab 26: Janji di Bawah Langit Senja
27
Bab 27: Bayang Keraguan yang Datang
28
Bab 28: Keputusan yang Tak Terduga
29
Bab 29: Jejak yang Menghilang
30
Bab 30: Kedatangan yang Dinanti
31
Bab 31: Pertemuan yang Kembali Terjalin
32
Bab 32: Restu yang Datang Tulus
33
Bab 33: Persiapan Penuh Makna
34
Bab 34: Hari Penuh Doa
35
Bab 35: Langkah Menuju Kehidupan Baru
36
Bab 36: Ujian Kecil yang Menguatkan Ikatan
37
Bab 37: Buah dari Kesabaran yang Tulus
38
Bab 38: Jejak Kebaikan yang Menyebar
39
Bab 39: Kembali pada Awal yang Berbeda
40
Bab 40: Warisan Cinta yang Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!