Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Bab 1: Harga Diri Demi Keluarga

Suasana rumah sederhana itu terasa sesak dan hening, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama lambat seolah memperpanjang rasa cemas yang menyelimuti seluruh penghuninya. Langit di luar sudah mulai gelap, diselimuti awan kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan kesedihan yang tengah melanda keluarga itu. Di ruang tengah yang berukuran tak terlalu luas, Laras duduk membeku di ujung sofa usang, tangannya menggenggam kuat ujung kain roknya hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa tertekan, seolah ada batu besar yang menghimpit ruang napasnya, membuat setiap tarikan napas terasa berat dan menyakitkan.

Di hadapannya, Ayahandanya, Pak Harun, duduk tertunduk lemas. Pundaknya yang dulu terlihat kokoh dan menjadi tempat berteduh kini terlihat bungkuk, dipenuhi beban yang tak sanggup ia pikul sendirian. Wajahnya dipenuhi kerutan yang terlihat semakin dalam, mata tuanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan putus asa yang mendalam. Di sampingnya, Ibu Laras terisak pelan, menutupi mulutnya dengan telapak tangan agar tangisannya tidak terdengar terlalu keras, namun air matanya terus mengalir tak terbendung membasahi pipi keriputnya.

“Laras… putriku maafkan Ayah,” suara Pak Harun terdengar parau dan bergetar, hampir tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia mengangkat wajah, menatap putrinya dengan pandangan yang penuh penyesalan mendalam. “Ayah sudah gagal. Usaha Ayah bangkrut, dan utang-utang itu menumpuk sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Jika sampai akhir minggu ini uangnya tidak terkumpul, mereka akan menyita rumah ini, bahkan bisa menyeret Ayah ke penjara. Semua harta yang tersisa sudah dijual, namun tetap saja belum cukup sepersepuluh dari jumlah yang diminta.”

Mendengar itu, jantung Laras terasa seperti dicengkeram kuat. Ia tahu keadaan ekonomi keluarga mereka sedang sulit, namun tak pernah menyangka situasinya sudah jatuh sedemikian parah hingga di ambang kehancuran total. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tua sambil tetap menyelesaikan pendidikannya. Ia memiliki mimpi untuk membahagiakan mereka suatu hari nanti, namun kenyataan pahit ini datang begitu tiba-tiba menghantam harapannya.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan, Yah?” tanya Laras dengan suara bergetar, berusaha tetap tegar meski matanya sudah berkaca-kaca. “Kita bisa cari pinjaman lagi, bekerja siang malam… pasti ada jalan lain, bukan?”

Pak Harun menggeleng pelan, air matanya akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. “Sudah dicoba, Nak. Semua pintu sudah tertutup rapat. Tidak ada satu pun kerabat atau kenalan yang berani meminjamkan uang sebanyak itu. Hingga hari ini… satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah satu tawaran yang datang dari keluarga Pratama.”

Nama itu membuat Laras tertegun. Keluarga Pratama. Siapa pun di kota ini tahu nama itu—keluarga terkaya dan paling berpengaruh, pemilik jaringan bisnis yang menjangkau berbagai sektor, kekuasaannya terasa hingga ke penjuru kota. Namun hubungan mereka dengan keluarga sederhana seperti dirinya bagaikan langit dan bumi, takkan pernah bersinggungan.

“Tawaran apa, Yah?” tanya Laras hati-hati, merasa firasat buruk mulai merayapi hatinya.

Pak Harun menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh keberanian terakhirnya sebelum mengucapkan kalimat yang mungkin akan mengubah seluruh masa depan putrinya. “Arga Pratama, pewaris tunggal keluarga itu… bersedia melunasi seluruh utang Ayah, mengembalikan nama baik keluarga kita, bahkan menjamin kehidupan kita layak selamanya. Tapi syaratnya… Laras harus bersedia menikah dengannya.”

Seolah disambar petir di siang bolong, tubuh Laras terasa kaku seketika. Darahnya terasa berhenti mengalir, telinganya berdenging hebat hingga ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Menikah?” ulangnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. “Dengan Arga Pratama? Tapi… kami tidak saling kenal sama sekali, Yah! Bahkan kabarnya dia orang yang sangat dingin, keras kepala, dan tidak pernah percaya pada cinta. Kenapa dia memilihku? Pasti ada ribuan wanita cantik dan terhormat yang ingin mendekatinya.”

“Itulah pertanyaan yang juga terlintas di benak Ayah,” jawab Pak Harun dengan kepala tertunduk. “Mereka bilang, ini urusan kesepakatan bisnis semata. Arga Pratama butuh seorang istri untuk menenangkan situasi di dalam keluarganya yang sedang kacau, dan dia menganggapmu gadis yang jujur, sederhana, serta tidak akan menuntut banyak hal darinya. Baginya, pernikahan ini hanya kontrak tertulis untuk kepentingan nama baik dan stabilitas perusahaan. Tidak ada janji kebahagiaan, tidak ada cinta… hanya perjanjian tertulis.”

Ibu Laras segera meraih tangan putrinya, menggenggamnya erat sambil terisak. “Laras… Ibu tidak rela. Ibu tahu ini tidak adil bagimu. Kamu berhak menikah dengan orang yang kamu cintai, membangun rumah tangga atas dasar kasih sayang. Tapi melihat Ayahmu tertekan, melihat masa depan keluarga kita terancam hancur… Ibu merasa bingung tak tahu harus memilih apa. Jika menolak, mungkin kita akan kehilangan segalanya, dan Ayahmu bisa masuk penjara. Jika menerima… kita menjual kebahagiaanmu sendiri.”

Tangisan ibu itu semakin menjadi-jadi, dan itu seperti pisau tajam yang menyayat hati Laras. Ia menatap wajah lelah kedua orang tuanya. Seluruh hidupnya, mereka telah berkorban tanpa pamrih demi membesarkannya, memberinya pendidikan dan kasih sayang meski dalam keterbatasan. Bagaimana mungkin ia tega membiarkan mereka jatuh miskin, terhina, dan terpisah hanya karena ia mementingkan keinginan hatinya sendiri?

Namun di sisi lain, pernikahan adalah hal yang paling sakral baginya. Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan pria yang tidak mencintainya, yang memandangnya hanya sebagai kewajiban atau alat perjanjian? Mampukah ia bertahan dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa sayang?

Laras berdiri perlahan, melangkah mendekati jendela dan menatap kegelapan malam. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa serta keputusan berat yang harus ia buat dalam hitungan jam. Ia mengingat kembali pengorbanan kedua orang tuanya, air mata mereka, dan ancaman yang mengintai jika ia menolak. Harga dirinya berharga, namun nyawa dan kehormatan keluarganya jauh lebih berharga baginya.

Setelah hening cukup lama, Laras menoleh kembali ke arah orang tuanya. Air matanya jatuh, namun ia mencoba tersenyum tipis meski terasa pahit. Suaranya terdengar mantap meski menyembunyikan kepedihan yang mendalam.

“Baiklah, Ayah… Ibu. Laras bersedia menerima tawaran itu.”

Ucapan itu membuat Pak Harun dan istrinya terkejut sekaligus terenyuh. “Tapi Laras, apakah kamu yakin? Nanti kamu akan menyesalinya,” tanya Pak Harun cemas.

“Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua, maka tidak ada pilihan lain,” jawab Laras dengan suara bergetar namun tegas. “Biarlah aku yang menanggung risikonya. Semoga Tuhan memberi kekuatan padaku. Aku harap… Ayah dan Ibu tidak perlu merasa bersalah. Keluarga adalah tanggung jawab kita bersama.”

Malam itu terasa paling panjang dalam hidup Laras. Ia menghabiskan sisa malamnya memandangi langit bintang yang samar, membayangkan kehidupan baru yang menantinya. Ia tidak tahu seperti apa sosok Arga Pratama sebenarnya, hanya mendengar kabar bahwa ia adalah pria yang sangat cerdas, tegas, namun hatinya tertutup rapat bagai benteng kokoh. Banyak orang memujinya atas kekayaannya, namun tak ada satu pun yang pernah bercerita tentang kelembutan hatinya.

 

Dua hari kemudian, di sebuah ruangan kantor mewah di lantai paling atas gedung pencakar langit milik Grup Pratama, suasana terasa sangat dingin dan kaku. Interior ruangan itu didominasi warna gelap dan material berkualitas tinggi, memancarkan wibawa serta kekuasaan yang tak terbantahkan. Di balik meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu ek terbaik, duduk seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap.

Arga Pratama.

Pria itu mengenakan jas hitam yang dipotong rapi, menonjolkan bahu bidang dan tubuhnya yang atletis. Wajahnya sangat tampan, hampir sempurna dengan rahang tegas, hidung mancung, dan bibir yang terkatup rapat membentuk garis lurus yang tak tersenyum. Namun yang paling mencolok adalah sepasang matanya—gelap dan tajam, bagaikan mata elang yang bisa menembus kebohongan apa pun, namun terasa sangat dingin tanpa sedikit pun kehangatan.

Di hadapannya berdiri seorang pengacara tua, serta Pak Harun dan Laras. Jantung Laras berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya sejak pertama kali melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu. Rasanya seperti masuk ke dunia yang asing, penuh kemewahan yang membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berarti.

Arga menatap Laras sekilas, pandangannya datar, mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa menunjukkan rasa tertarik atau rasa benci—hanya ketidakpedulian mutlak. Tatapan itu membuat Laras merasa telanjang, serasa dirinya hanya sebuah objek yang sedang dinilai nilainya.

“Jadi ini gadisnya?” suara Arga terdengar rendah, berat, dan berwibawa, bergema di seluruh ruangan tanpa nada ramah sedikit pun.

“Benar, Tuan Arga,” jawab Pak Harun dengan sopan sekaligus gugup. “Ini putriku, Laras.”

Arga tidak menoleh ke arah Pak Harun, matanya tetap terkunci pada Laras. “Kamu tahu syarat dari pernikahan ini, bukan?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. “Ini bukan pernikahan biasa. Tidak ada percintaan, tidak ada harapan untuk hidup sebagai pasangan suami istri pada umumnya. Kita punya kesepakatan tertulis: kamu akan menjadi istriku secara hukum dan di hadapan publik, menjaga nama baik keluarga, dan tidak akan mencampuri urusan pribadiku maupun urusan bisnis. Sebagai gantinya, semua utang ayahmu lunas, dan kebutuhan hidupmu terjamin. Setuju?”

Kata-katanya tajam dan lugas, bagaikan membacakan pasal-pasal kontrak dagang. Tidak ada nada lembut, tidak ada rasa hormat terhadap calon istrinya. Ia berbicara seolah sedang bernegosiasi dengan mitra bisnis, bukan dengan orang yang akan mendampingi namanya selamanya.

Laras menelan ludah keras, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap balik mata dingin itu, berusaha mempertahankan ketenangan dan harga dirinya. “Aku mengerti semuanya. Aku menerima syaratnya. Tapi aku juga punya satu permintaan—jangan pernah merendahkan martabatku dan keluargaku selama ikatan ini berlangsung. Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai istri sesuai kesepakatan, tapi aku juga meminta ruang untuk tetap menjadi diriku sendiri.”

Seketika itu, sedikit pun tidak terlihat perubahan ekspresi Arga, namun sorot matanya sedikit berubah—terkejut sekilas mendengar ketegasan yang keluar dari mulut gadis sederhana ini. Ia telah bertemu banyak wanita yang mengemis perhatian dan kekayaannya, namun jarang ada yang berani bicara setegas itu padanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang terasa dingin dan sinis.

“Bagus. Aku suka orang yang tahu posisinya. Selama kamu tidak melampaui batas yang ditetapkan, aku tidak akan mengganggumu lebih dari yang dibutuhkan,” jawabnya singkat.

Pengacara itu segera menyerahkan dua lembar dokumen kontrak setebal beberapa halaman. “Silakan dibaca dan ditandatangani. Semua hak dan kewajiban kedua pihak tertulis jelas di sini. Tidak ada penipuan, semuanya terbuka.”

Laras membaca setiap kalimat dengan teliti, meski hatinya terasa perih melihat klausul-klausul yang tertulis hitam di atas putih. Kontrak ini mengikat hidupnya tanpa menyertakan janji cinta atau kebahagiaan. Namun saat ia melirik sekilas ke arah ayahnya yang terlihat lega namun penuh kekhawatiran, ia tahu jalan ini sudah tertutup rapat. Dengan tangan sedikit gemetar namun tegas, ia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.

Tak lama kemudian, Arga juga menandatanganinya dengan gerakan santai dan percaya diri seolah itu hal yang paling biasa baginya. Sejak detik itu, kehidupan Laras resmi berubah. Ia bukan lagi gadis sederhana dari keluarga biasa—ia adalah Nyonya Arga Pratama, meski gelar itu terasa lebih seperti rantai yang mengikat kebebasannya.

Upacara pernikahan dilangsungkan secara sederhana dan tertutup. Tidak ada pesta besar, tidak ada undangan untuk kerabat luas, hanya saksi resmi dan keluarga inti. Hari itu, Laras mengenakan gaun pengantin yang indah namun terasa berat bagai beban. Saat ijab kabul dilafalkan dengan lancar dan sah, ia merasakan air mata jatuh bukan karena kebahagiaan pengantin baru, melainkan karena menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah rumah tangga yang tak memiliki dasar kasih sayang.

Malam pertamanya bukanlah malam romantis yang diimpikan setiap gadis. Ia tiba di kediaman megah keluarga Pratama—sebuah rumah besar bak istana yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan indah kota di bawahnya. Namun kemewahan itu tidak menghangatkan hatinya. Arga mengantarnya masuk sebentar, lalu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama dengan pandangan tetap dingin.

“Ini kamarmu. Kamu bisa mengaturnya sesuka hati. Ingat batasannya: ruang kerjaku dilarang dimasuki tanpa izin, urusan pribadiku bukan urusanmu, dan jangan pernah berharap aku memperlakukanmu seperti istri yang dicintai. Kita hidup berdampingan, tapi tetap terpisah,” ucapnya tegas.

“Dan satu hal lagi,” lanjutnya sebelum pergi. “Jangan pernah berusaha mencuri hatiku atau memeras perasaanku. Hati ini sudah mati sejak lama. Cinta tidak memiliki tempat di hidupku.”

Pintu tertutup rapat meninggalkan Laras sendirian di tengah luasnya kamar yang mewah namun terasa sangat sepi dan hampa. Ia duduk di tepi tempat tidur besar itu, menatap pantulan dirinya di cermin. Di balik keindahan luarnya, ia tahu ia hanya memiliki hati yang terluka dan masa depan yang penuh ketidakpastian.

Namun di tengah kesedihannya, Laras menarik napas panjang, mengusap air matanya dan menegakkan punggungnya kembali. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Meskipun ini awal dari pernikahan terpaksa, ia berjanji pada dirinya sendiri akan tetap menjaga harga dirinya, hidup dengan jujur, dan melakukan segala hal dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu… meski jalan di depan terjal dan dingin, mungkin saja takdir menyimpan kejutan lain di ujungnya.

Di luar kamar, Arga berdiri mematung sebentar di lorong gelap. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, mengerutkan dahi. Ia tidak tahu kenapa ketegasan dan ketulusan terpancar dari gadis itu tadi sempat membuatnya sedikit terganggu. Ia menggeleng cepat, menepis pikiran aneh itu.

Ini hanya kontrak bisnis. Tidak ada perasaan. Tidak akan pernah ada, ucapnya dalam hati, mencoba memperkuat benteng pertahanan hatinya yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya.

Namun keduanya belum sadar—benih-benih takdir sudah tertanam sejak hari itu. Apa yang dimulai sebagai paksaan dan kesepakatan dingin, perlahan tapi pasti akan menguji hati mereka. Mampukah ketulusan mencairkan es yang membeku selama bertahun-tahun? Atau justru rumah tangga ini akan menjadi penjara abadi bagi keduanya?

Terpopuler

Comments

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Pasti ada udang dibalik bakwan ini...

2026-07-30

1

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Inikah yang dinamakan istri diatas kertas? Cuma dijadikan pajangan doang tanpa cinta... Ah hidupmu kasian sekali Laras...

2026-07-30

1

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Kalau cari pinjaman mau bayar pake apa nanti? Ini sama aja gali lubang, tutu lubang...

2026-07-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Harga Diri Demi Keluarga
2 Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda
3 Bab 3: Perlindungan yang Tak Disadari
4 Bab 4: Di Balik Dinding Es
5 Bab 5: Perubahan yang Tak Disadari
6 Bab 6: Benih Cinta yang Tumbuh Subur
7 Bab 7: Di Antara Bukti dan Kepercayaan
8 Bab 8: Terungkapnya Kebenaran
9 Bab 9: Kebahagiaan yang Terukir Nyata
10 Bab 10: Janji Sepanjang Masa
11 Bab 11: Masa Remaja dan Tantangan Baru
12 Bab 12: Ujian bagi Generasi Berikutnya
13 Bab 13: Ikatan yang Semakin Menguat
14 Bab 14: Janji Sepanjang Masa
15 Bab 15: Jejak Cinta yang Terus Melangkah
16 Bab 16: Cahaya di Setiap Generasi
17 Bab 17: Jejak yang Terus Berjalan
18 Bab 18: Kisah yang Tak Pernah Berakhir
19 Bab 19: Menemukan Jalan Sendiri
20 Bab 20: Akar yang Tak Pernah Layu
21 Bab 21: Akhir yang Tak Pernah Berakhir
22 Bab 22 Bunga yang Mekar di Setiap Jalan
23 Bab 23: Langkah yang Berbeda
24 Bab 24: Rahasia di Balik Kesibukan
25 Bab 25: Pertemuan yang Tak Disangka
26 Bab 26: Janji di Bawah Langit Senja
27 Bab 27: Bayang Keraguan yang Datang
28 Bab 28: Keputusan yang Tak Terduga
29 Bab 29: Jejak yang Menghilang
30 Bab 30: Kedatangan yang Dinanti
31 Bab 31: Pertemuan yang Kembali Terjalin
32 Bab 32: Restu yang Datang Tulus
33 Bab 33: Persiapan Penuh Makna
34 Bab 34: Hari Penuh Doa
35 Bab 35: Langkah Menuju Kehidupan Baru
36 Bab 36: Ujian Kecil yang Menguatkan Ikatan
37 Bab 37: Buah dari Kesabaran yang Tulus
38 Bab 38: Jejak Kebaikan yang Menyebar
39 Bab 39: Kembali pada Awal yang Berbeda
40 Bab 40: Warisan Cinta yang Abadi
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Harga Diri Demi Keluarga
2
Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda
3
Bab 3: Perlindungan yang Tak Disadari
4
Bab 4: Di Balik Dinding Es
5
Bab 5: Perubahan yang Tak Disadari
6
Bab 6: Benih Cinta yang Tumbuh Subur
7
Bab 7: Di Antara Bukti dan Kepercayaan
8
Bab 8: Terungkapnya Kebenaran
9
Bab 9: Kebahagiaan yang Terukir Nyata
10
Bab 10: Janji Sepanjang Masa
11
Bab 11: Masa Remaja dan Tantangan Baru
12
Bab 12: Ujian bagi Generasi Berikutnya
13
Bab 13: Ikatan yang Semakin Menguat
14
Bab 14: Janji Sepanjang Masa
15
Bab 15: Jejak Cinta yang Terus Melangkah
16
Bab 16: Cahaya di Setiap Generasi
17
Bab 17: Jejak yang Terus Berjalan
18
Bab 18: Kisah yang Tak Pernah Berakhir
19
Bab 19: Menemukan Jalan Sendiri
20
Bab 20: Akar yang Tak Pernah Layu
21
Bab 21: Akhir yang Tak Pernah Berakhir
22
Bab 22 Bunga yang Mekar di Setiap Jalan
23
Bab 23: Langkah yang Berbeda
24
Bab 24: Rahasia di Balik Kesibukan
25
Bab 25: Pertemuan yang Tak Disangka
26
Bab 26: Janji di Bawah Langit Senja
27
Bab 27: Bayang Keraguan yang Datang
28
Bab 28: Keputusan yang Tak Terduga
29
Bab 29: Jejak yang Menghilang
30
Bab 30: Kedatangan yang Dinanti
31
Bab 31: Pertemuan yang Kembali Terjalin
32
Bab 32: Restu yang Datang Tulus
33
Bab 33: Persiapan Penuh Makna
34
Bab 34: Hari Penuh Doa
35
Bab 35: Langkah Menuju Kehidupan Baru
36
Bab 36: Ujian Kecil yang Menguatkan Ikatan
37
Bab 37: Buah dari Kesabaran yang Tulus
38
Bab 38: Jejak Kebaikan yang Menyebar
39
Bab 39: Kembali pada Awal yang Berbeda
40
Bab 40: Warisan Cinta yang Abadi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!