Cuti yang Mengundang Curiga

Suasana pagi di Kantor Kecamatan mulai ramai. Beberapa pegawai berlalu-lalang membawa map berisi berkas, sementara suara ketukan jari di kibor dan deru printer yang saling bersahutan memenuhi ruangan.

"Sat, berkas pelayanan yang kemarin sudah selesai belum?" tanya Siska, staf administrasi, sambil melongok dari balik sekat mejanya.

"Sudah. Ada di meja saya, tinggal ditandatangani Pak Camat," jawab Satria Baskara tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

"Siap, terima kasih ya!" sahut Siska cekatan.

Satria kembali menundukkan kepala, memeriksa ketelitian satu per satu dokumen sebelum diserahkan ke ruang pimpinan. Seperti biasa, ia selalu datang paling pagi dan menyelesaikan sebagian besar tugasnya sebelum jam pelayanan benar-benar dibuka.

Tak lama kemudian, pintu area depan terbuka.

"Mas Satria, Pak Camat sudah datang dan ada di ruangannya," beri tahu Kinan, staf magang yang baru masuk membawa baki berisi cangkir kopi.

"Baik. Terima kasih, Kinan," balas Satria tenang.

Satria merapikan map berwarna biru di tangannya, berdiri, lalu berjalan mantap menuju ruang kepala kecamatan.

Tok... tok...

"Silakan masuk," terdengar suara dari dalam setelah Satria mengetuk pintu kayu itu dua kali.

"Selamat pagi, Pak," sapa Satria seraya melangkah masuk dan berdiri tegak di depan meja kerja atasannya.

"Pagi, Satria. Ada yang bisa dibantu?" Pak Camat mengangkat kepala, mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas di mejanya.

"Pak, saya ingin mengajukan izin cuti satu hari untuk besok," ucap Satria langsung pada intinya.

"Cuti? Tumben sekali," respons Pak Camat dengan alis bertaut. Ia memajukan duduknya, menatap pegawai andalannya itu dengan heran. Selama bertahun-tahun bekerja, Satria hampir tidak pernah mengambil hak cutinya jika tidak benar-benar mendesak.

"Iya, Pak. Ada urusan keluarga yang sangat penting dan tidak bisa saya tinggalkan," jelas Satria, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

"Semua pekerjaanmu untuk besok sudah beres?" tanya Pak Cama memastikan.

"Sudah, Pak. Semua berkas penting untuk besok juga sudah saya siapkan dan saya delegasikan," jawab Satria mantap.

"Kalau begitu saya izinkan. Jangan lupa lusa langsung masuk lagi, ya," kata Pak Camat sambil tersenyum tipis dan menandatangani formulir izin tersebut.

"Siap, Pak. Terima kasih banyak," pamit Satria seraya membungkukkan badan singkat sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pintu ruang kepala kecamatan...

"Apa?!" seru Doni dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan kerja. Pria jangkung itu rupanya tidak sengaja mengintip kertas di meja piket. "Cuy! Satria besok cuti!"

Sontak seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak.

"Apa? Yang benar?" tanya Gea, menghentikan ketikannya dengan wajah tidak percaya.

"Serius, Don? Orang paling rajin dan anti-bolos di kantor ini mau cuti?" timpal Siska, ikut melotot kaget.

Satria memejamkan mata sesaat, menahan napas. Ia bahkan belum sempat menduduki kursi kerjanya ketika Doni, Gea, dan Siska sudah bergerak cepat mengerubungi mejanya seperti sekawanan detektif.

"Sat, kamu sakit ya? Muka kamu agak pucat, lho," tanya Gea dengan nada khawatir, condong ke depan memeriksa wajah Satria.

"Bukan, Gea. Saya sehat," jawab Satria pendek.

"Mau pulang kampung ke rumah nenek?" tebak Siska bersemangat.

"Bukan juga," potong Satria sabar.

"Jangan-jangan mau ikut tes CPNS lagi di kementerian ya, Mas?" celetuk Kinan polos dari meja seberang, yang langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.

Satria menggeleng pelan melihat tingkah rekan-rekannya. "Hanya ada urusan keluarga."

Belum sempat suasana mereda, Doni yang berwajah usil langsung menyandarkan lengannya di bahu Satria dengan sok akrab.

"Wah kalau urusan keluarga sampai bikin seorang Satria Baskara minta cuti mendadak, jangan-jangan" Doni menyipitkan mata, menatap Satria dengan senyum penuh arti. "mau ketemu calon istri, ya?"

Ruangan mendadak hening selama dua detik. Lalu...

"Hahaha! Benar juga!" Gelak tawa langsung pecah memenuhi ruangan.

"Eh, Doni mulai lagi deh kumat usilnya," lerai Gea sambil tertawa geli.

"Tapi masuk akal sih, kasihan Satria kalau komputer terus yang ditemani," timpal Siska berbisik jahil.

Doni tertawa puas melihat wajah Satria yang masih saja sedatar papan tulis. "Bagaimana, Sat? Jangan bilang tebakan gue seratus persen akurat."

Satria menarik kursinya perlahan, lalu duduk dengan tenang. "Tidak."

"Oh ya?" pancing Doni, belum puas.

"Hanya acara makan malam keluarga," jawab Satria, mencoba memotong obrolan.

"Acara makan malam apa sampai harus cuti seharian? Pasti ada udang di balik batu, nih," desak Siska ikut memojokkan.

"Rahasia," ucap Satria singkat.

"Wah, kalau sudah pakai kata 'rahasia' begini, makin mencurigakan!" seru Gea sambil tertawa bersama Siska.

Doni masih belum mau menyerah. Ia membungkuk, menatap langsung ke mata rekan kerjanya itu. "Coba jawab jujur, Sat. Kalau memang mau dijodohkan juga tidak apa-apa, kok. Zaman sekarang apa sih yang tidak mungkin?"

"Hahaha! Hari gini masih zaman dijodohkan, Don?" sahut Kinan ikut terkekeh geli dari jauh.

"Kalau buat Satria yang seleranya kaku begini, mungkin saja!" balas Doni yang langsung dihadiahi lemparan tisu dari Gea.

Satria mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Doni, Siska, dan Gea sudah hampir lima tahun. Mereka memang terkenal sebagai tim paling berisik sekaligus paling usil di kantor kecamatan ini. Kalau sampai mereka tahu alasan sebenarnya bahwa ia besok memang akan menghadiri makan malam perjodohan bisa dipastikan seluruh kantor akan membahasnya hingga berbulan-bulan ke depan.

"Aku cuma mau menemani orang tua," kata Satria akhirnya, menjawab dengan nada sedatar mungkin tanpa mengubah raut wajahnya.

Doni menyipitkan mata, seolah-olah sedang mencari celah kebohongan dari ekspresi Satria. "Hmm, serius cuma itu?"

"Iya," jawab Satria mantap.

"Kenapa firasat gue bilang lo sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, ya?" gumam Doni curiga.

Satria hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak kelihatan. "Terserah kamu saja, Don."

Doni mendecak pelan karena gagal memancing reaksi heboh dari temannya itu. "Ya sudah. Tapi hati-hati saja, Sat. Kalau minggu depan kamu tiba-tiba menyebar undangan nikah di grup WhatsApp kantor, gue orang pertama yang akan menertawakan kamu paling keras!"

Ucapan Doni itu kembali menutup pagi dengan tawa riuh satu ruangan. Satria ikut tersenyum kecil menanggapi candaan para sahabatnya, meski di dalam hati, dadanya bergemuruh cemas.

"Semoga besok berjalan lebih baik dari apa yang aku bayangkan" bisik Satria dalam hati.

Sebab, untuk pertama kali dalam hidupnya, pria yang selalu kaku pada urusan cinta ini akan dipertemukan dengan seorang perempuan pilihan orang tuanya. Seseorang yang memegang kunci masa depannya nanti.

Seorang perempuan bernama Naira Azzahra.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

leneva

leneva

Ketika si paling rajin minta cuti

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 Dunia yang Berbeda
2 Cuti yang Mengundang Curiga
3 Tokoh Kue yang Selalu Ramai
4 Rasa Manis yang Tidak Disangka
5 Pertemuan Pertama
6 Obrolan yang Canggung
7 Menunggu Jawaban
8 Sepotong Kue dan Secarik Pesan
9 Jawaban di Meja Makan Malam
10 Makan Malam Pertama
11 Seharian Bersama Mu
12 Kabar Yang Menggemparkan
13 Hari yang Mengubah Segalanya
14 Malam Pertama dan Sebuah Kesepakatan
15 Sarapan Pertama Untuk Suami
16 Rumah yang Telah Disipakan
17 Rumah Kecil, Harapan yang Besar
18 Makan Malam Pertama di Rumah Kami
19 Rutinitas Pagi yang Sederhana
20 Taut Jemari di Batas Sabar
21 Hangat yang Tertinggal
22 Kotak Hijau Dibalik Seragam
23 Gara-gara Rantang Hijau
24 Pesan yang Selalu Dinanti
25 Belanja Pertama Sebagai Suami Istri
26 Menata Rumah
27 27 Belajar Nyaman Bersamamu
28 Perasaan Sedih Naira
29 Berusaha Mengurangi Jarak
30 Ayok Kita Lakukan
31 Sebuah Kesalahpahaman
32 Cemburu
33 Tangisan Pertama Sang Istri
34 Kusubang Mode Bucin
35 Kantor kecamatan Geger
36 Genggaman Dilampu Merah
37 Mas Aku Sudah Siap
38 Ciuman Pertama
39 Debaran Jantung yang Manis
40 Satria Cemburu
41 Melewati Batas Perjanjian
42 Setelah Hujan Reda
43 Mas Mau Lagi
44 Rambut Istriku yang Indah
45 Senyuman di Balik Meja Dinas
46 Stand Meja Bazar
47 Cemburu di Balik Kain Sekat
48 Lagu Untuk Naira
49 Mode Suami Aktif
50 Sepatu Mahal, Bonus Manis
51 Harga Sebuah Kebahagiaan
52 Gara-Gara-gara Lembur
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Dunia yang Berbeda
2
Cuti yang Mengundang Curiga
3
Tokoh Kue yang Selalu Ramai
4
Rasa Manis yang Tidak Disangka
5
Pertemuan Pertama
6
Obrolan yang Canggung
7
Menunggu Jawaban
8
Sepotong Kue dan Secarik Pesan
9
Jawaban di Meja Makan Malam
10
Makan Malam Pertama
11
Seharian Bersama Mu
12
Kabar Yang Menggemparkan
13
Hari yang Mengubah Segalanya
14
Malam Pertama dan Sebuah Kesepakatan
15
Sarapan Pertama Untuk Suami
16
Rumah yang Telah Disipakan
17
Rumah Kecil, Harapan yang Besar
18
Makan Malam Pertama di Rumah Kami
19
Rutinitas Pagi yang Sederhana
20
Taut Jemari di Batas Sabar
21
Hangat yang Tertinggal
22
Kotak Hijau Dibalik Seragam
23
Gara-gara Rantang Hijau
24
Pesan yang Selalu Dinanti
25
Belanja Pertama Sebagai Suami Istri
26
Menata Rumah
27
27 Belajar Nyaman Bersamamu
28
Perasaan Sedih Naira
29
Berusaha Mengurangi Jarak
30
Ayok Kita Lakukan
31
Sebuah Kesalahpahaman
32
Cemburu
33
Tangisan Pertama Sang Istri
34
Kusubang Mode Bucin
35
Kantor kecamatan Geger
36
Genggaman Dilampu Merah
37
Mas Aku Sudah Siap
38
Ciuman Pertama
39
Debaran Jantung yang Manis
40
Satria Cemburu
41
Melewati Batas Perjanjian
42
Setelah Hujan Reda
43
Mas Mau Lagi
44
Rambut Istriku yang Indah
45
Senyuman di Balik Meja Dinas
46
Stand Meja Bazar
47
Cemburu di Balik Kain Sekat
48
Lagu Untuk Naira
49
Mode Suami Aktif
50
Sepatu Mahal, Bonus Manis
51
Harga Sebuah Kebahagiaan
52
Gara-Gara-gara Lembur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!