Rasa Manis yang Tidak Disangka

Jam istirahat hampir usai.

Beberapa pegawai Kantor Kecamatan tampak kembali ke ruangan sambil membawa kantong-kantong kertas berlogo Naira Cake House . Di barisan paling depan, Doni berjalan dengan gaya jemawa layaknya seorang pahlawan yang baru memenangkan pertempuran.

"Woy, minggir dulu semua! Saatnya bagi-bagi rezeki siang!" seru Doni sambil mengangkat tinggi-tinggi dua boks brownies kukus di kedua tangannya.

"Buset, Don! Borong banyak amat, habis menang lotre ya?" seloroh Deka dari kubikel pojok, langsung menghentikan aktivitas main game di ponselnya.

"Bukan borong karena kaya, tapi ini kekuatan sebagai pelanggan setia. Dapat bonus diskon!" jawab Doni bangga, disambut sorakan riuh dari teman-temannya.

Doni segera membuka salah satu boks besar berisi brownies kukus yang masih hangat. Aroma cokelat pekat langsung menyeruak, memancing Dani dan Yuyun untuk segera mendekat tanpa perlu dikomando.

"Ayo, silakan diambil. Ini brownies kukus yang super legit," tawar Doni sambil menyodorkan boks tersebut.

"Wah, makasih banyak, Don! Kebetulan mulut lagi asam habis periksa berkas," sahut Dani cekatan mengambil sepotong.

"Lembut banget teksturnya! Nggak salah deh kita jauh-jauh jalan kaki ke toko Mbak Naira tadi," timpal Siska setelah gigitan pertama, matanya berbinar puas.

Sementara di meja seberang, Kinan sibuk membuka kantong terpisah berisi roti abon dan membagikannya ke beberapa staf lain. "Nih, buat Mas Deka sama yang lain. Jangan lupa besok-besok gantian kita yang jajan ke sana lagi."

Di sudut ruangan yang agak tenang, Satria masih sibuk menundukkan kepala. Penanya bergerak konstan, menandatangi beberapa berkas pelayanan yang harus selesai hari itu juga. Ia sama sekali tidak terusik oleh kehebohan rekan-rekan kerjanya di bagian tengah ruangan.

"Sat," panggil Doni tiba-tiba, sudah berdiri di depan meja kerja Satria.

"Apa?" sahut Satria tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.

"Nih, buat lo," kata Doni sambil meletakkan sebuah kotak kecil transparan yang berisi sepotong cheese cake dengan lapisan selai stroberi di atasnya.

Satria menghentikan gerakan penanya, lalu menatap kotak itu bergantian dengan wajah Doni. "Untuk saya?"

"Iya, buat siapa lagi. Masa gue makan enak sendirian, sedangkan teman satu ruangan cuma ditemani tumpukan kertas," gerutu Doni sambil menarik kursi kosong di dekat sana.

"Terima kasih," ucap Satria dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.

"Buruan dicicipi, mumpung masih dingin," desak Doni, tidak sabar melihat reaksi temannya.

Satria membuka tutup kotak plastik itu perlahan. Di dalam kotak, sepotong kue keju berwarna putih bersih dengan toping buah stroberi segar itu tampak sangat menggugah selera.

Biasanya, Satria hampir tidak pernah menyentuh jajanan manis di luar jam makan. Setiap pagi, ibunya selalu menyiapkan kotak bekal makan siang yang padat gizi. Itulah alasan mengapa setiap jam istirahat tiba, ia lebih memilih tetap diam di kubikelnya alih-alih ikut rombongan Doni berburu kuliner.

"Ayo, tunggu apa lagi? Keburu lumer itu keju," tagih Doni lagi.

"Iya, sebentar," balas Satria sabar.

Satria meraih garpu kecil plastik yang tersedia, lalu memotong sudut kue keju itu dengan hati-hati. Begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, gerakan mengunyah Satria mendadak melambat.

Ia terdiam selama beberapa detik. Tekstur cheese cake itu luar biasa lembut, langsung meleleh di lidah. Rasa gurih asin dari keju berpadu sempurna dengan asam manis dari selai stroberi segar. Manisnya pas, sama sekali tidak membuat tenggorokan terasa serat atau enek.

"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Doni dengan nada penuh kemenangan, menumpu dagunya dengan kedua tangan.

"Iya, enak," aku Satria jujur, mengangguk pelan sembari menyuap potongan kedua.

"Hahaha! Akhirnya si manusia robot penikmat bekal rumahan mengakui juga!" tawa Doni pecah, merasa menang taruhan.

"Saya bukan robot, Don," koreksi Satria tenang tanpa menghentikan kunyahannya.

"Ya habisnya lo kaku banget. Makanya, sekali-kali ikut kita nongkrong ke toko kue itu," ajak Doni bersemangat.

Tanpa sabar, garpu kecil di tangan Satria sudah menyentuh dasar kotak plastik. Potongan terakhir kue keju itu telah amblas tertelan.

Doni menatap kotak yang sudah bersih itu dengan mata membelalak jenaka. "Wah, rekor! Biasanya lo kalau dikasih kue cuma dicicipi sesuap, habis itu didiamkan sampai jam pulang kantor."

Satria menutup kotak plastik kosong itu dengan rapi, lalu membuangnya ke tempat sampah kecil di bawah meja. "Karena kue yang ini memang rasanya pas."

"Waduh, bahaya nih. Besok-besok biar gue belikan lagi deh kalau ke sana," tawar Doni antusias.

"Tidak usah repot-repot, Don," tolak Satria halus.

"Kenapa? Malu ya?" goda Doni sengaja memancing.

"Nanti saya bisa beli sendiri kalau sedang luang," jawab Satria datar.

Doni langsung berdiri dari kursinya, berbalik menghadap seisi ruangan lalu berteriak heboh. "Eh, dengar tidak kalian semua?! Satria Baskara barusan billing mau beli jajanan sendiri!"

Seketika ruangan kerja itu kembali dipenuhi tawa riuh dari Kinan, Dani, Deka, dan Yuyun.

"Serius, Mas Satria? Wah, besok-besok harus ikut kita ya!" seru Kinan bersemangat dari seberang ruangan.

"Berlebihan," gumam Satria pelan, menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib teman-temannya.

"Tapi serius, Sat. Kalau lo penasaran, tokonya dekat kok dari sini. Tinggal jalan kaki lewat gang sebelah," beri tahu Doni sebelum melangkah kembali ke kubikelnya sendiri.

"Iya, terima kasih informasinya," sahut Satria singkat.

Meskipun raut wajahnya kembali berubah tenang dan serius di depan layar monitor, entah mengapa di dalam benaknya timbul sedikit rasa penasaran. Ia bertanya-tanya, sosok seperti apa yang bisa meracik kue dengan rasa seimbang dan sedetail ini.

✨✨✨

Malam hari.

Suasana di dalam rumah keluarga Baskara terasa hangat dan menenangkan. Di ruang tengah, Pak Hasan sedang duduk santai menikmati secangkir teh hangat, sementara Bu Ratna sibuk menyetrika dan merapikan beberapa lembar pakaian batik yang akan mereka kenakan untuk agenda besar besok.

"Satria," panggil Bu Ratna lembut dari balik meja setrika.

"Iya, Bu?" sahut Satria, meletakkan gelas air minumnya di atas meja kayu.

"Sini, duduk dekat Ibu sebentar," pinta sang ibu dengan senyum penuh arti.

Satria bangkit dari posisinya, lalu berjalan mendekat dan duduk di sofa tunggal, berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya. Pak Hasan yang semula fokus pada koran di tangannya, kini melipat kertas tersebut dan menaruhnya di meja, bersiap membuka obrolan serius.

"Besok malam kita akan berangkat ke rumah keluarga Naira. Semua persiapan sudah matang," urai Pak Hasan memulai pembicaraan dengan suara kebapakan yang berwibawa.

"Iya, Pak. Satria paham," jawab Satria, tangannya bertaut di atas paha.

"Kamu merasa gugup, Nak?" tanya Bu Ratna, menatap lekat-lekat wajah putra tunggalnya itu.

Satria terdiam sejenak, lalu mengulum senyum tipis yang sarat akan beban tersembunyi. "Sedikit, Bu."

"Itu hal yang sangat wajar bagi laki-laki yang mau mengambil tanggung jawab besar," timpal Pak Hasan sambil mengangguk paham.

Ruangan tengah itu mendadak hening selama beberapa saat. Hanya terdengar suara detik jam dinding yang berdetak konstan. Satria menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri menyuarakan keraguan yang mengganjal di hatinya sejak semalam.

"Bapak.., Ibu " panggil Satria dengan nada suara yang merendah.

"Iya, Satria? Ada yang mengganggu pikiranmu?" sahut Bu Ratna lembut.

"Bagaimana kalau nanti setelah bertemu, ternyata pihak perempuan tidak setuju dengan perjodohan ini? Bagaimana kalau dia merasa terpaksa?" tanya Satria, menatap lurus ke mata ayahnya.

Pak Hasan tersenyum bijak, lalu menghela napas pendek. "Kalau memang itu keputusan dari pihak Naira setelah kalian bertemu, kita semua harus menghormatinya dengan lapang dada."

"Benar, Nak. Ibu dan Ayah tidak pernah punya niat untuk memaksa anak orang, apalagi memaksamu," sambung Bu Ratna, bergeser duduk untuk menggenggam tangan kekar putranya.

Satria mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Namun, ada satu pertanyaan lagi yang terus berputar di kepalanya. "Lalu, kalau dia ternyata menerima perjodohan ini apa Ayah dan Ibu yakin bahwa kami berdua bisa saling mencintai nantinya? Kami bahkan belum pernah mengobrol."

Pak Hasan terkekeh pendek, menggelengkan kepalanya dengan tatapan teduh. "Cinta itu tidak selalu harus menjadi modal utama sebelum mengetuk pintu pernikahan, Satria."

"Lalu bagaimana bisa bertahan, Pak?" desak Satria, butuh kepastian.

"Kadang, rasa itu justru tumbuh subur setelah dua orang sama-sama mengikat janji, lalu mau saling menurunkan ego untuk belajar memahami kekurangan masing-masing," jelas Pak Hasan mantap.

Bu Ratna mengusap punggung tangan Satria dengan penuh kasih sayang. "Ibu dan Ayah tidak meminta kamu untuk langsung jatuh cinta besok malam, Nak. Cukup buka hatimu, bersikaplah jujur, dan perlakukan anak gadis orang dengan cara yang paling baik. Jika Allah meridai niat baikmu untuk berbakti, rasa cinta itu akan ditiupkan ke hati kalian dengan sendirinya."

Satria menatap kedua orang tuanya cukup lama, meresapi setiap petuah yang sarat akan pengalaman hidup itu. Perlahan tapi pasti, rasa cemas yang sempat bergemuruh di dadanya mulai mencair. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Baik, bapak Ibu. Satria mengerti."

Malam itu, di dalam kamarnya yang sepi, untuk pertama kalinya sejak wacana perjodohan ini digulirkan, Satria benar-benar melamunkan sosok perempuan asing yang foto wajahnya saja belum pernah ia lihat.

Esok hari, takdir sudah menyiapkan sebuah skenario besar untuk mempertemukan mereka berdua di satu titik yang sama. Pria kaku penuh disiplin itu akhirnya akan segera berhadapan dengan sang pemilik nama... Naira Azzahra.

Bersambung...

Episodes
1 Dunia yang Berbeda
2 Cuti yang Mengundang Curiga
3 Tokoh Kue yang Selalu Ramai
4 Rasa Manis yang Tidak Disangka
5 Pertemuan Pertama
6 Obrolan yang Canggung
7 Menunggu Jawaban
8 Sepotong Kue dan Secarik Pesan
9 Jawaban di Meja Makan Malam
10 Makan Malam Pertama
11 Seharian Bersama Mu
12 Kabar Yang Menggemparkan
13 Hari yang Mengubah Segalanya
14 Malam Pertama dan Sebuah Kesepakatan
15 Sarapan Pertama Untuk Suami
16 Rumah yang Telah Disipakan
17 Rumah Kecil, Harapan yang Besar
18 Makan Malam Pertama di Rumah Kami
19 Rutinitas Pagi yang Sederhana
20 Taut Jemari di Batas Sabar
21 Hangat yang Tertinggal
22 Kotak Hijau Dibalik Seragam
23 Gara-gara Rantang Hijau
24 Pesan yang Selalu Dinanti
25 Belanja Pertama Sebagai Suami Istri
26 Menata Rumah
27 27 Belajar Nyaman Bersamamu
28 Perasaan Sedih Naira
29 Berusaha Mengurangi Jarak
30 Ayok Kita Lakukan
31 Sebuah Kesalahpahaman
32 Cemburu
33 Tangisan Pertama Sang Istri
34 Kusubang Mode Bucin
35 Kantor kecamatan Geger
36 Genggaman Dilampu Merah
37 Mas Aku Sudah Siap
38 Ciuman Pertama
39 Debaran Jantung yang Manis
40 Satria Cemburu
41 Melewati Batas Perjanjian
42 Setelah Hujan Reda
43 Mas Mau Lagi
44 Rambut Istriku yang Indah
45 Senyuman di Balik Meja Dinas
46 Stand Meja Bazar
47 Cemburu di Balik Kain Sekat
48 Lagu Untuk Naira
49 Mode Suami Aktif
50 Sepatu Mahal, Bonus Manis
51 Harga Sebuah Kebahagiaan
52 Gara-Gara-gara Lembur
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Dunia yang Berbeda
2
Cuti yang Mengundang Curiga
3
Tokoh Kue yang Selalu Ramai
4
Rasa Manis yang Tidak Disangka
5
Pertemuan Pertama
6
Obrolan yang Canggung
7
Menunggu Jawaban
8
Sepotong Kue dan Secarik Pesan
9
Jawaban di Meja Makan Malam
10
Makan Malam Pertama
11
Seharian Bersama Mu
12
Kabar Yang Menggemparkan
13
Hari yang Mengubah Segalanya
14
Malam Pertama dan Sebuah Kesepakatan
15
Sarapan Pertama Untuk Suami
16
Rumah yang Telah Disipakan
17
Rumah Kecil, Harapan yang Besar
18
Makan Malam Pertama di Rumah Kami
19
Rutinitas Pagi yang Sederhana
20
Taut Jemari di Batas Sabar
21
Hangat yang Tertinggal
22
Kotak Hijau Dibalik Seragam
23
Gara-gara Rantang Hijau
24
Pesan yang Selalu Dinanti
25
Belanja Pertama Sebagai Suami Istri
26
Menata Rumah
27
27 Belajar Nyaman Bersamamu
28
Perasaan Sedih Naira
29
Berusaha Mengurangi Jarak
30
Ayok Kita Lakukan
31
Sebuah Kesalahpahaman
32
Cemburu
33
Tangisan Pertama Sang Istri
34
Kusubang Mode Bucin
35
Kantor kecamatan Geger
36
Genggaman Dilampu Merah
37
Mas Aku Sudah Siap
38
Ciuman Pertama
39
Debaran Jantung yang Manis
40
Satria Cemburu
41
Melewati Batas Perjanjian
42
Setelah Hujan Reda
43
Mas Mau Lagi
44
Rambut Istriku yang Indah
45
Senyuman di Balik Meja Dinas
46
Stand Meja Bazar
47
Cemburu di Balik Kain Sekat
48
Lagu Untuk Naira
49
Mode Suami Aktif
50
Sepatu Mahal, Bonus Manis
51
Harga Sebuah Kebahagiaan
52
Gara-Gara-gara Lembur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!