Episode 2

Bab 2

Pewaris Wijaya

Rayhan Wijaya tidak suka menunggu.

Di ruang rapat lantai empat puluh dua Wijaya Tower, kalimat itu sudah menjadi hukum tidak tertulis. Para direktur tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus menelan kembali alasan yang mereka siapkan.

Pagi itu, Jakarta terbentang di balik dinding kaca. Gedung-gedung SCBD berdiri rapat seperti papan catur mahal, sementara langit setelah hujan terlihat kelabu dan bersih. Di ujung meja rapat, Rayhan duduk tanpa menyentuh kopi hitam di depannya.

Jas Tom Ford warna arang melekat rapi di bahunya. Jam di pergelangan tangannya tenang, tidak bersuara. Tetapi semua orang di ruangan itu tahu, setiap detik yang lewat tanpa jawaban tepat akan dipotong dari kesabaran pria itu.

"Jadi," ucap Rayhan, matanya menatap layar proyektor. "Kalian kehilangan tiga belas persen margin karena salah membaca pergerakan pasar, lalu solusi yang kalian bawa hanya menaikkan harga sewa?"

Direktur properti di seberang meja menelan ludah. "Pak Wijaya, kondisi pasar retail memang sedang..."

"Aku bertanya tentang solusi, bukan cuaca."

Ruangan hening.

Brandon Setiawan, yang duduk menyamping sambil memutar pulpen, nyaris tertawa. Dia menutupinya dengan batuk kecil.

Rayhan meliriknya sekali. Brandon langsung mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah.

"Lanjutkan," kata Rayhan kepada direktur itu.

Pria paruh baya itu membuka map dengan tangan sedikit gemetar. "Kami sudah menyiapkan opsi kerja sama dengan tenant internasional. Jika disetujui, pemulihan margin bisa terlihat dalam dua kuartal."

"Dua kuartal terlalu lama."

"Satu kuartal sulit, Pak."

"Kalau mudah, aku tidak perlu membayar kalian."

Tidak ada yang membantah.

Dalam lima belas menit berikutnya, Rayhan membongkar proposal mereka satu per satu. Bukan dengan suara tinggi. Dia tidak perlu berteriak. Ketika dia menolak sebuah angka, semua orang tahu angka itu mati. Ketika dia menandai sebuah nama, semua orang tahu orang itu akan bekerja sampai tengah malam.

Brandon menunggu sampai rapat selesai dan para direktur keluar dengan wajah lebih pucat daripada saat masuk. Pintu kaca tertutup, meninggalkan mereka berdua di ruangan yang terlalu luas.

"Kamu sadar, kan, setengah dari mereka mungkin butuh obat lambung setelah rapat tadi?" Brandon bersandar di kursi.

Rayhan mengambil kopi yang sudah dingin, menyesapnya tanpa ekspresi. "Mereka dibayar untuk berpikir."

"Dan kamu dibayar untuk membuat orang tua sebelum waktunya?"

"Kalau kamu datang hanya untuk bercanda, keluar."

Brandon tertawa. "Aku datang sebagai sahabat yang peduli pada kesehatan mentalmu."

"Aku tidak punya masalah mental."

"Itu menurutmu."

Rayhan menatapnya datar.

Brandon mengangkat bahu. "Baiklah, baiklah. Aku juga datang karena mendengar kabar menarik."

Rayhan sudah tahu arah pembicaraan itu. Di atas meja, ponselnya menyala sekali. Nama Hendrik Wijaya muncul di layar, lalu padam sebelum dia menyentuhnya.

"Kalau soal pernikahan," kata Rayhan, "tidak ada yang menarik."

"Tiga hari lagi kamu menikah, Han. Itu cukup menarik untuk orang normal."

"Aku bukan orang normal menurutmu, jadi berhenti memakai ukuran itu."

Brandon tersenyum lebar. "Nah, itu dia. Justru karena kamu bukan orang normal, aku penasaran perempuan seperti apa yang sanggup dijadikan istrimu."

"Dijadikan," ulang Rayhan. "Kata yang tepat."

Dia berdiri dan berjalan ke jendela. Dari atas sini, mobil-mobil di jalan terlihat kecil, bergerak lambat seperti mainan mahal yang tidak penting. Jakarta selalu bising, tapi di ruang setinggi ini, kebisingan itu berubah menjadi dengung jauh.

Tiga hari lagi dia akan menikah.

Kalimat itu terdengar lebih seperti jadwal rapat daripada peristiwa hidup.

Keluarga Liem membutuhkan jalan masuk ke jaringan Wijaya. Engkong Wijaya menginginkan citra keluarga yang stabil sebelum ekspansi ke sektor perbankan diumumkan. Hendrik, seperti biasa, hanya tertarik pada bagaimana sebuah pernikahan bisa menjaga muka keluarga di depan media.

Rayhan?

Dia tidak tertarik pada apa pun.

"Kamu sudah bertemu calon istrimu?" tanya Brandon.

"Tidak perlu."

"Tidak perlu?" Brandon mengulang dengan nada tidak percaya. "Namanya Senja, kan? Senja Liem?"

Rayhan tidak menjawab.

"Nama yang bagus," lanjut Brandon. "Senja. Cocok dengan namamu. Rayhan artinya cahaya, kan? Cahaya saat senja. Romantis sekali."

"Jangan mulai."

"Aku belum mulai. Kalau aku mulai, aku bisa bikin pantun."

"Brandon."

"Oke, tidak jadi."

Ponsel Rayhan kembali menyala. Kali ini pesan dari asistennya.

Pak Wijaya, dokumen perjanjian pernikahan sudah disiapkan. Pihak Liem menyetujui seluruh klausul.

Rayhan membaca pesan itu tanpa perubahan wajah.

Seluruh klausul.

Dua tahun pernikahan. Kompensasi Rp 50 miliar setelah masa perjanjian berakhir jika tidak ada pelanggaran. Tiga bulan pertama tanpa hubungan fisik, tertulis jelas agar tidak ada tuntutan emosional yang tidak perlu. Kewajiban menghadiri acara keluarga seperlunya. Larangan membocorkan isi perjanjian kepada media.

Semua rapi. Semua dingin. Semua bisa ditandatangani.

Seperti kontrak bisnis yang lain.

"Han," suara Brandon kali ini lebih pelan, "kamu yakin mau melakukan ini?"

Rayhan memasukkan ponsel ke saku. "Kamu pikir aku punya pilihan?"

"Kamu selalu punya pilihan. Kamu Rayhan Wijaya."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada sesuatu yang lewat di mata Rayhan. Tipis, cepat, hampir tidak terlihat.

"Justru karena aku Rayhan Wijaya," katanya, "pilihanku lebih sedikit dari yang kamu kira."

Brandon diam.

Dia mengenal Rayhan sejak mereka sama-sama remaja. Mengenal cara pria itu membangun tembok, satu batu setiap kali ada orang dewasa di keluarganya mengecewakan dia. Brandon tahu, di balik kesombongan dan lidah tajam Rayhan, ada ruang yang tidak pernah dibuka sejak ibunya menghilang dari hidupnya.

Tetapi itu bukan sesuatu yang bisa dia ucapkan sembarangan.

Pintu ruang rapat diketuk. Seorang asisten masuk dengan tablet di tangan.

"Pak Wijaya, Bapak Hendrik menunggu di line dua. Beliau meminta kepastian kehadiran Anda di fitting jas sore ini."

"Batalkan fitting."

Asisten itu ragu. "Pak?"

"Kirim ukuran terakhirku ke butik. Mereka bisa menyesuaikan."

"Baik, Pak."

"Dan bilang kepada pihak Liem, tidak perlu acara tambahan. Gereja, catatan sipil, makan keluarga. Selesai."

"Baik."

Asisten itu keluar secepat mungkin.

Brandon menghela napas. "Kamu bahkan tidak mau memilih jas pernikahanmu sendiri?"

"Jas tetap jas."

"Istri tetap istri juga?"

Rayhan menoleh. Tatapannya dingin.

Brandon mengangkat tangan lagi. "Pertanyaan serius. Kamu akan tinggal serumah dengan seseorang. Dia manusia, bukan aksesori keluarga."

"Aku tahu."

"Apa kamu tahu?"

Diam beberapa detik.

Rayhan kembali ke meja, mengambil rokok dari kotak perak di dekat laptop. Dia tidak menyalakannya. Hanya memegangnya di antara jari, kebiasaan lama ketika pikirannya terlalu penuh.

"Aku tidak akan mengganggunya," katanya akhirnya. "Dia akan mendapatkan status, keamanan, uang, dan kebebasan setelah dua tahun. Itu lebih baik daripada apa yang bisa diberikan keluarga Liem padanya."

Brandon menatapnya lebih tajam. "Kamu sudah menyelidikinya?"

"Cukup untuk tahu dia bukan putri kandung."

"Dan kamu tetap setuju?"

"Itu urusan keluarga Liem, bukan urusanku."

Kalimat itu terdengar kejam bahkan bagi Brandon. Tetapi dia tahu, Rayhan sering memakai kekejaman sebagai cara paling cepat untuk menghentikan percakapan yang terlalu dekat.

"Aku hanya berharap kamu tidak menghancurkan gadis itu," kata Brandon.

Rayhan tidak menjawab.

Di saku jasnya, ponsel bergetar lagi. Kali ini bukan pesan kerja, melainkan foto yang dikirim oleh Hendrik.

Calon istrimu. Jangan buat masalah di hari pernikahan.

Rayhan membuka foto itu.

Seorang perempuan berdiri di ruang latihan tari, mengenakan pakaian latihan warna putih gading. Rambutnya diikat rendah, wajahnya menoleh sedikit ke samping. Cahaya dari jendela menyentuh pipinya, membuat matanya tampak lembut dan jauh.

Dia tidak tersenyum.

Entah kenapa, justru itu yang membuat foto itu tertinggal di pandangan Rayhan sedikit lebih lama.

Brandon bangkit dan berjalan mendekat, mencoba melihat layar. "Wah. Cantik juga?"

Rayhan mematikan layar sebelum Brandon sempat melihat jelas.

"Pelit sekali. Itu calon istrimu, bukan dokumen rahasia negara."

"Lebih baik kamu kembali bekerja."

"Aku ini tamu."

"Tamu yang tidak diundang."

Brandon menyeringai, tapi matanya masih menyisakan kekhawatiran. "Setidaknya lihat dia sebagai manusia saat menikah nanti. Bukan hanya tanda tangan di kertas."

Rayhan memasukkan ponsel ke laci meja.

Dia berdiri di tengah ruangan yang seluruhnya mencerminkan kekuasaan: meja panjang, kaca tinggi, kota di bawah kakinya, nama Wijaya di belakang punggungnya.

Namun untuk sesaat, bayangan perempuan di foto tadi masih melekat di benaknya. Mata yang tidak tersenyum. Bahu yang terlihat terlalu ringan untuk membawa beban keluarga Liem dan Wijaya sekaligus.

Rayhan membenci pikiran itu.

Dia menutup laci dengan sekali dorong.

"Seperti apa wajahnya tidak penting," katanya datar. "Pernikahan ini hanya kesepakatan."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!