Episode 3

Bab 3

Hari Pernikahan

Gaun putih itu terlalu indah untuk pernikahan yang tidak dipilihnya sendiri.

Senja berdiri di ruang rias kecil di belakang gereja, menatap pantulan dirinya di cermin tinggi. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan jatuh di dekat pipi. Makeup di wajahnya lembut, membuat matanya tampak lebih besar dan lebih tenang daripada yang sebenarnya.

Di dadanya, jantung berdebar tanpa ritme.

Lara berdiri di belakangnya sambil merapikan ujung veil. Tidak banyak orang yang diizinkan hadir hari itu. Dari pihak Liem hanya Papa Liem, Serena, dan beberapa kerabat dekat. Dari pihak Wijaya, kabarnya hanya keluarga inti, Engkong Wijaya, Brandon, dan beberapa orang kepercayaan.

Pernikahan konglomerat yang seharusnya bisa memenuhi ballroom hotel bintang lima itu justru dibuat tertutup.

Terlalu tertutup, seolah semua orang ingin cepat menyelesaikannya sebelum ada yang sempat bertanya kenapa.

"Sen," bisik Lara, "kalau kamu mau kabur, aku masih bisa cari pintu belakang."

Senja menoleh.

Lara tidak tersenyum. Matanya merah, mungkin karena sejak tadi menahan tangis.

Untuk sesaat, dada Senja terasa hangat dan sakit bersamaan. Dia ingin tertawa, tapi yang keluar hanya hembusan napas.

"Aku pakai gaun seperti ini. Susah lari."

"Aku bisa gendong."

"Kamu akan jatuh duluan."

Lara menggigit bibir. "Aku serius."

Senja menatap sahabatnya melalui cermin. Di belakang mereka, gaun putih itu mengembang seperti awan kecil. Cantik, bersih, mahal. Tidak ada yang tahu bahwa tangan di balik sarung renda itu dingin sampai ujung kuku.

"Aku tahu," jawab Senja pelan. "Tapi aku tidak bisa."

Lara memejamkan mata sebentar, lalu memeluknya dari belakang dengan hati-hati agar tidak merusak gaun.

"Kalau dia jahat padamu, telepon aku. Jam berapa pun."

Senja mengangguk. Kali ini, dia tidak berani bicara karena takut suaranya pecah.

Ketukan terdengar di pintu.

Seorang wedding organizer membuka pintu sedikit. "Nona Senja, sudah waktunya."

Nona Senja.

Beberapa menit lagi, panggilan itu akan berubah.

Di sisi lain gereja, Rayhan Wijaya berdiri di dekat altar dengan jas hitam yang dikirim butik tanpa fitting. Jas itu tetap jatuh sempurna di tubuhnya, tentu saja. Orang seperti dia bahkan tampak seperti sudah lahir dengan ukuran yang disiapkan dunia.

Brandon berdiri di sampingnya sebagai pendamping. Pria itu menoleh ke arah pintu gereja yang masih tertutup, lalu melirik Rayhan.

"Kamu tegang?"

"Tidak."

"Kamu bahkan belum melihat calon istrimu masuk."

"Aku punya mata."

"Punya hati juga?"

Rayhan tidak menjawab.

Brandon menahan senyum. "Baiklah. Karena suasana terlalu kaku, aku sudah menyiapkan sesuatu."

"Jangan."

"Kamu belum tahu aku mau apa."

"Karena aku mengenalmu."

Brandon justru berdeham kecil, lalu berkata dengan suara cukup pelan agar hanya Rayhan yang mendengar, "Anggrek mekar di senja hari, Rayhan yang bercahaya menerangi."

Rayhan menoleh perlahan. "Itu buruk."

"Itu pantun penuh doa."

"Itu ancaman terhadap selera bahasa."

Brandon nyaris tertawa keras, tapi suara organ gereja mulai mengalun. Semua orang berdiri.

Pintu terbuka.

Rayhan mengangkat pandangan.

Untuk pertama kalinya, dia melihat Senja Liem bukan sebagai nama di dokumen, bukan sebagai foto yang dikirim Hendrik, melainkan sebagai perempuan yang berjalan perlahan di lorong gereja dengan wajah pucat dan mata yang berusaha tidak goyah.

Dia tampak kecil di antara kursi-kursi kayu dan rangkaian anggrek putih yang dipasang di kedua sisi lorong. Bukan kecil karena tubuhnya, tetapi karena seluruh ruangan seperti menaruh beban di bahunya.

Papa Liem menggandengnya. Pria itu berjalan tegap, terlalu puas untuk seorang ayah yang sedang melepas anaknya.

Senja tidak melihat ke kanan atau kiri. Tangannya mencengkeram buket anggrek putih sampai batang bunganya sedikit miring.

Rayhan menyadari detail itu.

Lalu dia membenci dirinya sendiri karena menyadarinya.

Ketika mereka berhenti di depan altar, Papa Liem menyerahkan tangan Senja kepada Rayhan.

Sentuhan pertama mereka terjadi tanpa drama. Hanya ujung jari dingin Senja yang menyentuh telapak tangan Rayhan.

Tetapi Senja menahan napas.

Rayhan merasakannya.

Dia menunduk sedikit. Dari dekat, wajah Senja lebih lembut daripada di foto. Matanya tidak sepenuhnya takut. Ada sesuatu yang lain di sana, seperti seseorang yang sudah terlalu sering disuruh menerima sampai lupa bagaimana cara meminta.

"Jangan pingsan," kata Rayhan sangat pelan, hampir tanpa menggerakkan bibir.

Senja terkejut. Dia mendongak, dan untuk pertama kalinya mata mereka benar-benar bertemu.

Suara pendeta di depan mereka tetap mengalir, tetapi selama satu detik, dunia mengecil menjadi tatapan pria itu. Mata Rayhan gelap, tenang, terlalu tenang. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Namun tangannya kokoh di bawah tangannya, tidak membiarkannya jatuh.

"Aku tidak akan pingsan," bisik Senja.

"Bagus."

Itu percakapan pertama mereka sebagai calon suami istri.

Singkat. Dingin. Aneh.

Dan entah kenapa, membuat Senja sedikit lebih mampu berdiri.

Pemberkatan berjalan cepat. Pendeta berbicara tentang kasih, kesetiaan, dan rumah tangga yang dibangun bukan hanya dengan janji, melainkan dengan kesabaran. Kata-kata itu terdengar begitu indah sampai Senja hampir merasa bersalah karena tidak bisa mempercayainya.

Ketika tiba saat bertukar cincin, Brandon menyerahkan kotak beludru hitam kepada Rayhan.

Cincin itu sederhana, platinum polos dengan satu garis tipis di tengah. Tidak romantis, tapi mahal. Seperti semua hal tentang keluarga Wijaya.

Rayhan mengambil cincin untuk Senja.

Tangannya hangat. Tangan Senja dingin.

Saat cincin itu masuk ke jari manisnya, Senja menatap benda kecil itu dengan perasaan kosong. Begitu ringan, tetapi mengubah seluruh hidupnya.

"Senja Liem," suara pendeta terdengar lembut, "apakah engkau bersedia menerima Rayhan Wijaya sebagai suamimu?"

Ada jeda sepersekian detik.

Lara yang duduk di barisan depan mencengkeram tisu. Serena menatap dengan bibir melengkung. Papa Liem tidak berkedip.

Senja mendengar detak jantungnya sendiri.

"Saya bersedia," jawabnya.

Rayhan menatapnya sekilas.

Kemudian giliran Senja memasangkan cincin ke jari Rayhan. Jari pria itu panjang, kuat, dengan urat halus di punggung tangan. Tidak ada getaran sedikit pun.

"Rayhan Wijaya, apakah engkau bersedia menerima Senja Liem sebagai istrimu?"

"Saya bersedia," kata Rayhan.

Suaranya rendah, stabil, tanpa emosi.

Namun tetap saja, kata-kata itu membuat gereja kecil tersebut berubah. Orang-orang bertepuk tangan pelan. Kamera keluarga mengambil gambar. Serena tersenyum untuk foto. Papa Liem menjabat tangan Hendrik Wijaya dengan wajah lega.

Senja berdiri di sisi Rayhan, merasa seperti baru saja menandatangani sesuatu yang tidak dia baca.

Setelah pemberkatan dan pencatatan sipil, makan keluarga dilakukan di sebuah restoran privat dekat Menteng. Meja panjang dihiasi anggrek putih dan lilin rendah. Hidangan keluar satu per satu, tetapi Senja hampir tidak bisa menelan.

Brandon mengambil tempat di sebelah Rayhan dan mengangkat gelas.

"Untuk pasangan baru," katanya cerah. "Semoga anggrek yang mekar di senja hari benar-benar mendapat cahaya yang cukup."

Beberapa orang tertawa sopan.

Rayhan menatap Brandon seperti ingin mengusirnya dari Jakarta.

Senja tidak mengerti seluruh maksud pantun itu, tapi dia mendengar namanya dan nama Rayhan di sana. Pipinya memanas sedikit.

"Jangan dengarkan dia," kata Rayhan tanpa menoleh.

Senja baru sadar pria itu bicara kepadanya.

"Kenapa?"

"Dia terlalu banyak waktu luang."

Brandon meletakkan tangan di dada. "Aku tersinggung sebagai sahabat sekaligus penyair keluarga."

"Kamu bukan penyair."

"Belum diakui saja."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Senja hampir bergerak. Hampir.

Rayhan melihatnya. Hanya sebentar.

Lalu Serena datang mendekat dengan gelas jus di tangan.

"Selamat, Senja," ucapnya manis. "Sekarang kamu benar-benar Nyonya Wijaya."

Senja tahu nada itu.

Nada yang terdengar seperti ucapan selamat, tapi menyimpan pisau di belakangnya.

"Terima kasih," jawab Senja.

Serena menatap cincin di jarinya. "Jaga baik-baik apa yang bukan milikmu sejak awal."

Sebelum Senja sempat menjawab, suara Rayhan terdengar.

"Apa maksudmu?"

Serena terdiam.

Rayhan bahkan tidak menaikkan suara. Dia hanya menatap Serena dengan dingin, tetapi warna wajah Serena berubah sedikit.

"Tidak ada, Pak Rayhan. Aku hanya bercanda dengan Senja."

"Aku tidak suka bercanda."

Brandon pura-pura sibuk minum.

Senja menoleh ke Rayhan, tidak yakin apakah pria itu sedang membelanya atau hanya tidak suka keributan di acara keluarga.

Rayhan tidak menatapnya. "Duduk."

Perintah itu ditujukan kepada Serena.

Serena tersenyum kaku, lalu kembali ke tempatnya.

Senja menunduk, menatap cincin di jarinya lagi. Benda itu masih terasa asing. Tetapi untuk beberapa detik, dinginnya tidak terlalu menusuk.

Malam turun ketika mobil hitam membawa mereka ke Wijaya Mansion. Menteng terlihat tenang, pohon-pohon tua di sisi jalan basah oleh sisa hujan. Di dalam mobil, Senja duduk di sisi kiri, Rayhan di kanan. Jarak di antara mereka cukup untuk satu orang lain.

Tidak ada yang bicara.

Senja bisa mencium aroma kayu cendana yang samar dari tubuh Rayhan. Aroma itu bersih, dingin, dan mahal. Seperti rumah yang akan dia masuki.

Wijaya Mansion berdiri di balik pagar tinggi, bangunan tua yang direnovasi dengan kaca dan batu alam. Lampu taman menyala lembut, membuat rumah itu terlihat indah sekaligus tidak ramah.

Pak Hadi menyambut mereka di pintu.

"Selamat datang, Tuan muda. Selamat datang, Nyonya."

Nyonya.

Senja menahan napas.

Rayhan berjalan masuk lebih dulu. Senja mengikutinya melewati foyer luas, tangga melengkung, dan lorong panjang yang begitu sunyi sampai suara langkahnya terdengar terlalu jelas.

Kamar utama berada di lantai dua.

Ketika pintu dibuka, Senja melihat tempat tidur besar dengan seprai putih, sofa panjang dekat jendela, dan vas berisi anggrek di meja samping. Semua sudah disiapkan dengan sempurna.

Terlalu sempurna.

Rayhan melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi.

"Kamar mandi di kanan. Lemari sebelah kiri sudah dikosongkan untukmu."

Senja memeluk tas kecilnya. "Baik."

"Aku tidur di sisi kanan."

"Baik."

Jawaban itu keluar otomatis.

Rayhan menatapnya sebentar. "Kamu hanya bisa bilang baik?"

Senja terdiam.

Dia tidak tahu harus menjawab apa. Di rumah Liem, kata itu sering menyelamatkannya dari pertengkaran. Di hadapan Rayhan, kata itu terasa tiba-tiba memalukan.

"Maaf," ucapnya.

Rayhan menghela napas pendek, seperti tidak sabar. "Lupakan."

Malam pertama mereka tidak seperti cerita yang pernah Senja dengar dari orang lain. Tidak ada bisikan manis. Tidak ada tangan yang mencari tangan. Tidak ada percakapan panjang tentang masa depan.

Setelah mandi, Senja keluar dengan piyama lengan panjang yang paling tertutup yang dia bawa. Rayhan sudah berbaring di sisi kanan, membaca dokumen di tablet.

Di tengah tempat tidur, sebuah bantal panjang diletakkan membujur.

Senja berhenti di dekat ranjang.

Rayhan tidak mengangkat wajah. "Batas sementara."

Sementara.

Kata itu tidak menenangkan, tapi setidaknya memberi bentuk pada ketakutan.

Senja naik ke tempat tidur dari sisi kiri, menjaga agar tubuhnya tidak menyentuh bantal itu. Lampu kamar diredupkan. Tablet Rayhan akhirnya dimatikan.

Gelap turun perlahan.

Di luar, sisa hujan menetes dari daun-daun pohon tua. Di dalam kamar, dua orang yang baru saja menjadi suami istri berbaring kaku, dipisahkan oleh satu bantal panjang dan ribuan hal yang tidak mereka katakan.

Senja menghadap ke kiri.

Rayhan menghadap ke kanan.

Di antara punggung mereka, keheningan terasa lebih dingin daripada pendingin ruangan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!