BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam

“You’re all I can think of, every drop I drink up~

You’re my soda pop, my little soda pop~”

Dering ringtone lagu ‘Soda Pop’ milik Saja Boys dari film ‘K-Pop Demon Hunter’ itu menggema memecahkan keheningan hari Minggu pagi di rumah Marcella dan Olivia yang memang masih tampak sepi karena orang tua mereka belum pulang dari acara pernikahan kerabat mereka di luar kota. Ringtone tersebut ternyata berasal dari ponsel Marcella yang sedang di-charge di ruang tengah karena pemiliknya sedang berada di kamar mandi.

Mendengar itu, Olivia yang baru saja hendak mengikatkan tali sepatunya karena sedang bersiap-siap akan pergi latihan basket lagi ke sekolah, terpaksa bergegas untuk melihat siapa yang menelepon kakaknya, barangkali panggilan penting dari kampusnya atau mungkin dari orang tua mereka. Ternyata, sebuah panggilan suara dari 'Doni ❤︎' muncul di layar.

"Kak Cella! Ada telpon dari Kak Doni, nih!", seru Olivia ke arah kamar mandi.

"Angkat aja dulu, Liv! Bilang aku lagi ngeringin rambut!", sahut Marcella samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, disusul suara bising hairdryer.

Olivia meraih ponsel kakaknya. Namun, sebelum dia sempat menggeser tombol hijau, panggilan itu terputus. Layar ponsel Marcella kembali ke tampilan terkunci, menyisakan sebuah notifikasi pesan pop-up di bawahnya: “Cell, besok ke kampus pagi kan? Aku jemput jam berapa?”

Menatap nama Doni di layar, Olivia mendadak teringat keseruan obrolan sepak bola mereka Sabtu malam kemarin. Jiwa mudanya yang impulsif dan tanpa prasangka langsung terusik. Dia ingin melanjutkan obrolan seru itu, tapi tahu kakaknya pasti akan malas mendengarkan topik bola.

Selagi ponsel Marcella masih menyala dan menampilkan nomor Doni di bagian detail notifikasi, Olivia dengan cepat meraih ponselnya sendiri. Jari-jarinya dengan gesit menyalin deretan angka nomor telepon Doni ke dalam kontaknya.

“Nomor kak Doni aku simpen, ah. Ntar aku chat kalau Chelsea lagi main. Temenku nggak ada yang fans Chelsea soalnya, kebanyakan Emyu”, pikir Olivia sambil senyum-senyum sendiri. Ia santai saja, sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan tindakannya. “Kak Doni kan asyik orangnya”, tambahnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Kak Cella! Aku pergi dulu, ya!”, teriak Olivia bersemangat setelah menghabiskan satu gelas susu coklatnya.

“Iya, hati-hati!”, Marcella juga berteriak karena masih berada di kamar mandi.

Keesokan harinya di kantin kampus, terlihat Doni yang sedang duduk di bangku panjang menyeruput mie ayam pesanannya sambil menemani Marcella yang sedang fokus merevisi laporan magangnya yang sempat salah tempel kemarin.

Marcella bersikap sangat manis, sesekali menyuapi Doni camilan atau merapikan rambut Doni yang berantakan. Namun, Doni merasa bersalah karena setiap kali melihat wajah Marcella, dia malah teringat bayangan Olivia yang tertawa lepas dengan jersey basketnya. Doni merasa menjadi pria paling jahat di dunia.

“Don!”, panggilan Marcella yang tidak terlalu keras itu mengagetkan Doni. Wajah melamun Doni ternyata terpergok oleh Marcella.

“Kamu ngelamun, ya? Mikirin apa sih? Itu kan mie ayam kesukaan kamu, biasanya cepet habisnya. Tumben masih sisa banyak”, Marcella yang tadinya fokus mengerjakan laporannya, jadi teralihkan melihat kebiasaan Doni yang sudah sangat dia hafal tiba-tiba berubah.

“Eh? Nggak, kok. Nggak mikirin apa-apa”, jawab Doni berkelit. “Udah selesai laporannya?”, Doni mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Hmm… dikit lagi, sih”, Marcella yang perfeksionis akhirnya kembali fokus untuk menyelesaikan laporannya yang harus dia kumpulkan dua jam lagi. Doni merasa lega akhirnya lolos dari pertanyaan mengejutkan Marcella. Dia pun bergegas menghabiskan mie ayam favorit-nya yang membuat dia juga berpikir, “Kenapa dari tadi belum habis-habis juga, ya?”

Malam harinya, Doni sudah berada sendirian di kamar kos-nya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya yang kusut dengan mendengarkan musik dan sesekali bermain game, tetapi tidak bisa. Dia terus menatap ponselnya, bolak-balik membuka ruang obrolan WhatsApp dengan Marcella yang isinya sangat teratur, seperti: "Aku tidur dulu ya sayang" atau "Besok jemput jam 8 ya".

Tiba-tiba, sekitar jam 11 malam lewat 40 menit, ada sebuah notifikasi dari nomor tidak dikenal.

Pesan itu ternyata dari Olivia. Dia mengirim foto screenshot berita olahraga tentang Chelsea yang baru saja kalah di pertandingan terbaru, disusul chat: "Halo kak Doni! Lihat deh, pelatih kita kocak banget taktiknya wkwkwk btw, ini Olivia. Aku save nomor kak Doni pas nelpon kak Marcella kemarin. Save nomor aku juga ya!"

Jantung Doni langsung berdegup kencang lagi. Sensasi mendebarkan yang sama seperti hari Sabtu malam itu kembali. Mereka akhirnya bertukar pesan hingga larut malam, membahas hal-hal random dengan gaya ketikan Olivia yang seru, penuh emoji, dan blak-blakan.

Doni tersenyum sendiri menatap layar ponselnya di kegelapan kamar, sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan.

Malam semakin larut, Olivia berniat menutup obrolan mereka dengan chat: "Seru banget chat sama kak Doni. Oh iya, kak. Besok sore tim basketku ada tanding persahabatan di GOR dekat kampus kak Doni, loh. Kak Marcella kayaknya gak bisa nonton karena ada kelas asistensi sampai malam. Kalo sempet, mampir dong kak, buat nonton aku! Belum pernah liat kan, aku aslinya sejago apa? Wkwkwk”

Bagi Olivia, ini mungkin hanya pesan biasa, hanya ajakan santai kepada calon kakak iparnya yang dia anggap asyik buat diajak seru-seruan, dan satu frekuensi dengannya. Olivia sama sekali tidak ada niat apa-apa selain hanya ingin memamerkan keahliannya dalam bermain basket, dan menunjukkan kalau piala-piala di rumahnya dipajang bukan tanpa alasan, yang bahkan berpotensi untuk bertambah lagi. Dia bahkan menyisipkan kata ‘kalau sempet’. Artinya, walaupun pada akhirnya Doni tidak datang pun tidak ada pengaruh apa-apa baginya.

Tapi tidak bagi Doni. Dia mengalami pergolakan batin. Dia tidak pernah merasa pesan singkat seperti itu akan sebegitu berbahayanya bagi psikologis-nya. Tawa lepas di Sabtu malam dan panjangnya obrolan pesan mereka di malam ini mungkin sudah cukup untuk membuat Doni baper. Jadi, tindakan biasa dari Olivia akan ditangkap secara berbeda oleh hati Doni yang sedang haus akan tantangan.

Bagi Doni, pesan sesederhana itu sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang dan membuatnya dihadapkan pada pilihan: datang sebagai bentuk dukungan kepada adik dari kekasihnya, atau datang karena dia memang ingin bertemu dengan Olivia lagi. Dia masih terpaku menatap pesan itu. Apakah dia akan datang? Sendirian? Apakah dia merasa harus memberitahu Marcella dulu?

Episodes
1 BAB 1: Lima Tahun yang Lurus
2 BAB 2: Tamu Hari Sabtu
3 BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam
4 BAB 4: Riuh GOR dan Tatapan yang Berbeda
5 BAB 5: Labirin Rasa Bersalah
6 BAB 6: Sisi Lain dari Kesempurnaan
7 BAB 7: Labirin Kebohongan Pertama
8 BAB 8: Reaksi Berantai
9 BAB 9: Riuh GOR Yang Tak Sama Lagi
10 BAB 10: Pesona Berbahaya
11 BAB 11: Ranjau di Atas Meja Makan
12 BAB 12: Di Bawah Kendali
13 BAB 13: Skenario Hari Minggu
14 BAB 14: Di Bawah Lampu Neon Arkade
15 BAB 15: Tangga Darurat
16 BAB 16: Rahasia di Balik Tangga
17 BAB 17: Jalur Belakang
18 BAB 18: Syarat-syarat Lain
19 Bab 19: Malam yang Tenang
20 BAB 20: Malam yang Tegang
21 BAB 21: Jebakan di Bawah Meja Makan
22 BAB 22: Misi Siang Hari
23 BAB 23: Milkshake Cokelat, Lemon Tea, dan Lavender
24 BAB 24: Snack yang Tak Tergapai
25 BAB 25: Partners in Crime
26 BAB 26: Rasa Lelah yang Lenyap
27 BAB 27: Dilema di Meja Makan
28 BAB 28: Romansa di Parkiran
29 BAB 29: Notifikasi di Malam yang Gelap
30 BAB 30: Jemari di Atas Keyboard
31 BAB 31: Barang-barang Asing
32 BAB 32: Langkah Pertama di Kamar Kos
33 BAB 33: Penulis Hebat
34 BAB 34: Satu Meja Makan
35 BAB 35: Cerita yang Sama Persis
36 BAB 36: Rahasia Lain
37 BAB 37: Antara Saus Sambal dan Plester
38 BAB 38: Parfum Kayu Manis
39 BAB 39: Karakter Familiar
40 BAB 40: Yakin Sembilan Puluh Persen
41 BAB 41: Detail Kecil yang Diganti
42 BAB 42: Karya yang Membuat Dilema
43 BAB 43: Interogasi Di Atas Pemanggang
44 BAB 44: Kesepakatan Tak Tertulis
45 BAB 45: Perasaan Terlarang
46 BAB 46: Langkah Pertama yang Canggung
47 BAB 47: Topeng Percaya Diri
48 BAB 48: Pembaca Rahasia yang Setia
49 BAB 49: Engsel Pintu Garasi
50 BAB 50: Di Balik Tulisan Manis
Episodes

Updated 50 Episodes

1
BAB 1: Lima Tahun yang Lurus
2
BAB 2: Tamu Hari Sabtu
3
BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam
4
BAB 4: Riuh GOR dan Tatapan yang Berbeda
5
BAB 5: Labirin Rasa Bersalah
6
BAB 6: Sisi Lain dari Kesempurnaan
7
BAB 7: Labirin Kebohongan Pertama
8
BAB 8: Reaksi Berantai
9
BAB 9: Riuh GOR Yang Tak Sama Lagi
10
BAB 10: Pesona Berbahaya
11
BAB 11: Ranjau di Atas Meja Makan
12
BAB 12: Di Bawah Kendali
13
BAB 13: Skenario Hari Minggu
14
BAB 14: Di Bawah Lampu Neon Arkade
15
BAB 15: Tangga Darurat
16
BAB 16: Rahasia di Balik Tangga
17
BAB 17: Jalur Belakang
18
BAB 18: Syarat-syarat Lain
19
Bab 19: Malam yang Tenang
20
BAB 20: Malam yang Tegang
21
BAB 21: Jebakan di Bawah Meja Makan
22
BAB 22: Misi Siang Hari
23
BAB 23: Milkshake Cokelat, Lemon Tea, dan Lavender
24
BAB 24: Snack yang Tak Tergapai
25
BAB 25: Partners in Crime
26
BAB 26: Rasa Lelah yang Lenyap
27
BAB 27: Dilema di Meja Makan
28
BAB 28: Romansa di Parkiran
29
BAB 29: Notifikasi di Malam yang Gelap
30
BAB 30: Jemari di Atas Keyboard
31
BAB 31: Barang-barang Asing
32
BAB 32: Langkah Pertama di Kamar Kos
33
BAB 33: Penulis Hebat
34
BAB 34: Satu Meja Makan
35
BAB 35: Cerita yang Sama Persis
36
BAB 36: Rahasia Lain
37
BAB 37: Antara Saus Sambal dan Plester
38
BAB 38: Parfum Kayu Manis
39
BAB 39: Karakter Familiar
40
BAB 40: Yakin Sembilan Puluh Persen
41
BAB 41: Detail Kecil yang Diganti
42
BAB 42: Karya yang Membuat Dilema
43
BAB 43: Interogasi Di Atas Pemanggang
44
BAB 44: Kesepakatan Tak Tertulis
45
BAB 45: Perasaan Terlarang
46
BAB 46: Langkah Pertama yang Canggung
47
BAB 47: Topeng Percaya Diri
48
BAB 48: Pembaca Rahasia yang Setia
49
BAB 49: Engsel Pintu Garasi
50
BAB 50: Di Balik Tulisan Manis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!