BAB 5: Labirin Rasa Bersalah

Layar ponsel di tangan Doni masih berkedip-kedip, menampilkan nama 'Marcella ❤︎' yang seolah sedang menghakimi hatinya. Getarannya terasa begitu kuat, menyengat telapak tangannya yang mendadak dingin. Di seberang pagar pembatas lapangan, Olivia masih berdiri dengan dahi sedikit berkerut, menatap Doni dan ponselnya bergantian dengan raut penasaran.

"Nggak diangkat, Kak? Dari siapa? Kak Cella, ya?", tanya Olivia polos. Suaranya meninggi berusaha mengalahkan kebisingan di dalam GOR.

Doni menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. Dia memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menggeser tombol hijau di layar. "Eh… iya, nih. Dari Cella. Sebentar ya, Liv."

Doni menempelkan ponsel ke telinganya, sementara tangan kirinya refleks merapatkan tudung hoodie gelapnya, seolah benda itu bisa menyembunyikannya dari rasa bersalah.

"Halo, Cell?", jawab Doni. Suaranya terdengar sedikit bergetar, dan dia berdoa dalam hati semoga Marcella tidak menyadarinya.

"Halo, Sayang. Kamu lagi di mana? Kok bising banget suaranya?", Suara Marcella terdengar lembut di seberang sana, kontras dengan gemuruh di dada Doni. Di latar belakang suara Marcella, terdengar denting alat-alat laboratorium dan gumaman dosen. Marcella benar-benar masih di kampus, berjuang dengan tugas akademisnya.

"Ah, ini... aku lagi di luar, Cell. Lagi di… jalan dekat… GOR kampus! Iya, mau ini… nyari… makan! Iya, mau nyari makan habis kelas tadi", jawab Doni terbata-bata. Setengah jujur, setengah menyembunyikan kebenaran. Dia memang berada di GOR, tetapi dia sengaja menghilangkan bagian bahwa dia sedang berdiri satu meter di depan adik kandung Marcella. “Kenapa, Cell? Udah mau dijemput?”, sambung Doni menutupi rasa bersalahnya dengan perhatiannya ke Marcella.

"Oh, pantesan agak gema gitu suaranya. Nggak. Justru, aku mau bilang, kayaknya asistensi lab-ku bakal selesai agak malam, deh. Jurnalnya banyak yang harus direvisi. Jadi, nanti kamu nggak usah jemput aku, ya? Kamu langsung balik kosan aja, jangan lupa makan malam."

Mendengar perhatian yang begitu tulus dari Marcella, dada Doni rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Rasa sesak langsung menjalar. Marcella begitu memercayainya, mengkhawatirkan makan malamnya, sementara Doni di sini sedang menikmati debaran jantung yang salah.

"I-iya, Cell. Kamu juga jangan lupa makan ya di lab. Semangat revisian-nya," kata Doni lirih.

"Sip! Ya udah, aku masuk lab lagi ya. Love you."

"Iya. Love you, too."

Sambungan terputus. Doni menurunkan ponselnya dengan perlahan. Kalimat "love you, too" yang barusan dia ucapkan terasa hambar, seperti beban berat yang terpaksa dia keluarkan dari lidahnya. Dia merasa seperti penjahat ulung.

"Kak Cella bilang apa, Kak?" Olivia bertanya, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka. Gadis itu kini sedang menenggak air mineral dari botol minumnya, membuat beberapa tetes air mengalir di dagunya yang lancip.

"Katanya dia pulang malam karena revisian lab. Aku disuruh langsung balik aja, nggak usah jemput", jawab Doni, berusaha mengembalikan nada suaranya sehangat mungkin.

Olivia menurunkan botol minumnya, lalu mengangguk-angguk paham. "Yah, begitulah Kak Cella. Kalau udah urusan kuliah, nomor satu deh. Makanya aku males kalau diajakin masuk jurusan yang sama kayak dia, bisa stres aku." Olivia terkekeh geli, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang manis. "Ya udah, berarti Kak Doni mau langsung balik, nih?"

"Iya, Liv. Kayaknya udah sore juga", jawab Doni. Sebenarnya, itu adalah cara Doni untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia harus menjauh dari Olivia sekarang juga sebelum logikanya benar-benar lumpuh.

"Oke deh. Makasih banyak ya, Kak, udah mau nonton! Ntar kapan-kapan kalau ada tanding lagi, dateng lagi, ya! Hahaha", ucap Olivia dengan gaya santainya yang khas, lalu melambaikan tangan saat dia berbalik untuk kembali ke rombongan tim-nya.

Doni tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil. Dia segera berbalik dan melambaikan tangannya kecil. Dia berjalan cepat meninggalkan GOR, seolah sedang berlari menjauhi sebuah ledakan.

Malam harinya, suasana kamar kos Doni terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Kipas angin di dinding berputar dengan suara ritmis yang membosankan. Doni telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram.

Bayangan hari ini terus berputar di benaknya. Senyum lebar Olivia setelah mencetak angka, kontak mata mereka yang intens di antara kerumunan, hingga aroma segar yang menyerbak dari tubuh gadis itu. Sialnya, semua bayangan itu terasa jauh lebih menarik dan penuh warna dibandingkan hubungannya dengan Marcella yang berjalan lurus seperti jalan tol tanpa hambatan selama lima tahun ini.

Doni mengutuk dirinya sendiri. Dia mencintai Marcella, dia sangat yakin akan hal itu. Marcella adalah wanita yang ideal untuk masa depannya. Tapi, ego masa mudanya yang haus akan tantangan tidak bisa membohongi bahwa kehadiran Olivia telah berhasil menyalakan kembali percikan api yang sudah lama padam di hatinya.

Dia berada di persimpangan yang berbahaya. Satu langkah salah saja, dia akan menghancurkan hati dua orang wanita yang berada di dalam satu keluarga yang sama.

Doni menghela napas panjang, lalu bangkit duduk di tepi kasur. Dia meraih laptop-nya yang tergeletak di atas meja belajar. Dia butuh pengalihan isu. Dia harus menyibukkan pikirannya agar tidak terus-menerus memikirkan adik pacarnya itu.

Doni membuka sebuah situs platform menulis yang belakangan ini sering dia kunjungi: NovelToon.

Beberapa hari terakhir, di tengah kejenuhannya, Doni iseng meluapkan pergolakan batin dan imajinasinya ke dalam sebuah draf novel. Awalnya, draf novel di platform ini hanyalah rencana rahasia Doni untuk mencari penghasilan tambahan. Sebagai anak kos yang sedang menyusun masa depan, Doni tahu dia butuh tabungan lebih jika ingin serius melangkah ke jenjang berikutnya bersama Marcella yang berasal dari keluarga berada. Dia ingin membuktikan bahwa dia mapan dengan usahanya sendiri.

Namun, tanpa diduga, malam ini jarinya bergerak dengan sangat cepat. Rasa bersalah, debaran salah yang tak menentu, dan dilema moral yang dia rasakan secara nyata hari ini, dia tumpahkan seluruhnya ke dalam untaian kata di dasbor penulisnya.

Karakter-karakter dalam ceritanya terasa begitu hidup karena mereka bernapas menggunakan emosi asli milik Doni saat ini. Draf novel yang awalnya dia tulis demi masa depan hubungannya dengan Marcella, malam ini emosi yang membuat tulisannya melesat cepat justru dipicu oleh Olivia.

Jari-jarinya menari di atas keyboard hingga larut malam. Bab demi bab selesai dia ketik. Kecepatan menulisnya meningkat drastis seiring dengan debaran dadanya yang belum juga reda. Hingga akhirnya, saat jam dinding menunjukkan pukul dua pagi lewat dua puluh menit, Doni bersandar di kursinya dengan napas lega.

Dia melihat ke arah pojok kanan dasbor penulisnya. Angka statistik di sana berubah warna.

[Total Kata: 20.050 Kata]

[Syarat Terpenuhi: Ajukan Kontrak]

Sebuah tombol berwarna kuning cerah kini menyala di layarnya. Itu adalah tombol pengajuan kontrak yang selama ini terkunci. Di dalam novelnya, sang tokoh utama sedang bersiap menghadapi kehancuran hubungannya. Sementara di dunia nyata, Doni menatap tombol itu dengan senyum getir.

Dengan tangan yang sedikit ragu, Doni menggerakkan kursornya, lalu mengeklik tombol tersebut.

Ajukan Kontrak.

"Selesai", gumam Doni pada kegelapan kamar.

Cerita fiksi tentang pengkhianatan dan cinta segitiga yang dia tulis kini resmi dikirimkan ke meja editor, siap menunggu nasib besok pagi. Namun, Doni tahu persis, tidak seperti novelnya yang bisa dia atur akhir ceritanya, kisah nyatanya bersama Marcella dan Olivia baru saja dimulai, dan dia tidak punya kendali atas bagaimana badai ini akan berakhir.

Episodes
1 BAB 1: Lima Tahun yang Lurus
2 BAB 2: Tamu Hari Sabtu
3 BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam
4 BAB 4: Riuh GOR dan Tatapan yang Berbeda
5 BAB 5: Labirin Rasa Bersalah
6 BAB 6: Sisi Lain dari Kesempurnaan
7 BAB 7: Labirin Kebohongan Pertama
8 BAB 8: Reaksi Berantai
9 BAB 9: Riuh GOR Yang Tak Sama Lagi
10 BAB 10: Pesona Berbahaya
11 BAB 11: Ranjau di Atas Meja Makan
12 BAB 12: Di Bawah Kendali
13 BAB 13: Skenario Hari Minggu
14 BAB 14: Di Bawah Lampu Neon Arkade
15 BAB 15: Tangga Darurat
16 BAB 16: Rahasia di Balik Tangga
17 BAB 17: Jalur Belakang
18 BAB 18: Syarat-syarat Lain
19 Bab 19: Malam yang Tenang
20 BAB 20: Malam yang Tegang
21 BAB 21: Jebakan di Bawah Meja Makan
22 BAB 22: Misi Siang Hari
23 BAB 23: Milkshake Cokelat, Lemon Tea, dan Lavender
24 BAB 24: Snack yang Tak Tergapai
25 BAB 25: Partners in Crime
26 BAB 26: Rasa Lelah yang Lenyap
27 BAB 27: Dilema di Meja Makan
28 BAB 28: Romansa di Parkiran
29 BAB 29: Notifikasi di Malam yang Gelap
30 BAB 30: Jemari di Atas Keyboard
31 BAB 31: Barang-barang Asing
32 BAB 32: Langkah Pertama di Kamar Kos
33 BAB 33: Penulis Hebat
34 BAB 34: Satu Meja Makan
35 BAB 35: Cerita yang Sama Persis
36 BAB 36: Rahasia Lain
37 BAB 37: Antara Saus Sambal dan Plester
38 BAB 38: Parfum Kayu Manis
39 BAB 39: Karakter Familiar
40 BAB 40: Yakin Sembilan Puluh Persen
41 BAB 41: Detail Kecil yang Diganti
42 BAB 42: Karya yang Membuat Dilema
43 BAB 43: Interogasi Di Atas Pemanggang
44 BAB 44: Kesepakatan Tak Tertulis
45 BAB 45: Perasaan Terlarang
46 BAB 46: Langkah Pertama yang Canggung
47 BAB 47: Topeng Percaya Diri
48 BAB 48: Pembaca Rahasia yang Setia
49 BAB 49: Engsel Pintu Garasi
50 BAB 50: Di Balik Tulisan Manis
Episodes

Updated 50 Episodes

1
BAB 1: Lima Tahun yang Lurus
2
BAB 2: Tamu Hari Sabtu
3
BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam
4
BAB 4: Riuh GOR dan Tatapan yang Berbeda
5
BAB 5: Labirin Rasa Bersalah
6
BAB 6: Sisi Lain dari Kesempurnaan
7
BAB 7: Labirin Kebohongan Pertama
8
BAB 8: Reaksi Berantai
9
BAB 9: Riuh GOR Yang Tak Sama Lagi
10
BAB 10: Pesona Berbahaya
11
BAB 11: Ranjau di Atas Meja Makan
12
BAB 12: Di Bawah Kendali
13
BAB 13: Skenario Hari Minggu
14
BAB 14: Di Bawah Lampu Neon Arkade
15
BAB 15: Tangga Darurat
16
BAB 16: Rahasia di Balik Tangga
17
BAB 17: Jalur Belakang
18
BAB 18: Syarat-syarat Lain
19
Bab 19: Malam yang Tenang
20
BAB 20: Malam yang Tegang
21
BAB 21: Jebakan di Bawah Meja Makan
22
BAB 22: Misi Siang Hari
23
BAB 23: Milkshake Cokelat, Lemon Tea, dan Lavender
24
BAB 24: Snack yang Tak Tergapai
25
BAB 25: Partners in Crime
26
BAB 26: Rasa Lelah yang Lenyap
27
BAB 27: Dilema di Meja Makan
28
BAB 28: Romansa di Parkiran
29
BAB 29: Notifikasi di Malam yang Gelap
30
BAB 30: Jemari di Atas Keyboard
31
BAB 31: Barang-barang Asing
32
BAB 32: Langkah Pertama di Kamar Kos
33
BAB 33: Penulis Hebat
34
BAB 34: Satu Meja Makan
35
BAB 35: Cerita yang Sama Persis
36
BAB 36: Rahasia Lain
37
BAB 37: Antara Saus Sambal dan Plester
38
BAB 38: Parfum Kayu Manis
39
BAB 39: Karakter Familiar
40
BAB 40: Yakin Sembilan Puluh Persen
41
BAB 41: Detail Kecil yang Diganti
42
BAB 42: Karya yang Membuat Dilema
43
BAB 43: Interogasi Di Atas Pemanggang
44
BAB 44: Kesepakatan Tak Tertulis
45
BAB 45: Perasaan Terlarang
46
BAB 46: Langkah Pertama yang Canggung
47
BAB 47: Topeng Percaya Diri
48
BAB 48: Pembaca Rahasia yang Setia
49
BAB 49: Engsel Pintu Garasi
50
BAB 50: Di Balik Tulisan Manis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!