BAB 4 MEMORI MASA LALU

Entah mengapa...

Saat melihat sosok bermahkota hitam yang berdiri di dalam rumahku itu, seketika ingatanku kembali ke masa lalu...

Ingatanku kembali hadir dengan lesatan yang cepat.

Sosok berbaju hitam.

Berkuku hitam.

Bermahkota hitam.

Sebuah pohon yang besar dengan akarnya yang menembus tanah.

Dan juga, satu anak perempuan yang disekap di alam ghoib penuh kelam dan mencekam itu!

"Harum! Harum!" sontak aku memanggilnya sambil berteriak, setelah mengingat semuanya.

Langsung kuletakkan begitu saja pakaian di atas meja teras, kembali aku coba untuk membuka pintu depan rumahku itu, dengan sedikit dipaksa lebih kuat.

"CEKLEK CEKLEK CEKLEK"

"Harum! Harum! Nak!" suaraku saling beradu dengan suara gagang pintu yang masih saja tak bisa terbuka.

Semakin cepat kugerakkan gagang pintunya, dan karena masih saja keras, tak bisa terbuka, terlintas dipikiranku untuk mendobraknya saja.

Aku mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, dan...

"Greppp!!!"

Terasa sebuah tangan menyentuh cepat di pundakku, seketika membuatku berhenti untuk mendobrak.

Aku terkejut, dan langsung berbalik badan.

Ternyata yang menahanku barusan adalah Sekar Mayang, salah satu perewanganku.

"Mau apa kamu Nisa?" tanya Sekar Mayang.

"A-a-anu... Harum! Harum!" jawabku terbata.

"Kenapa dengan Harum?" tanya nya lagi.

Aku jadi sedikit kesal mendengarnya. Aku jadi acuhkan saja Sekar Mayangku. Dan aku berbalik badan lagi, hendak segera membuka pintu yang sedari tadi tak bisa terbuka.

Tapi, seketika aku terdiam, berdiri mematung.

Ternyata, pintu depan rumahku itu sudah terbuka.

Dan Harum berdiri di ambang pintu.

Tubuhnya yang masih sedikit basah, hanya berbalut handuk lebar. Tanpa memakai sehelai baju pun.

Harum menatapku dengan mata putihnya, dengan ekspresi keheranan.

"Ibu? Ibu kenapa teriak-teriak sih?" tanya Harum.

"Lo-loh? A-a-Ha-Harum?"

"Ibu kenapa? Aku baru selesai mandi loh..." ucapnya.

Aku pun menoleh lagi ke belakang, dimana Sekar Mayang barusan muncul.

Dan Sekar Mayang ternyata sudah menghilang.

Kembali ku tatap anakku, dan bertanya, "Nak, kamu baru selesai mandi kah?"

"Iya Bu. Kenapa sih?" respon Harum sambil memegangi handuk lebar yang menutupi seluruh tubuhnya.

"A-a-anu, enggak, enggak apa-apa." jawabku berbohong.

"Udah, ayo masuk. Jangan di depan pintu sambil telanjang begitu ah!" ucapku, sambil sedikit mendorong Harum agar segera masuk, agar tak ada orang lain yang melihat tubuhnya hanya berbalut handuk saja.

Langsung ku tutup saja pintu depan dari dalam, dan segera ku tuntun Harum masuk ke dalam kamar.

"Ibu kenapa barusan teriak-teriak?" tanya anakku itu lagi saat sudah berada di dalam kamar.

Aku diam, tak menjawab.

Malah, aku membuka handuk yang menutupi tubuh Harum.

Dengan segera, kuambilkan pakaian dalam, baju gamis, dan jilbabnya. Kubantu Harum memakai semua itu.

Dan, ketika sudah dipakai dengan rapi, aku pun tersenyum, melihat wajah cantik dan manisnya.

Tapi, dengan bayang-bayang ingatan masa lalu itu.

Dan juga dengan apa yang ku lihat barusan.

"Duuuh... Cantiknya anak Ibu..." kataku, sambil ku cubit pelan hidungnya.

Namun, seolah rasa penasarannya belum terjawab olehku, kembali Harum bertanya yang sama lagi.

"Bu, aku nanya dari tadi gak dijawab sih? Ibu kenapa? Kenapa barusan teriak-teriak?"

"Emmm... Enggak kok, enggak kenapa-kenapa Nak."

"Ah, Ibu bohong lagi ya?"

Aku menatap wajah dan mata putihnya itu, dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan.

"Bu!" suara Harum agak sedikit membentak.

"Eh?" terkaget sedikit aku.

"Ah, Ibu nih, kenapa sih?"

"Kamu tuh, udah dibilangin sama Ibu juga, Ibu gak kenapa-kenapa Rum. Udah, ayo, siap-siap berangkat ngaji. Ibu anterin kamu ya Nak."

Ekspresi heran anakku itu langsung berubah, menjadi riang.

"Wah, Ibu yang anterin aku sekarang?"

"Iya..."

"Asiiik... Hehehe... Ayo Bu!"

"Iya Nak, ayo!"

Akhirnya, kami berdua pun segera berangkat ke pendopo Ustadz Furqon.

Dan untungnya, saat belum jauh kami berdua berjalan, kami berpapasan dengan Bapak yang baru pulang dari musholla setelah sholat Zhuhur berjama'ah.

"Wah, cucu Kakek berangkat ngaji nih?" kata Bapakku.

"Iya Kek!"

"Enggak dianterin sama Kakek aja nih?"

"Enggak ah, sekarang biar Ibu aja yang anterin aku ya Kek."

"Hehehe... Iya, ya udah, ngajinya yang bener ya Rum. Jangan banyak bercanda pas ngaji. Biar tambah pinter kamu." nasihat Bapakku.

"Iya Kek! Aku berangkat dulu ya Kek, Assalamu'alaikum."

"Iya, Wa'alaikumsalam."

Harum segera mencium tangan Kakeknya, dan aku juga sama, mencium tangan Bapakku itu.

"Nis, pintu rumah kamu kunci gak?" tanya Bapak.

"Oh iya! Astaghfirulloh... Kelupaan aku Pak. Belom aku kunci pintunya." jawabku.

"Haduuuh... Kamu tuh, jangan sembrono gitu dong Nis!"

"Iya Pak, maaf, aku barusan buru-buru soalnya."

"Hmmm... Dasar. Ya udah, sana anterin anakmu dulu."

"Hehe, iya Pak..."

Dan Bapakku agak mempercepat langkahnya menuju rumah. Dan aku kembali fokus mengantarkan anakku untuk mengaji.

.....

.....

Selama di jalan desa yang terik, kami berdua beberapa kali berpapasan dengan warga yang sedang duduk-duduk santai di teras rumah.

Mereka semua menyapa kami dengan hangat.

Mereka juga menyapa Harum.

Terlihat Harum membalas sapaan mereka semua dengan senyuman dan lambaian tangan. Meski kedua matanya tak bisa melihat.

Sempat juga beberapa kali, Harum berpapasan dengan beberapa anak-anak desa seusianya. Mereka juga sudah seperti teman bermain yang akrab dengan anakku itu.

Aku yang melihat Harum bisa tersenyum bahagia seperti itu, menjadi amat terharu hatiku, berbalut rasa syukur yang mendalam.

Aku sampai beberapa kali tertawa kecil melihat tingkahnya bersama anak-anak seusianya, sambil terus melangkah, menemaninya ke tempat mengaji di pendopo milik Ustadz Furqon.

.....

.....

Sejenak, sambil terus mengikuti langkahnya...

Aku bergumam sendiri dalam hati...

"Ya Alloh, ternyata kayak gini ya, rasanya punya anak."

"Bahagia ternyata rasanya ya..."

"Gak terasa ya Nak, kamu udah hidup bareng sama Ibu selama dua tahun sekarang. Semoga, Ibu akan terus jadi sosok Ibu yang baik buat kamu ya Nak..."

"Gak terasa, usiamu sekarang udah 14 tahun Nak..."

"Gak nyangka, ternyata aku bisa sekolahin dia sampai kelas 2 SMP sekarang."

"Ternyata, aku bisa ngurus seorang anak sepertinya sejauh ini."

Seperti itulah isi gumaman dalam hatiku.

.....

.....

Dan akhirnya, kami berdua sampai di depan pendopo Ustadz Furqon.

Dan langsung, seperti biasa, Harum disambut dengan hangat oleh seluruh teman-temannya.

Dodi, Farhan, Haris, Hanum, dan juga temannya yang lain menyambut kedatangan Harumku.

Dan tak lupa juga, sudah ada satu sosok pengajar di pendopo itu.

Namanya adalah Zahrotun Nada. Biasa dipanggil Bu Nada oleh anak-anak.

Dia lah yang dahulu menggantikanku sebagai pengajar di pendopo ini. Saat aku putuskan untuk berangkat ke Kediri, menjadi pengasuh di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon itu.

"Assalamu'alaikum, Bu Nada..." sapaku saat melihatnya mendekat.

"Wa'alaikumsalam, Ustadzah Nisa..." jawabnya sambil mencium tanganku.

Wajahnya yang membulat proporsional, dengan bentuk mata yang juga sedikit membulat, hidungnya yang sedikit mancung, kulitnya yang putih bersih, serta sikapnya yang sopan dan anggun.

Usianya memang berada di bawah usiaku, baru 22 tahun, membuatnya menaruh hormat padaku yang lebih tua. Walau aku tak memintanya.

Entah kenapa, setiap kali aku melihatnya, aku jadi teringat dengan Bunga. Rekan kerjaku di Kediri, dua tahun lalu.

"Tumben nih, Harum dianter sama Ustadzah. Biasanya sama Kakeknya." kata Nada.

"Hehe, iya... Kebetulan, kan bulan ini saya masih libur kerja. Jadi, ya pengen nemenin Harum ngaji." jawabku.

"Oh... Begitu..." responnya sambil tersenyum manis.

"Oh iya, Bu Fatimah kemana? Kok gak keliatan?" tanyaku.

"Bu Fatimah ada di dalem rumahnya kok, Ustadzah mau ketemu? Saya panggilin ya..." kata Nada.

"Eh, enggak! Saya cuma nanya aja kok Nada."

"Eh, kirain mau ketemu. Ya udah Ustadzah, saya mau mulai ngajar dulu ya." kata Nada.

"Iya Nada, silahkan." jawabku.

Ketika Nada hendak menuju pendopo, aku memanggilnya lagi. Membuat langkahnya terhenti sesaat.

"Kenapa Ustadzah?" tanya Nada.

Aku berjalan mendekatinya.

Langsung saja ku rogoh saku gamisku.

Kuberikan sejumlah uang pada Nada.

"Loh? Apa ini Ustadzah?" tanya Nada dengan heran menatapku.

"Nanti, kalo ada tukang es lewat, kamu belikan anak-anak es ya. Biar mereka semangat ngajinya." kataku.

"Owalaaah... Masya Alloh... Barokalloh... Makasih banyak loh Ustadzah. Semoga rezekinya semakin banyak dan berkah! Hihi..." Nada mendo'akanku.

"Hehe, iya... Aamiin..." responku.

Dan akhirnya Nada kembali ke pendopo, memulai kegiatan mengajar ngaji semua anak-anak desa.

Aku memperhatikannya sejenak, masih berdiri di samping pendopo.

Dan...

Kembali ingatanku melayang ke masa lalu...

Seolah aku sedang melihat diriku sendiri, sedang mengajar anak-anak itu...

Sungguh, sebuah memori yang indah, yang layak untuk terus ku kenang dalam pikiran dan hatiku...

Episodes
1 BAB 1 PROLOG (Ending Dari TIRAKAT 3)
2 BAB 2 "IBU, JANGAN PANGGIL AKU GENDIS LAGI YA..."
3 BAB 3 SOSOK BERMAHKOTA HITAM
4 BAB 4 MEMORI MASA LALU
5 BAB 5 "LOH?! KAMU MASIH ADA DISINI?!"
6 BAB 6 "ANAKMU BUKAN MANUSIA BIASA, NISA..."
7 BAB 7 "JELASKAN PADAKU, SIAPA KAMU SEBENARNYA?"
8 BAB 8 TINGKATAN KEKUATAN BANGSA PEREWANGAN
9 BAB 9 AKTIFITAS SEPERTI BIASA
10 BAB 10 PERASAAN TAK NYAMAN
11 BAB 11 PENGAKUAN HARUM YANG MENGEJUTKANKU
12 BAB 12 "APAKAH SUDAH WAKTUNYA, AKU AJARKAN TIRAKATKU PADANYA?"
13 BAB 13 KEHADIRANNYA DI DEPANKU LAGI
14 BAB 14 BERJALAN-JALAN DI MASA LALU IBUKU
15 BAB 15 DUNIA MASA LALU YANG DILIHAT IBUKU
16 BAB 16 PENJELASAN DARI SEKAR ARUM KEPADAKU
17 BAB 17 BERANGKAT SEKOLAH
18 BAB 18 KECERIAAN DI SEKOLAH
19 BAB 19 MURID BARU KELAS 2C
20 BAB 20 PANGGILAN BARU, HARUMA DAN HARUMI...
21 BAB 21 "LOH? SIAPA ANAK ITU?"
22 BAB 22 SEPERTI ANAK KEMBAR SUNGGUHAN
23 BAB 23 "DI CIREBON, BU..."
24 BAB 24 KELUARGA HARUM INTAN PURNAMASARI SEBENARNYA
25 BAB 25 BAPAKKU
26 BAB 26 SILSILAH KELUARGA YANG TAK TERDUGA
27 BAB 27 DUA ANAK DAN SATU "IBU"
28 BAB 28 "HEH!! UDAH MALEM!! MALAH BERISIK!!"
29 BAB 29 KEMBALINYA DAYANG PUTRI, SEKAR MAYANG, DAN SEKAR ARUM
30 BAB 30 "AJARKAN DIA TIRAKATMU..."
31 BAB 31 IZIN TIRAKAT UNTUK HARUMA
32 BAB 32 "MIMPI" HARUMA
33 BAB 33 "MIMPI ANEH" HARUMI UNTUK PERTAMA KALINYA
34 BAB 34 SATU DIMENSI, DUA SUKMA
35 BAB 35 "PENJELASAN" UNTUK HARUMA, DAN "PERJALANAN" UNTUK HARUMI
36 BAB 36 SEBUAH PERTANDA
37 BAB 37 MANDI PEMBUKA SUKMA HARUMA
38 BAB 38 SUKMA HARUMI IKUT TERBUKA TANPA SENGAJA
39 BAB 39 MALAM HARI SEBELUM TIRAKAT
40 BAB 40 MAKAN SAHUR
41 BAB 41 TIRAKAT HARI PERTAMA HARUMA
42 BAB 42 PANGGILAN SPESIAL BAGI MEREKA BERDUA
43 BAB 43 UJIAN BATIN UNTUK TIRAKAT HARUMA
44 BAB 44 "GIMANA? APA YANG KAMU RASAIN, NISA?"
45 BAB 45 PERINGATAN DARI SEKAR ARUM
46 BAB 46 HARI KE DUA, KE TIGA, DAN BEBERAPA HARI SETELAH TIRAKAT HARUMA
47 BAB 47 "HADIAH SPESIAL UNTUK HARUMA"
48 BAB 48 KECERIAAN SEPULANG SEKOLAH
49 BAB 49 "GIMANA KABAR MEREKA?"
50 BAB 50 CANDAAN TENTANG JODOH UNTUKKU
51 BAB 51 KEISENGAN YANG BERBAHAYA
52 BAB 52 "JANGAN KAMU ULANGI LAGI YA, DEK..."
53 BAB 53 PERASAAN BANGGA
54 BAB 54 DUA CERITA
55 BAB 55 KABAR DARI RUMAH SAKIT
56 BAB 56 "KAMU AKAN MELIHAT DUA DUNIA"
57 BAB 57 MATA YANG SANGAT INDAH MILIK HARUMA
58 BAB 58 CANDAAN HARUMI
59 BAB 59 SOSOK TIGA PEREWANGAN GHOIB
60 BAB 60 SERAGAM SMA NEGERI
61 BAB 61 BENTURAN ENERGI GHOIB DI SEKOLAH
62 BAB 62 EKSKUL "SISPALA" (SISWA PECINTA ALAM)
63 BAB 63 FIRASAT YANG KALAH DENGAN KASIH SAYANG
64 BAB 64 PERJALANAN KELAS X YANG TERASA SINGKAT
65 BAB 65 PERDEBATAN KECIL
66 BAB 66 "BU... AKU PERGI YA..."
Episodes

Updated 66 Episodes

1
BAB 1 PROLOG (Ending Dari TIRAKAT 3)
2
BAB 2 "IBU, JANGAN PANGGIL AKU GENDIS LAGI YA..."
3
BAB 3 SOSOK BERMAHKOTA HITAM
4
BAB 4 MEMORI MASA LALU
5
BAB 5 "LOH?! KAMU MASIH ADA DISINI?!"
6
BAB 6 "ANAKMU BUKAN MANUSIA BIASA, NISA..."
7
BAB 7 "JELASKAN PADAKU, SIAPA KAMU SEBENARNYA?"
8
BAB 8 TINGKATAN KEKUATAN BANGSA PEREWANGAN
9
BAB 9 AKTIFITAS SEPERTI BIASA
10
BAB 10 PERASAAN TAK NYAMAN
11
BAB 11 PENGAKUAN HARUM YANG MENGEJUTKANKU
12
BAB 12 "APAKAH SUDAH WAKTUNYA, AKU AJARKAN TIRAKATKU PADANYA?"
13
BAB 13 KEHADIRANNYA DI DEPANKU LAGI
14
BAB 14 BERJALAN-JALAN DI MASA LALU IBUKU
15
BAB 15 DUNIA MASA LALU YANG DILIHAT IBUKU
16
BAB 16 PENJELASAN DARI SEKAR ARUM KEPADAKU
17
BAB 17 BERANGKAT SEKOLAH
18
BAB 18 KECERIAAN DI SEKOLAH
19
BAB 19 MURID BARU KELAS 2C
20
BAB 20 PANGGILAN BARU, HARUMA DAN HARUMI...
21
BAB 21 "LOH? SIAPA ANAK ITU?"
22
BAB 22 SEPERTI ANAK KEMBAR SUNGGUHAN
23
BAB 23 "DI CIREBON, BU..."
24
BAB 24 KELUARGA HARUM INTAN PURNAMASARI SEBENARNYA
25
BAB 25 BAPAKKU
26
BAB 26 SILSILAH KELUARGA YANG TAK TERDUGA
27
BAB 27 DUA ANAK DAN SATU "IBU"
28
BAB 28 "HEH!! UDAH MALEM!! MALAH BERISIK!!"
29
BAB 29 KEMBALINYA DAYANG PUTRI, SEKAR MAYANG, DAN SEKAR ARUM
30
BAB 30 "AJARKAN DIA TIRAKATMU..."
31
BAB 31 IZIN TIRAKAT UNTUK HARUMA
32
BAB 32 "MIMPI" HARUMA
33
BAB 33 "MIMPI ANEH" HARUMI UNTUK PERTAMA KALINYA
34
BAB 34 SATU DIMENSI, DUA SUKMA
35
BAB 35 "PENJELASAN" UNTUK HARUMA, DAN "PERJALANAN" UNTUK HARUMI
36
BAB 36 SEBUAH PERTANDA
37
BAB 37 MANDI PEMBUKA SUKMA HARUMA
38
BAB 38 SUKMA HARUMI IKUT TERBUKA TANPA SENGAJA
39
BAB 39 MALAM HARI SEBELUM TIRAKAT
40
BAB 40 MAKAN SAHUR
41
BAB 41 TIRAKAT HARI PERTAMA HARUMA
42
BAB 42 PANGGILAN SPESIAL BAGI MEREKA BERDUA
43
BAB 43 UJIAN BATIN UNTUK TIRAKAT HARUMA
44
BAB 44 "GIMANA? APA YANG KAMU RASAIN, NISA?"
45
BAB 45 PERINGATAN DARI SEKAR ARUM
46
BAB 46 HARI KE DUA, KE TIGA, DAN BEBERAPA HARI SETELAH TIRAKAT HARUMA
47
BAB 47 "HADIAH SPESIAL UNTUK HARUMA"
48
BAB 48 KECERIAAN SEPULANG SEKOLAH
49
BAB 49 "GIMANA KABAR MEREKA?"
50
BAB 50 CANDAAN TENTANG JODOH UNTUKKU
51
BAB 51 KEISENGAN YANG BERBAHAYA
52
BAB 52 "JANGAN KAMU ULANGI LAGI YA, DEK..."
53
BAB 53 PERASAAN BANGGA
54
BAB 54 DUA CERITA
55
BAB 55 KABAR DARI RUMAH SAKIT
56
BAB 56 "KAMU AKAN MELIHAT DUA DUNIA"
57
BAB 57 MATA YANG SANGAT INDAH MILIK HARUMA
58
BAB 58 CANDAAN HARUMI
59
BAB 59 SOSOK TIGA PEREWANGAN GHOIB
60
BAB 60 SERAGAM SMA NEGERI
61
BAB 61 BENTURAN ENERGI GHOIB DI SEKOLAH
62
BAB 62 EKSKUL "SISPALA" (SISWA PECINTA ALAM)
63
BAB 63 FIRASAT YANG KALAH DENGAN KASIH SAYANG
64
BAB 64 PERJALANAN KELAS X YANG TERASA SINGKAT
65
BAB 65 PERDEBATAN KECIL
66
BAB 66 "BU... AKU PERGI YA..."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!