BAB 5 "LOH?! KAMU MASIH ADA DISINI?!"

Entah kenapa, siang ini, aku seperti enggan untuk pulang duluan ke rumah saat Harum masih mengaji di pendopo bersama Nada.

Rasanya...

Aku benar-benar ingin melihat anak angkatku itu mengaji.

Rasanya...

Terlalu mahal nilainya kalau sampai aku melewatkan kesempatan seperti itu.

Bisa melihat Harumku belajar ngaji, menimba ilmu agama bersama teman-temannya, bertambah pengetahuannya, adalah sebuah anugerah besar bagiku.

Sekali lagi, meski aku ini bukan ibu kandung Harum, tapi aku merasa seperti ibu kandungnya.

Akhirnya, aku duduk saja di kursi teras rumah Bu Fatimah, sambil terus memperhatikan anakku itu belajar.

Toh, mengajinya mereka juga tak terlalu lama. Hanya sekitar satu jam saja. Sama seperti dulu saat aku yang masih mengajar di pendopo itu.

.....

.....

"Nis, bengong aja kamu!"

Aku kaget sedikit, mendengar suara Bu Fatimah yang keluar dari dalam rumahnya.

"Eh, Ya Alloh, maaf Bu, saya duduk disini tapi belom izin sama Ibu." kataku.

Aku pun langsung berdiri, mencium tangan kanannya dengan penuh rasa hormat.

"Ah, enggak apa-apa. Kamu tuh, masih aja kayak dulu Nis."

"Hehehe... Maafin Nisa ya Bu, udah gak sopan, duduk sembarangan." kataku.

"Udah, kamu kayak siapa aja sih disini? Kan kamu udah seperti keluarga Ibu sendiri loh dari dulu Nis..." kata Bu Fatimah, dengan wajahnya yang tersenyum penuh keteduhan.

"Lagi anter Harum ya?" tanya Bu Fatimah kemudian.

"Iya Bu..." jawabku.

"Masya Alloh... Hehehe..."

Bu Fatimah malah memandangiku dengan tatapan yang amat bahagia. Dan aku jadi sedikit heran dibuatnya.

"Kenapa toh Bu? Liatin saya kayak gitu..."

"Hehehe... Hebat kamu Nis!"

Aku semakin heran, apa maksudnya?

"Hebat kenapa toh Bu?" tanyaku akhirnya.

Bu Fatimah pun duduk di kursi, dan aku juga ikut duduk lagi di sebelahnya.

"Ya hebat dooong..." kata Bu Fatimah.

"Ya hebat? Maksudnya gimana sih Bu?"

Bu Fatimah mengalihkan pandangannya dariku.

Ia menatap ke arah pendoponya itu.

Terdengar suara Nada yang mengajar, bercampur suara anak-anak yang sesekali sambil bercanda.

Lalu, Bu Fatimah berkata, "Kamu tuh hebat Nisa."

Aku diam saja, menunggu ucapan Bu Fatimah selanjutnya.

"Dulu... Waktu kamu masih ngajar di sini, kamu tuh gadis yang polos. Gadis yang tulus. Gadis yang ikhlas." katanya.

Aku masih memandangi wajah istri Ustadz Furqon itu.

"Terus, semua yang udah terjadi di masa lalu, kamu berkembang jadi gadis yang berbeda Nisa." tambahnya.

Kini, Bu Fatimah memandangku.

"Kamu bisa melewati semuanya sampai detik ini Nis. Hebat!" katanya lagi.

Aku sebenarnya paham dengan maksud dari ucapan istri Ustadz Furqon itu.

Tapi aku dengan sopan, hanya mengangguk saja.

Tak menjawabnya.

Tak membantahnya.

"Sampai kamu bisa bantu suami saya mengurus pondok putri di Kediri, sampai kamu mengalami semua kejadian di masa lalu itu Nis. Kamu hebat!" tambah Bu Fatimah menyanjungku.

Dan aku semakin paham apa maksud ucapannya.

Kini, aku jadi memandang ke arah pendopo.

Aku melihat semua anak-anak itu.

Termasuk juga, aku melihat Harumku.

Dan, Bu Fatimah kembali berkata, "Sampai kamu bisa bertemu anak itu Nisa.."

Masih dengan pandanganku ke arah Harum, aku menjawab, "Iya Bu..."

Tak terasa, mengembang juga senyuman di bibirku.

"Nisa..." panggil Bu Fatimah.

Aku memandangnya lagi.

"Semoga, kamu benar-benar jadi sosok Ibu yang baik buat anak itu ya Nis." ucapnya sambil membelai tangan kananku.

Aku semakin tersenyum.

Kusentuh juga tangan Bu Fatimah.

"Iya Bu, Aamiin..." jawabku.

.....

.....

Singkat waktu, akhirnya kegiatan mengaji di pendopo pun selesai.

Aku berjalan mendekat ke pendopo.

Bahkan, aku ikut masuk.

Nada menutup semua kegiatan mengaji itu dengan meminta Harum untuk membaca doa bersama.

"Hah? Kok aku Bu?" respon Harum kaget.

"Biasanya Haris yang pimpin doa..." keluhnya lagi.

Aku yang melihat tingkah Harum seperti itu, jadi tertawa kecil di belakang.

"Iya dong Harum, kan gantian. Biar semuanya bisa baca doa." kata Nada.

"Yaaah... Jangan aku dong Bu Nadaaa... Aku maluuu..." kata Harum.

"Yeeeh... Jangan malu dong Rum!" kata Haris.

"Aaah... Gak mau aaah... Kamu aja Ris!" kata Harum.

Semua teman-teman Harum mulai meledek anakku itu.

Aku tak marah melihatnya.

Malah, aku merasa itu adalah tantangan yang bagus buat Harum.

Dan akhirnya, aku menyela mereka.

"Ayok Nak! Kamu pasti bisa kok baca doa buat temen-temen kamu!" kataku dari belakang.

"Naaah... Bener tuh! Ayok! Harum! Harum! Harum!" Farhan memberikan semangat.

"Harum! Harum! Harum! Harum!" ucap teman-temannya yang lain menyemangati anakku itu.

Akhirnya, dengan ekspresi agak manyun, mau tak mau, anakku pun belajar untuk membaca doa penutup selesai mengaji.

Dan semuanya tenang.

Dan, mereka semua, termasuk aku, mengangkat kedua tangan saat anakku itu mulai membaca doa.

Setiap kalimat doa, diucapkan dengan baik, walau ada beberapa kali anakku itu seperti terlupa dengan doanya.

Aku mengucapkan "Amin" di setiap baris doa yang diucapnya.

Kembali hadir rasa haru dalam hatiku.

Ternyata, Harum, kini sudah hafal doa penutup pengajian.

"Robbanaaa... Aatinaa... Fidunyaaa... Hasanah. Wafil aakhiroti hasanah. Waqinaa... Adzabannaar... Walhamdulillah hirobbil alamiin..." ucap anakku, selesai doa.

Semuanya mengucapkan "Amin" serentak, sambil mengusap wajah.

"Naaah... Kamu bisa kaaan?" kata Nada.

"Hehehehe..." anakku malah cengengesan.

Akhirnya, semua anak-anak berdiri rapi. Dan mulai satu persatu, bersaliman dengan Nada.

Sebagian besar mereka pulang dengan berjalan kaki. Ada juga yang dijemput oleh orang tuanya.

Dan, aku serta Harum, kembali pulang sambil berjalan kaki.

.....

.....

Singkat cerita, aku pulang bersama Harum. Melewati jalan desa yang biasa dilewati sejak dulu saat aku masih mengajar. Sama seperti tadi saat berangkat.

Dan seperti biasa, beberapa warga yang berpapasan dengan kami, menyapa singkat dengan hangat.

Dan...

Akhirnya...

Sampailah kami berdua di sebuah jalan.

Sebuah jalan, yang tepat melewati area pemakaman desa.

Kini, kondisi pemakaman itu sudah jauh lebih rapi dari pada waktu dulu.

Seluruh area pemakaman itu sudah dipasangi pagar tembok yang cukup tinggi. Sehingga barisan makam-makan di dalamnya tak bisa terlihat dari luar.

Namun, ada satu bangunan di sana, yang berada tepat di sebelah pintu gerbang pemakaman itu.

Bangunan itu...

Adalah pos area makam.

Meski bangunannya juga sudah permanen, akan tetapi...

Saat aku melihatnya...

Seketika ingatanku kembali lagi ke masa lalu.

"Bu? Kok jadi pelan sih jalannya?" tanya Harum.

"Enggak apa-apa Nak." jawabku.

"Ibu liat apa?"

"Emm... Liat makam." jawabku dengan sembrono.

Aku juga jadi tak mengerti, kenapa bisa aku malah menjawab enteng seperti itu pada Harum?

"Hah? Liatin makam? Emang kenapa Bu makamnya? Rusak?" tanya Harum dengan polosnya.

"Enggak kok, enggak rusak Rum."

"Terus kenapa malah Ibu liatin? Ayok ah! Jalannya cepetan Bu! Takut aku jadinya!" kata anakku, sambil menarik tanganku yang menuntunnya agak keras.

"Eh, iya-iya... Pelan-pelan ah jalannya! Nanti kesandung loh kamu Rum!" kataku.

Akhirnya, aku pun sedikit mempercepat langkah, mengikuti irama langkah anakku.

Dia masih berjalan dengan tongkatnya di tangan kanan, dan tangan kirinya aku tuntun.

Namun...

Terjadi dengan sangat cepat...

Dan aku seperti tak menyadarinya...

"Gubrak!!!" anakku tersandung sesuatu di depannya.

"Aduh!!!" respon Harum spontan.

"Eh?! Astaghfirulloh!! Aduh, kan udah Ibu bilang Rum, pelan-pelan aja jalannya..." kataku.

Aku membangunkannya.

Kubersihkan rok gamisnya yang sedikit kotor.

Akan tetapi, ada sebuah keanehan di pandangan mataku.

Tepat di antara kedua kaki anakku itu, ada sebuah kayu ranting agak besar.

"Loh? Dari kapan ada kayu disini?" gumamku.

Sontak, aku jadi mendongak ke atas.

Kulihat barisan cabang-cabang pepohonan di atas sana.

"Perasaan, gak ada kayu jatoh dari tadi deh?" gumamku lagi.

Harum, masih berusaha membersihkan rok gamisnya sendiri.

Kuacuhkan saja keanehan itu.

"Kamu gak apa-apa kan Nak?" tanyaku.

"Enggak apa-apa Bu, aku cuma kayak kesandung sesuatu aja barusan." jawabnya.

"Ya udah, ayok, jalan lagi. Pelan-pelan aja ya. Kan ada Ibu disini." kataku.

.....

.....

Namun...

.....

.....

Ketika baru saja kaki kami berdua hendak berjalan lagi...

.....

.....

Tiba-tiba, aku menahan tangan anakku.

Harum tak jadi melangkah, sama sepertiku.

.....

.....

Aku menarik napas, dan menghembuskannya dengan agak kesal.

Tapi, bukan kesal karena Harum.

.....

.....

Melainkan kesal, karena...

Di depan kami, berjarak beberapa meter saja, telah berdiri satu sosok.

.....

.....

Sosok itu...

GILANG.

.....

.....

Dengan mendengus sedikit kesal, aku berkata spontan pada sosok Gilang itu.

"Loh?! Kamu masih ada disini?!"

Episodes
1 BAB 1 PROLOG (Ending Dari TIRAKAT 3)
2 BAB 2 "IBU, JANGAN PANGGIL AKU GENDIS LAGI YA..."
3 BAB 3 SOSOK BERMAHKOTA HITAM
4 BAB 4 MEMORI MASA LALU
5 BAB 5 "LOH?! KAMU MASIH ADA DISINI?!"
6 BAB 6 "ANAKMU BUKAN MANUSIA BIASA, NISA..."
7 BAB 7 "JELASKAN PADAKU, SIAPA KAMU SEBENARNYA?"
8 BAB 8 TINGKATAN KEKUATAN BANGSA PEREWANGAN
9 BAB 9 AKTIFITAS SEPERTI BIASA
10 BAB 10 PERASAAN TAK NYAMAN
11 BAB 11 PENGAKUAN HARUM YANG MENGEJUTKANKU
12 BAB 12 "APAKAH SUDAH WAKTUNYA, AKU AJARKAN TIRAKATKU PADANYA?"
13 BAB 13 KEHADIRANNYA DI DEPANKU LAGI
14 BAB 14 BERJALAN-JALAN DI MASA LALU IBUKU
15 BAB 15 DUNIA MASA LALU YANG DILIHAT IBUKU
16 BAB 16 PENJELASAN DARI SEKAR ARUM KEPADAKU
17 BAB 17 BERANGKAT SEKOLAH
18 BAB 18 KECERIAAN DI SEKOLAH
19 BAB 19 MURID BARU KELAS 2C
20 BAB 20 PANGGILAN BARU, HARUMA DAN HARUMI...
21 BAB 21 "LOH? SIAPA ANAK ITU?"
22 BAB 22 SEPERTI ANAK KEMBAR SUNGGUHAN
23 BAB 23 "DI CIREBON, BU..."
24 BAB 24 KELUARGA HARUM INTAN PURNAMASARI SEBENARNYA
25 BAB 25 BAPAKKU
26 BAB 26 SILSILAH KELUARGA YANG TAK TERDUGA
27 BAB 27 DUA ANAK DAN SATU "IBU"
28 BAB 28 "HEH!! UDAH MALEM!! MALAH BERISIK!!"
29 BAB 29 KEMBALINYA DAYANG PUTRI, SEKAR MAYANG, DAN SEKAR ARUM
30 BAB 30 "AJARKAN DIA TIRAKATMU..."
31 BAB 31 IZIN TIRAKAT UNTUK HARUMA
32 BAB 32 "MIMPI" HARUMA
33 BAB 33 "MIMPI ANEH" HARUMI UNTUK PERTAMA KALINYA
34 BAB 34 SATU DIMENSI, DUA SUKMA
35 BAB 35 "PENJELASAN" UNTUK HARUMA, DAN "PERJALANAN" UNTUK HARUMI
36 BAB 36 SEBUAH PERTANDA
37 BAB 37 MANDI PEMBUKA SUKMA HARUMA
38 BAB 38 SUKMA HARUMI IKUT TERBUKA TANPA SENGAJA
39 BAB 39 MALAM HARI SEBELUM TIRAKAT
40 BAB 40 MAKAN SAHUR
41 BAB 41 TIRAKAT HARI PERTAMA HARUMA
42 BAB 42 PANGGILAN SPESIAL BAGI MEREKA BERDUA
43 BAB 43 UJIAN BATIN UNTUK TIRAKAT HARUMA
44 BAB 44 "GIMANA? APA YANG KAMU RASAIN, NISA?"
45 BAB 45 PERINGATAN DARI SEKAR ARUM
46 BAB 46 HARI KE DUA, KE TIGA, DAN BEBERAPA HARI SETELAH TIRAKAT HARUMA
47 BAB 47 "HADIAH SPESIAL UNTUK HARUMA"
48 BAB 48 KECERIAAN SEPULANG SEKOLAH
49 BAB 49 "GIMANA KABAR MEREKA?"
50 BAB 50 CANDAAN TENTANG JODOH UNTUKKU
51 BAB 51 KEISENGAN YANG BERBAHAYA
52 BAB 52 "JANGAN KAMU ULANGI LAGI YA, DEK..."
53 BAB 53 PERASAAN BANGGA
54 BAB 54 DUA CERITA
55 BAB 55 KABAR DARI RUMAH SAKIT
56 BAB 56 "KAMU AKAN MELIHAT DUA DUNIA"
57 BAB 57 MATA YANG SANGAT INDAH MILIK HARUMA
58 BAB 58 CANDAAN HARUMI
59 BAB 59 SOSOK TIGA PEREWANGAN GHOIB
60 BAB 60 SERAGAM SMA NEGERI
61 BAB 61 BENTURAN ENERGI GHOIB DI SEKOLAH
62 BAB 62 EKSKUL "SISPALA" (SISWA PECINTA ALAM)
63 BAB 63 FIRASAT YANG KALAH DENGAN KASIH SAYANG
64 BAB 64 PERJALANAN KELAS X YANG TERASA SINGKAT
65 BAB 65 PERDEBATAN KECIL
66 BAB 66 "BU... AKU PERGI YA..."
Episodes

Updated 66 Episodes

1
BAB 1 PROLOG (Ending Dari TIRAKAT 3)
2
BAB 2 "IBU, JANGAN PANGGIL AKU GENDIS LAGI YA..."
3
BAB 3 SOSOK BERMAHKOTA HITAM
4
BAB 4 MEMORI MASA LALU
5
BAB 5 "LOH?! KAMU MASIH ADA DISINI?!"
6
BAB 6 "ANAKMU BUKAN MANUSIA BIASA, NISA..."
7
BAB 7 "JELASKAN PADAKU, SIAPA KAMU SEBENARNYA?"
8
BAB 8 TINGKATAN KEKUATAN BANGSA PEREWANGAN
9
BAB 9 AKTIFITAS SEPERTI BIASA
10
BAB 10 PERASAAN TAK NYAMAN
11
BAB 11 PENGAKUAN HARUM YANG MENGEJUTKANKU
12
BAB 12 "APAKAH SUDAH WAKTUNYA, AKU AJARKAN TIRAKATKU PADANYA?"
13
BAB 13 KEHADIRANNYA DI DEPANKU LAGI
14
BAB 14 BERJALAN-JALAN DI MASA LALU IBUKU
15
BAB 15 DUNIA MASA LALU YANG DILIHAT IBUKU
16
BAB 16 PENJELASAN DARI SEKAR ARUM KEPADAKU
17
BAB 17 BERANGKAT SEKOLAH
18
BAB 18 KECERIAAN DI SEKOLAH
19
BAB 19 MURID BARU KELAS 2C
20
BAB 20 PANGGILAN BARU, HARUMA DAN HARUMI...
21
BAB 21 "LOH? SIAPA ANAK ITU?"
22
BAB 22 SEPERTI ANAK KEMBAR SUNGGUHAN
23
BAB 23 "DI CIREBON, BU..."
24
BAB 24 KELUARGA HARUM INTAN PURNAMASARI SEBENARNYA
25
BAB 25 BAPAKKU
26
BAB 26 SILSILAH KELUARGA YANG TAK TERDUGA
27
BAB 27 DUA ANAK DAN SATU "IBU"
28
BAB 28 "HEH!! UDAH MALEM!! MALAH BERISIK!!"
29
BAB 29 KEMBALINYA DAYANG PUTRI, SEKAR MAYANG, DAN SEKAR ARUM
30
BAB 30 "AJARKAN DIA TIRAKATMU..."
31
BAB 31 IZIN TIRAKAT UNTUK HARUMA
32
BAB 32 "MIMPI" HARUMA
33
BAB 33 "MIMPI ANEH" HARUMI UNTUK PERTAMA KALINYA
34
BAB 34 SATU DIMENSI, DUA SUKMA
35
BAB 35 "PENJELASAN" UNTUK HARUMA, DAN "PERJALANAN" UNTUK HARUMI
36
BAB 36 SEBUAH PERTANDA
37
BAB 37 MANDI PEMBUKA SUKMA HARUMA
38
BAB 38 SUKMA HARUMI IKUT TERBUKA TANPA SENGAJA
39
BAB 39 MALAM HARI SEBELUM TIRAKAT
40
BAB 40 MAKAN SAHUR
41
BAB 41 TIRAKAT HARI PERTAMA HARUMA
42
BAB 42 PANGGILAN SPESIAL BAGI MEREKA BERDUA
43
BAB 43 UJIAN BATIN UNTUK TIRAKAT HARUMA
44
BAB 44 "GIMANA? APA YANG KAMU RASAIN, NISA?"
45
BAB 45 PERINGATAN DARI SEKAR ARUM
46
BAB 46 HARI KE DUA, KE TIGA, DAN BEBERAPA HARI SETELAH TIRAKAT HARUMA
47
BAB 47 "HADIAH SPESIAL UNTUK HARUMA"
48
BAB 48 KECERIAAN SEPULANG SEKOLAH
49
BAB 49 "GIMANA KABAR MEREKA?"
50
BAB 50 CANDAAN TENTANG JODOH UNTUKKU
51
BAB 51 KEISENGAN YANG BERBAHAYA
52
BAB 52 "JANGAN KAMU ULANGI LAGI YA, DEK..."
53
BAB 53 PERASAAN BANGGA
54
BAB 54 DUA CERITA
55
BAB 55 KABAR DARI RUMAH SAKIT
56
BAB 56 "KAMU AKAN MELIHAT DUA DUNIA"
57
BAB 57 MATA YANG SANGAT INDAH MILIK HARUMA
58
BAB 58 CANDAAN HARUMI
59
BAB 59 SOSOK TIGA PEREWANGAN GHOIB
60
BAB 60 SERAGAM SMA NEGERI
61
BAB 61 BENTURAN ENERGI GHOIB DI SEKOLAH
62
BAB 62 EKSKUL "SISPALA" (SISWA PECINTA ALAM)
63
BAB 63 FIRASAT YANG KALAH DENGAN KASIH SAYANG
64
BAB 64 PERJALANAN KELAS X YANG TERASA SINGKAT
65
BAB 65 PERDEBATAN KECIL
66
BAB 66 "BU... AKU PERGI YA..."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!