UKS

Aroma tajam minyak kayu putih dan antiseptik menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Aleta. Perlahan, ia mengerjapkan matanya yang terasa berat. Langit-langit putih bersih dan gorden pembatas berwarna hijau muda membuat Aleta tersadar bahwa ia sedang berada di UKS sekolah.

"Udah bangun?"

Suara berat dan dingin itu seketika membuat kesadaran Aleta pulih. Gadis itu menoleh cepat. Di samping brangkar, seorang cowok tinggi tegap dengan kemeja OSIS yang dua kancing teratasnya sudah terbuka sedang menatapnya datar.

Aleta refleks menarik selimut hingga sebatas dada. Ia mencoba mengingat-ingat siapa cowok ini. Wajahnya memang familier karena tadi berdiri di podium lapangan, tapi jujur saja, sebagai murid baru yang tidak terlalu peduli dengan sekitar, Aleta sama sekali tidak tahu—dan tidak minat mencari tahu—siapa nama Kakak Senior di hadapannya ini.

Alden itu bangkit dari kursinya. Langkah kakinya terdengar santai namun mengintimidasi saat ia berjalan mendekati brangkar. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah papan kardus yang tali rapia yag sudah putus.

Itu papan nametag milik Aleta yang lepas saat ia pingsan tadi.

Alden berjalan pelan, matanya menunduk menatap papan kardus tersebut sembari mengeja tulisan spidol di sana dengan nada rendah yang terdengar seksi sekaligus berbahaya.

"Le-ti-cia... Ka-na-ya... Cla-ri-sa..."

Ia berhenti tepat di samping tempat tidur Aleta, lalu melempar pelan papan kardus itu ke atas selimut di pangkuan Aleta. Tatapan matanya yang setajam elang kini mengunci manik mata gadis itu.

"Nama yang bagus. Tapi sayangnya, fisik pemiliknya lemah banget," ucap cowok itu ketus.

"Kamu pingsan di putaran kelima."

Aleta meremas papan kardus miliknya dengan canggung.

"Maaf, Kak... dan makasih udah bawa aku ke sini," cicitnya pelan, merasa tidak enak hati sekaligus gugup karena ditatap begitu lekat.

Aleta menerima gelas itu dengan canggung. Berniat ingin segera meminumnya agar rasa pening di kepalanya mereda, gadis itu langsung mencoba bangun dari posisi tidurnya untuk duduk.

Namun, rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya, membuat pandangannya berputar dan keseimbangannya goyah.

"Eh—"

Melihat Aleta yang hampir limbung, refleks Alden langsung bergerak maju. Tangan kekarnya dengan cepat menahan punggung Aleta, sementara tangan satunya lagi menopang pundak gadis itu agar tidak kembali terhempas ke brangkar.

Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba itu membuat jantung Aleta mendadak berdegup sangat kencang, hingga rasanya mau melompat keluar dari dadanya.

Aleta terpaku dengan mata membelalak. Posisi mereka sekarang teramat dekat. Wajah Alden hanya berjarak beberapa sentimeter saja di depannya, hingga deru napas hangat cowok itu berembus lembut menyapu permukaan wajah Aleta. Untuk beberapa detik yang terasa sangat lama, waktu seolah berhenti di antara mereka. Aleta bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wangi samar mint dari tubuh sang Ketua OSIS yang begitu memabukkan.

Alden tidak langsung menjauh. Matanya yang tajam menatap dalam ke manik mata Aleta yang bergetar panik, lalu turun menatap bibir pucat gadis itu.

Aleta terpaku, otaknya seolah macet karena deru napas Alden yang masih terasa hangat di kulit wajahnya. Namun, rasa gugup yang berlebihan justru membuat insting pertahanan diri Aleta mengambil alih. Dengan gerakan refleks yang kaku, gadis itu mendorong dada bidang Alden agar menjauh.

"Ma-maaf, Kak!" seru Aleta panik.

Dorongan itu cukup kuat hingga Alden mundur selangkah, namun kesialan tidak berhenti di sana. Gelas teh di tangan Aleta yang belum sempat ia minum ikut terguncang hebat. Cairan cokelat hangat itu tumpah seketika, mengguyur bagian depan seragam sekolah Aleta hingga basah kuyup.

"Aduh!" pekik Aleta. Ia meringis saat merasakan hawa panas teh itu meresap ke kulitnya melalui kain seragam yang basah.

Suasana yang tadinya intens dan menegangkan mendadak berubah menjadi canggung. Alden terdiam, menatap noda teh yang melebar di seragam putih Aleta dengan tatapan datar—bahkan sedikit geli. Cowok itu menyilangkan tangan di dada, memperhatikan Aleta yang kini sibuk berusaha membersihkan bajunya dengan ujung selimut, yang justru malah membuat bajunya makin berantakan.

"Ceroboh," komentar Alden singkat, namun kali ini ada nada sarkasme yang kental dalam suaranya.

Aleta menggigit bibir bawahnya, merasa ingin menghilang saja dari muka bumi. Pingsan di lapangan sudah cukup memalukan, sekarang ia harus basah kuyup terkena teh di depan cowok yang bahkan tidak ia ketahui namanya ini.

Suasana di dalam UKS mendadak hening. Tatapan Alden yang semula dingin, perlahan turun dan menyusuri penampilan Aleta dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Detik itu juga, sebuah perasaan asing menyelinap masuk ke dalam dada Alden. Ada desir aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—sebuah letupan kecil yang membuat jantungnya sendiri ikut berdegup tidak karuan.

Desir itu seketika membuat Alden merasa kikuk dan salah tingkah sendiri. Pasalnya, noda teh manis yang basah kuyup itu membuat kain seragam putih Aleta menjadi semi-transparan, hingga mencetak jelas lekuk tubuh gadis itu di balik pakaiannya.

Alden berdeham pelan, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Untuk pertama kalinya, sang Ketua OSIS yang selalu meledak-ledak dan berkuasa itu kehilangan kata-kata dan merasa bingung harus berbuat apa.

Sementara Aleta yang masih sibuk mengelap bajunya, sama sekali belum menyadari perubahan ekspresi di wajah cowok di dekatnya itu.

Alden membuang muka, mengepalkan kedua tangannya erat di dalam saku celana. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk diam dan menahan diri agar tidak kembali memandang ke arah gadis di hadapannya. Namun, pertahanannya goyah. Dorongan aneh di dalam dirinya jauh lebih kuat, memaksa Alden untuk kembali memutar tubuh dan menatap Aleta.

Melihat Aleta yang masih tampak polos dan tidak sadar dengan kondisinya sendiri, rahang Alden mengeras.

"Jangan ke mana-mana. Tetap di sini," perintah Alden dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat berat, mutlak, dan tidak boleh dibantah.

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi dari Aleta, Alden langsung berbalik dan bergegas melangkah lebar keluar dari ruang UKS.

Brak!

Pintu kayu itu ditutup dengan kasar. Tak lama setelahnya, terdengar bunyi klik yang nyaring.

klek! Prrrtt. (Suara kunci berputar)

Alden mengunci pintu UKS itu rapat-rapat dari luar!

Aleta sentak tertegun. Detik berikutnya, kesadarannya penuh bahwa ia baru saja dikurung di dalam ruangan medis ini sendirian. Rasa panik langsung menjalar, membuat Aleta refleks bangkit berdiri dari brangkar, mengabaikan rasa pening yang masih sedikit tersisa di kepalanya.

Ia berlari kecil mendekati pintu, lalu mencengkeram gagang pintu dan mencobanya berulang kali.

Tek, tek, tek!

Nihil. Gagang pintu itu keras dan sama sekali tidak bisa digerakkan.

"Kak? Kakak Senior!" seru Aleta sambil mengetuk-ngetuk permukaan pintu dengan bingung.

"Kenapa dikunci?! Kak, buka pintunya!"

💽💽💽

Rasa bingung Aleta seketika berubah menjadi ketakutan yang nyata. Suasana di dalam ruang UKS mendadak terasa begitu mencekam. Ruangan ini sangat sunyi, hanya ada suara detak jarum jam dinding yang terdengar lambat namun konstan, seolah sedang menghitung mundur sesuatu.

Ditambah lagi, gorden-gorden pembatas brangkar yang sedikit tertutup membuat ruangan luas ini terasa agak gelap dan remang-remang. Bayangan pohon di luar jendela yang bergoyang terkena angin terpantul di dinding, menciptakan siluet-siluet tinggi yang menakutkan bagi Aleta.

Aleta mundur beberapa langkah menjauhi pintu, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan karena seragamnya yang basah. Bulu kuduknya meremang hebat. Sejak kecil, Aleta memang paling tidak bisa berada di tempat sunyi dan terisolasi seperti ini sendirian.

"Kak... tolong buka pintunya. Jangan bercanda kayak gini, nggak lucu," bisik Aleta dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis. Matanya bergerak liar menatap ke sekeliling sudut ruangan, merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengawasinya dalam kegelapan.

Kedua lututnya mendadak lemas. Aleta kembali mundur hingga punggungnya membentur tepian brangkar, lalu ia merosot duduk di lantai dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Ia benar-benar merasa takut dan tidak berdaya sekarang.

💽💽💽

klek.

Beberapa menit kemudian, suara kunci berputar memecah keheningan yang mencekam itu. Pintu UKS terbuka lebar, menampilkan sosok Alden yang berdiri di ambang pintu. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah jaket kulit hitam miliknya yang beraroma maskulin kuat, berniat untuk memakaikannya pada Aleta demi menutupi pakaian gadis itu yang basah.

Namun, alis Alden langsung bertaut rapat saat pandangannya tertuju pada brangkar tempat Aleta berbaring tadi. Kosong.

Alden melangkah masuk, lalu menyusuri dan menyibak setiap gorden pembatas brangkar satu per satu dengan gerakan cepat. Nihil. Perempuan itu tetap tidak ada di atas tempat tidur mana pun.

"leticia?" panggil Alden, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.

Tepat sebelum Alden mulai merasa kesal, sebuah suara tangisan samar dan begitu kecil di pojok ruangan dekat ujung brangkar terakhir terdengar oleh indra pendengarannya.

Alden menoleh ke arah sumber suara. Iya, itu Aleta. Gadis itu terduduk di lantai pojok yang agak remang, menyembunyikan seluruh wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk erat. Tubuh mungilnya tampak agak bergetar hebat menahan tangis agar tidak meledak.

Melihat pemandangan di depannya—seorang gadis yang tadi pagi terlihat acuh tak acuh, sekarang justru meringkuk ketakutan hanya karena dikunci sebentar di dalam ruangan sepi—membuat sudut bibir Alden berkedut. Sisi arogan di dalam dirinya ingin sekali menertawakan kepolosan dan sifat penakut Aleta saat itu juga.

💽💽💽

Duhh kedepan nya gimana yaa😭

Terpopuler

Comments

author_rabbit18✍︎

author_rabbit18✍︎

emang Alden belum lancar membaca yaa, Thor? harus di eja yaa...

tapi ngak apa-apalah, asalkan di ganteng😙

2026-07-28

2

Miu.Nuha

Miu.Nuha

jangan main2 ya alden
aku takut aleta trauma tauk

2026-07-21

3

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

har ari silaing!!! ek teu pingsan kumaha lapangan sagede lapang nasional sepak bola di pake lumpat ku budak aww, mikir sateh!!! modar aing mah saputeran ge badag ku bujur.. pi omongeun wae kahim!!! /Bomb//Bomb//Bomb/

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Baru
2 UKS
3 papan nama di tangan sang ketua
4 pusat perhatian di aula
5 Hukuman
6 Rumah Alden
7 paksaan
8 monster?
9 first kiss
10 gilaaaa
11 Rasa bersalah
12 latar belakang
13 suasana asing
14 perasaan khawatir Alden
15 manifulatif
16 paksaan 1
17 paksaan 2
18 kerapuhan seorang Leticia Kanaya Clarisa
19 di balik semuanya.
20 pelarian kecil Aleta
21 studing pertaruhan
22 bagian rencana Alden
23 Berhasil nya Rencana.
24 kenyataan pahit
25 kepedulian Marsha
26 pion catur Alden
27 Drama
28 satu malam bagian 1
29 pertunangan/pemaksaan
30 satu malam bagian 2
31 satu malam bagian 3
32 satu malam terakhir
33 pagi yang terasa lain
34 tekad bulat aleta
35 langkah berani aleta
36 Angkasa Daneswara
37 pengejaran 1
38 awal kehidupan Aleta
39 satu kenyataan
40 satu sup hangat, satu lagi harapan
41 perasaan aneh
42 perasaan aneh 2
43 momentum hangat
44 perasaan jujur angkasa
45 sisi lain
46 pengakuan sakit Aleta
47 pengejaran 2
48 pengejaran 3
49 kemenangan Alden kekalahan angkasa
50 awal mula kehancuran Alden arsenio malik
51 kebebasan?
52 kebebasan? bagian 2
53 pelepasan Alden
54 pembalasan Alden bagian 1
55 pembalasan Alden bagian 2
56 permainan jari alden
57 perasaan Bingung angkasa bagian 1
58 perasaan bingung angkasa
59 penaklukan Aleta bagian 1
60 titik kebenaran
61 lampion yang meredup
62 amukan Alden
63 penaklukan Aleta bagian 2
64 permainan Alden
65 kehancuran leticia kanaya Clarisa
66 Deru Nafas
67 fakta sebenarnya
68 perubahan sikap Alden
69 kejujuran Alden
70 tangisan Alden
71 Awal hancur nya Rania
72 awal mulai kehidupan baru
73 satu senyuman Aleta satu tekad Alden.
74 kejanggalan
75 bidak catur yang lain
76 suasana yang lain
77 bab baru
78 kedekatan awal
79 sembuh
80 penangkapan Rania
81 kehancuran
82 Alden yang lain
83 pelepasan
84 kehancuran terakhir
85 keberhasilan angkasa
86 kekhawatiran angkasa
87 obsesi gila Alden arsenio malik Mahendra 1
88 2
89 ketidakberdayaan
90 ketidakberdayaan 2
91 perasaan
92 babak kehidupan baru.
93 tangisan pertama kali aletaa
94 ketahudirian Alden hidup baru aleta
95 kehidupan baru
96 kelegaan
97 kelulusan alden
98 perayaan kecill
99 kesadaran dan rasa sakit
100 hampir akhir
101 akhir
102 epilog
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Awal Baru
2
UKS
3
papan nama di tangan sang ketua
4
pusat perhatian di aula
5
Hukuman
6
Rumah Alden
7
paksaan
8
monster?
9
first kiss
10
gilaaaa
11
Rasa bersalah
12
latar belakang
13
suasana asing
14
perasaan khawatir Alden
15
manifulatif
16
paksaan 1
17
paksaan 2
18
kerapuhan seorang Leticia Kanaya Clarisa
19
di balik semuanya.
20
pelarian kecil Aleta
21
studing pertaruhan
22
bagian rencana Alden
23
Berhasil nya Rencana.
24
kenyataan pahit
25
kepedulian Marsha
26
pion catur Alden
27
Drama
28
satu malam bagian 1
29
pertunangan/pemaksaan
30
satu malam bagian 2
31
satu malam bagian 3
32
satu malam terakhir
33
pagi yang terasa lain
34
tekad bulat aleta
35
langkah berani aleta
36
Angkasa Daneswara
37
pengejaran 1
38
awal kehidupan Aleta
39
satu kenyataan
40
satu sup hangat, satu lagi harapan
41
perasaan aneh
42
perasaan aneh 2
43
momentum hangat
44
perasaan jujur angkasa
45
sisi lain
46
pengakuan sakit Aleta
47
pengejaran 2
48
pengejaran 3
49
kemenangan Alden kekalahan angkasa
50
awal mula kehancuran Alden arsenio malik
51
kebebasan?
52
kebebasan? bagian 2
53
pelepasan Alden
54
pembalasan Alden bagian 1
55
pembalasan Alden bagian 2
56
permainan jari alden
57
perasaan Bingung angkasa bagian 1
58
perasaan bingung angkasa
59
penaklukan Aleta bagian 1
60
titik kebenaran
61
lampion yang meredup
62
amukan Alden
63
penaklukan Aleta bagian 2
64
permainan Alden
65
kehancuran leticia kanaya Clarisa
66
Deru Nafas
67
fakta sebenarnya
68
perubahan sikap Alden
69
kejujuran Alden
70
tangisan Alden
71
Awal hancur nya Rania
72
awal mulai kehidupan baru
73
satu senyuman Aleta satu tekad Alden.
74
kejanggalan
75
bidak catur yang lain
76
suasana yang lain
77
bab baru
78
kedekatan awal
79
sembuh
80
penangkapan Rania
81
kehancuran
82
Alden yang lain
83
pelepasan
84
kehancuran terakhir
85
keberhasilan angkasa
86
kekhawatiran angkasa
87
obsesi gila Alden arsenio malik Mahendra 1
88
2
89
ketidakberdayaan
90
ketidakberdayaan 2
91
perasaan
92
babak kehidupan baru.
93
tangisan pertama kali aletaa
94
ketahudirian Alden hidup baru aleta
95
kehidupan baru
96
kelegaan
97
kelulusan alden
98
perayaan kecill
99
kesadaran dan rasa sakit
100
hampir akhir
101
akhir
102
epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!