Jebakan di Basemen Parkir

Suara ketukan sepatu hak tinggi Elena bergema di dinding-dinding beton area parkir bawah tanah khusus eksekutif. Langkahnya cepat dan konstan, mencerminkan suasana hatinya yang puas setelah berhasil membuat Arthur menandatangani kontrak kerja sama tanpa berkutik. Di tangan kanannya, Elena memeluk map kulit berisi dokumen berharga yang akan menjadi tiket masuknya untuk merebut kembali putri kandungnya.

​"Kerja bagus, Mama. Aku melihat wajah pria tua itu di layar monitor ruang kontrol. Dia tampak seperti baru saja menelan seekor lalat hidup," suara Leon terdengar renyah dari earpiece nirkabel yang terpasang di telinga kiri Elena.

​Elena terkekeh pelan, menekan tombol pada kunci otomatisnya hingga lampu mobil SUV hitam mewah di depannya berkedip. "Ini baru permulaan, Leon. Pria itu belum melihat apa-apa. Bagaimana dengan situasi di kediaman Arkananta? Apakah kamu sudah berhasil melacak jadwal Lia?"

​"Sudah, Ma. Setiap hari Selasa dan Kamis sore, Kak Lia selalu dibawa ke kelas balet di kawasan Menteng. Besok adalah hari Selasa. Kita bisa—"

​Ucapan Leon terputus seketika ketika sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik pilar beton besar di samping mobil Elena. Sebelum Elena sempat bereaksi, sebuah tangan kekar dan hangat mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, menarik tubuhnya hingga bersandar pada pintu mobil.

​Brak!

​Elena terperangah. Matanya membelalak menatap sosok pria yang kini mengurung tubuhnya di antara kedua lengan kekar yang bertumpu pada bodi mobil. Aroma parfum maskulin yang sangat familier campuran antara kayu cedar dan mint langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya.

​Arthur Arkananta. Pria itu berdiri begitu dekat, hingga Elena bisa merasakan deru napasnya yang memburu dan tidak teratur. Setelan jas hitamnya sudah tampak sedikit berantakan, dasinya agak longgar, mencerminkan keputusasaan yang coba dia sembunyikan selama rapat berlangsung. Sepasang mata elangnya yang memerah menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Elena, seolah takut jika wanita di hadapannya ini akan menghilang lagi jika dia berkedip.

​"Lepaskan saya, Tuan Arkananta," ucap Elena. Suaranya kembali memadat, dingin, dan penuh penekanan, menyembunyikan keterkejutan yang sempat menyengat dadanya. Dia mencoba menyentak tangannya, namun cengkeraman Arthur justru semakin mengerat, meski tidak sampai menyakitinya.

​"Elena... hentikan sandiwara sialan ini!" suara Arthur serak, bergetar menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. "Eleanor Vance? Nama palsu apa itu?! Kamu Elena, istriku! Kamu masih hidup... dan kamu mengabaikanku seolah aku ini sampah di ruang rapat tadi!"

​Elena menatap Arthur dengan tatapan meremehkan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang teramat dingin. "Istri? Maaf, memori Anda tampaknya agak terganggu, Tuan CEO yang terhormat. Seingat saya, istri Anda sudah mati lima tahun lalu. Bukankah Anda sendiri yang membiarkannya pergi di tengah badai hujan tanpa peduli apakah dia akan mati kelaparan atau tidak?"

​Kalimat Elena menghantam ulu hati Arthur dengan telak. Pria itu tampak tersentak, binar matanya meredup, menyiratkan rasa sakit dan penyesalan yang mendalam.

​"Malam itu... aku tidak tahu kalau Ibu tiri—" Arthur mencoba membela diri, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku mencarimu, Elena! Begitu aku tahu dokumen medis itu palsu dan semua itu hanya fitnah, aku mencarimu ke seluruh penjuru kota! Aku bahkan mengirim orang ke luar negeri setelah mendengar rumor tentangmu, tapi mereka bilang... mereka bilang kamu dan anak kita sudah tidak ada!"

​"Lalu apa gunanya penyesalan Anda sekarang?!" Elena memotong ucapan Arthur dengan nada yang tiba-tiba meninggi. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangannya retak, menampilkan kilatan kemarahan yang membara. Dia mendorong dada bidang Arthur dengan seluruh kekuatannya hingga pria itu terpaksa mundur satu langkah.

​Elena merapikan blazernya yang sedikit kusut dengan gestur elegan, menatap Arthur dengan pandangan penuh kebencian yang murni. "Apakah dengan mencari saya, lima tahun penderitaan saya di jalanan bisa terhapus? Apakah air mata saya bisa kembali? Tidak, Arthur. Hubungan kita sudah selesai sejak malam jahanam itu. Sekarang, saya adalah Eleanor Vance. Dan hubungan kita hanya sebatas bisnis profesional. Jika Anda melanggarnya, saya tidak akan segan-segan membatalkan proyek ini dan menghancurkan reputasi perusahaan Anda."

​Arthur mengepalkan tinjunya, menatap wanita di depannya dengan perasaan campur aduk. Dia bisa merasakan dinding es yang begitu tebal telah dibangun Elena untuk memisahkannya. Namun, di tengah keputusasaannya, mata tajam Arthur tidak sengaja menangkap sesuatu yang ganjil.

​Dari earpiece kecil yang terpasang di telinga Elena, terdengar suara bisikan anak kecil yang cukup jelas di keheningan basemen yang sepi itu.

​"Mama? Apa pria brengsek itu menyakitimu? Aku akan mematikan seluruh aliran listrik di gedung itu sekarang juga!"

​Arthur membeku. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Suara anak kecil? Dan anak itu memanggil Elena dengan sebutan 'Mama'?

​"Siapa... siapa yang sedang berbicara denganmu, Elena?" tanya Arthur dengan suara bergetar, tatapannya beralih menatap tajam ke arah telinga Elena. "Kamu... kamu punya anak?"

​Elena seketika tersentak. Dia tersadar kalau Leon masih terhubung di saluran telepon. Dengan cepat, Elena mematikan tombol koneksi pada earpiece-nya, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin, walau di dalam hatinya dia mulai panik. Rahasia tentang Leon tidak boleh terbongkar sekarang!

​"Itu bukan urusan Anda, Tuan Arkananta," jawab Elena dingin. Dia langsung membuka pintu mobil SUV-nya, masuk ke dalam kemudi, dan menutup pintunya dengan keras sebelum Arthur sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

​Arthur hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya saat mobil mewah Elena melesat pergi meninggalkan area basemen, menyisakan deru mesin yang menggema dan kepulan asap tipis. Pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak, sementara otaknya terus berputar memikirkan suara anak kecil tadi.

​Suara itu... entah mengapa terdengar sangat mirip dengan suara Lia, putri kecilnya yang kini dia rawat di rumah.

Episodes
1 Kepulangan Sang Ratu
2 Pertemuan Panas di Ruang Rapat
3 Jebakan di Basemen Parkir
4 Pertemuan Dia Bocah Genius
5 Kamar Kerja dan Air Mata
6 Hari Pertama di Kandang Macan
7 Perangkap Berkedok Perjalanan Bisnis
8 Terperangkap di Bawah Atap yang sama
9 Pertemuan Dua Singa
10 Jebakan Manis di Meja Makan
11 Berlutut di Bawah Rintik Hujan
12 Tamparan Elegan di Hari Pertama Sekolah
13 Benteng Perlindungan dan Detektif Cilik
14 Badai di Klinik Kecantikan
15 Mahkota yang Kembali Bersinar
16 Badai di Dapur Pagi Hari
17 Ujian dari Sang Singa Tua
18 Runtuhnya Kerajaan Pasir dan Benteng Baru
19 Rencana Paris dan Dua Penumpang Gelap
20 Panggung Balas Dendam di Kota Mode
21 Kilau Sungai Seine dan Janji di Bawah Menara Eiffel
22 Penguasa Baru Dinasti Arkananta
23 Ayunan Golf dan Taruhan Dua Balita
24 Kotak Kayu dan Benang Takdir yang Tersembunyi
25 Sinyal Maladewa dan Tamu yang Tak Diundang
26 Kembang Api Kelinci dan Sandi Ulang Tahun
27 Butik Baru dan Tamu dari Milan
28 Studio Rahasia dan Tebusan Rasa Cemburu
29 Komandan Dapur dan Algoritma Suhu Steak
30 Hari Pertama Sekolah dan Peretas Kelas Kakap
31 Helikopter Pribadi dan Pelarian 2 Jiwa
32 Dansa di Bawah Langit Malam
33 Badai Rumor dan Amarah Sang Alpha
34 Pembungkuk Dunia
35 Agen Internasional dan Negosiasi Cokelat Premium
36 Badai Salju di Jakarta Selatan
37 Sayap Kemewahan dan Rencana ke Paris
38 Dominasi di Kota Mode
39 Sabotase dan Sentuhan Tangan Kecil
40 Takhta Cinta di Atas Panggung Paris
41 Kunci Emas
42 Rahasia Dinding Besi Zurich
43 Tambang Berlian untuk Sang Ratu
44 Kelinci Merah Muda Mengguncang Bursa Saham
45 Mahkota Cahaya di Langit Milan
46 Pengumuman Global di Istana Milan
47 Penguasa yang Kembali
48 Kilau Takhta di Jakarta
Episodes

Updated 48 Episodes

1
Kepulangan Sang Ratu
2
Pertemuan Panas di Ruang Rapat
3
Jebakan di Basemen Parkir
4
Pertemuan Dia Bocah Genius
5
Kamar Kerja dan Air Mata
6
Hari Pertama di Kandang Macan
7
Perangkap Berkedok Perjalanan Bisnis
8
Terperangkap di Bawah Atap yang sama
9
Pertemuan Dua Singa
10
Jebakan Manis di Meja Makan
11
Berlutut di Bawah Rintik Hujan
12
Tamparan Elegan di Hari Pertama Sekolah
13
Benteng Perlindungan dan Detektif Cilik
14
Badai di Klinik Kecantikan
15
Mahkota yang Kembali Bersinar
16
Badai di Dapur Pagi Hari
17
Ujian dari Sang Singa Tua
18
Runtuhnya Kerajaan Pasir dan Benteng Baru
19
Rencana Paris dan Dua Penumpang Gelap
20
Panggung Balas Dendam di Kota Mode
21
Kilau Sungai Seine dan Janji di Bawah Menara Eiffel
22
Penguasa Baru Dinasti Arkananta
23
Ayunan Golf dan Taruhan Dua Balita
24
Kotak Kayu dan Benang Takdir yang Tersembunyi
25
Sinyal Maladewa dan Tamu yang Tak Diundang
26
Kembang Api Kelinci dan Sandi Ulang Tahun
27
Butik Baru dan Tamu dari Milan
28
Studio Rahasia dan Tebusan Rasa Cemburu
29
Komandan Dapur dan Algoritma Suhu Steak
30
Hari Pertama Sekolah dan Peretas Kelas Kakap
31
Helikopter Pribadi dan Pelarian 2 Jiwa
32
Dansa di Bawah Langit Malam
33
Badai Rumor dan Amarah Sang Alpha
34
Pembungkuk Dunia
35
Agen Internasional dan Negosiasi Cokelat Premium
36
Badai Salju di Jakarta Selatan
37
Sayap Kemewahan dan Rencana ke Paris
38
Dominasi di Kota Mode
39
Sabotase dan Sentuhan Tangan Kecil
40
Takhta Cinta di Atas Panggung Paris
41
Kunci Emas
42
Rahasia Dinding Besi Zurich
43
Tambang Berlian untuk Sang Ratu
44
Kelinci Merah Muda Mengguncang Bursa Saham
45
Mahkota Cahaya di Langit Milan
46
Pengumuman Global di Istana Milan
47
Penguasa yang Kembali
48
Kilau Takhta di Jakarta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!