Bayang Bayang Masa Lalu

Kehidupan di dalam penthouse berjalan layaknya roda mekanis yang dingin dan kaku. Dua bulan telah berlalu sejak malam pernikahan yang kelam itu, dan Senja mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai tawanan tak kasat mata.

Setiap sudut ruangan mewah ini telah ia bersihkan dengan tangannya sendiri, meninggalkan jejak-jejak lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat. Namun, ketenangan semu yang dibangun di atas fondasi dendam itu perlahan mulai terusik ketika dunia luar memaksa masuk ke dalam sangkar emas milik Bara Mahendra.

Sore itu, mendung tebal menggantung di langit Jakarta, membawa hawa dingin yang perlahan menembus dinding kaca apartemen. Senja sedang berada di dapur, memotong sayuran untuk menu makan malam Bara, ketika suara bel pintu depan berdenting nyaring.

Senja tersentak. Tangannya tertahan di udara, memegang pisau dapur dengan ragu. Selama dua bulan ini, tidak pernah sekalipun ada tamu yang datang ke tempat ini. Rian, asisten pribadi Bara, adalah satu-satunya orang yang sesekali berkunjung, itu pun hanya untuk mengantar berkas dokumen penting dan selalu mengetuk pintu dengan kode khusus.

Bel kembali berbunyi, kali ini lebih panjang dan tidak sabaran. Dengan langkah ragu, Senja meletakkan pisaunya dan berjalan menuju lobi depan. Jantungnya bertalu-talu. Melalui layar interkom yang terpasang di samping pintu, ia melihat sesosok pria tegap berbalut jaket kulit hitam sedang berdiri dengan gelisah.

Pria itu terus menatap ke arah kamera, menampakkan wajah yang sangat familier di masa lalu Senja.

"Rendra...?" bisik Senja lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Rendra Alatas.

Dia adalah mantan kekasih Senja semasa kuliah di luar negeri, sekaligus putra dari salah satu rekan bisnis lama ayahnya. Hubungan mereka kandas setahun lalu karena jarak dan kesibukan, namun Rendra adalah orang yang paling tahu betapa Senja sangat menyayangi keluarganya.

Senja tahu ia dilarang keras berinteraksi dengan siapa pun dari masa lalunya oleh Bara. Namun, melihat Rendra yang tampak begitu khawatir di depan pintu membuat pertahanan Senja goyah. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol pembuka kunci.

Pintu kayu jati besar itu bergeser terbuka dengan desis halus.

"Senja!" Rendra langsung melangkah maju, kedua tangannya mencengkeram bahu Senja dengan erat. Matanya meneliti wajah Senja dari ujung kepala hingga ujung kaki, menemukan lingkaran hitam di bawah mata gadis itu dan tubuhnya yang tampak jauh lebih kurus.

"Ya Tuhan, Senja... apa yang terjadi padamu? Aku baru kembali ke Indonesia minggu lalu dan mendengar kabar pernikahan mendadak mu dengan Bara Mahendra. Ini gila!"

Senja refleks mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman Rendra dengan halus. Ia menatap ke sekeliling lorong, merasa ketakutan jika ada mata-mata Bara atau kamera pengawas yang sedang merekam momen ini.

"Rendra, kenapa kamu bisa tahu aku di sini? Kamu harus pergi sekarang. Tolong."

"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan penjelasan, Senja!" suara Rendra meninggi, dipenuhi rasa frustrasi.

"Aku sudah menjenguk Om Darma di rumah sakit. Beliau menangis, Senja. Beliau bilang dia terpaksa membiarkanmu menikah dengan pria kejam itu demi menyelamatkan perusahaan. Tapi aku tahu ada yang tidak beres. Pernikahan dongeng apa yang membuat seorang pengantin baru mengurung diri selama dua bulan tanpa media, tanpa teman, dan bahkan memutus semua kontak?"

"Ini pilihanku, Rendra," bohong Senja, suaranya bergetar hebat menahan tangis.

"Mas Bara... dia pria yang baik. Dia menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan. Aku bahagia di sini."

"Bahagia?!" Rendra terkekeh sinis, tatapannya menyiratkan rasa tidak percaya yang mendalam. Ia meraih tangan kanan Senja, membaliknya, dan memperlihatkan telapak tangan Senja yang kini tampak kasar dan memiliki bekas luka goresan keramik yang mengering.

"Tangan seorang putri Amartya tidak pernah seperti ini, Senja! Pria itu memperlakukanmu dengan buruk, bukan? Katakan padaku yang sebenarnya!"

"Lepaskan tangannya."Sebuah suara berat, dalam, dan teramat dingin menginterupsi perdebatan mereka dari arah pintu lift yang baru saja terbuka.

Kedua pasang mata itu seketika menoleh. Bara Mahendra berdiri di sana, menjulang tinggi dengan aura intimidasi yang pekat. Jas kerjanya tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya mengepal kuat di dalam saku celana. Tatapan mata elangnya menancap lurus pada tangan Rendra yang masih memegang pergelangan tangan Senja.

Senja merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Rasa takut yang teramat sangat mencengkeram dadanya hingga ia sulit bernapas.

"Mas Bara..." cicitnya, refleks melangkah mundur menjauh dari Rendra dan mendekat ke arah suaminya.

Bara berjalan mendekat dengan langkah pelan namun konstan, setiap hentakan sepatunya terasa seperti ketukan genderang perang. Ia mengabaikan Senja dan langsung memposisikan dirinya di depan Rendra, mengikis jarak hingga kedua pria itu saling berhadapan dengan tensi yang mendidih.

"Rendra Alatas, jika aku tidak salah ingat," ucap Bara dengan nada terlampau tenang, namun sarat akan ancaman terselubung.

"Kurasa tidak ada agenda pertemuan bisnis antara Mahendra Capital dan Alatas Group sore ini. Terlebih lagi, di dalam properti pribadiku."

Rendra tidak gentar. Ia membalas tatapan tajam Bara dengan rahang yang mengeras.

"Aku tidak peduli dengan bisnismu, Bara. Aku di sini sebagai teman Senja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan pada istri dan mertuamu sendiri. Menjebak perusahaan orang tua yang sedang sakit lalu mengambil putrinya sebagai tebusan... apakah itu cara berbisnis seorang Bara Mahendra?"

Sudut bibir Bara terangkat samar, membentuk senyuman dingin yang mengerikan. Ia melirik Senja sekilas, melihat istrinya yang sedang menunduk dalam-dalam sembari meremas ujung bajunya sendiri tanda ketakutan yang mutlak.

"Istriku adalah urusanku, Tuan Rendra," sahut Bara, suaranya merendah namun terdengar begitu menusuk.

"Apa yang terjadi di dalam rumah tangga kami, bukan konsumsi publik. Dan mengenai mertuaku... kurasa Darma Amartya mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit paling mahal di kota ini, seluruhnya dibiarkan menggunakan uangku. Jadi, di bagian mana aku disebut kejam?"

"Kau memanipulasinya, Bara! Senja tidak mencintaimu!" seru Rendra, emosinya mulai terpancing.

Bara maju satu langkah lagi, membuat Rendra terpaksa mendongak sedikit. Atmosfer di lobi penthouse itu mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan.

"Cinta atau tidak, dia adalah wanita yang sudah menandatangani dokumen pranikah dan mengucapkan janji suci di depanku. Dia adalah milikku, secara hukum dan kenyataan," bisik Bara tepat di depan wajah Rendra.

"Sekarang, keluar dari propertiku sebelum aku menelepon pihak keamanan dan memastikan saham Alatas Group di bursa efek besok pagi mengalami nasib yang sama seperti Amartya Group."

Rendra mengepalkan tinjunya, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak. Ia ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah angkuh pria di depannya ini. Namun, ia juga tahu bahwa ancaman Bara bukan sekadar gertakan sambal. Mahendra Capital memiliki kekuatan finansial yang cukup besar untuk menghancurkan bisnis keluarganya jika ia bertindak gegabah.

Rendra mengalihkan pandangannya pada Senja, menatap gadis itu dengan pandangan penuh kepasrahan dan rasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak.

"Senja... jika kamu butuh bantuan, hubungi aku. Kapan pun."

Senja tidak mendongak, ia hanya mengangguk sangat pelan, hampir tak kentara.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Rendra membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka, meninggalkan ketegangan yang kian pekat di dalam penthouse.

Begitu pintu lift tertutup rapat, keheningan yang mematikan kembali merayap. Bara membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Senja yang masih berdiri mematung di tempatnya. Senyuman dingin di wajah Bara lenyap, digantikan oleh ekspresi kaku yang memancarkan kemarahan yang tertahan.

"Siapa yang mengizinkanmu membuka pintu untuk orang asing, Senja?" tanya Bara, suaranya terdengar teramat pelan namun sanggup membuat bulu kuduk Senja berdiri.

"Dia... dia bukan orang asing, Bara. Dia Rendra, teman kuliahku dulu," jawab Senja terbata-bata, mencoba membela diri walau suaranya bergetar hebat.

"Dia hanya khawatir karena mendengar kabar tentang Papa."

Bara berjalan mendekati Senja, mengikis jarak di antara mereka hingga Senja bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di keningnya. Bara mengulurkan tangannya, meraih seuntai rambut Senja yang terurai lalu menyelipkannya di belakang telinga gadis itu dengan gerakan yang terlampau lambat, namun terasa seperti belaian maut.

"Teman kuliah? Atau mantan kekasih yang meratapi nasib malangmu?" bisik Bara dengan nada sinis. Cengkeraman tangannya tiba-tiba berpindah ke tengkuk Senja, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang memerah.

"Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, Senja. Jangan pernah membawa masa lalumu masuk ke rumah ini. Jangan pernah mencoba mencari sekutu untuk melepaskan diri dari jaringku."

"Aku tidak berniat kabur, Bara! Aku hanya... aku hanya merindukan kehidupanku yang dulu," air mata Senja akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat.

"Kenapa kau harus sekejam ini padaku? Jika kau membenci Papaku, lampiaskan padanya! Jangan siksa aku seperti ini!"

Bara menatap air mata yang mengalir di pipi Senja dengan pandangan bergejolak. Ada denyut asing di dadanya yang menyuruhnya untuk mengusap air mata itu, namun egonya yang dipenuhi dendam belasan tahun segera membakar habis perasaan itu.

"Siksaanmu baru saja dimulai, Senja," desis Bara sebelum melepaskan tengkuk Senja dengan sentakan pelan. Ia melangkah pergi menuju ruang kerjanya, menyisakan kalimat terakhir yang menggantung di udara.

"Mulai besok, Rian akan mengganti seluruh kode akses pintu apartemen ini. Kau tidak akan bisa keluar satu langkah pun tanpa izin dariku. Selamat menikmati sangkar emasmu, Istriku."

Brak!

Pintu ruang kerja ditutup dengan keras. Senja luruh ke atas lantai marmer, memeluk lututnya sendiri dalam tangis yang kian histeris. Kehadiran Rendra yang ia kira bisa membawa secercah harapan, justru semakin mempererat rantai tak terlihat yang mengikat dirinya di dalam neraka milik Bara Mahendra.

Bersambung

Episodes
1 Jaring jaring sang Predator
2 Pengorbanan untuk Hidup
3 Ikatan Sandera dan Topeng yang Retak
4 Sangkar Emas yang Dingin
5 Bayang Bayang Masa Lalu
6 Racun yang di Suntikkan Secara Perlahan
7 Siksaan Di Depan Mata
8 Hancurnya Kenangan Terakhir
9 Retaknya Dinding Kebencian
10 Melody yang kembali Berputar
11 Kembali memakai Topeng
12 Cemburu yang Membakar
13 Batas Rapuh Sayap sang Senja
14 Sekutu Baru Dalam lingkaran Dendam
15 Racun dalam tahta Palsu
16 Sorot Mata Yang Mengusik Jiwa
17 Konfrontasi di balik pintu Jati
18 Perisai yang Retak
19 Fitnah Berbisa dan Bukti di balik Lensa
20 Tabir Masa lalu yang Terkoyak
21 Benteng yang menolak Runtuh
22 Benang Benang Rahasia
23 Terjerat Rasa
24 Cemburu di balik Lampu Kristal
25 Amarah, Cemburu, dan Kepasrahan Sang Predator
26 Melody dalam Sunyi
27 Penawaran di balik Jeruji Ego
28 Amarah yang Sia Sia
29 Ancaman dalam sudut Gelap
30 Luka di balik Dusta
31 Isyarat Maut dan Bayang bayang Rindu
32 Tahta Kepalsuan yang Hancur
33 Sentuhan di balut ke Angkuhan
34 Hati lapang Darma Amartya
35 Sangkar Emas Baru
36 Sumpah Darma Amartya
37 Menjelma menjadi Ratu
38 Menyingkap tabir Masa lalu
39 Konspirasi yang tercekat
40 Topeng Es yang Kembali Membeku
41 Dua Predator satu Arena
42 Amukan Cemburu
43 Kabut Kecurigaan
44 Aliansi Hitam di balik layar
45 Dinding Es yang tidak Tertembus
46 Senjata Air Mata
47 Kebenaran yang Mulai Merayap dalam kesunyian
48 Rencana busuk di balik Aroma Manis Coklat
49 Hilangnya Sang Ratu
50 Firasat seorang Ayah
51 Penyesalan Al-Attas
52 Pelarian Di bawah Bayang Obsesi
53 Siasat di ambang Badai
54 Pertempuran Dan siasat dalam Sarang Predator
55 Langkah pertama dalam Sarang Serigala
56 Sandiwara diatas Bara Api
57 Jerat yang semakin Mengetat
58 Gemuruh di Ruang Sunyi
59 Labirin Misteri di Kamar Asing
60 Jerat Manis Sang Senja
61 Kotak Pandora yang Terbuka
62 Lidah Ular dan Sumbu Dendam yang Terbakar
63 Amukan Gila Sang Predator
64 Benang takdir kusut diatas kobaran Api
65 Pecahnya Topeng Sandiwara
66 Hasutan di balik Kabut Amarah
67 Tarikan Magnet Kebenaran dan Ketakutan sang Ayah
68 Jeritan Sang Senja
69 Pecahnya Badai Dendam
70 Benih di tengah Badai
71 Dinginnya Kebenaran di Sepertiga Malam
72 Kehancuran Dalam Sunyi
73 Detik Detik Eksekusi Sang Dalang
74 Reruntuhan Topeng Dengan Kebebasan yang Pahit
75 Bungkamnya Sang Predator
76 Detak lemah di tengah Penyesalan
77 Secercah cahaya di Ruang Putih
78 Pembuktian Sang Mahendra
79 Dua Pria di bawah Langit Paviliun
80 Padamnya Bara Dendam
81 Labirin Trauma Di Masa Lalu
82 Jarak di Dalam Kedekatan
83 Pecahnya Bendungan Luka
84 Retakan di Meja Kerja
85 Kedigdayaan yang Runtuh di dalam Kandang Ayam
86 Cemburu Sang Predator
87 Detak yang tertinggal di Dapur
88 Antara Wibawa dan Sepatu Roda
89 Detak Pertama di layar Monitor
90 Protokol Siaga
91 Interupsi IBU HAMIL
92 Air Mata Penyesalan
93 Sinar Lembut Sang Senja
94 Benteng Bantal dan Penjaga Pintu
95 Perburuan Manis di Batas Kota
96 Sumpah ddi balik Jeruji Besi
97 Bayang Bayang di balik Pagar
98 Tatapan Dingin Sang Predator
99 Penebusan dan Pengasingan
100 Sandera di balik Dekapan Manis
101 Suara Hati Senja
102 Proteksi tanpa Kata
103 Barikade Delapan Bulan
104 Dominasi hitam yang Runtuh
105 Rahasia dibalik Senyuman
106 Delapan jam Dalam Genggaman
107 Takluk Dalam Dekapan Kecil
108 Monumen Hadiah
109 Hadiah Sederhana Dari Sang Kakek
110 Penjaga Malam
111 Teguran lembut Senja
112 Dingin yang menyimpan Hangat
113 Jejak Pertama Si Nona Kecil
114 Kata Pertama untuk Papa
115 Kejutan manis di tengah Kebahagiaan
116 Barikade Piknik di Pantai
117 Bayang bayang Bahaya dari masa lalu
118 Tokoh di balik Layar
119 Titik Akhir
120 Epilog
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Jaring jaring sang Predator
2
Pengorbanan untuk Hidup
3
Ikatan Sandera dan Topeng yang Retak
4
Sangkar Emas yang Dingin
5
Bayang Bayang Masa Lalu
6
Racun yang di Suntikkan Secara Perlahan
7
Siksaan Di Depan Mata
8
Hancurnya Kenangan Terakhir
9
Retaknya Dinding Kebencian
10
Melody yang kembali Berputar
11
Kembali memakai Topeng
12
Cemburu yang Membakar
13
Batas Rapuh Sayap sang Senja
14
Sekutu Baru Dalam lingkaran Dendam
15
Racun dalam tahta Palsu
16
Sorot Mata Yang Mengusik Jiwa
17
Konfrontasi di balik pintu Jati
18
Perisai yang Retak
19
Fitnah Berbisa dan Bukti di balik Lensa
20
Tabir Masa lalu yang Terkoyak
21
Benteng yang menolak Runtuh
22
Benang Benang Rahasia
23
Terjerat Rasa
24
Cemburu di balik Lampu Kristal
25
Amarah, Cemburu, dan Kepasrahan Sang Predator
26
Melody dalam Sunyi
27
Penawaran di balik Jeruji Ego
28
Amarah yang Sia Sia
29
Ancaman dalam sudut Gelap
30
Luka di balik Dusta
31
Isyarat Maut dan Bayang bayang Rindu
32
Tahta Kepalsuan yang Hancur
33
Sentuhan di balut ke Angkuhan
34
Hati lapang Darma Amartya
35
Sangkar Emas Baru
36
Sumpah Darma Amartya
37
Menjelma menjadi Ratu
38
Menyingkap tabir Masa lalu
39
Konspirasi yang tercekat
40
Topeng Es yang Kembali Membeku
41
Dua Predator satu Arena
42
Amukan Cemburu
43
Kabut Kecurigaan
44
Aliansi Hitam di balik layar
45
Dinding Es yang tidak Tertembus
46
Senjata Air Mata
47
Kebenaran yang Mulai Merayap dalam kesunyian
48
Rencana busuk di balik Aroma Manis Coklat
49
Hilangnya Sang Ratu
50
Firasat seorang Ayah
51
Penyesalan Al-Attas
52
Pelarian Di bawah Bayang Obsesi
53
Siasat di ambang Badai
54
Pertempuran Dan siasat dalam Sarang Predator
55
Langkah pertama dalam Sarang Serigala
56
Sandiwara diatas Bara Api
57
Jerat yang semakin Mengetat
58
Gemuruh di Ruang Sunyi
59
Labirin Misteri di Kamar Asing
60
Jerat Manis Sang Senja
61
Kotak Pandora yang Terbuka
62
Lidah Ular dan Sumbu Dendam yang Terbakar
63
Amukan Gila Sang Predator
64
Benang takdir kusut diatas kobaran Api
65
Pecahnya Topeng Sandiwara
66
Hasutan di balik Kabut Amarah
67
Tarikan Magnet Kebenaran dan Ketakutan sang Ayah
68
Jeritan Sang Senja
69
Pecahnya Badai Dendam
70
Benih di tengah Badai
71
Dinginnya Kebenaran di Sepertiga Malam
72
Kehancuran Dalam Sunyi
73
Detik Detik Eksekusi Sang Dalang
74
Reruntuhan Topeng Dengan Kebebasan yang Pahit
75
Bungkamnya Sang Predator
76
Detak lemah di tengah Penyesalan
77
Secercah cahaya di Ruang Putih
78
Pembuktian Sang Mahendra
79
Dua Pria di bawah Langit Paviliun
80
Padamnya Bara Dendam
81
Labirin Trauma Di Masa Lalu
82
Jarak di Dalam Kedekatan
83
Pecahnya Bendungan Luka
84
Retakan di Meja Kerja
85
Kedigdayaan yang Runtuh di dalam Kandang Ayam
86
Cemburu Sang Predator
87
Detak yang tertinggal di Dapur
88
Antara Wibawa dan Sepatu Roda
89
Detak Pertama di layar Monitor
90
Protokol Siaga
91
Interupsi IBU HAMIL
92
Air Mata Penyesalan
93
Sinar Lembut Sang Senja
94
Benteng Bantal dan Penjaga Pintu
95
Perburuan Manis di Batas Kota
96
Sumpah ddi balik Jeruji Besi
97
Bayang Bayang di balik Pagar
98
Tatapan Dingin Sang Predator
99
Penebusan dan Pengasingan
100
Sandera di balik Dekapan Manis
101
Suara Hati Senja
102
Proteksi tanpa Kata
103
Barikade Delapan Bulan
104
Dominasi hitam yang Runtuh
105
Rahasia dibalik Senyuman
106
Delapan jam Dalam Genggaman
107
Takluk Dalam Dekapan Kecil
108
Monumen Hadiah
109
Hadiah Sederhana Dari Sang Kakek
110
Penjaga Malam
111
Teguran lembut Senja
112
Dingin yang menyimpan Hangat
113
Jejak Pertama Si Nona Kecil
114
Kata Pertama untuk Papa
115
Kejutan manis di tengah Kebahagiaan
116
Barikade Piknik di Pantai
117
Bayang bayang Bahaya dari masa lalu
118
Tokoh di balik Layar
119
Titik Akhir
120
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!