Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Episode 1

Bab 1

Roda pesawat pribadi itu menyentuh landasan Halim dengan bunyi pendek yang kering.

Di balik jendela oval, Jakarta terbentang dalam warna abu-abu keemasan. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti deretan pisau yang baru diasah, memantulkan matahari sore ke kaca mobil-mobil hitam yang sudah menunggu di apron khusus.

Lim Mei Li membuka mata.

Enam belas tahun.

Selama itu, kota ini tetap bergerak tanpa dirinya. Jalan tol bertambah, gedung makin tinggi, nama-nama keluarga lama berganti papan iklan baru. Tapi di ujung utara, di kawasan PIK, satu rumah masih berdiri di tempat yang sama.

Rumah keluarga Tan.

Rumah yang dulu menutup pintu ketika seorang anak berusia tujuh tahun menangis di bawah hujan.

"Nona," suara Amy terdengar dari kursi depan kabin. "Tim imigrasi sudah selesai. Konvoi siap bergerak dalam lima menit."

Mei Li tidak langsung menjawab. Ujung jarinya menyentuh kipas batik yang terlipat rapi di pangkuannya. Motif parang hitam-merah di atas kain itu tampak tenang, seolah tidak menyimpan apa pun, padahal benda itu sudah menemaninya melewati ruang rapat Manhattan, landasan udara Penang, sampai ruang bawah tanah tempat orang-orang berbahaya belajar menundukkan kepala.

Di sisi lain, Bella memasukkan magazine terakhir ke dalam koper perlengkapan dengan gerakan nyaris tanpa suara. Rambut pirangnya diikat rendah, wajahnya tidak menunjukkan emosi.

"Rute utama atau rute cadangan, Boss?" tanya Bella.

"Utama," jawab Mei Li.

Amy menoleh. "Itu melewati PIK."

"Aku tahu."

Satu kalimat itu membuat kabin kembali sunyi.

Di atas meja kecil, layar tablet Amy menampilkan jadwal hari itu. Kedatangan tertutup. Pemindahan kendaraan. Pemeriksaan Menteng Regency. Laporan awal aset Tan. Semua tertata dalam kotak-kotak rapi, dingin seperti laporan keuangan.

Namun di pojok layar, ada satu foto lama yang sengaja belum dihapus. Seorang perempuan muda berdiri di balkon Villa Biru, Puncak, memakai kebaya putih yang sederhana. Wajahnya lembut, matanya seperti menyimpan cahaya yang belum sempat padam.

Lim Yun.

Mama.

Mei Li menutup tablet itu dengan satu sentuhan.

"Tidak perlu menampilkan foto itu lagi," katanya pelan.

Amy menunduk sedikit. "Maaf, Nona."

"Bukan karena aku tidak sanggup melihatnya." Mei Li berdiri saat pintu kabin mulai terbuka. Angin panas Jakarta masuk, membawa bau avtur, aspal, dan hujan yang belum turun. "Aku hanya tidak ingin wajah Mama muncul di layar yang sama dengan nama keluarga Tan."

Bella berhenti sejenak. Untuk pertama kalinya sejak pesawat turun, matanya bergerak ke arah Mei Li.

"Dipahami, Boss."

Tangga pesawat diturunkan.

Begitu Mei Li muncul di pintu, enam orang berjas hitam yang berdiri di bawah menunduk serempak. Tidak ada kamera media, tidak ada penyambutan resmi. Hanya deretan Alphard hitam, satu Rolls-Royce perak, dan beberapa wajah yang tahu bahwa perempuan berusia dua puluh tiga tahun di tangga itu bisa menggerakkan uang lebih cepat daripada pemerintah kecil menandatangani anggaran.

Gaun putih tulang yang dikenakannya bergerak tertiup angin. Di rambutnya, satu kuntum melati putih disematkan tanpa hiasan berlebihan. Bibirnya merah tua, tenang, hampir malas tersenyum.

Seorang petugas bandara yang menunggu di samping mobil tanpa sadar menatap terlalu lama.

Bella hanya melirik.

Petugas itu langsung menunduk. "Selamat datang kembali di Jakarta, Miss Lim."

Kembali.

Kata itu terdengar ringan di mulut orang lain.

Mei Li turun satu anak tangga lagi. Hak sepatunya mengetuk logam dengan ritme pelan. "Terima kasih."

Saat ia sampai di bawah, ponsel Amy bergetar.

"Nona, Ricky Koh menunggu di Koh Tower. Dia meminta konfirmasi apakah rapat malam ini tetap berjalan."

"Tetap."

"Agenda Tan Group?"

"Mulai dari rekening paling rapuh. Jangan sentuh pusatnya dulu."

Amy mengangkat alis tipis. "Anda ingin mereka merasa aman?"

Mei Li akhirnya tersenyum. Kecil saja.

"Aku ingin mereka sempat tidur malam ini."

Bella menahan napas seperti orang yang tahu arti kalimat itu. Bagi orang lain, tidur adalah istirahat. Bagi keluarga Tan, malam ini akan menjadi hadiah terakhir sebelum pintu-pintu mulai terkunci satu per satu.

Konvoi bergerak meninggalkan landasan.

Jakarta menyambut mereka dengan macet sore yang padat. Pengemudi tidak berani bertanya ketika Mei Li memilih duduk di sisi kanan, membiarkan matanya bebas mengikuti jalan. Papan reklame bank, hotel, klinik kecantikan, restoran mahal, semua lewat seperti potongan ingatan yang tidak punya tempat tinggal.

Di lampu merah, seorang anak perempuan kecil mengetuk kaca mobil sebelah dengan tangan kurus, menawarkan tisu. Rambutnya basah oleh keringat. Matanya besar, waspada.

Mei Li menatap anak itu lebih lama daripada yang ia rencanakan.

Tujuh tahun.

Usia yang cukup kecil untuk percaya bahwa orang dewasa akan menolong.

Usia yang cukup tua untuk mengingat suara tubuh jatuh dari balkon.

"Berhenti," kata Mei Li.

Mobil paling depan melambat. Pengawal di kendaraan belakang langsung bergerak melalui earpiece.

Amy menoleh cepat. "Ada ancaman?"

"Tidak."

Kaca mobil turun setengah.

Anak itu terkejut melihat wajah Mei Li. "Tisu, Kak?"

Mei Li mengambil seluruh plastik tisu dari tangannya, lalu menyelipkan beberapa lembar uang ke sana. Bukan pecahan kecil. Anak itu membeku.

"Pulang sebelum hujan," kata Mei Li.

"Kak, ini kebanyakan."

"Kalau ada yang mengambil uangmu, datang ke pos polisi di depan. Sebut nama Koh Group."

Anak itu mengangguk cepat, masih bingung. Saat lampu berubah hijau, kaca kembali naik.

Amy tidak berkomentar. Bella juga tidak.

Hanya Mei Li yang melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca gelap. Wajah perempuan yang baru saja memberi uang pada anak asing, tapi akan membuat satu keluarga besar memohon untuk napas mereka sendiri.

Ponselnya menyala.

Satu pesan dari Sinta.

Kak Mei Li, kamu sudah mendarat? Jangan langsung kerja. Makan dulu, ya. Aku tunggu kabar.

Jari Mei Li berhenti di atas layar. Sudut matanya yang dingin melunak sedikit.

Aku sudah sampai. Jaga obatmu. Jangan begadang.

Balasan datang hampir seketika.

Iya, Jie. Tapi kamu juga jangan pura-pura kuat terus.

Mei Li membaca pesan itu dua kali sebelum mengunci layar.

Jangan pura-pura kuat.

Sayangnya, tidak ada pilihan lain.

Konvoi memasuki ruas tol menuju utara. Langit makin gelap, awan menggantung rendah di atas kota. Dari kejauhan, kawasan PIK mulai tampak, tertutup cahaya lampu-lampu mahal dan tembok rumah yang tinggi.

Amy menurunkan suara. "Itu Tan Residence."

Mei Li tidak perlu ditunjukkan. Tubuhnya mengenali arah itu sebelum matanya menemukan gerbang hitam besar di balik pepohonan.

Di sanalah Tan Bao Shan pernah duduk di kursi utama dan memutuskan hidup seorang anak seperti menandatangani cek.

Di sanalah Rachel Gu pernah tersenyum saat mengatakan anak kecil itu membawa sial.

Di sanalah nama lama seorang anak dikubur, seolah ia bisa hilang hanya karena keluarga besar menolak menyebutnya.

Mobil melaju melewati gerbang tanpa berhenti.

Dari balik kaca gelap, Mei Li menatap rumah itu sampai menghilang di tikungan.

"Nona?" Amy menunggu instruksi berikutnya.

Mei Li membuka kipas batiknya. Suara kain yang mengembang terdengar lembut, nyaris manis.

"Besok malam," katanya, "kirim undangan makan malam keluarga Tan ke semua cabang utama mereka."

Amy mencatat cepat. "Atas nama siapa?"

Mei Li menoleh ke arah utara, ke rumah yang tidak lagi terlihat tetapi masih terasa seperti luka lama di bawah kulit.

"Atas nama Lim Mei Li."

Bella menatapnya lewat kaca spion. "Mereka akan tahu?"

"Belum." Senyum Mei Li kembali muncul, lebih dingin daripada pendingin mobil. "Mereka hanya akan penasaran."

Hujan pertama akhirnya jatuh, mengetuk kaca satu per satu.

Mei Li menyandarkan punggungnya, mata tetap terbuka.

"Enam belas tahun aku takut pada bayangan rumah itu," bisiknya. "Sekarang, giliran mereka yang takut."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!