BAB 2: Komunitas Babi-Serigala dan Gelar Pertama yang Absurd

​"Sistem! Demi apa pun, celana jins ini tidak didesain untuk menjepit batang pohon sekasar ini!"

​Raditya berbisik dengan nada super panik, sementara kedua paha dan lengannya memeluk erat kulit kayu keperakan dari pohon raksasa Aethelgard. Posisi tubuhnya saat ini sudah berada sekitar empat meter di atas tanah. Panci aluminium hadiah dari misi sebelumnya tergantung menyedihkan di ikat pinggangnya, sesekali berdenting pelan menabrak gesper.

​Di bawah sana, di antara semak-semak neon yang menyala biru, muncullah tiga ekor makhluk yang tadi disebut Sistem sebagai Boarwolf.

​Bentuk mereka benar-benar merusak estetika dunia fantasi. Tubuhnya gemuk berbulu lebat seperti babi hutan seberat dua ratus kilogram, tetapi moncong dan kakinya panjang berotot layaknya serigala purba. Dua taring besar mencuat ke atas dari rahang bawah mereka, tampak berkilau tajam tertimpa pendaran cahaya lumut.

​"Ngoook~ Auuu~"

​Salah satu Boarwolf yang berukuran paling besar mulai mengendus-endus akar pohon tempat Raditya bersembunyi. Makhluk itu mendongak, mata kuningnya yang tanpa pupil langsung mengunci posisi Raditya.

​Ding!

​[Pemberitahuan]: Target telah mengunci posisi Anda. Air liur Boarwolf mengandung asam lambung tinggi yang bisa mencerna tulang. Mereka sedang berdiskusi apakah Anda lebih enak dimakan mentah atau ditunggu sampai jatuh sendiri akibat kelelahan.

​"Diskusi ndasmu! Mereka itu binatang, Sistem! Jangan bikin narasi yang makin bikin mental saya turun!" balas Raditya lewat pikiran, takut suaranya memancing monster itu untuk melompat.

​Boarwolf terbesar itu mulai mundur beberapa langkah. Detik berikutnya, makhluk itu berlari kencang dan... DUBRAK! Kepala kerasnya menghantam batang pohon raksasa itu dengan kekuatan penuh.

​Pohon itu bergoyang. Raditya menjerit tanpa suara, matanya terpejam rapat saat tubuhnya merosot setengah meter ke bawah akibat getaran hebat tersebut. Kulit pohon yang kasar menggesek dadanya, membuat kaus oblongnya hampir robek.

​"Sistem! Tolong! Kasih saya misi kek, kasih saya senjata kek! Ini darurat!"

​Ding!

​[Misi Darurat: Bertahan dari Malam Pertama]

​Tugas: Jangan jatuh dari pohon sampai matahari terbit (Sisa waktu: 8 jam 42 menit).

​Saran Sistem: Bernyanyilah di dalam hati agar tidak bosan, atau mulailah menulis surat wasiat menggunakan air liur Anda sendiri.

​Hadiah Misi: 50 Poin Survival, Pembukaan Fitur [Toko Sistem Terbatas], dan 1x Poin Upgrade Sistem.

​Hukuman Gagal: Menjadi camilan tengah malam yang renyah.

​Melihat hadiahnya yang melibatkan Poin Upgrade, mata Raditya sedikit melebar di tengah rasa takutnya. "Oke... oke... 8 jam lebih? Aku harus bertahan memeluk pohon ini selama itu? Otot lenganku bisa copot!"

​Boarwolf di bawah tampaknya tidak menyerah. Melihat targetnya tidak jatuh, dua ekor babi-serigala lainnya ikut mundur dan bersiap melakukan hantaman kombinasi.

​DUBRAK! DUBRAK!

​Pohon raksasa itu kembali bergetar. Pegangan tangan Raditya mulai licin karena keringat dingin. Dalam kepanikan tingkat tinggi, otak Raditya yang biasanya lambat mendadak berputar cepat. Dia melihat panci aluminium di pinggangnya, lalu melihat jamur rasa kardus yang tadi sempat dia kantongi di saku celana.

​"Jamur Batu Tawar! Sistem, kalau jamur ini keras, apa bisa dilempar?"

​[Analisis]: Jamur Batu Tawar memiliki kepadatan seperti karet ban bekas jika belum dimasak. Menggunakannya sebagai senjata pelempar memiliki efektivitas sebesar 0,01% untuk melukai target, tapi memiliki efektivitas 99% untuk membuat target makin marah.

​"Aku tidak mau melukai mereka, aku mau mengalihkan perhatian!"

​Raditya melepas satu tangannya dari pohon—sebuah tindakan nekat yang membuat tubuhnya hampir merosot—lalu merogoh saku, mengambil jamur cokelat itu, dan melemparnya sekuat tenaga ke arah semak-semak berduri yang berjarak sepuluh meter dari pohon.

​Puk.

​Jamur itu mendarat di semak-semak, memicu suara gemerisik daun.

​Ketiga Boarwolf langsung menoleh serentak ke arah semak-semak tersebut. Telinga mereka bergerak-gerak. Sebagai predator, insting mereka sangat sensitif terhadap gerakan mendadak. Boarwolf terkecil mengira itu adalah mangsa lain yang mencoba merebut wilayah, lalu berlari menuju semak-semak itu sambil menggeram keras. Dua ekor lainnya, termasuk si bos besar, terdistraksi dan ikut menyusul untuk memeriksa.

​"Berhasil!" batin Raditya girang.

​Mumpung para monster itu menjauh beberapa meter, Raditya menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk memanjat lebih tinggi, mencari percabangan dahan yang cukup besar agar dia bisa duduk, bukan lagi bergelantungan seperti monyet malas. Setelah perjuangan hidup dan mati selama lima menit yang melelahkan, pantatnya akhirnya berhasil mendarat di atas sebuah dahan pohon yang lebar.

​Raditya langsung telentang di atas dahan, napasnya memburu, dadanya kembang kempis.

​Ding!

​[Pencapaian Terbuka!]

​Tindakan: Menggunakan makanan hambar untuk mengelabui monster ber-IQ rendah.

​Selamat! Anda mendapatkan Gelar Absurd Pertama Anda: [Gelar: Pelempar Sayur Profesional]

​Efek Gelar: Meningkatkan akurasi melempar objek berbasis tumbuhan (sayur, buah, jamur) sebesar 15%. Target yang terkena lemparan akan mengalami efek 'Bingung' selama 0,5 detik karena heran kenapa mereka dilempar makanan.

​Raditya membaca hologram itu dengan wajah datar, kelelahan untuk marah. "Pelempar sayur profesional... Gelar macam apa itu? Tapi ya sudahlah, efek akurasinya lumayan kalau nanti aku harus melempar kelapa ke kepala monster."

​Malam berjalan dengan sangat lambat. Di bawah pohon, kawanan Boarwolf sempat kembali dan mondar-mandir karena sadar mereka telah ditipu oleh sebutir jamur. Namun, karena Raditya berada terlalu tinggi dan tidak lagi bergerak, monster-monster itu akhirnya bosan dan pergi mencari mangsa lain setelah beberapa jam.

​Raditya tidak berani tidur. Dia terus terjaga, memeluk dahan pohon dengan erat sembari mendengarkan berbagai suara mengerikan yang menggema di seisi hutan Aethelgard.

​Hingga akhirnya, pendaran tanaman neon mulai meredup, digantikan oleh berkas cahaya fajar berwarna jingga kemerahan yang menembus kanopi daun ungu.

​Ding!

​[Misi Darurat: Bertahan dari Malam Pertama — SELESAI!]

​Evaluasi: Anda terbukti memiliki kemampuan bertahan hidup setingkat kecoak—sangat ulet dalam kondisi ketakutan.

​Hadiah: +50 Poin Survival, Fitur [Toko Sistem Terbatas] Terbuka, dan 1x Poin Upgrade Sistem.

​[Pemberitahuan]: Anda memiliki 1 Poin Upgrade Sistem. Apakah Anda ingin melakukan upgrade pada Sistem sekarang? (Disarankan: Upgrade-lah, agar hamba tidak terlalu pusing melihat performa Anda yang memprihatinkan).

​Raditya duduk tegak di atas dahan, mengusap matanya yang kantuk. "Tentu saja! Upgrade sekarang! Tolong berubah jadi sistem yang lebih berguna dan kurangi kadar sarkasmu itu!"

​Layar hologram hijau di depannya tiba-tiba berkedip-kedip hebat, berubah warna menjadi biru langit yang lebih sejuk. Suara bel minimarket di kepalanya kini berganti menjadi suara dentingan harpa yang sedikit lebih elegan.

​[Proses Upgrade Sistem Selesai...]

[Sistem Survival Terpaksa telah naik ke v2.0!]

​[Fitur Baru yang Terbuka]:

​[Toko Survival]: Anda sekarang bisa menukarkan Poin Survival dengan barang-barang kebutuhan dasar (Contoh: Garam Bumi, Air Bersih, Pisau Berburu Standar).

​[Peningkatan Fungsi Analisis]: Jarak pemindaian objek meningkat menjadi 5 meter, dan kini dilengkapi dengan persentase tingkat bahaya lingkungan.

​[Pesan Pembaruan Sistem v2.0]: Halo, Pengguna Raditya. Berdasarkan algoritma terbaru, tingkat kelangsungan hidup Anda naik dari 2% menjadi 5%. Saya telah memperbarui modul bahasa saya menjadi lebih 'efisien'. Mohon kerja samanya agar Anda tidak cepat mati dan membuat memori internal saya penuh dengan data kematian konyol.

​Raditya menghela napas panjang, bersandar pada batang pohon. "Yah... bahasanya sedikit lebih sopan, tapi intinya tetep saja mengatai aku lemah. Tapi setidaknya sekarang ada Toko Sistem!"

​Dengan perut yang kembali berbunyi keroncongan, Raditya bersiap turun dari pohon. Hari kedua di dunia lain telah dimulai, dan dia harus segera mencari sumber air yang aman sebelum dehidrasi mengubahnya menjadi mumi di atas pohon ungu ini.

Episodes
1 BAB 1: Kematian, Dewa yang Burnout, dan Sistem Kurang Ajar
2 BAB 2: Komunitas Babi-Serigala dan Gelar Pertama yang Absurd
3 BAB 3: Belanja Hemat, Air Perak, dan Ujian Ketahanan Lambung
4 BAB 4: Teknik Melarikan Diri Sambil Membawa Panci Panas
5 BAB 5: Jatuh Gaya Bebas dan Goa Rahasia yang Agak... Bau?
6 BAB 6: Demo Masak Darurat di Dalam Sarang Ogre
7 BAB 7: Memasak Porsi Raksasa untuk Sang Ratu Goa
8 BAB 8: Keluar dari Toilet Raksasa dan Hadiah Kejutan dari Ratu
9 BAB 9: Penembak Jitu Cabai Mercon vs Kadal Berbisa
10 BAB 10: Reruntuhan Menara Aethel dan Fasilitas Mandi yang Mewah
11 BAB 11: Kafein Magis dan Jejak Pendahulu yang Sama Gesreknya
12 BAB 12: Pertahanan Menara
13 BAB 13: Pagi Hari di Menara dan Proyek Kerajinan Tangan Magis Pemula
14 BAB 14: Operasi Bumi Hangus Lembah Apel
15 BAB 15: Penyerbuan Goa Batu Merah dan Ledakan Pembaruan Sistem
16 BAB 16: Pertemuan dengan Petualang Manusia Pertama
17 BAB 17: Tembakan Penyelamat dan Tarif Komisi Penyelamatan Darurat
18 BAB 18: Memasuki Oakhaven dan Birokrasi Gerbang Kota yang Absurd
19 BAB 19: Menyewa Lapak Kumuh
20 BAB 20: Preman Pasar Malam dan Demonstrasi
21 BAB 21: Undangan Kastel Baron
22 BAB 22: Es Teh Tarik di Musim Panas
23 BAB 23: Tantangan Duel Asosiasi Alkimia
24 BAB 24: Konspirasi Serikat Pedagang
25 BAB 25: Perjalanan Bisnis ke Luar Kota
26 BAB 26: Skandal Teh Herbal Azure Coast
27 BAB 27: Aliansi Teh dan Kopi
28 BAB 28: Perang Harga Kopi Rembulan
29 BAB 29: Tragedi Kopi Gratis
30 BAB 30: Inspeksi dari Ibu Kota
31 BAB 31: Menuju Ibu Kota dan Ancaman di Jalur Sutra
32 BAB 32: Balas Dendam Ekonomi dan Runtuhnya Kastel Pajak
33 BAB 33: Menembus Gerbang Ibu Kota
34 BAB 34: Ancaman Dari Menteri Keuangan
35 BAB 35: Rahasia Terlarang Menteri Keuangan
36 BAB 36: Hujan Brosur dan Wilayah Terlarang
37 BAB 37: Industrialisasi Tanah Terkutuk dan Teror Kopi dari Lembah Kematian
38 BAB 38: Perang Dagang: Ketika Kopi Raditya Jadi Komoditas Terlarang di Kerajaan
39 BAB 39: Ancaman Kaisar dan "Sachet Diplomacy" di Meja Perjamuan
40 BAB 40: Pelarian dari Istana: Ketika Kaisar Sadar Dia Baru Saja Dikerjai
41 BAB 41: Ibu Kota Mengemis Stok Sachet pada Raditya
42 BAB 42: Lahirnya Negara Sachet
43 BAB 43: Revolusi Hijau di Lembah Kematian
44 BAB 44: Perang Langit
45 BAB 45: Balasan Raja Valerius
46 BAB 46: Ketika Manajer Sachet Harus Memegang Senjata
47 BAB 47: Pengkhianatan Sistem
48 BAB 48: Ujian Integritas
49 BAB 49: Dunia Tanpa Monopoli
50 BAB 50 (EPILOG): Legenda Sang Manajer Sachet
Episodes

Updated 50 Episodes

1
BAB 1: Kematian, Dewa yang Burnout, dan Sistem Kurang Ajar
2
BAB 2: Komunitas Babi-Serigala dan Gelar Pertama yang Absurd
3
BAB 3: Belanja Hemat, Air Perak, dan Ujian Ketahanan Lambung
4
BAB 4: Teknik Melarikan Diri Sambil Membawa Panci Panas
5
BAB 5: Jatuh Gaya Bebas dan Goa Rahasia yang Agak... Bau?
6
BAB 6: Demo Masak Darurat di Dalam Sarang Ogre
7
BAB 7: Memasak Porsi Raksasa untuk Sang Ratu Goa
8
BAB 8: Keluar dari Toilet Raksasa dan Hadiah Kejutan dari Ratu
9
BAB 9: Penembak Jitu Cabai Mercon vs Kadal Berbisa
10
BAB 10: Reruntuhan Menara Aethel dan Fasilitas Mandi yang Mewah
11
BAB 11: Kafein Magis dan Jejak Pendahulu yang Sama Gesreknya
12
BAB 12: Pertahanan Menara
13
BAB 13: Pagi Hari di Menara dan Proyek Kerajinan Tangan Magis Pemula
14
BAB 14: Operasi Bumi Hangus Lembah Apel
15
BAB 15: Penyerbuan Goa Batu Merah dan Ledakan Pembaruan Sistem
16
BAB 16: Pertemuan dengan Petualang Manusia Pertama
17
BAB 17: Tembakan Penyelamat dan Tarif Komisi Penyelamatan Darurat
18
BAB 18: Memasuki Oakhaven dan Birokrasi Gerbang Kota yang Absurd
19
BAB 19: Menyewa Lapak Kumuh
20
BAB 20: Preman Pasar Malam dan Demonstrasi
21
BAB 21: Undangan Kastel Baron
22
BAB 22: Es Teh Tarik di Musim Panas
23
BAB 23: Tantangan Duel Asosiasi Alkimia
24
BAB 24: Konspirasi Serikat Pedagang
25
BAB 25: Perjalanan Bisnis ke Luar Kota
26
BAB 26: Skandal Teh Herbal Azure Coast
27
BAB 27: Aliansi Teh dan Kopi
28
BAB 28: Perang Harga Kopi Rembulan
29
BAB 29: Tragedi Kopi Gratis
30
BAB 30: Inspeksi dari Ibu Kota
31
BAB 31: Menuju Ibu Kota dan Ancaman di Jalur Sutra
32
BAB 32: Balas Dendam Ekonomi dan Runtuhnya Kastel Pajak
33
BAB 33: Menembus Gerbang Ibu Kota
34
BAB 34: Ancaman Dari Menteri Keuangan
35
BAB 35: Rahasia Terlarang Menteri Keuangan
36
BAB 36: Hujan Brosur dan Wilayah Terlarang
37
BAB 37: Industrialisasi Tanah Terkutuk dan Teror Kopi dari Lembah Kematian
38
BAB 38: Perang Dagang: Ketika Kopi Raditya Jadi Komoditas Terlarang di Kerajaan
39
BAB 39: Ancaman Kaisar dan "Sachet Diplomacy" di Meja Perjamuan
40
BAB 40: Pelarian dari Istana: Ketika Kaisar Sadar Dia Baru Saja Dikerjai
41
BAB 41: Ibu Kota Mengemis Stok Sachet pada Raditya
42
BAB 42: Lahirnya Negara Sachet
43
BAB 43: Revolusi Hijau di Lembah Kematian
44
BAB 44: Perang Langit
45
BAB 45: Balasan Raja Valerius
46
BAB 46: Ketika Manajer Sachet Harus Memegang Senjata
47
BAB 47: Pengkhianatan Sistem
48
BAB 48: Ujian Integritas
49
BAB 49: Dunia Tanpa Monopoli
50
BAB 50 (EPILOG): Legenda Sang Manajer Sachet

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!