BAB 5: Pertemuan di Mata Air

Kamar asrama luar yang ditempati Lin Chen dan Zhu Da tidak lebih dari sebuah gubuk kayu sederhana dengan dua ranjang bambu yang berderit setiap kali diduduki. Namun, pagi ini, ruangan sempit itu terasa berbeda. Zhu Da duduk di tepi ranjangnya, menatap tiga botol kecil berisi pil spiritual di atas meja kayu dengan mata berbinar-binar.

"Chen-ge, kau sungguh luar biasa!" seru Zhu Da, meninju angin dengan tangannya yang gemuk. "Kau melihat wajah Wang Hao tadi? Dia terbang seperti karung gandum! Ah, aku bisa membayangkan betapa tenangnya hidup kita bulan ini tanpa gangguan mereka."

Lin Chen hanya tersenyum kecil sambil mengambil salah satu botol. Ia membuka sumbat gabusnya dan menghirup aroma pil di dalamnya. Aroma herbal yang sangat tipis dan sedikit apak menyengat hidungnya. Ini adalah Pil Pengumpul Qi tingkat rendah, jatah standar untuk murid asrama luar.

"Hah! Benda bulat bau tanah ini berani kau sebut pil?" Suara Tua Hitam mendadak meledak di dalam kepala Lin Chen, penuh dengan nada jijik. Roh kuno yang bersemayam di dalam cincin hitam itu memang selalu sibuk mengomel dan menyombongkan masa lalunya. "Di zamanku, anjing penjaga gerbangku pun akan meludah kalau kuberi pil sampah macam itu! Buang saja, Bocah!"

"Bagi kita di sekte luar, ini adalah harta berharga, Tua Hitam," balas Lin Chen santai melalui telepati.

Tanpa ragu, Lin Chen menelan satu pil tersebut. Ia segera duduk bersila dan menutup matanya. Pil itu meleleh di tenggorokannya, berubah menjadi aliran energi tipis yang mengalir ke pusat Dantian.

Jika ini adalah Lin Chen yang dulu, meridiannya yang cacat akan menolak energi itu, membiarkannya menguap sia-sia. Namun sekarang berbeda. Tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Cincin Hitam di jarinya berdenyut, memancarkan panas yang menyaring kotoran dari pil tersebut. Energi murni meledak dan mengalir deras melintasi meridiannya. Hanya dalam hitungan menit, ia telah memperkuat pijakannya di ranah Penempaan Tubuh, memancarkan gelombang tenaga yang solid di sekujur ototnya.

Lapisan keringat hitam dan berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Itu adalah kotoran duniawi yang berhasil dikeluarkan dari tubuhnya.

"Ugh, bau apa ini?" Zhu Da menutup hidungnya. "Chen-ge, kau seperti baru saja mandi di kubangan lumpur babi!"

Lin Chen membuka matanya, merasakan tubuhnya seringan kapas namun sekeras baja. Ia tertawa pelan. "Aku akan pergi ke Mata Air Dingin di belakang gunung untuk membersihkan diri. Kau jaga kamar."

Kabut di Mata Air Dingin

Mata Air Dingin terletak di ceruk tersembunyi di gunung belakang sekte. Tempat ini jarang dikunjungi murid luar karena airnya yang sedingin es menusuk tulang. Bagi Lin Chen, tempat ini adalah lokasi yang sempurna.

Saat ia tiba, kabut tebal menyelimuti permukaan air. Namun, langkah Lin Chen terhenti ketika sayup-sayup ia mendengar suara pedang membelah angin.

Di atas sebuah batu besar di tengah mata air, berdiri sesosok bayangan putih. Ujung pedang tipisnya memancarkan embun beku yang membuat kabut di sekitarnya mengkristal dan berjatuhan seperti salju.

Itu adalah Su Qingyue.

Gadis itu tampak sangat dingin, cantik tiada tara, dengan jubah putih yang berkibar anggun seolah ia benar-benar bukan berasal dari dunia yang fana ini. Ia sedang berlatih sendirian, terisolasi dari hiruk-pikuk sekte.

"Peluang emas dari surga, Bocah!" Tua Hitam tiba-tiba berteriak girang di kepalanya. Roh kuno itu kembali melancarkan ilmu merayu yang salah kaprah. "Cepat lompat ke dalam air, berenanglah dengan gaya punggung ke arahnya, dan pamerkan gigimu! Wanita es paling suka pria yang berani basah-basahan menantang maut!"

Lin Chen memutar bola matanya. Jika ia melakukan saran konyol itu, Su Qingyue tidak akan terkesan; gadis itu pasti akan langsung memenggal kepalanya atau membekukannya menjadi balok es.

Lin Chen memutuskan untuk bersikap wajar. Ia berjalan perlahan ke tepi air yang agak jauh di hilir, sama sekali tidak berusaha mendekat atau mencari perhatian.

Suara langkah kaki di ranting kering membuat Su Qingyue menghentikan tarian pedangnya. Ia menoleh. Matanya yang jernih namun sedingin es menatap lurus ke arah Lin Chen. Su Qingyue adalah gadis yang selalu dingin seperti es, menganggap semua orang di sekitarnya sama saja. Biasanya, jika ada murid pria yang memergokinya berlatih, mereka akan langsung tersipu malu, tergagap, atau berusaha keras memujinya.

Namun, pemuda berlumuran lumpur hitam di seberangnya itu hanya menatapnya sekilas, mengangguk sopan sebagai tanda hormat sesama murid, lalu berbalik membelakanginya untuk mencuci wajah dan lengannya di tepi aliran air. Sama sekali tidak ada tatapan memuja, tidak ada basa-basi murahan.

Alis Su Qingyue sedikit berkerut. Ingatannya yang tajam mengenali wajah itu. Lin Chen. Murid luar yang selalu dihina dan dipukuli, orang yang disebut-sebut sebagai 'sampah' sekte.

Akan tetapi, aura pemuda itu hari ini... berbeda. Punggungnya tegap, tatapannya tenang, dan ada keteguhan tersembunyi yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada murid sebayanya. Su Qingyue tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memutar tubuhnya, memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya dengan gerakan gemulai, dan melangkah pergi menembus kabut, meninggalkan embusan angin dingin yang harum.

Ia memang menganggap semua orang sama, namun keteguhan hati yang samar-samar ditunjukkan Lin Chen hari ini meninggalkan sebuah jejak tipis di benaknya.

Sementara itu, Lin Chen membasuh wajahnya, menatap bayangannya di permukaan air.

Terpopuler

Comments

Xiao Bar

Xiao Bar

seru ceritanya ini diawal udh mantap😍

2026-07-07

2

Budi Wahyono

Budi Wahyono

kenapa kalimat sifat su qingyu diulang2 tiap chapter thor...

2026-07-08

2

Haryo pambayun

Haryo pambayun

yoi...mukhodimahnya cukup bagus..spertinya cerita ini menjanjiken keasyeekan untuk diikuti..

lanjouts....

2026-08-23

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kebangkitan di Balik Cincin Hitam
2 BAB 2: Kekuatan Baru dan Babi Tanduk Berbulu
3 BAB 3: Pagi di Sekte Pinggiran
4 BAB 4: Pil Spiritual
5 BAB 5: Pertemuan di Mata Air
6 BAB 6: Paviliun Kitab
7 BAB 7: Gulungan Hitam
8 BAB 8: Penderitaan Kawah Magma
9 BAB 9: Kedatangan Murid Dalam
10 BAB 10: Keributan di Pasar Sekte
11 BAB 11: Rebusan Obat
12 BAB 12: Panggung Bintang Tujuh
13 BAB 13: Batu Uji Kuasa
14 BAB 14: Arena Pertarungan
15 BAB 15: Nasihat Tua Hitam
16 BAB 16: Gerbang Langit
17 BAB 17: Puncak Tangga Bintang
18 BAB 18: Pusat Mata Air Spiritual
19 BAB 19: Benturan Qi
20 BAB 20: Balai Murid Inti
21 BAB 21: Tinju Penghancur Bintang
22 BAB 22: Latihan Neraka
23 BAB 23: Badai di Arena Bintang
24 BAB 24: Perhatian Para Tetua
25 BAB 25: Dimensi Gravitasi Kuno
26 BAB 26: Langkah Bintang Jatuh
27 BAB 27: Reruntuhan Kuno
28 BAB 28: Janji Pengikat Jiwa
29 BAB 29: Penjaga Kuil Inti
30 BAB 30: Pusaka Bintang Kembar
31 BAB 31: Resonansi Es dan Api
32 BAB 32: Runtuhnya Dimensi Kuno
33 BAB 33: Perpisahan Sementara
34 BAB 34: Kesepakatan di Balai Alkimia
35 BAB 35: Lautan Jenius
36 BAB 36: Rahasia di Balik Awan
37 BAB 37: Penjara Seribu Mimpi
38 BAB 38: Tarian Es di Atas Panggung
39 BAB 39: Empat Puncak Jenius
40 BAB 40: Amukan Harimau Berdarah
41 BAB 41: Tangan Penekan Langit
42 BAB 42: Fajar Setelah Badai
43 BAB 43: Panggilan Bintang Utama
44 BAB 44: Menara Bintang
45 BAB 45: Berkumpulnya Para Naga
46 BAB 46: Gerbang Istana Surgawi
47 BAB 47: Jejak Teratai Es dan Labirin Formasi
48 BAB 48: Bara Tungku Dewa
49 BAB 49: Penghakiman
50 BAB 50: Hancurnya Token Darah
51 BAB 51: Tangga Penekan Jiwa
52 BAB 52: Ilusi Hujan Darah
53 BAB 53: Ujian Iblis Hati
54 BAB 54: Ujian Qilin Api Biru
55 BAB 55: Puncak Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan
56 BAB 56: Lorong Seribu Boneka
57 BAB 57: Sembilan Pedang Penekan Jiwa
58 BAB 58: Alam Kecil
59 BAB 59: Hancurnya Pedang Emas
60 BAB 60: Lonceng Surgawi
61 BAB 61: Bayangan Pedang
62 BAB 62: Mahkota Bintang Dewa
63 BAB 63: Pengepungan Enam Sekte
64 BAB 64: Puncak Bintang Utama
65 BAB 65: Lautan Kekacauan
66 BAB 66: Kota Pelabuhan Hitam
67 BAB 67: Menghancurkan Dantian
68 BAB 68: Dagang Hiu Hitam
69 BAB 69: Uji Coba Qi Kekacauan
70 BAB 70: Pelelangan Bulan Berdarah
71 BAB 71: Melahap Petir Kehancuran
72 BAB 72: Teror Gurita Iblis Laut Dalam
73 BAB 73: Pulau Reruntuhan Abadi
74 BAB 74: Istana Racun Surgawi
75 BAB 75: Segel Kuil Dewa Api
76 BAB 76: Singa Iblis Api Neraka
77 BAB 77: Teratai Api Beracun
78 BAB 78: Murka Tiga Raja
79 BAB 79: Tiga Raja Reruntuhan
80 BAB 80: Hutan Jamur Ilusi
81 BAB 81: Lembah Kematian Hitam
82 BAB 82: Esensi Naga Primordial Kuno
83 BAB 83: Pembantaian di Tepi Lembah
84 BAB 84: Membelah Hukum Alam
85 BAB 85: Awan Kesengsaraan Pemusnah Dewa
86 BAB 86: Teror Petir Emas Gelap
87 BAB 87: Pelarian Dua Raja
88 BAB 88: Pasar Gelap Kota Bayangan
89 BAB 89: Paviliun Burung Hantu Hitam
90 BAB 90: Masa Persiapan
91 BAB 91: Kesengsaraan Dewi Es
92 BAB 92: Tarian Tombak Naga Perak
93 BAB 93: Tinju Penghancur Bintang Purba
94 BAB 94: Cengkeraman Mayat
95 BAB 95: Lembah Makam Pedang
96 BAB 96: Melahap Niat Pembantaian
97 BAB 97: Sungai Arwah Berdarah
98 BAB 98: Amukan Garis Keturunan
99 BAB 99: Istana Perunggu
100 BAB 100: Jari Kematian Kaisar Purba
101 BAB 101: Kepingan Jiwa
102 BAB 102: Bilik Rahasia Kuno
103 BAB 103: Tiga Tetua Tanpa Wajah
104 BAB 104: Tarian Darah
105 BAB 105: Pengorbanan Jiwa Kuno
106 BAB 106: Melintasi Ruang
107 BAB 107: Puncak Bintang
108 BAB 108: Runtuhnya Bintang Tujuh
109 BAB 109: Kabar dari Seberang Lautan
110 BAB 110: Jaring Laba-Laba Berbisa
111 BAB 111: Inti Urat Bintang
112 BAB 112: Kepingan Giok yang Hancur
113 BAB 113: Jebakan Kabut
114 BAB 114: Pengepungan Benua
115 BAB 115: Pengkhianatan
116 BAB 116: Teror Bawah Laut
117 BAB 117: Pengumuman Klan Han
118 BAB 118: Debu Besi Dingin
119 BAB 119: Benturan Dua Kutub
120 BAB 120: Hutang Nyawa Patriark
121 BAB 121: Penjara Kaca
122 BAB 122: Turunnya Bayangan Maut
123 BAB 123: Dasar Lembah Beku
124 BAB 124: Danau Kaca Leluhur
125 BAB 125: Langit Utara
126 BAB 126: Lautan Tanpa Hukum
127 BAB 127: Jatuh ke Lautan Tanpa Hukum
128 BAB 128: Penekan Hawa Murni
129 BAB 129: Pengorbanan Sang Tuan Istana
130 BAB 130: Taring Armada Hitam
131 BAB 131: Ilusi Kabut Darah
132 BAB 132: Penempaan Tulang Kuno
133 BAB 133: Pemburu Tanpa Qi
134 BAB 134: Pemahaman Kematian
135 BAB 135: Kebrutalan Tulang Emas
136 BAB 136: Jejak Sang Utusan
137 BAB 137: Retaknya Teratai Es
138 BAB 138: Amarah Pembentukan Jiwa
139 BAB 139: Makam Bintang Purba
140 BAB 140: Kelahiran Jiwa Kekacauan
141 BAB 141: Panggilan Mahkota Dewa
142 BAB 142: Ujung Lautan
143 BAB 143: Reinkarnasi Iblis
144 BAB 144: Teror di Balik Awan
145 BAB 145: Hutang Karma
146 BAB 146: Runtuhnya Formasi Pembantai Dewa
147 BAB 147: Wajah di Balik Porselen
148 BAB 148: Alam Iblis dan Lautan Bintang
149 BAB 149: Gerbang Lautan Bintang
150 BAB 150: Darah Ascender
151 BAB 151: Senyum di Ambang Kematian
152 BAB 152: Hukum Rimba Alam Atas
153 BAB 153: Lembah Bintang Jatuh
154 BAB 154: Jantung Naga Biru
Episodes

Updated 154 Episodes

1
BAB 1: Kebangkitan di Balik Cincin Hitam
2
BAB 2: Kekuatan Baru dan Babi Tanduk Berbulu
3
BAB 3: Pagi di Sekte Pinggiran
4
BAB 4: Pil Spiritual
5
BAB 5: Pertemuan di Mata Air
6
BAB 6: Paviliun Kitab
7
BAB 7: Gulungan Hitam
8
BAB 8: Penderitaan Kawah Magma
9
BAB 9: Kedatangan Murid Dalam
10
BAB 10: Keributan di Pasar Sekte
11
BAB 11: Rebusan Obat
12
BAB 12: Panggung Bintang Tujuh
13
BAB 13: Batu Uji Kuasa
14
BAB 14: Arena Pertarungan
15
BAB 15: Nasihat Tua Hitam
16
BAB 16: Gerbang Langit
17
BAB 17: Puncak Tangga Bintang
18
BAB 18: Pusat Mata Air Spiritual
19
BAB 19: Benturan Qi
20
BAB 20: Balai Murid Inti
21
BAB 21: Tinju Penghancur Bintang
22
BAB 22: Latihan Neraka
23
BAB 23: Badai di Arena Bintang
24
BAB 24: Perhatian Para Tetua
25
BAB 25: Dimensi Gravitasi Kuno
26
BAB 26: Langkah Bintang Jatuh
27
BAB 27: Reruntuhan Kuno
28
BAB 28: Janji Pengikat Jiwa
29
BAB 29: Penjaga Kuil Inti
30
BAB 30: Pusaka Bintang Kembar
31
BAB 31: Resonansi Es dan Api
32
BAB 32: Runtuhnya Dimensi Kuno
33
BAB 33: Perpisahan Sementara
34
BAB 34: Kesepakatan di Balai Alkimia
35
BAB 35: Lautan Jenius
36
BAB 36: Rahasia di Balik Awan
37
BAB 37: Penjara Seribu Mimpi
38
BAB 38: Tarian Es di Atas Panggung
39
BAB 39: Empat Puncak Jenius
40
BAB 40: Amukan Harimau Berdarah
41
BAB 41: Tangan Penekan Langit
42
BAB 42: Fajar Setelah Badai
43
BAB 43: Panggilan Bintang Utama
44
BAB 44: Menara Bintang
45
BAB 45: Berkumpulnya Para Naga
46
BAB 46: Gerbang Istana Surgawi
47
BAB 47: Jejak Teratai Es dan Labirin Formasi
48
BAB 48: Bara Tungku Dewa
49
BAB 49: Penghakiman
50
BAB 50: Hancurnya Token Darah
51
BAB 51: Tangga Penekan Jiwa
52
BAB 52: Ilusi Hujan Darah
53
BAB 53: Ujian Iblis Hati
54
BAB 54: Ujian Qilin Api Biru
55
BAB 55: Puncak Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan
56
BAB 56: Lorong Seribu Boneka
57
BAB 57: Sembilan Pedang Penekan Jiwa
58
BAB 58: Alam Kecil
59
BAB 59: Hancurnya Pedang Emas
60
BAB 60: Lonceng Surgawi
61
BAB 61: Bayangan Pedang
62
BAB 62: Mahkota Bintang Dewa
63
BAB 63: Pengepungan Enam Sekte
64
BAB 64: Puncak Bintang Utama
65
BAB 65: Lautan Kekacauan
66
BAB 66: Kota Pelabuhan Hitam
67
BAB 67: Menghancurkan Dantian
68
BAB 68: Dagang Hiu Hitam
69
BAB 69: Uji Coba Qi Kekacauan
70
BAB 70: Pelelangan Bulan Berdarah
71
BAB 71: Melahap Petir Kehancuran
72
BAB 72: Teror Gurita Iblis Laut Dalam
73
BAB 73: Pulau Reruntuhan Abadi
74
BAB 74: Istana Racun Surgawi
75
BAB 75: Segel Kuil Dewa Api
76
BAB 76: Singa Iblis Api Neraka
77
BAB 77: Teratai Api Beracun
78
BAB 78: Murka Tiga Raja
79
BAB 79: Tiga Raja Reruntuhan
80
BAB 80: Hutan Jamur Ilusi
81
BAB 81: Lembah Kematian Hitam
82
BAB 82: Esensi Naga Primordial Kuno
83
BAB 83: Pembantaian di Tepi Lembah
84
BAB 84: Membelah Hukum Alam
85
BAB 85: Awan Kesengsaraan Pemusnah Dewa
86
BAB 86: Teror Petir Emas Gelap
87
BAB 87: Pelarian Dua Raja
88
BAB 88: Pasar Gelap Kota Bayangan
89
BAB 89: Paviliun Burung Hantu Hitam
90
BAB 90: Masa Persiapan
91
BAB 91: Kesengsaraan Dewi Es
92
BAB 92: Tarian Tombak Naga Perak
93
BAB 93: Tinju Penghancur Bintang Purba
94
BAB 94: Cengkeraman Mayat
95
BAB 95: Lembah Makam Pedang
96
BAB 96: Melahap Niat Pembantaian
97
BAB 97: Sungai Arwah Berdarah
98
BAB 98: Amukan Garis Keturunan
99
BAB 99: Istana Perunggu
100
BAB 100: Jari Kematian Kaisar Purba
101
BAB 101: Kepingan Jiwa
102
BAB 102: Bilik Rahasia Kuno
103
BAB 103: Tiga Tetua Tanpa Wajah
104
BAB 104: Tarian Darah
105
BAB 105: Pengorbanan Jiwa Kuno
106
BAB 106: Melintasi Ruang
107
BAB 107: Puncak Bintang
108
BAB 108: Runtuhnya Bintang Tujuh
109
BAB 109: Kabar dari Seberang Lautan
110
BAB 110: Jaring Laba-Laba Berbisa
111
BAB 111: Inti Urat Bintang
112
BAB 112: Kepingan Giok yang Hancur
113
BAB 113: Jebakan Kabut
114
BAB 114: Pengepungan Benua
115
BAB 115: Pengkhianatan
116
BAB 116: Teror Bawah Laut
117
BAB 117: Pengumuman Klan Han
118
BAB 118: Debu Besi Dingin
119
BAB 119: Benturan Dua Kutub
120
BAB 120: Hutang Nyawa Patriark
121
BAB 121: Penjara Kaca
122
BAB 122: Turunnya Bayangan Maut
123
BAB 123: Dasar Lembah Beku
124
BAB 124: Danau Kaca Leluhur
125
BAB 125: Langit Utara
126
BAB 126: Lautan Tanpa Hukum
127
BAB 127: Jatuh ke Lautan Tanpa Hukum
128
BAB 128: Penekan Hawa Murni
129
BAB 129: Pengorbanan Sang Tuan Istana
130
BAB 130: Taring Armada Hitam
131
BAB 131: Ilusi Kabut Darah
132
BAB 132: Penempaan Tulang Kuno
133
BAB 133: Pemburu Tanpa Qi
134
BAB 134: Pemahaman Kematian
135
BAB 135: Kebrutalan Tulang Emas
136
BAB 136: Jejak Sang Utusan
137
BAB 137: Retaknya Teratai Es
138
BAB 138: Amarah Pembentukan Jiwa
139
BAB 139: Makam Bintang Purba
140
BAB 140: Kelahiran Jiwa Kekacauan
141
BAB 141: Panggilan Mahkota Dewa
142
BAB 142: Ujung Lautan
143
BAB 143: Reinkarnasi Iblis
144
BAB 144: Teror di Balik Awan
145
BAB 145: Hutang Karma
146
BAB 146: Runtuhnya Formasi Pembantai Dewa
147
BAB 147: Wajah di Balik Porselen
148
BAB 148: Alam Iblis dan Lautan Bintang
149
BAB 149: Gerbang Lautan Bintang
150
BAB 150: Darah Ascender
151
BAB 151: Senyum di Ambang Kematian
152
BAB 152: Hukum Rimba Alam Atas
153
BAB 153: Lembah Bintang Jatuh
154
BAB 154: Jantung Naga Biru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!