Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!
Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring, mengisi keheningan rumah yang terasa kian asing. Zahira Aulia Utami menatap punggung suaminya, Galang Putra Hadian, yang sibuk merapikan dasi di depan cermin. Pria yang dulunya selalu menyambut pagi dengan senyuman hangat itu, kini tak lebih dari bongkahan es yang dingin. Sudah hampir satu tahun rumah tanga mereka rasanya dingin.. Galang akan bersikap hangat saat dia sedang membutuhkan Aulia saja di atas ra-jang. Setelahnya tak ada lagi kehangatan yang dulu di rasakan Aulia. Mereka menikah bukan karena perjodohan namun karena memang sama-sama saling mencintai.
Di sudut ruangan, Cantika Alya Putri Hadian, putri kecil mereka yang berusia enam tahun sedang asyik menyusun balok mainan. Mulut mungilnya bergumam, mencoba menirukan suara mobil-mobilan, namun kata-kata yang keluar terdengar samar dan tidak jelas.
"Mas," panggil Aulia lembut, memecah keheningan.
"Pekan depan, hari Minggu, Cantika ada acara di sekolahnya. Penting sekali. Bisa kamu luangkan waktu untuk hadir?"
Galang menghentikan gerakannya di depan cermin. Bahunya menegang. Tanpa berbalik, dia mengembuskan napas berat, sebuah gestur yang belakangan ini selalu Aulia terima setiap kali membahas tentang putri mereka.
"Hari Minggu? Aku tidak bisa. Ada urusan pekerjaan penting yang harus kuselesaikan," jawab Galang datar, nadanya ketus dan terkesan mencari alasan.
Aulia menghela napas, mencoba menahan sesak di dadanya.
"Mas, acaranya hari Minggu. Dan ini acara sekolah Cantika. Dia sudah berlatih keras untuk penampilannya, meskipun... meskipun dia masih harus menjalani terapi bicaranya. Dia ingin ayahnya ada di sana."
Mendengar kata 'terapi', rahang Galang mengeras. Dia berbalik dengan tatapan tajam yang sarat akan kekecewaan dan amarah yang dipendam.
"Untuk apa aku datang, Aulia? Untuk melihatnya membuatku malu di depan orang tua murid yang lain?" sembur Galang, suaranya meninggi, membuat Cantika yang sedang bermain sempat terlonjak kaget sebelum kembali menunduk takut.
"Mas! Jaga bicaramu, ada Cantika di sini!" bisik Aulia tajam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa? Memang itu kenyataannya, kan?!" Galang melangkah mendekat, menatap Aulia dengan penuh kekesalan.
"Setahun ini aku sudah cukup sabar. Aku lelah, Aulia! Setiap ada acara keluarga atau pertemuan kantor, aku selalu jadi bahan bisikan karena punya anak yang... yang gagap seperti itu! Kamu yang mengandungnya, kamu yang mengurusnya sejak kecil, tapi kenapa kamu gagal mendidiknya sampai dia tidak bisa bicara normal di usia enam tahun?!"
Degh
Kata-kata Galang bagai sembilu yang menghunjam tepat di jantung Aulia. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Menyalahkan dirinya atas keterbatasan Cantika adalah makanan sehari-hari yang harus Aulia telan setahun terakhir ini. Suaminya yang dulu penyayang, kini telah berubah menjadi pria asing yang dipenuhi rasa malu egois. Padahal dulu galang begitu menyayangi Cantika, buah hati mereka berdua.
"Dia anakmu juga, Galang! Cantika tidak meminta dilahirkan dengan keistimewaan ini!" suara Aulia bergetar menahan tangis dan amarah yang meluap.
"Tugas kita sebagai orang tuanya adalah mendampingi dan mendukungnya, bukan malah membuang muka karena malu!"
"Sudahlah, berdebat denganmu tidak akan pernah ada habisnya," potong Galang dingin. Dia meraih tas kerjanya di atas meja dengan kasar.
"Intinya aku tidak bisa datang hari Minggu nanti. Urus saja anakmu itu sendiri. Aku pergi."
Tanpa memandang Aulia, bahkan tanpa melirik sedikit pun ke arah Cantika yang menatap kepergiannya dengan mata bulat yang polos, Galang melangkah lebar keluar rumah dan membanting pintu.
Braaaakkkk
Suara pintu yang berdentum keras itu seolah menegaskan bahwa rumah tangga mereka kini berada di ambang kehancuran. Aulia perlahan luruh ke lantai, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan saat isak tangisnya pecah.
Di saat itulah, sebuah tangan kecil yang hangat menyentuh pundaknya. Aulia mendongak dan melihat Cantika sudah berdiri di sampingnya, menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Ma... Ma... mi... ja... ngan... nang... is..." ucap Cantika terbata-bata, mencoba menghapus air mata di pipi ibunya dengan jemari mungilnya.
Aulia langsung merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan erat. Hatinya hancur, namun di dalam kehancuran itu, sebuah ketegasan mulai tumbuh. Dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dalam pernikahan yang hambar dan penuh penolakan ini.
"Sayang, kamu mandi dulu ya. Kita bersiap ke sekolah. Tapi sebelum itu, Cantika bereskan dulu mainanya, oke sayang?"
Cantika mengangguk patuh dan berlari kecil menuju ke arah mainannya. Memasukkan satu persatu ke dalam box khusus mainannya. Aulia menatap Cantika dengan perasaan yang campur aduk. Cantika adalah anak yang cuku[ cerdas dan mudah memahami seriap ucapan atau perintah. Hanya saja dia kesulitan untuk berbicara dan mengungkapkan perasaannya.
Seperti biasa, Aulia akan megantarkan Cantika ke sekolah TKnya dan di sana ada juga sekola TK yang khusus untuk anak-anak seperti Cantika dan yang lainnya. Galang bahkan tak pernah menginajakkan kakinya di sekolah Cantika ini. Dia selalu punya alasan dan pada akhirnya membuat Cantika kecewa. Bukan hanya Cantika yang merasa senang bisa ke sekolah dan bertemu dengan banyak teman yang saling menerima di tengah keterbatasan mereka. Tapi juga untuk Aulia.
Dia bertemu dengan banyak orangtua dan ibu hebat di sana, dan mereka saling sharing dengan perkembangan dan juga stimulan yang bagus untuk perkembangan anaknya. Namun yang berbeda dengan Aulia, banyak diantara mereka yang mendapatkan dukungan dari keluarga besar terutama dari keluarga inti yang memang bagus untuk perkembangan anak spesial mereka.
Pukul sebelas siang, Cantika selesai sekolah dan dia berlari ke arah ibunya dengan wajah ceria dan juga senyum yang lebar. Hal yang membuat Aulia sangat bahagia, melihat senyum bahagia di wajah putri kecilnya.
"Maaa.....maaa...." Cantika menunjukkan hasil gambarannya yang mendapat nilai tinggi dari gurunya.
"Wah anak mama pintar sekali, dapat nilai A lagi ya sayang...! Bagaimana kalau untuk merayakan nilai anak mama yang hebat ini kita beli es krim di supermarket? Sekalian Mama juga mau belanja kebutuhan rumah..."
Mendengar akan di belikan Es krim embuat Cantika melompat kegirangan kemudian memeluk kaki ibunya. Aulia tersenyum penuh kebahagiaan. Dengan menggunakan motornya, mereka berdua berangkat menuju supermarket.
Cantika berjalan dengan riang, sesekali melompat kecil sambil menggenggam erat tangan ibunya. Namun, suasana hati Aulia yang mulai membaik mendadak sirna saat mereka berbelok ke lorong makanan segar. Di ujung lorong, tampak sebuah keluarga yang sangat dia kenali. Itu adalah mertuanya, orang tua Galang bersama dengan kakak ipar, adik ipar dan keponakan-keponakannya. Mereka sedang asyik memilih buah sambil bercanda tawa.
Jantung Aulia berdegup kencang. Belum sempat dia memutuskan untuk berbalik arah, Cantika ternyata sudah melihat mereka terlebih dahulu. Mata bulat bocah itu berbinar senang saat melihat Nenek, kakek dan juga saudara-saudaranya ada di tempat yang sama.
"Neeee... Kaeeee...!" terukir senyum lebar di wajah Cantika.
Dengan polosnya, dia melepaskan genggaman tangan Aulia dan berlari kecil ke arah kakek dan neneknya. Aulia yang masih terkejut tak sempat mencegah cantika yang berteriak kegirangan sambil berlari.
"O... To... ma!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ambu Rinddiany Thea
lagi lagi menghadapi suami jadi jadian .. paraben buaya amazon ie mah .. 👊🏻😔
hadiiiir maaak 🥰
2026-07-09
0
Muft Smoker
si bapa ny si cantika udh kasih kode pgen di ganti ama yg lebih waras ,,
soalny otak ma hati ny udh kadaluarsa jdi gx bisa mikir yg bnr 😒😒😒😒😒😒😒
2026-07-15
0
Muft Smoker
hadiiir kak zie ,,
maaf kak baru sempet mampir ksni ,,
krn keliling dlu di Dunia NT ,,
sehat selalu kak
2026-07-15
0