Bab 1 - Saksi yang Salah

Suara sirene ambulans menggema di sepanjang jalan kota yang diguyur hujan deras. Aurora Valentia baru saja menyelesaikan operasi darurat selama hampir enam jam tanpa henti. Tubuhnya terasa lelah, tetapi sebagai seorang dokter, ia sudah terbiasa mengorbankan waktu istirahat demi menyelamatkan nyawa orang lain.

Ia melepas masker medisnya sambil mengembuskan napas panjang.

"Akhirnya selesai juga," gumamnya pelan.

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah sakit mulai sepi. Aurora mengambil tasnya, berpamitan kepada beberapa perawat yang masih berjaga, lalu berjalan menuju area parkir.

Hujan turun semakin deras.

Aurora membuka payung dan melangkah menuju mobilnya. Jalanan tampak lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya di atas aspal yang basah, menciptakan suasana yang sunyi sekaligus mencekam.

Entah mengapa, malam itu hatinya terasa gelisah.

Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, suara deru mesin terdengar dari kejauhan.

Bruummm!

Sebuah mobil SUV hitam melaju sangat kencang melewati rumah sakit.

Beberapa detik kemudian...

Dor! Dor! Dor!

Rentetan tembakan memecah keheningan malam.

Aurora refleks menunduk.

"Astaga!"

Ia berlari mencari perlindungan di balik sebuah pilar beton. Dadanya berdebar sangat cepat.

Suara ban berdecit keras.

Dua mobil hitam saling kejar sambil melepaskan tembakan.

Kaca mobil pecah berhamburan.

Orang-orang yang masih berada di sekitar rumah sakit berteriak panik dan berhamburan menyelamatkan diri.

Aurora memejamkan mata sesaat.

Ketika suara tembakan mulai mereda, rasa penasarannya justru muncul.

Perlahan ia mengintip dari balik pilar.

Salah satu mobil berhenti di tengah jalan.

Empat pria bersenjata keluar dengan tergesa-gesa.

Belum sempat mereka mengangkat senjata...

Dor!

Dor!

Dor!

Tiga tembakan terdengar hampir bersamaan.

Ketiga pria itu langsung roboh bersimbah darah.

Aurora membekap mulutnya agar tidak berteriak.

Dari balik bayangan hujan, seorang pria tinggi mengenakan jas hitam melangkah dengan tenang.

Tangannya menggenggam pistol yang masih mengeluarkan asap tipis.

Wajahnya begitu tampan, tetapi sorot matanya sedingin es.

Ia berjalan melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.

Seolah membunuh seseorang hanyalah rutinitas biasa.

Pria itu berhenti di depan korban terakhir yang masih bernapas.

"Tuan... ampuni aku..." lirih pria tersebut.

Tatapan pria berjas hitam tetap datar.

"Aku sudah memberimu kesempatan."

Dor!

Satu peluru bersarang tepat di kepala pria itu.

Sunyi.

Yang terdengar hanya suara hujan.

Aurora gemetar hebat.

Ia baru saja menyaksikan pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri.

Tanpa sengaja, kakinya mundur beberapa langkah.

Krek...

Sebuah ranting patah.

Suara kecil itu membuat pria berjas hitam langsung menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya Aurora melihat jelas wajah pria tersebut.

Sangat tampan.

Namun juga sangat mengerikan.

Tatapan dinginnya membuat Aurora seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas.

Pria itu menyipitkan mata.

"Siapa di sana?"

Aurora tersentak.

Ia segera berbalik dan berlari sekuat tenaga.

"Hei! Berhenti!"

Aurora tak peduli.

Ia terus berlari menembus hujan.

Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa akan meledak.

Di belakangnya terdengar langkah kaki beberapa orang.

"Cepat tangkap dia!"

Aurora menoleh sekilas.

Lima pria bersenjata sedang mengejarnya.

Air mata mulai bercampur dengan air hujan.

"Aku harus selamat..."

Ia memasuki gang sempit yang gelap.

Namun langkahnya mendadak terhenti.

Di depannya berdiri pria berjas hitam yang tadi ia lihat.

Entah bagaimana caranya, pria itu sudah berada di sana lebih dulu.

Aurora membeku.

Pria itu mendekatinya perlahan.

"Tolong... jangan bunuh aku," ucap Aurora dengan suara bergetar.

Pria itu menatap wajah Aurora cukup lama.

Matanya yang dingin seolah sedang membaca isi pikirannya.

"Apa kau melihat wajahku?"

Aurora tidak menjawab.

Diamnya justru menjadi jawaban.

Pria itu menghela napas pelan.

"Sayang sekali."

Aurora menutup mata.

Ia yakin malam ini adalah akhir hidupnya.

Namun suara tembakan yang ia tunggu tak kunjung terdengar.

Sebaliknya, pria itu justru memasukkan pistolnya kembali ke balik jas.

"Masukkan dia ke mobil."

"Dengan senang hati, Tuan Raven," jawab salah seorang anak buahnya.

Aurora membuka mata dengan bingung.

"Apa... apa maksudnya?"

Pria bernama Raven itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Kau terlalu banyak melihat."

"Aku tidak akan melapor ke polisi. Aku bersumpah!"

"Aku tidak percaya pada sumpah."

"Demi Tuhan..."

"Aku hanya percaya pada kendaliku sendiri."

Dua pria berbadan besar langsung memegang kedua lengan Aurora.

"Lepaskan aku!"

Aurora meronta sekuat tenaga, tetapi tenaganya tak sebanding dengan mereka.

Dalam hitungan detik ia sudah didorong masuk ke dalam mobil hitam mewah.

Pintu ditutup rapat.

Mobil melaju meninggalkan lokasi.

Aurora memandang keluar jendela dengan napas memburu.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa.

Yang ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi sejak malam ketika ia melihat wajah pria bernama Raven Alvaro—Don mafia paling kejam yang namanya membuat seluruh dunia bawah tanah gemetar.

Episodes
1 Prolog
2 Bab 1 - Saksi yang Salah
3 Bab 2 - Tawaran Sang Don
4 Bab 3 - Dokter Untuk Sang Don
5 Bab 4 - Serangan Di Mansion
6 Bab 5 - Luka di Balik Tahhta
7 Bab 6 - Pelarian yang Gagal
8 Bab 7 - Perjanjian yang Berbahaya
9 Bab 8 - Wanita yang Seharusnya Mati
10 Bab 9 - Pertemuan Dua Raja Mafia
11 Bab 10 - Peluru dan Rahasia
12 Bab 11 - Tawaran yang Menyimpan Kebenaran
13 Bab 12 - Menyelamatkan Sofia
14 Bab 13 - Jebakan di Pabrik Tua
15 Bab 14 - Pilihan di Antara Peluru
16 Bab 15 - Nama yang Tersembunyi
17 Bab 16 - Bayangan Black King
18 Bab 17 - Pengkhianat di Dalam Mansion
19 Bab 18 - Saksi yang Masih Hidup
20 Bab 19 - Mansion yang Terbakar
21 Bab 20 - Gudang Nomer 9
22 Bab 21 - Don yang Menghilang
23 Bab 22 - Kebenaran yang Mengguncang
24 Bab 23 - Makam Tanpa Nama
25 Bab 24 - Peluru Untuk Aurora
26 Bab 25 - Pewaris Kedua
27 Bab 26 - Panti Asuhan Saint Maria
28 Bab 27 - Ruang Arsip Bawah Tanah
29 Bab 28 - Luca Romano
30 Bab 29 - Pertarungan di Kota Ardent
31 Bab 30 - Pertemuan yang Tak Terduga
32 Bab 31 - Darah yang Sama
33 Bab 32 - Lorong Rahasia
34 Bab 33 - Pengkhianat di Dalam Mansion
35 Bab 34 - Proyek Phoenix
36 Bab 35 - Benteng Ravenhill
37 Bab 36 - Tuan Yang Sebenarnya
38 Bab 37 - Dalang di Balik Bayangan
39 Bab 38 - Mata - Mata di Dalam Organisasi
40 Bab 39 - Permainan Sang Architect
41 Bab 40 - Perang Dimulai
42 Bab 41 - Menuju Pulau Blackstone
43 Bab 42 - Menembus Blokade
44 Bab 43 - Gerbang Blackstone
45 Bab 44 - Kebangkitan Proyek Phoenix
46 Bab 45 - Wajah di Balik The Architect
47 Bab 46 - Ruang Mahkota
48 Bab 47 - Penjaga Mahkota Terakhir
49 Bab 48 - Kunci Keempat
50 Bab 49 - Pengkhianatan Terakhir
51 Bab 50 - Akhir Proyek Phoenix
52 Epilog - Fajar Setelah Badai
53 SEASON 2
54 Bab 51 S2
55 Bab 52 - S2
56 Bab 53
57 Bab 54
58 Bab 55
59 Bab 56
60 Bab 57
61 Bab 58
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1 - Saksi yang Salah
3
Bab 2 - Tawaran Sang Don
4
Bab 3 - Dokter Untuk Sang Don
5
Bab 4 - Serangan Di Mansion
6
Bab 5 - Luka di Balik Tahhta
7
Bab 6 - Pelarian yang Gagal
8
Bab 7 - Perjanjian yang Berbahaya
9
Bab 8 - Wanita yang Seharusnya Mati
10
Bab 9 - Pertemuan Dua Raja Mafia
11
Bab 10 - Peluru dan Rahasia
12
Bab 11 - Tawaran yang Menyimpan Kebenaran
13
Bab 12 - Menyelamatkan Sofia
14
Bab 13 - Jebakan di Pabrik Tua
15
Bab 14 - Pilihan di Antara Peluru
16
Bab 15 - Nama yang Tersembunyi
17
Bab 16 - Bayangan Black King
18
Bab 17 - Pengkhianat di Dalam Mansion
19
Bab 18 - Saksi yang Masih Hidup
20
Bab 19 - Mansion yang Terbakar
21
Bab 20 - Gudang Nomer 9
22
Bab 21 - Don yang Menghilang
23
Bab 22 - Kebenaran yang Mengguncang
24
Bab 23 - Makam Tanpa Nama
25
Bab 24 - Peluru Untuk Aurora
26
Bab 25 - Pewaris Kedua
27
Bab 26 - Panti Asuhan Saint Maria
28
Bab 27 - Ruang Arsip Bawah Tanah
29
Bab 28 - Luca Romano
30
Bab 29 - Pertarungan di Kota Ardent
31
Bab 30 - Pertemuan yang Tak Terduga
32
Bab 31 - Darah yang Sama
33
Bab 32 - Lorong Rahasia
34
Bab 33 - Pengkhianat di Dalam Mansion
35
Bab 34 - Proyek Phoenix
36
Bab 35 - Benteng Ravenhill
37
Bab 36 - Tuan Yang Sebenarnya
38
Bab 37 - Dalang di Balik Bayangan
39
Bab 38 - Mata - Mata di Dalam Organisasi
40
Bab 39 - Permainan Sang Architect
41
Bab 40 - Perang Dimulai
42
Bab 41 - Menuju Pulau Blackstone
43
Bab 42 - Menembus Blokade
44
Bab 43 - Gerbang Blackstone
45
Bab 44 - Kebangkitan Proyek Phoenix
46
Bab 45 - Wajah di Balik The Architect
47
Bab 46 - Ruang Mahkota
48
Bab 47 - Penjaga Mahkota Terakhir
49
Bab 48 - Kunci Keempat
50
Bab 49 - Pengkhianatan Terakhir
51
Bab 50 - Akhir Proyek Phoenix
52
Epilog - Fajar Setelah Badai
53
SEASON 2
54
Bab 51 S2
55
Bab 52 - S2
56
Bab 53
57
Bab 54
58
Bab 55
59
Bab 56
60
Bab 57
61
Bab 58

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!