Bab 4 - Serangan Di Mansion

Suara tembakan menggema tanpa henti di seluruh area mansion.

Dor! Dor! Dor!

Ledakan granat membuat jendela-jendela bergetar. Asap mulai memenuhi halaman depan, sementara para penjaga Raven membalas serangan dari balik dinding dan kendaraan lapis baja.

Aurora berdiri membeku di ruang tamu.

Ini pertama kalinya ia melihat perang bersenjata dari jarak sedekat ini.

"Tolong ikut kami, Nona!" teriak salah seorang penjaga.

Aurora menggeleng.

"Masih ada yang terluka!"

"Keselamatan Anda lebih penting."

"Tidak!"

Di luar, dua anak buah Raven jatuh bersimbah darah. Salah satunya masih bergerak sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.

Tanpa memikirkan bahaya, Aurora berlari keluar.

"Nona!"

Para penjaga berusaha menghentikannya, tetapi Aurora sudah lebih dulu berlutut di samping pria yang terluka.

"Ambilkan kain bersih!"

Tak ada yang bergerak.

Aurora berteriak lebih keras.

"Cepat! Kalau tidak dia akan kehabisan darah!"

Salah satu penjaga akhirnya memberikan jaketnya.

Aurora langsung menekan luka tembak itu sekuat tenaga.

"Tarik napas... jangan tutup matamu."

Pria itu mengangguk lemah.

Sementara itu, di gerbang utama, Raven berdiri di balik sebuah mobil antipeluru.

Tatapannya menyapu medan pertempuran.

"Berapa jumlah mereka?"

Leo yang bahunya masih diperban berdiri di sampingnya.

"Empat puluh orang."

"Pemimpin mereka?"

"Belum terlihat."

Raven mengisi ulang pistolnya.

"Kalau begitu paksa dia keluar."

Tanpa menunggu jawaban, Raven melangkah maju.

Dor!

Satu peluru mengenai dahi seorang penyerang.

Dor!

Penyerang kedua roboh setelah peluru menembus dadanya.

Pergerakan Raven begitu cepat dan presisi. Setiap peluru yang ia lepaskan selalu mengenai sasaran.

Tak heran jika namanya menjadi legenda di dunia mafia.

Di sisi lain halaman, seorang penembak jitu musuh mengincar Raven dari atas gedung kosong.

"Target terkunci..."

Jarinya mulai menarik pelatuk.

Namun tepat saat itu...

"Awas!"

Aurora yang sedang membantu korban melihat kilatan cahaya dari arah gedung.

Tanpa berpikir panjang, ia berteriak sekencang mungkin.

Raven langsung menoleh.

Refleksnya luar biasa cepat.

Ia menjatuhkan tubuh ke samping.

Dor!

Peluru hanya menggores lengan kirinya.

Raven segera membalas arah tembakan.

Dor!

Penembak jitu itu langsung terjatuh dari atap.

Leo mendekati Raven.

"Anda terluka."

"Hanya goresan."

Tatapan Raven beralih kepada Aurora yang masih berlutut menolong anak buahnya.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Wanita itu bisa saja bersembunyi.

Namun ia justru mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang lain.

"Evakuasi semua yang terluka!" perintah Raven.

Pertempuran berlangsung hampir tiga puluh menit.

Sedikit demi sedikit pasukan musuh mulai terdesak.

Mereka akhirnya mundur meninggalkan belasan mayat.

Suasana kembali sunyi.

Yang tersisa hanyalah asap mesiu dan aroma darah.

Aurora berdiri perlahan.

Tangannya dipenuhi darah para korban.

Raven berjalan menghampirinya.

"Kau menyelamatkan lima orang."

"Aku hanya melakukan pekerjaanku."

"Kau juga menyelamatkan nyawaku."

Aurora menatap luka di lengan Raven.

"Itu karena aku tidak ingin melihat seseorang mati di depanku."

"Bahkan aku?"

Aurora terdiam.

Beberapa detik kemudian ia menghela napas.

"Aku membenci apa yang kau lakukan."

"Tapi?"

"Tidak berarti aku ingin melihatmu terbunuh."

Jawaban itu membuat Raven terdiam.

Belum pernah ada orang yang berbicara sejujur itu di hadapannya.

Anak buahnya selalu takut.

Musuhnya selalu membencinya.

Namun Aurora berbeda.

Ia berani menentangnya tanpa menyembunyikan rasa takut.

"Tuan."

Seorang penjaga datang membawa sebuah kotak hitam.

"Kami menemukan ini di salah satu mobil musuh."

Raven membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu bergambar ular emas.

Tatapan Raven langsung berubah dingin.

"Vittorio..."

Leo mengepalkan tangan.

"Dia mulai menyatakan perang secara terbuka."

Raven menutup kotak itu.

"Kalau begitu peranglah yang akan dia dapat."

Malam kembali turun.

Setelah semua korban dirawat, Aurora akhirnya kembali ke kamarnya.

Saat hendak menutup pintu balkon, ia melihat Raven berdiri sendirian di taman belakang.

Pria itu sedang memandangi makam kecil yang tersembunyi di balik pepohonan.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada senjata di tangannya.

Hanya kesunyian.

Aurora memperhatikan dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari pria yang selama ini dianggapnya monster.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Raven perlahan menoleh.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Dan kali ini, Raven tidak terlihat marah.

Tatapannya justru dipenuhi kesedihan yang selama ini berhasil ia sembunyikan dari seluruh dunia.

Terpopuler

Comments

Sunflower_6520

Sunflower_6520

Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 1 - Saksi yang Salah
3 Bab 2 - Tawaran Sang Don
4 Bab 3 - Dokter Untuk Sang Don
5 Bab 4 - Serangan Di Mansion
6 Bab 5 - Luka di Balik Tahhta
7 Bab 6 - Pelarian yang Gagal
8 Bab 7 - Perjanjian yang Berbahaya
9 Bab 8 - Wanita yang Seharusnya Mati
10 Bab 9 - Pertemuan Dua Raja Mafia
11 Bab 10 - Peluru dan Rahasia
12 Bab 11 - Tawaran yang Menyimpan Kebenaran
13 Bab 12 - Menyelamatkan Sofia
14 Bab 13 - Jebakan di Pabrik Tua
15 Bab 14 - Pilihan di Antara Peluru
16 Bab 15 - Nama yang Tersembunyi
17 Bab 16 - Bayangan Black King
18 Bab 17 - Pengkhianat di Dalam Mansion
19 Bab 18 - Saksi yang Masih Hidup
20 Bab 19 - Mansion yang Terbakar
21 Bab 20 - Gudang Nomer 9
22 Bab 21 - Don yang Menghilang
23 Bab 22 - Kebenaran yang Mengguncang
24 Bab 23 - Makam Tanpa Nama
25 Bab 24 - Peluru Untuk Aurora
26 Bab 25 - Pewaris Kedua
27 Bab 26 - Panti Asuhan Saint Maria
28 Bab 27 - Ruang Arsip Bawah Tanah
29 Bab 28 - Luca Romano
30 Bab 29 - Pertarungan di Kota Ardent
31 Bab 30 - Pertemuan yang Tak Terduga
32 Bab 31 - Darah yang Sama
33 Bab 32 - Lorong Rahasia
34 Bab 33 - Pengkhianat di Dalam Mansion
35 Bab 34 - Proyek Phoenix
36 Bab 35 - Benteng Ravenhill
37 Bab 36 - Tuan Yang Sebenarnya
38 Bab 37 - Dalang di Balik Bayangan
39 Bab 38 - Mata - Mata di Dalam Organisasi
40 Bab 39 - Permainan Sang Architect
41 Bab 40 - Perang Dimulai
42 Bab 41 - Menuju Pulau Blackstone
43 Bab 42 - Menembus Blokade
44 Bab 43 - Gerbang Blackstone
45 Bab 44 - Kebangkitan Proyek Phoenix
46 Bab 45 - Wajah di Balik The Architect
47 Bab 46 - Ruang Mahkota
48 Bab 47 - Penjaga Mahkota Terakhir
49 Bab 48 - Kunci Keempat
50 Bab 49 - Pengkhianatan Terakhir
51 Bab 50 - Akhir Proyek Phoenix
52 Epilog - Fajar Setelah Badai
53 SEASON 2
54 Bab 51 S2
55 Bab 52 - S2
56 Bab 53
57 Bab 54
58 Bab 55
59 Bab 56
60 Bab 57
61 Bab 58
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Prolog
2
Bab 1 - Saksi yang Salah
3
Bab 2 - Tawaran Sang Don
4
Bab 3 - Dokter Untuk Sang Don
5
Bab 4 - Serangan Di Mansion
6
Bab 5 - Luka di Balik Tahhta
7
Bab 6 - Pelarian yang Gagal
8
Bab 7 - Perjanjian yang Berbahaya
9
Bab 8 - Wanita yang Seharusnya Mati
10
Bab 9 - Pertemuan Dua Raja Mafia
11
Bab 10 - Peluru dan Rahasia
12
Bab 11 - Tawaran yang Menyimpan Kebenaran
13
Bab 12 - Menyelamatkan Sofia
14
Bab 13 - Jebakan di Pabrik Tua
15
Bab 14 - Pilihan di Antara Peluru
16
Bab 15 - Nama yang Tersembunyi
17
Bab 16 - Bayangan Black King
18
Bab 17 - Pengkhianat di Dalam Mansion
19
Bab 18 - Saksi yang Masih Hidup
20
Bab 19 - Mansion yang Terbakar
21
Bab 20 - Gudang Nomer 9
22
Bab 21 - Don yang Menghilang
23
Bab 22 - Kebenaran yang Mengguncang
24
Bab 23 - Makam Tanpa Nama
25
Bab 24 - Peluru Untuk Aurora
26
Bab 25 - Pewaris Kedua
27
Bab 26 - Panti Asuhan Saint Maria
28
Bab 27 - Ruang Arsip Bawah Tanah
29
Bab 28 - Luca Romano
30
Bab 29 - Pertarungan di Kota Ardent
31
Bab 30 - Pertemuan yang Tak Terduga
32
Bab 31 - Darah yang Sama
33
Bab 32 - Lorong Rahasia
34
Bab 33 - Pengkhianat di Dalam Mansion
35
Bab 34 - Proyek Phoenix
36
Bab 35 - Benteng Ravenhill
37
Bab 36 - Tuan Yang Sebenarnya
38
Bab 37 - Dalang di Balik Bayangan
39
Bab 38 - Mata - Mata di Dalam Organisasi
40
Bab 39 - Permainan Sang Architect
41
Bab 40 - Perang Dimulai
42
Bab 41 - Menuju Pulau Blackstone
43
Bab 42 - Menembus Blokade
44
Bab 43 - Gerbang Blackstone
45
Bab 44 - Kebangkitan Proyek Phoenix
46
Bab 45 - Wajah di Balik The Architect
47
Bab 46 - Ruang Mahkota
48
Bab 47 - Penjaga Mahkota Terakhir
49
Bab 48 - Kunci Keempat
50
Bab 49 - Pengkhianatan Terakhir
51
Bab 50 - Akhir Proyek Phoenix
52
Epilog - Fajar Setelah Badai
53
SEASON 2
54
Bab 51 S2
55
Bab 52 - S2
56
Bab 53
57
Bab 54
58
Bab 55
59
Bab 56
60
Bab 57
61
Bab 58

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!