Bab 04 - Surat Perjanjian di Atas Darah

​Pendingin ruangan di dalam kantor hukum Wirayuda & Associates yang terletak di lantai 30 sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, berdesis konstan.

Udara di dalam ruangan rapat utama itu terasa sangat kaku, sedingin dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan belantara beton Jakarta di bawahnya.

Di atas meja rapat berbahan kayu mahoni yang mengilat, tergeletak tiga bundel dokumen tebal bersampul biru tua.

​Aryo duduk di salah satu sisi meja, melonggarkan ikatan dasinya yang mendadak terasa mencekik leher.

Di sampingnya, duduk Baskoro, pengacara pribadi sekaligus orang kepercayaan Aryo yang telah mengurus segala legalitas bisnis propertinya selama satu dekade terakhir.

Di hadapan mereka, kursi yang disediakan untuk pihak Sekar masih kosong.

​"Yo, kamu yakin dengan semua klausul ini?" Baskoro berbisik, nadanya sarat akan keraguan profesional. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya di atas draf dokumen yang diberi judul Surat Perjanjian Pembagian Aset dan Pengalihan Saham.

​Aryo mengusap wajahnya yang tampak lelah. Bayangan Maya yang menangis histeris tadi pagi, meratapi status calon bayinya, terus membayangi pikirannya.

"Aku tidak punya pilihan, Bas. Maya terus menekanku. Kondisi kehamilannya bisa-bisa terganggu kalau dia stres. Aku harus menyelesaikan ini dengan Sekar secepatnya."

​Baskoro menghela napas, lalu membalik halaman dokumen tersebut.

"Tapi klausul di Bab Tiga ini keterlaluan, Aryo. Kamu mengalihkan kepemilikan tujuh puluh persen saham di PT Artha Raya Propertindo—yang merupakan induk dari semua proyekmu di Surabaya—ke atas nama Maya. Terus kamu juga memangkas hak kelola Sekar atas yayasan keluarga dan tanah pusaka di Banyuwangi, lalu memindahkannya ke dalam aset pribadi yang bisa kamu agunkan ke bank. Ini bukan sekadar pembagian aset yang adil untuk perceraian, Yo. Ini tuh sudah termasuk pemiskinan sepihak. Tentunya sangat merugikan Sekar."

​"Sekar tidak butuh uang sebanyak itu, Bas!" potong Aryo, suaranya meninggi karena frustrasi. Ia mencoba mencari pembenaran atas keserakahannya sendiri. "Dia hidup di desa, pengeluarannya tidak ada. Rumah joglo peninggalan ayahnya tetap menjadi miliknya, aku tidak mengusirnya dari sana. Aku juga akan memberinya uang bulanan yang cukup untuk hidup mewah di kampung. Tapi untuk bisnis ini ... ini hasil kerja keras otakkku di Jakarta, Bas. Maya dan anakku yang lebih berhak menikmatinya di masa depan."

"Aryooo, Aryo. Biarpun kata seorang pemimpin sebuah negara hidup di desa itu tidak pakai dolar, tetap saja semua orang ingin hidup dengan layak. Sekar memang orang yang sederhana, tapi bukan berarti dia akan menerima begitu saja."

​Baskoro menatap kliennya dengan pandangan iba sekaligus kecewa. Sebagai orang luar, Baskoro tahu betul sejarah berdirinya PT Artha Raya.

Modal awal perusahaan itu berasal dari penjualan tanah adat milik Ki Demang, ayah Sekar, yang diberikan dengan sukarela demi melihat menantunya sukses.

Pengaruh politik dan spiritual Ki Demang di Jawa Timur pula yang membuat jalan Aryo mulus tanpa hambatan birokrasi pada tahun-tahun pertama.

Mengeluarkan Sekar secara paksa dari perusahaan yang ia bangun dengan darah dan air mata keluarganya sendiri adalah sebuah tindakan pengkhianatan yang paling kotor.

​"Satu lagi ...," Baskoro melanjutkan. "Jika Sekar membawa draf ini ke pengacara lain, kamu bisa dituntut atas dugaan penipuan dan penggelapan aset dalam perkawinan, Aryo."

Baskoro memperingatkan dengan tegas.

​"Dia tidak akan melakukannya," sahut Aryo dingin, meskipun ada segumpal rasa bersalah yang mendadak menyangkut di tenggorokannya. "Sekar itu wanita penurut. Dia tidak paham hukum modern. Dia pasti akan menandatanganinya jika aku yang memintanya sendiri."

​Tepat ketika kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang rapat terbuka.

​Seorang wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang sunyi. Sekar. Ia tidak datang bersama pengacara dari kota, tidak pula ditemani oleh kerabatnya. Ia datang sendirian.

Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan kantor hukum tersebut. Sekar mengenakan kebaya kutubaru beludru berwarna hitam pekat dengan kain jarik bermotif Gajah Oling yang membungkus bagian bawah tubuhnya.

Rambutnya disanggul rapi tanpa cela. Wajahnya polos tanpa riasan mahal, namun memancarkan aura ketenangan yang justru membuat seisi ruangan itu mendadak terasa terintimidasi.

​Aryo tersentak, langsung berdiri dari kursinya.

"Sekar ... kamu sudah sampai. Silakan duduk."

​Sekar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sopan, lalu menarik kursi di seberang Aryo.

Gerakannya begitu halus, tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun antara kaki kursi dan lantai marmer.

Kehadirannya membawa aroma yang aneh ke dalam ruangan ber-AC itu—aroma harum dupa esensial yang samar bercampur dengan bau tanah setelah hujan.

​Baskoro berdeham, mencoba mencairkan suasana yang mendadak membeku.

"Selamat siang, Ibu Sekar. Terima kasih atas kehadirannya. Perkenalkan saya Baskoro, yang mengurus dokumen ... emm, kesepakatan bersama antara Ibu dan Pak Aryo terkait rencana perpisahan secara baik-baik."

​Sekar menatap Baskoro dengan sepasang mata bulatnya yang hitam pekat, seolah bisa membaca setiap kebohongan yang tersembunyi di balik jas mahalnya.

"Selamat siang, Pak Baskoro. Langsung saja. Di mana saya harus membacanya?"

​Dengan tangan sedikit gemetar, Baskoro menyodorkan berkas draf dokumen tersebut ke hadapan Sekar.

​Selama 15 menit berjalan, ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang menyiksa. Hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik perlahan oleh Sekar.

Dari kursinya, Aryo memperhatikan istri pertamanya itu dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Ia bersiap-siap jika Sekar tiba-tiba menangis, menjerit, atau melemparkan dokumen itu ke wajahnya. Aryo sudah menyiapkan skenario argumen untuk membela diri.

​Namun, Sekar tetap tenang. Lembar demi lembar yang berisi pasal-pasal tirani yang merampas hak-haknya dibaca dengan saksama tanpa ada satu pun kerutan di dahinya. Wajahnya sedatar permukaan air telaga yang mati.

​Setelah selesai membaca lembar terakhir, Sekar meletakkan dokumen itu kembali ke meja. Ia menatap Aryo lurus-lurus. Tatapan yang membuat Aryo merasa telanjang dan kerdil.

​"Semua aset di Surabaya, saham induk perusahaan, dan hak kelola tanah pusaka di Banyuwangi ... kamu ambil semuanya, Mas? Benar begitu?" tanya Sekar, suaranya begitu lembut, hampir menyerupai bisikan, namun bergema dengan sangat jelas di telinga Aryo.

​Aryo berdeham, mencoba menegakkan punggungnya untuk mengembalikan wibawanya yang runtuh.

"Ini ... ini demi kelangsungan perusahaanku, Sekar. Maya sedang hamil, dan anak itu butuh jaminan masa depan yang jelas di kota ini. Kamu yang hidup di kampung tidak butuh struktur saham seperti ini, kan? Aku berjanji akan menjamin seluruh kebutuhan hidupmu di sana."

​Sekar tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

"Anak. Jaminan masa depan. Iya, aku mengerti, Mas. Seorang anak memang sangat berharga."

Sekar menjeda kalimatnya, kepalanya mengangguk-angguk dengan ritme pelan, kemudian beralih menatap Baskoro.

"Di mana saya harus tanda tangan?" tanyanya.

​Baskoro tertegun.

"Ibu ... Ibu tidak keberatan dengan klausul pasal pembagian ini? Ibu tidak ingin merevisinya atau berkonsultasi dengan pihak lain dulu?"

​"Tidak perlu," jawab Sekar tenang. "Apa yang tertulis di kertas ini hanyalah angka-angka di atas dunia manusia. Jika suamiku merasa itu bisa membahagiakan wanita mudanya, aku akan memberikannya."

​Baskoro segera membuka halaman terakhir dokumen, menunjuk kolom di atas meterai. Ia menyodorkan sebuah pena mahal bermerek Montblanc milik Aryo ke arah Sekar.

​Sekar pun meraih pena tersebut. Namun, entah bagaimana, saat jemarinya menyentuh ujung logam pena yang tajam, ia seolah sengaja menekannya keras-keras pada ibu jarinya sendiri. Hingga ....

​Cles.

​Kulit ibu jari kanan Sekar tergores.

Darah segar berwarna merah pekat—yang tampak terlalu gelap untuk ukuran darah normal—langsung merembes keluar dengan cepat.

Baskoro terkejut dan hendak mengambil tisu, namun Sekar mengangkat tangannya, menghentikan sang pengacara dengan gerakan anggun.

​Dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah tidak merasakan sakit sedikit pun, Sekar menempelkan ibu jarinya yang berdarah tepat di atas baris namanya pada dokumen tersebut, sebelum akhirnya menggoreskan tanda tangan di atas cairan merah yang basah itu.

Darah Sekar merembes ke dalam serat kertas putih, menciptakan noda kemerahan yang meluas, menenggelamkan meterai dan tulisan hukum di bawahnya.

​"Sudah selesai," ucap Sekar, meletakkan kembali pena itu. Noda darah juga membekas di gagang pena mahal milik Aryo.

​Aryo menatap noda darah di atas dokumen itu dengan perasaan ngeri yang amat sangat. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas paru-parunya.

"Sekar ... jarimu ... berdarah. Mari Mas bant—"

​"Tidak usah, Mas," potong Sekar. "Ini hanya luka kecil."

Sekar bangkit dari kursi, lalu merapikan kain jarik Gajah Oling-nya. Sebelum melangkah pergi, ia menatap Aryo untuk terakhir kalinya di ruangan itu.

"Perjanjian ini sudah sah. Di atas kertas, dan di atas darah. Kamu telah mengambil semua yang bukan milikmu lagi, Mas. Maka dari itu, jangan pernah menyesal jika alam semesta mulai menuntut bayaran yang setimpal dari apa yang kamu tanam hari ini."

​Setelah mengatakan itu, Sekar berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat. Pintu tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.

​Baskoro menatap dokumen yang kini ternoda darah itu dengan wajah pucat.

"Aryo ... ini ... ini aneh sekali. Lihat darahnya, kenapa tidak mengering, malah makin menghitam seperti ini?"

​Aryo tidak menjawab. Ia terpaku menatap dokumen di depannya. Di atas kertas putih itu, darah Sekar perlahan berubah warna menjadi hitam pekat seperti tinta cumi, mengeluarkan bau anyir yang sangat tajam yang mendadak memenuhi ruangan rapat ber-AC tersebut.

Terpopuler

Comments

🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡

🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡

tunggu pembalasan tak kasat mata yang akan meneror keluargamu Aryo.
Sifat kemaruk mu akan menenggelamkan kalian dalam jurang kesedihan

2026-07-30

0

kinoy

kinoy

SErakah si Aryo .g tau diri..ngerampok tu mah

2026-07-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01 - Kamar Pengantin Baru
2 Bab 02 - Keheningan di Babyuwangi
3 Bab 03 - Tuntutan Maya
4 Bab 04 - Surat Perjanjian di Atas Darah
5 Bab 05 - Wangi Bunga Kantil
6 Bab 06 - Tamu Tengah Malam
7 Bab 07 - Kilas Balik
8 Bab 08 - Lebam yang Tidak Sembuh
9 Bab 09 - Mimpi Buruk yang Sama
10 Bab 10 - Jamuan Makan Malam Berdarah
11 Bab 11 - Diagnosis
12 Bab 12 - Boneka
13 Bab 13 - Kepulangan Aryo
14 Bab 14 - Abah Kamdi
15 Bab 15 - Kebakaran
16 Bab 16 - Makhluk Baru
17 Bab 17 - Wanita Berkonde
18 Bab 18 - Badai Bisnis
19 Bab 19 - Suara Gamelan
20 Bab 20 - Sang Detektif
21 Bab 21 - Jejak Digital Spiritual
22 Bab 22 - Peringatan
23 Bab 23 - Penelusuran Danu
24 Bab 24 - Perjanjian Alas Purwo
25 Bab 25 - Memutus Jangkar
26 Bab 26 - Pengkhianatan Masa Lalu
27 Bab 27 - Perlindungan yang Retak
28 Bab 28 - Hukuman Merambat
29 Bab 29 - Air Mata Darah
30 Bab 30 - Puncak Bulan Suro
31 Bab 31 - Kyai Zainal
32 Bab 32 - Jin Kiriman
33 Bab 33 - Dendam yang Valid
34 Bab 34 - Menyelamatkan Diri
35 Bab 35 - Pilihan Mustahil
36 Bab 36 - Menenun Kain Kafan
37 Bab 37 - Serangan Balik
38 Bab 38 - Halusinasi atau Nyata?
39 Bab 39 - Malam Kelahiran
40 Bab 40 - Bayi yang Lahir dari Kegelapan
41 Bab 41 - Kematian di Ranjang Pengantin
42 Bab 42 - Pemakaman
43 Bab 43 - Aryo Menjadi Gila
44 Bab 44 - Penyesalan yang Terlambat
45 Bab 45 - Sambutan Hangat
46 Bab 46 - Racun Tak Kasat Mata
47 Bab 48 - Tumbal yang Sempurna
48 Bab 49 - Lingsir Wengi
49 Bab 50 - Secangkir Teh Kamomil (END)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 01 - Kamar Pengantin Baru
2
Bab 02 - Keheningan di Babyuwangi
3
Bab 03 - Tuntutan Maya
4
Bab 04 - Surat Perjanjian di Atas Darah
5
Bab 05 - Wangi Bunga Kantil
6
Bab 06 - Tamu Tengah Malam
7
Bab 07 - Kilas Balik
8
Bab 08 - Lebam yang Tidak Sembuh
9
Bab 09 - Mimpi Buruk yang Sama
10
Bab 10 - Jamuan Makan Malam Berdarah
11
Bab 11 - Diagnosis
12
Bab 12 - Boneka
13
Bab 13 - Kepulangan Aryo
14
Bab 14 - Abah Kamdi
15
Bab 15 - Kebakaran
16
Bab 16 - Makhluk Baru
17
Bab 17 - Wanita Berkonde
18
Bab 18 - Badai Bisnis
19
Bab 19 - Suara Gamelan
20
Bab 20 - Sang Detektif
21
Bab 21 - Jejak Digital Spiritual
22
Bab 22 - Peringatan
23
Bab 23 - Penelusuran Danu
24
Bab 24 - Perjanjian Alas Purwo
25
Bab 25 - Memutus Jangkar
26
Bab 26 - Pengkhianatan Masa Lalu
27
Bab 27 - Perlindungan yang Retak
28
Bab 28 - Hukuman Merambat
29
Bab 29 - Air Mata Darah
30
Bab 30 - Puncak Bulan Suro
31
Bab 31 - Kyai Zainal
32
Bab 32 - Jin Kiriman
33
Bab 33 - Dendam yang Valid
34
Bab 34 - Menyelamatkan Diri
35
Bab 35 - Pilihan Mustahil
36
Bab 36 - Menenun Kain Kafan
37
Bab 37 - Serangan Balik
38
Bab 38 - Halusinasi atau Nyata?
39
Bab 39 - Malam Kelahiran
40
Bab 40 - Bayi yang Lahir dari Kegelapan
41
Bab 41 - Kematian di Ranjang Pengantin
42
Bab 42 - Pemakaman
43
Bab 43 - Aryo Menjadi Gila
44
Bab 44 - Penyesalan yang Terlambat
45
Bab 45 - Sambutan Hangat
46
Bab 46 - Racun Tak Kasat Mata
47
Bab 48 - Tumbal yang Sempurna
48
Bab 49 - Lingsir Wengi
49
Bab 50 - Secangkir Teh Kamomil (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!