SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Bab 01 - Kamar Pengantin Baru

​Aroma lilin aromaterapi varian french vanilla menguar memenuhi setiap sudut kamar tidur utama berukuran delapan kali delapan meter itu.

Di tengah ruangan, sebuah ranjang king size bertiang empat dengan kelambu sutra putih yang menjuntai tampak megah, menjadi pusat dari segala kemewahan di dalam rumah baru di kawasan elit Pondok Indah tersebut.

Segala sesuatu di ruangan ini berharga fantastis—mulai dari karpet wol Persia yang melapisi lantai marmer Italia, hingga lampu gantung kristal yang berpendar keemasan, memantulkan kemewahan yang selama ini hanya ada di dalam mimpi terliar seorang Maya.

​Maya, perempuan berusia dua 26 tahun dengan paras jelita khas blasteran, berdiri di depan meja rias berbingkai emas. Ia hanya mengenakan selembar lingerie sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulit putih bersihnya.

Jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku senada perlahan turun menyusuri leher, tulang selangka, hingga akhirnya berhenti di atas perutnya. Di sana, di balik kain sutra yang tipis, ada sebuah permukaan yang mulai mengeras dan membuncit lembut.

​Sebuah senyuman kemenangan terukir di bibir tipisnya yang dilapisi pemerah mahal.

​"Dua bulan," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri di cermin. "Dua bulan, dan kau akan memberikan semua yang seharusnya menjadi milik kita, Sayang."

​Melalui cermin besar itu, Maya menatap pantulan seorang pria yang tengah tertidur pulas di atas ranjang. Aryo. Pria berusia 40 tahun dengan rambut yang mulai menipis di bagian pelipis, namun tetap bugar dan berwibawa.

Setelan jas kerjanya teronggok begitu saja di atas sofa beludru di sudut kamar, menandakan betapa lelahnya pria itu setelah seharian mengurus gurita bisnis propertinya yang bernilai miliaran rupiah, sebelum kemudian membelah kemacetan Jakarta hanya demi mengurung diri di rumah ini bersama sang madu.

​Tiga tahun. Butuh waktu tiga tahun bagi Maya untuk bertahan di dalam bayang-bayang. Tiga tahun menelan harga diri sebagai "perempuan simpanan", menyembunyikan hubungan mereka dari kilatan kamera rekan bisnis Aryo, dan menanti di apartemen sepi setiap kali pria itu harus pulang ke pelukan istri sahnya.

Namun malam ini, semua rasa lelah itu menguap tanpa bekas. Seminggu yang lalu, di bawah kesaksikan seorang penghulu sewaan dan dua orang saksi yang dibayar mahal, Aryo resmi mengikatnya dalam pernikahan siri.

Rumah mewah ini, bersama sebuah mobil sedan terbaru, adalah hadiah pernikahan sekaligus bukti bahwa Aryo telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah pesonanya.

​Maya membalikkan tubuh, melangkah anggun mendekati ranjang. Setiap langkahnya tidak bersuara, tenggelam dalam tebalnya karpet Persia. Ia menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang, memandangi wajah gusar Aryo yang sedang terlelap.

Bahkan dalam tidurnya, gumpalan stres di dahi pria itu tidak sepenuhnya hilang. Maya tahu persis apa yang membebani pikiran suaminya.

​"Hem, apa wanita mandul itu belum juga setuju?" tebak Maya bersuara lembut ketika melihat kelopak mata Aryo perlahan terbuka. Pria itu melenguh, silau oleh cahaya lampu kristal yang sengaja diredupkan.

​Aryo bangkit, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang yang dilapisi busa empuk. Ia memijat pangkal hidungnya, lalu menarik Maya ke dalam pelukannya.

Aroma parfum mahal Maya sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

​"Sekar tidak mengatakan apa-apa saat aku meminta izin, Sayang," jawab Aryo, suaranya parau khas orang yang baru bangun tidur. "Dia hanya diam. Seperti biasanya. Kamu tau sendiri lah, dia memang semembosankan itu."

​Maya mengerucutkan bibirnya, sengaja memperlihatkan gurat kekecewaan yang dibuat-buat namun mematikan bagi ego seorang pria.

"Ya tapi sampai kapan dia mau diam, Maaas? Aku kan sedang mengandung anak kamu. Anak kandungmu, darah dagingmu sendiri! Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh perempuan kampung itu selama 15 tahun pernikahan kalian. Apa dia sengaja ingin menggantung statusku? Membuat anak kita lahir tanpa nama belakang ayahnya? Ish, keterlaluan!"

​"Tenanglah, Maya Sayang. Jangan marah-marah gitu dong. Pikirkan kandunganmu." Aryo mengelus perut Maya dengan lembut, mencoba meredakan ketegangan.

Setelah dirasa Maya agak tenang, ia pun melanjutkan, "Sekar memang seperti itu sejak dulu. Dingin, kaku, jarang mengekspresikan emosi. Sejak awal kita menikah karena perjodohan bisnis mendiang ayahku, dia tidak pernah menuntut banyak hal. Dia tahu posisinya. Dan aku sudah berjanji padamu, hem ... begitu urusan pembagian aset beberapa proyek di Surabaya selesai, aku akan mengurus perceraian kami secara resmi di pengadilan. Rumah di Menteng akan tetap jadi miliknya, tapi seluruh sisa kejayaanku adalah milikmu dan anak kita."

Aryo mencubit manja ujung hidung Maya.

​Maya pun terkekeh kecil, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryo, mendengarkan detak jantung pria itu.

Rasa puas kembali merayap di hatinya.

Bagi Maya, Sekar hanyalah seonggok masa lalu yang membosankan dari hidup Aryo. Seorang wanita paruh baya asal desa terpencil di Banyuwangi yang beruntung bisa dinikahi oleh pria kota yang sukses.

Wanita yang menghabiskan waktunya hanya dengan menyiram tanaman, memotong kain batik, dan berdoa di kamar yang gelap. Wanita yang lemah, yang tidak memiliki taji untuk melawan arus modernitas dan pesona ke perempuanan yang dimilikinya. Begitulah seorang Sekar di mata Maya.

​"Aku hanya takut, Mas," lirih Maya, nadanya beralih menjadi rapuh dan penuh kepasrahan. "Aku takut dia melakukan sesuatu yang buruk pada kita. Maksudku ... orang-orang dari daerah asalnya ... bukankah mereka sering dikaitkan dan berurusan dengan hal-hal ... mistis?"

​Aryo terkekeh geli, meskipun ada sedikit kilat tidak nyaman yang melintas di matanya selama sepersekian detik. Ia mengecup puncak kepala Maya.

"Kamu ini terlalu banyak menonton film horor, Sayang. Kita hidup di abad ke-21, di tengah-tengah kota Jakarta. Sihir atau apa pun itu tidak akan bisa menembus dinding beton rumah ini. Sekar itu wanita yang taat beribadah, dia tidak akan mengerti hal-hal sekotor itu. Ayahnya dulu memang seorang sesepuh adat yang dihormati di Kemiren, tapi ya ... itu hanya sebatas urusan budaya, bukan dukun santet."

​Maya mengangguk, mencoba menerima penjelasan itu meskipun ada sebuah firasat aneh yang tiba-tiba melintas di benaknya. Firasat yang langsung ia tepis jauh-jajah. Ia memeluk Aryo lebih erat, menenggelamkan diri dalam kehangatan tubuh pria yang kini telah sepenuhnya ia kuasai.

Di dalam kepalanya, Maya sudah menyusun rencana untuk merombak taman depan rumah ini, memilih furnitur baru untuk kamar bayi mereka, dan membayangkan malam-malam megah sebagai nyonya besar Aryo yang sah di mata hukum dan sosial.

​Namun, di luar sana, cuaca Jakarta yang semula gerah tiba-tiba berubah secara drastis. Langit malam yang bersih tanpa awan mendadak tertutup oleh gumpalan kabut hitam yang pekat.

Angin malam berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon palem di halaman depan rumah mewah tersebut dengan suara gemerisik yang menyerupai bisikan kasar.

​Srekk ... Srekk ....

​Suara gesekan ranting pohon pada kaca jendela lantai dua terdengar ritmis, seolah-olah ada jemari kurus dengan kuku panjang yang sedang mengetuk-ngetuk kaca, meminta izin untuk masuk.

​Maya sedikit tersentak, menoleh ke arah jendela besar yang tertutup gorden beludru tebal.

"Mas, kamu dengar suara itu nggak?"

​Aryo yang sudah kembali memejamkan mata hanya bergumam tidak jelas, tangannya masih mendekap pinggang Maya dengan erat.

"Hanya angin, Maya ... tidurlah."

​Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah akibat dari hormon kehamilannya yang tidak stabil. Ia menutup matanya, bersiap untuk menjemput tidur di dalam kamar pengantin baru yang begitu megah dan hangat.

​Wanita itu tidak pernah tahu, bahwa di saat yang bersamaan, ribuan kilometer dari tempatnya berada, di sebuah rumah joglo tua yang gelap di kaki Gunung Ijen, sebuah lilin merah baru saja dinyalakan.

Dan di depan lilin itu, sepasang mata yang telah kehilangan seluruh cahayanya sedang menatap lurus ke sebuah foto pernikahan yang robek menjadi dua bagian.

​Malam itu, di dalam kamar yang penuh dengan kemewahan dan tawa kemenangan, sebutir benih tak kasat mata telah ditanam di bawah lantai ranjang mereka.

Benih yang tidak akan menghasilkan kehidupan, melainkan kehancuran yang begitu mengerikan.

Terpopuler

Comments

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻

woww .... Sekar dari Banyuwangi "The sunrise of Java"


Nasi tempong
Botok tawon
kawah Ijen
taman alas purwo

dan .....
terkenal dengan mistisnya!

2026-07-11

2

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻

aku suka aromaterapi varian mawar, Thor 😄

kalau perpaduan vanila mawar lebih enak lagi harumnya 🎀

2026-07-11

3

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻

✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻

Diamnya Sekar pasti bentuk kekecewaan teramat dalam , dan kemarahan yang sudah pada ambang batas.

2026-07-11

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 01 - Kamar Pengantin Baru
2 Bab 02 - Keheningan di Babyuwangi
3 Bab 03 - Tuntutan Maya
4 Bab 04 - Surat Perjanjian di Atas Darah
5 Bab 05 - Wangi Bunga Kantil
6 Bab 06 - Tamu Tengah Malam
7 Bab 07 - Kilas Balik
8 Bab 08 - Lebam yang Tidak Sembuh
9 Bab 09 - Mimpi Buruk yang Sama
10 Bab 10 - Jamuan Makan Malam Berdarah
11 Bab 11 - Diagnosis
12 Bab 12 - Boneka
13 Bab 13 - Kepulangan Aryo
14 Bab 14 - Abah Kamdi
15 Bab 15 - Kebakaran
16 Bab 16 - Makhluk Baru
17 Bab 17 - Wanita Berkonde
18 Bab 18 - Badai Bisnis
19 Bab 19 - Suara Gamelan
20 Bab 20 - Sang Detektif
21 Bab 21 - Jejak Digital Spiritual
22 Bab 22 - Peringatan
23 Bab 23 - Penelusuran Danu
24 Bab 24 - Perjanjian Alas Purwo
25 Bab 25 - Memutus Jangkar
26 Bab 26 - Pengkhianatan Masa Lalu
27 Bab 27 - Perlindungan yang Retak
28 Bab 28 - Hukuman Merambat
29 Bab 29 - Air Mata Darah
30 Bab 30 - Puncak Bulan Suro
31 Bab 31 - Kyai Zainal
32 Bab 32 - Jin Kiriman
33 Bab 33 - Dendam yang Valid
34 Bab 34 - Menyelamatkan Diri
35 Bab 35 - Pilihan Mustahil
36 Bab 36 - Menenun Kain Kafan
37 Bab 37 - Serangan Balik
38 Bab 38 - Halusinasi atau Nyata?
39 Bab 39 - Malam Kelahiran
40 Bab 40 - Bayi yang Lahir dari Kegelapan
41 Bab 41 - Kematian di Ranjang Pengantin
42 Bab 42 - Pemakaman
43 Bab 43 - Aryo Menjadi Gila
44 Bab 44 - Penyesalan yang Terlambat
45 Bab 45 - Sambutan Hangat
46 Bab 46 - Racun Tak Kasat Mata
47 Bab 48 - Tumbal yang Sempurna
48 Bab 49 - Lingsir Wengi
49 Bab 50 - Secangkir Teh Kamomil (END)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 01 - Kamar Pengantin Baru
2
Bab 02 - Keheningan di Babyuwangi
3
Bab 03 - Tuntutan Maya
4
Bab 04 - Surat Perjanjian di Atas Darah
5
Bab 05 - Wangi Bunga Kantil
6
Bab 06 - Tamu Tengah Malam
7
Bab 07 - Kilas Balik
8
Bab 08 - Lebam yang Tidak Sembuh
9
Bab 09 - Mimpi Buruk yang Sama
10
Bab 10 - Jamuan Makan Malam Berdarah
11
Bab 11 - Diagnosis
12
Bab 12 - Boneka
13
Bab 13 - Kepulangan Aryo
14
Bab 14 - Abah Kamdi
15
Bab 15 - Kebakaran
16
Bab 16 - Makhluk Baru
17
Bab 17 - Wanita Berkonde
18
Bab 18 - Badai Bisnis
19
Bab 19 - Suara Gamelan
20
Bab 20 - Sang Detektif
21
Bab 21 - Jejak Digital Spiritual
22
Bab 22 - Peringatan
23
Bab 23 - Penelusuran Danu
24
Bab 24 - Perjanjian Alas Purwo
25
Bab 25 - Memutus Jangkar
26
Bab 26 - Pengkhianatan Masa Lalu
27
Bab 27 - Perlindungan yang Retak
28
Bab 28 - Hukuman Merambat
29
Bab 29 - Air Mata Darah
30
Bab 30 - Puncak Bulan Suro
31
Bab 31 - Kyai Zainal
32
Bab 32 - Jin Kiriman
33
Bab 33 - Dendam yang Valid
34
Bab 34 - Menyelamatkan Diri
35
Bab 35 - Pilihan Mustahil
36
Bab 36 - Menenun Kain Kafan
37
Bab 37 - Serangan Balik
38
Bab 38 - Halusinasi atau Nyata?
39
Bab 39 - Malam Kelahiran
40
Bab 40 - Bayi yang Lahir dari Kegelapan
41
Bab 41 - Kematian di Ranjang Pengantin
42
Bab 42 - Pemakaman
43
Bab 43 - Aryo Menjadi Gila
44
Bab 44 - Penyesalan yang Terlambat
45
Bab 45 - Sambutan Hangat
46
Bab 46 - Racun Tak Kasat Mata
47
Bab 48 - Tumbal yang Sempurna
48
Bab 49 - Lingsir Wengi
49
Bab 50 - Secangkir Teh Kamomil (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!