BAB 3: Jejak yang Ditinggalkan Sang Iblis
Deru mesin mobil-mobil mewah di luar gedung apartemen tua itu perlahan memudar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di dalam kamar Han Seo-ah. Pagi baru saja menjelang, menyisakan langit abu-abu sisa hujan semalam. Namun bagi Seo-ah, atmosfer di dalam kamarnya telah berubah sepenuhnya. Kehangatan tempat tinggalnya yang sederhana seolah-olah telah terkikis habis, digantikan oleh jejak aura dingin yang ditinggalkan oleh Jeon Jungkook.
Seo-ah terduduk lemas di lantai karpetnya yang kini bernoda merah pekat. Tatapannya kosong, tertuju pada noda darah kering yang membentuk pola abstrak di atas kain berbulu putih tersebut.
Hanya beberapa menit yang lalu, setelah suara helikopter dan deretan mobil itu berhenti di bawah, pintu kamarnya diketuk dengan ketukan berirama khusus. Dua pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi masuk dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Mereka membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat di depan Jungkook, menyebut pria itu dengan sebutan "Tuan Muda Jeon" dengan nada suara yang penuh ketakutan sekaligus pengabdian mutlak.
Jungkook tidak mengatakan sepatah kata pun saat anak buahnya memakaikan jubah hitam panjang untuk menutupi kemeja dan perban di perutnya. Namun, tepat sebelum ia melangkah keluar dari pintu kamar, Jungkook sempat berbalik. Tatapan matanya yang sehitam jelaga kembali mengunci manik mata Seo-ah. Pria itu menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jari yang bertato, lalu melemparkan sebuah senyuman miring yang membuat sekujur tubuh Seo-ah meremang.
"Sampai jumpa segera, Malaikat Kecilku," bisik Jungkook malam itu, suara baritonnya masih terngiang jelas di telinga Seo-ah hingga detik ini.
"Siapa sebenarnya dia...?" gumam Seo-ah dengan suara parau.
Ia memeluk lututnya, berusaha meredakan detak jantungnya yang masih berpacu gila-gilaan. Rasa takut yang amat sangat perlahan berubah menjadi kecemasan yang mendalam. Kata-kata terakhir Jungkook bahwa 'sangkar emas sedang dibangun' terdengar seperti vonis hukuman mati bagi kehidupan normal yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Seo-ah menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Ia harus membersihkan tempat ini. Ia tidak boleh membiarkan ada jejak apa pun yang tertinggal.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengambil ember, air hangat, dan cairan pembersih dosis tinggi. Selama hampir satu jam, Seo-ah menggosok karpet dan lantai kayunya dengan brutal, mencoba menghapus warna merah yang mengingatkannya pada tatapan obsesif pria bernama Jeon Jungkook tersebut.
Namun, saat ia hendak membuang sisa perban dan kain kasa ke dalam kantong plastik hitam, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di bawah kolong tempat tidurnya.
Seo-ah berlutut, mengulurkan tangannya yang ramping untuk meraih benda tersebut. Detak jantungnya kembali melonjak saat jemarinya menyentuh permukaan logam yang dingin dan berat. Itu adalah belati taktis milik Jungkook. Belati perak bermata ganda dengan ukiran lambang burung gagak besi di gagangnya—senjata yang semalam digunakan pria itu untuk mengancamnya.
Pria itu sengaja meninggalkannya. Seo-ah tahu itu bukan sebuah ketidaksengajaan. Belati ini adalah sebuah pesan, sebuah tanda kepemilikan, atau mungkin sebuah jangkar yang sengaja ditanam Jungkook agar pria itu memiliki alasan mutlak untuk kembali ke kehidupannya.
"Pria gila," umpat Seo-ah pelan, melemparkan belati itu ke dalam laci mejanya yang paling dalam, lalu menguncinya rapat-rapat. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa jika ia mengabaikannya, jika ia bersikap seolah malam itu tidak pernah terjadi, dunia hitam pria itu tidak akan menyentuhnya lagi.
Tiga hari berlalu dengan ketenangan yang semu. Seo-ah mencoba menjalani rutinitasnya seperti biasa sebagai mahasiswi tingkat akhir. Ia pergi ke kampus, menghadiri kuliah anatomi seni, dan menghabiskan berjam-jam di studio lukis Universitas Hongik untuk menyelesaikan proyek kelulusannya. Namun, ia tidak bisa membohongi instingnya sendiri. Perasaan diawasi itu selalu ada.
Setiap kali ia berjalan menyusuri koridor kampus atau saat ia membeli kopi di kedai dekat rumah sewaannya, ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengintai dari balik kaca mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh darinya. Ketika ia berbalik, mobil itu akan melaju pergi tanpa jejak. Rasa paranoid itu perlahan mulai mengikis kesehatan mentalnya.
Sore itu, hujan kembali membasahi kota Seoul. Seo-ah baru saja keluar dari gedung fakultasnya dengan langkah tergesa-gesa. Ia harus segera pergi ke rumah sakit distrik Seoul untuk menjenguk adiknya, Han Ji-woo, yang menderita penyakit jantung kronis dan membutuhkan biaya perawatan yang sangat besar. Biaya rumah sakit Ji-woo adalah alasan utama mengapa Seo-ah bekerja paruh waktu hingga larut malam dan hidup dengan sangat hemat.
Saat ia melangkah keluar dari gerbang kampus dan membuka payung transparannya, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam perlahan berhenti tepat di hadapannya, memotong jalurnya. Mobil itu begitu mewah dan mencolok, membuat beberapa mahasiswa yang lewat spontan menoleh dengan pandangan penasaran.
Pintu penumpang bagian belakang terbuka secara otomatis dari dalam.
Seo-ah membeku di tempatnya. Hawa dingin seketika merayap naik ke punggungnya saat ia melihat sosok yang duduk di dalam kabin mobil yang luas dan berbau parfum mahal tersebut.
Jeon Jungkook duduk di sana dengan santai. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja robek yang bersimbah darah. Hari ini, ia tampak sangat berkuasa dan luar biasa tampan dengan setelan jas formal tiga potong berwarna abu-abu gelap yang dipesan khusus dari penjahit terbaik di Italia. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, menampilkan dahi dan alisnya yang tegas. Luka di perutnya tampaknya tidak lagi mengganggunya, karena ia duduk dengan tegak, menyilangkan satu kakinya yang panjang.
Di jemari tangannya yang bertato, ia sedang memegang sebuah cangkir teh porselen tipis. Ketika ia menoleh dan menatap Seo-ah, seulas senyuman lembut namun sarat akan dominasi terukir di wajahnya.
"Masuklah, Seo-ah-ya. Hujan di luar sangat dingin," ujar Jungkook, suaranya yang bariton terdengar sangat tenang namun tidak menerima penolakan sedikit pun.
Seo-ah melangkah mundur satu langkah, mencengkeram gagang payungnya erat-erat.
"Aku... aku harus pergi ke rumah sakit. Aku tidak punya waktu untuk urusanmu, Tuan Jeon."
Mendengar penolakan itu, kilatan berbahaya sempat melintas di mata Jungkook, namun dengan cepat digantikan oleh kekehan rendah yang terdengar santai. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di dalam mobil, lalu menatap Seo-ah dengan tatapan yang sangat intens.
"Aku tahu kau ingin pergi menemui adikmu, Han Ji-woo. Aku juga tahu adikmu membutuhkan operasi transplantasi jantung secepatnya, dan biaya administrasinya di rumah sakit baru saja naik dua kali lipat hari ini," ucap Jungkook dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan cuaca harian.
Mata Seo-ah membelalak sempurna. Wajahnya seketika memucat mendengarnya. "Kau... bagaimana kau bisa tahu? Apa yang kau lakukan pada adikku?!"
Jungkook mengulurkan tangannya, memberikan isyarat agar Seo-ah mendekat. "Aku tidak menyentuh seujung rambutnya pun, Malaikat Kecil. Aku justru baru saja memindahkan adikmu ke ruang VIP terbaik di rumah sakit itu, dan seluruh biaya operasinya... sudah kulunasi setengah jam yang lalu."
Tubuh Seo-ah bergetar hebat. Antara rasa lega karena masalah terbesar dalam hidupnya selesai, dan rasa takut yang teramat sangat karena ia tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini—terutama jika tawaran itu datang dari seorang pemimpin mafia terkutuk.
"Apa yang kau inginkan dariku?" bisik Seo-ah dengan suara yang nyaris hilang di antara derai hujan.
Jungkook menatapnya dengan binar kegilaan dan obsesi yang tidak lagi ia sembunyikan.
"Sudah kukatakan semalam, bukan? Bayarannya adalah sisa hidupmu. Masuk ke mobil ini, Han Seo-ah, atau aku akan membawa adikmu keluar dari rumah sakit itu sekarang juga."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments