BAB 5: Bayangan di Luar Dinding Kaca
Suara gesekan kain sutra di atas seprai marmer mengalun pelan di tengah keheningan kamar yang terisolasi itu. Cahaya fajar perlahan menembus dinding kaca tebal bertingkat di lantai atas mansion Seongbuk-dong, menyinari wajah Han Seo-ah yang pucat dan sembab.
Sepanjang malam, ia tidak membiarkan matanya terpejam sedikit pun. Setiap kali ia mencoba menyandarkan kepala, bayangan sepasang mata sekelam malam milik Jeon Jungkook kembali hadir, mengunci seluruh keberaniannya.
Seo-ah bangkit dari tempat tidur king-size yang terlampau luas untuk tubuh kecilnya. Langkah kakinya tanpa alas merayap mendekati kaca besar di ujung ruangan. Dari ketinggian ini, kota Seoul tampak seperti diorama kecil yang tak terjangkau. Jalanan berliku, gedung-gedung pencakar langit, dan kebebasan yang dulu ia miliki kini terasa seperti mimpi absurd dari kehidupan yang lain.
Klek.
Suara mekanisme kunci elektronik memecah kesunyian. Pintu ganda berukiran rumit itu terbuka perlahan.
Dua orang pelayan wanita paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk dengan kepala tertunduk patuh. Di belakang mereka, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas rapi dan kacamata berbingkai tipis mengikutinya. Pria itu membawa sebuah nampan perak berisi sarapan mewah dan sebuah tablet digital modern.
"Selamat pagi, Nona Han," panggil pria berkacamata itu dengan nada suara yang teratur, sopan, namun sangat dingin tanpa emosi. Ia membungkuk sembilan puluh derajat. "Saya Sekretaris Kim, kepala pelayan dan pengawas kediaman pribadi Tuan Muda Jeon."
Seo-ah menyilangkan kedua tangannya di dada, mundur mendekati kaca tebal. "Di mana pria gila itu? Di mana Jeon Jungkook?"
Sekretaris Kim tidak menunjukkan reaksi atas nada bicaranya yang tajam. Pria itu memberi isyarat kepada kedua pelayan untuk meletakkan makanan di atas meja marmer bundar di tengah ruangan, lalu mengambil tablet digital di tangannya.
"Tuan Muda Jeon sedang menyelesaikan beberapa urusan bisnis penting di luar kediaman," jawab Sekretaris Kim tenang.
"Namun, beliau meninggalkan instruksi ketat untuk memastikan seluruh kebutuhan Anda terpenuhi tanpa cela. Dan... beliau tahu Anda pasti akan menanyakan hal ini."
Sekretaris Kim mengetuk layar tablet beberapa kali, lalu menyodorkannya ke arah Seo-ah.
Seo-ah ragu-ragu sejenak sebelum melangkah maju dan meraih perangkat tipis tersebut. Layar itu menampilkan siaran langsung dari kamera pengawas di sebuah kamar perawatan VIP kelas satu di Rumah Sakit Pusat Seoul. Di sana, di atas tempat tidur yang bersih dan dipenuhi peralatan medis tercanggih, terbaring adik laki-lakinya,
Han Ji-woo. Seorang dokter spesialis senior dan dua perawat tampak sedang memeriksa kondisi Ji-woo dengan penuh kehati-hatian dan kelembutan.
Airmata Seo-ah hampir menetes saat melihat adik kecilnya bernapas dengan lega, tanpa raut wajah kesakitan yang biasa menghiasi paras pucatnya.
"Kondisi Tuan Muda Ji-woo telah stabil sepenuhnya," potong Sekretaris Kim, seolah membaca isi pikiran Seo-ah. "Jadwal operasi transplantasi jantungnya telah ditetapkan untuk minggu depan. Seluruh tim dokter terbaik di Asia telah didatangkan oleh Tuan Muda Jeon khusus untuk adik Anda."
Seo-ah mengepalkan tangannya di sekitar bingkai tablet itu. Rasa syukur dan kebencian bergolak hebat di dalam dadanya. Jungkook memegang kartu As yang terlalu sempurna. Pria itu menyandera adiknya bukan dengan senjata atau ancaman fisik, melainkan dengan benang takdir kehidupan Ji-woo.
"Apa syaratnya?" bisik Seo-ah, suaranya bergetar parau. "Apa yang dia inginkan agar operasi itu tetap berjalan?"
"Tuan Muda tidak meminta hal yang rumit, Nona Han," ujar Sekretaris Kim datar, matanya menatap Seo-ah dari balik kacamata. "Beliau hanya meminta Anda tetap berada di dalam ruangan ini, menghabiskan makanan Anda, dan tidak melakukan tindakan bodoh yang dapat membahayakan diri Anda sendiri. Sebab... jika seujung rambut Anda terluka, Tuan Muda tidak bisa menjamin keselamatan siapa pun di luar sana."
Ancaman itu begitu halus, namun dampaknya terasa menghujam langsung ke jantung Seo-ah. Pria itu benar-benar seorang manipulator ulung.
"Keluarlah," ketus Seo-ah seraya menyerahkan kembali tablet tersebut. "Aku ingin sendiri."
Sekretaris Kim membungkuk hormat sekali lagi.
"Sarapan Anda sudah disiapkan, Nona. Pakaian dan perlengkapan Anda telah tertata di dalam walk-in closet. Tuan Muda akan kembali sebelum makan malam."
Setelah para pelayan dan Sekretaris Kim pergi, meninggalkan pintu terkunci dari luar, Seo-ah berjalan mendekati meja. Ia memandang jajaran hidangan mahal di depannya tanpa selera.
Namun, demi Ji-woo, demi bertahan hidup dan mencari celah untuk keluar dari neraka berbalut emas ini, ia memaksa dirinya untuk mengambil sendok dan mengunyah makanan itu perlahan.
Waktu berlalu bagaikan siksaan lambat. Seo-ah menghabiskan jam-jam berikutnya dengan mengeksplorasi sangkar emasnya. Walk-in closet raksasa di sudut kamar dipenuhi oleh ratusan gaun, pakaian kasual dari sutra halus, sepatu, dan perhiasan berharga fantastis—semuanya pas dengan ukuran tubuhnya, seolah-olah Jungkook telah mempelajari detail fisiknya sejak lama.
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menembus kaca, suara langkah kaki yang berat dan mantap bergema dari luar koridor.
Klek.
Pintu terbuka. Sosok tinggi tegap Jeon Jungkook melangkah masuk.
Hari ini, sang mafia tidak lagi mengenakan jas formalnya. Ia hanya memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan untaian tato rumit yang menutupi kulit lengannya. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, menampilkan ceruk leher dan tulang selangkanya yang tegas. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun matanya yang sekelam malam berkilat tajam begitu menemukan sosok Seo-ah di dekat jendela.
Jungkook berjalan mendekat, melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya begitu saja di meja. Aroma tembakau mahal dan udara dingin luar ruangan langsung menyeruak di sekitar tubuhnya.
"Kau menghabiskan sarapan dan makan siangmu," kata Jungkook dengan suara bariton yang rendah. Ia berdiri hanya setengah meter di depan Seo-ah, menatap gadis itu dari atas ke bawah. "Anak pintar."
Seo-ah menatapnya tanpa rasa takut yang kentara seperti kemarin, digantikan oleh tatapan dingin dan penuh pertahanan. "Kau memanfaatkan adikku."
Jungkook tersenyum tipis, sebuah senyuman miring yang begitu menawan namun sangat berbahaya. Ia mengulurkan tangannya, jemari panjang bertatonya menyelipkan sehelai rambut Seo-ah ke belakang telinganya. Tangannya linger di rahang lembut Seo-ah, mengelus kulit halus itu dengan sangat perlahan.
"Aku tidak memanfaatkannya, Malaikat Kecil," bisik Jungkook, merendahkan kepalanya hingga napas hangatnya berembus di atas bibir Seo-ah.
"Aku hanya memberi alasan bagimu untuk tetap bernapas di sisiku. Dunia di luar sana terlalu kotor dan berbahaya untukmu. Di sini... kau aman."
"Aman?" Seo-ah tertawa sinis, matanya menatap lurus ke dalam iris gelap Jungkook.
"Bahaya terbesar di dalam hidupku saat ini adalah dirimu, Jeon Jungkook."
Bukannya marah, Jungkook justru terkekeh rendah. Tawa riyahnya bergema halus di dalam kamar yang sunyi. Cengkeramannya di rahang Seo-ah mengencang lembut, menarik wajah gadis itu mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
"Kalau begitu, beradaptasilah dengan bahayamu, Han Seo-ah," bisik Jungkook dengan nada posesif yang mutlak. "Karena mulai detik ini, tidak ada surga atau neraka yang bisa membawamu pergi dariku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments