Pertemuan Pertama (Kopi Hitam dan Noda Blazer)

Suasana di pabrik komponen elektronik daerah Taoyuan pagi ini mendadak berubah menjadi super sibuk. Kabar mengejutkan datang dari ruang manajemen: Bos Besar dari Kantor Pusat Taipei akan datang melakukan peninjauan mendadak. Seluruh mandor berteriak menggunakan pengeras suara, menyuruh para pekerja migran untuk merapikan area kerja mereka dan memastikan tidak ada satu pun sampah yang berserakan.

Gavin yang sedang sif pagi terpaksa ikut berlarian, menyapu sisa-sisa potongan kabel dan menyusun kotak karton besar ke sudut ruangan. Napasnya terengah-engah, dan keringat mulai membasahi kaos pabrik murah yang ia kenakan.

Tepat saat Gavin baru saja menyelesaikan tugasnya, Pak Wang, mandor pabrik paruh baya yang terkenal gampang darah tinggi, berlari menghampirinya dengan wajah panik. Matanya menatap Gavin dari atas sampai bawah.

"Gavin! Kamu, ikut saya sekarang!" perintah Pak Wang dalam bahasa Mandarin yang cepat. "Di antara semua buruh, wajahmu yang paling lumayan dan bersih. Sini, bawa nampan ini ke ruang rapat di depan koridor. Antarkan kopi hitam panas ini untuk menyambut kedatangan tamu dari Kantor Pusat Taipei. Ingat, kamu harus sopan, jangan membuat kesalahan!"

Nampan berisi tiga cangkir kopi hitam yang mengepulkan asap instan langsung berpindah ke tangan Gavin. Gavin mengerjapkan mata polos, tetapi tidak punya pilihan selain patuh. Dia melangkah menyusuri koridor pabrik dengan sangat hati-hati, memastikan cairan hitam pekat itu tidak tumpah dari cangkirnya.

Di saat yang sama, dari arah belokan koridor yang berlawanan, Tiffany Chen berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya semalam tentang perjodohan itu, suasana hati Tiffany benar-benar buruk. Sambil melangkah kaku dengan blazer abu-abu kebanggaannya, matanya fokus membaca berkas laporan keuangan manufaktur di tangan, sama sekali tidak melihat ke depan. Di belakangnya, kepala pabrik berjalan mengekor sambil membungkuk ketakutan.

Gavin dan Tiffany sama-sama melangkah menuju sudut belokan koridor yang sama. Karena pandangan mereka sama-sama teralih, Gavin fokus melihat cangkir kopi, Tiffany fokus melihat dokumen, tabrakan itu tidak dapat dihindari.

Brakk!

"Ayaaa!" pekik Gavin panik.

Nampan di tangan Gavin miring seketika. Tiga cangkir kopi hitam panas di atasnya meluncur bebas, tumpah telak dan menyiram bagian depan blazer abu-abu kaku milik Tiffany. Cairan hitam pekat itu langsung merembes, meninggalkan noda besar yang sangat kotor.

Suasana koridor pabrik seketika menjadi senyap seperti kuburan. Kepala pabrik di belakang Tiffany membelalak horor, wajahnya pucat pasi seolah-olah baru saja melihat hantu. Dia tahu betul siapa wanita di depannya, dan buruh asing ini baru saja menghancurkan pakaian sang pewaris Chen Corp.

Tiffany membeku di tempat. Rasa panas dari kopi itu menembus kain blazernya, tetapi yang membuat wajahnya memerah padam adalah kelancangan buruh di depannya.

Gavin yang panik setengah mati langsung menaruh nampannya di lantai. Tanpa berpikir panjang, dia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar tisu kumal, dan mencoba mengelap dada blazer Tiffany sambil mengoceh dengan bahasa Mandarin yang berantakan dan aksen Jakarta yang kental.

"Ayaaa! Maaf, maaf, Tante! Saya tidak sengaja melihat jalan," cerocos Gavin dengan wajah memelas, tangannya bergerak panik menggosok noda kopi di baju Tiffany. "Aduh, baju Tante jadi kotor begini. Sini, Tante, biar saya bantu bersihkan. Jangan marah ya, Tante..."

Tante?!

Kalimat itu bergaung nyaring di koridor. Kepala pabrik hampir terkena serangan jantung di tempat. Tiffany Chen, wanita yang paling ditakuti di lantai empat belas distrik bisnis Xinyi, baru saja dipanggil "Tante" oleh seorang kuli pabrik miskin.

Gumpalan emosi Tiffany yang ditahannya sejak semalam akhirnya meledak. Dia menepis tangan Gavin dengan sangat kasar hingga pemuda itu terhuyung mundur. Matanya yang tajam menatap Gavin dengan pandangan membunuh yang amat dingin.

"Jauhkan tanganmu," desis Tiffany dengan suara rendah yang mencekam. Dia membalikkan badan, menatap kepala pabrik yang gemetaran, lalu berkata dengan ketus, "Urus buruh tidak sopan ini sekarang juga."

Tanpa menoleh lagi, Tiffany melangkah pergi menuju toilet dengan kemarahan yang meluap-luap, meninggalkan aroma kopi dan dendam di koridor.

Hanya dalam hitungan menit, Gavin sudah diseret masuk ke dalam ruangan Pak Wang. Pria paruh baya itu memukul meja kerjanya dengan keras sampai pulpennya melompat ke lantai.

"Kamu gila ya, Gavin?! Berani-beraninya kamu menyiram baju beliau dan memanggilnya TANTE?! Dia itu orang paling penting dari Kantor Pusat Taipei! Mulutmu itu benar-benar cari mati!" bentak Pak Wang, napasnya memburu karena darah tinggi.

Gavin yang masih mengira Tiffany hanyalah rekan bisnis paruh baya hanya berkedip polos, mencoba membela diri dengan bahasa Mandarin seadanya. "Tapi, Pak Wang, dia memang kelihatan seperti tante-tante... Bajunya abu-abu kaku seperti baju nenek saya di Jakarta. Saya kan cuma mau sopan memanggil Tante, kenapa Bapak marah sekali?"

Mendengar pembelaan super polos itu, Pak Wang memegangi dadanya, hampir terkena serangan jantung.

"Diam kamu! Untung beliau tidak menyuruhku memecatmu langsung!" bentak Pak Wang sambil menunjuk pintu keluar dengan tangan gemetar. "Tapi sebagai hukuman, gajimu bulan ini dipotong untuk biaya cuci kering blazernya! Dan mulai besok, tugasmu ditambah: kamu harus membersihkan seluruh toilet pabrik setelah sif kerjamu selesai! Sekarang keluar!"

Gavin berjalan keluar dari ruang mandor dengan langkah gontai dan wajah yang luar biasa lesu. Di sepanjang koridor pabrik, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mengingat sesuatu yang terasa mengganjal di otaknya.

"Tapi tunggu dulu..." batin Gavin, menyipitkan mata ke arah lantai. "Kayaknya aku pernah lihat wajah tante judes itu. Tapi di mana ya? Ah, sudahlah, kepalaku mau pecah memikirkannya."

Gavin mendongak menatap langit-langit koridor, lalu mengerucutkan bibirnya ke depan dengan raut wajah merengek menahan tangis yang terlihat sangat melas. Dua tangannya mengepal di udara, mengutuk takdir sialnya hari ini.

"Awas kau, Tante judes! Gara-gara kau, gajiku yang tidak seberapa ini malah kena potong! Sialan... gagal total rencana foya-foya karbohidratku minggu ini!" ratap Gavin frustrasi dalam bahasa Indonesia, air mata imajinernya mulai bercucuran deras. Dengan ekspresi menangis yang kocak, dia membayangkan warung makanan Indonesia favoritnya di kota. "Makanan enakku... tunggu aku ya... hiks, kita tunda dulu ketemunya minggu depan..."

Gavin tidak pernah tahu bahwa "tante judes" yang baru saja memotong uang makannya itu adalah wanita yang sama dengan miliarder lajang di layar ponsel retaknya.

Episodes
1 Mantan Sultan dan CEO Berwajah Dingin
2 Layar Retak dan Mimpi Nasi Wagyu
3 Makan Malam yang Hambar
4 Pertemuan Pertama (Kopi Hitam dan Noda Blazer)
5 Di Bawah Hujan Taipei
6 Surat Pemecatan dan Siasat Sang CEO
7 Titik Terendah dan Keputusan Nekat
8 Tawar-Menawar dengan Tante Kaya
9 kontrak Maut Sang Tante
10 pernikahan Dengan Tante ceo
11 Operasi Brondong Sultan
12 Wajah Baru Gavin Wijaya
13 topeng karismatik Sang Menantu
14 Ujian Makan Malam
15 Kedatangan Pelayan Kepercayaan Keluarga Chen
16 Kode dan Sandiwara Siang Hari
17 Ujian Malam Pertama
18 Kehangatan Larut Malam
19 Polusi Camilan dan Anggaran Sultan
20 Ritme yang Terbentuk
21 Kemunculan Suami Sang CEO
22 Secangkir Kopi di Meja Kerja
23 Misteri Sang Menantu
24 Hadiah Kecil dari Sang Suami Kontrak
25 Detektif dan Rahasia Tante
26 Perintah Dadakan dan Perdebatan Kecil
27 Jamuan Makan Malam Chen Corp
28 Runtuhnya Topeng Sang CEO
29 Hadiah Liburan dari Nyonya Chen
30 Persiapan Liburan
31 Kembali ke Tempat Kenangan
32 Sehari Tanpa Kesibukan
33 Kenangan di Bawah Langit Malam
34 Jangan Panggil Aku Tante
35 Tante yang Mulai Berdandan
36 Tawaran dari Negeri Seberang
37 Investor yang Datang Langsung
38 Pertemuan dengan Investor
39 Jamuan Makan Bersama Investor
40 Nama yang Membawa Masa Lalu
41 Jejak yang Tertinggal
42 Kebenaran yang Mulai Terungkap
43 Rahasia yang Harus Disimpan
44 Kepergian Gavin Wijaya
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Mantan Sultan dan CEO Berwajah Dingin
2
Layar Retak dan Mimpi Nasi Wagyu
3
Makan Malam yang Hambar
4
Pertemuan Pertama (Kopi Hitam dan Noda Blazer)
5
Di Bawah Hujan Taipei
6
Surat Pemecatan dan Siasat Sang CEO
7
Titik Terendah dan Keputusan Nekat
8
Tawar-Menawar dengan Tante Kaya
9
kontrak Maut Sang Tante
10
pernikahan Dengan Tante ceo
11
Operasi Brondong Sultan
12
Wajah Baru Gavin Wijaya
13
topeng karismatik Sang Menantu
14
Ujian Makan Malam
15
Kedatangan Pelayan Kepercayaan Keluarga Chen
16
Kode dan Sandiwara Siang Hari
17
Ujian Malam Pertama
18
Kehangatan Larut Malam
19
Polusi Camilan dan Anggaran Sultan
20
Ritme yang Terbentuk
21
Kemunculan Suami Sang CEO
22
Secangkir Kopi di Meja Kerja
23
Misteri Sang Menantu
24
Hadiah Kecil dari Sang Suami Kontrak
25
Detektif dan Rahasia Tante
26
Perintah Dadakan dan Perdebatan Kecil
27
Jamuan Makan Malam Chen Corp
28
Runtuhnya Topeng Sang CEO
29
Hadiah Liburan dari Nyonya Chen
30
Persiapan Liburan
31
Kembali ke Tempat Kenangan
32
Sehari Tanpa Kesibukan
33
Kenangan di Bawah Langit Malam
34
Jangan Panggil Aku Tante
35
Tante yang Mulai Berdandan
36
Tawaran dari Negeri Seberang
37
Investor yang Datang Langsung
38
Pertemuan dengan Investor
39
Jamuan Makan Bersama Investor
40
Nama yang Membawa Masa Lalu
41
Jejak yang Tertinggal
42
Kebenaran yang Mulai Terungkap
43
Rahasia yang Harus Disimpan
44
Kepergian Gavin Wijaya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!