Di Bawah Hujan Taipei

Hari Minggu akhirnya tiba. Setelah seminggu penuh disiksa tugas tambahan membersihkan toilet pabrik, Gavin akhirnya bisa menghirup udara bebas. Dengan sisa uang yang pas-pasan, dia nekat naik kereta menuju stasiun utama Taipei untuk menyegarkan pikiran. Setidaknya, dia ingin melihat pemandangan kota besar agar tidak stres.

Sial bagi Gavin, baru saja dia keluar dari stasiun, langit kota Taipei mendadak mendung dan langsung menumpahkan hujan yang sangat deras.

"Aduhh, sial banget! Mau jalan-jalan malah hujan badai begini!" gerutu Gavin, buru-buru membeli sebuah payung transparan murah seharga beberapa dolar Taiwan dari toko kelontong terdekat.

Gavin berjalan menyusuri trotoar sambil memegangi payungnya, menatap jalanan aspal yang basah. Di seberang jalan, tepat di depan lobi sebuah gedung pertemuan mewah, sebuah sedan hitam mengilat bergaya eksklusif sedang berhenti di tepi jalan.

Dari dalam gedung, Tiffany Chen melangkah keluar. Kepalanya terasa pening setelah seharian penuh berdebat dengan dewan direksi korporasi. Tanpa sentuhan makeup, wajahnya tampak kuyu dan lelah, dibalut pakaian kerja formal polos yang lagi-zag kaku.

Seorang sopir pribadi dengan sigap membukakan pintu belakang mobil untuk Tiffany. Namun, tepat saat Tiffany hendak melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam mobil, kelelahan membuat fokusnya pecah. Sialnya lagi, ujung sepatu hak tingginya tidak sengaja menginjak lantai marmer lobi yang sangat licin karena tempias air hujan.

"Ah!" pekik Tiffany pelan.

Keseimbangannya hilang total. Tubuhnya terhuyung jatuh ke belakang, mengarah langsung ke trotoar yang keras. Sopir pribadinya terlalu jauh untuk menangkapnya. Tiffany refleks memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan benturan keras yang menyakitkan.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Set!

Sebuah lengan kekar yang kokoh tiba-tiba melingkar di pinggang Tiffany, menahan bobot tubuhnya dengan sangat pas sebelum menyentuh tanah. Payung transparan yang dipegang pria itu terlepas, membiarkan rintik air hujan membasahi tubuh mereka berdua.

Waktu seolah melambat dalam mode slow motion, persis seperti adegan ikonik di drama Korea. Rintik hujan jatuh di sekitar mereka, menciptakan suasana yang mendadak sangat puitis.

Tiffany membuka matanya perlahan. Wajah pria yang menolongnya berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya. Di bawah rintik hujan, mata Tiffany terpaku menatap ketampanan pemuda itu—rahang yang tegas, mata yang jernih, dan senyuman tipis yang menawan. Jantung Tiffany yang biasanya sedingin es mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Bagaimanapun dinginnya dia, insting wanitanya tidak bisa berbohong melihat visual pria setampan idola muda di depannya.

Gavin mengedipkan matanya yang basah oleh air hujan, menatap wajah kaku wanita yang ditolongnya. Gelembung romantis di udara mengembang begitu indah.

Sampai akhirnya, Gavin membuka mulutnya tanpa dosa.

"Wah, untung saya tangkap! Hati-hati, Tante," cerocos Gavin ramah dengan senyum lebar seolah baru saja bertemu teman lama. "Jalanan kota ini licin sekali. Kalau Tante di usia segini sampai jatuh telentang, encoknya bisa langsung kambuh parah, loh! Nanti susah sembuhnya!"

Boom!

Gelembung indah ala drakor di kepala Tiffany pecah berkeping-keping dalam sekejap. Rasa terima kasih yang sempat terbersit di hatinya langsung menguap ke langit, berganti dengan gelombang amarah yang meluap-luap hingga ke ubun-ubun.

Tante? Encok?!

Tiffany langsung mengenali suara menyebalkan ini. Ini adalah buruh asing lancang yang minggu lalu menyiram blazernya dengan kopi! Sekarang, pria ini merusak momen dan meramal dirinya akan terkena encok!

Dengan wajah memerah padam menahan murka, Tiffany mendorong dada Gavin dengan sangat kasar hingga pemuda itu hampir terjengkang.

"Lancang!" desis Tiffany dengan tatapan mata yang seolah bisa membunuh seketika.

Tanpa memedulikan Gavin yang kebingungan, Tiffany langsung masuk ke kursi belakang mobil mewahnya. Dia membanting pintu mobil dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman nyaring.

"Jalan! Sekarang!" perintah Tiffany ketus kepada sopirnya yang ketakutan. Mobil sedan mewah itu langsung menancap gas, meninggalkan cipratan air genangan yang untungnya sempat dihindari oleh Gavin.

Gavin berdiri di tepi trotoar yang basah, memungut kembali payung transparannya sambil menggaruk kepala dengan wajah heran. "Lah? Tante itu kenapa, sih? Ditolongin malah marah-marah gila. Memang benar ya, wanita paruh baya kalau kurang piknik sensitifnya melebihi sensor bom."

Gavin mengangkat bahu acuh tak acuh, lalu melanjutkan langkahnya mencari warung makanan Indonesia, sama sekali tidak tahu bahwa di dalam mobil sedan yang sedang melaju kencang, Tiffany sedang meremas tas tangannya dengan emosi yang bergejolak, mengutuk nama buruh tidak sopan itu di dalam hatinya.

Coretan author

"Kalau kalian jadi Tiffany, masih bisa berterima kasih setelah dipanggil 'Tante', atau malah langsung naik darah juga? 😂 Tulis di komentar, ya!"

Episodes
1 Mantan Sultan dan CEO Berwajah Dingin
2 Layar Retak dan Mimpi Nasi Wagyu
3 Makan Malam yang Hambar
4 Pertemuan Pertama (Kopi Hitam dan Noda Blazer)
5 Di Bawah Hujan Taipei
6 Surat Pemecatan dan Siasat Sang CEO
7 Titik Terendah dan Keputusan Nekat
8 Tawar-Menawar dengan Tante Kaya
9 kontrak Maut Sang Tante
10 pernikahan Dengan Tante ceo
11 Operasi Brondong Sultan
12 Wajah Baru Gavin Wijaya
13 topeng karismatik Sang Menantu
14 Ujian Makan Malam
15 Kedatangan Pelayan Kepercayaan Keluarga Chen
16 Kode dan Sandiwara Siang Hari
17 Ujian Malam Pertama
18 Kehangatan Larut Malam
19 Polusi Camilan dan Anggaran Sultan
20 Ritme yang Terbentuk
21 Kemunculan Suami Sang CEO
22 Secangkir Kopi di Meja Kerja
23 Misteri Sang Menantu
24 Hadiah Kecil dari Sang Suami Kontrak
25 Detektif dan Rahasia Tante
26 Perintah Dadakan dan Perdebatan Kecil
27 Jamuan Makan Malam Chen Corp
28 Runtuhnya Topeng Sang CEO
29 Hadiah Liburan dari Nyonya Chen
30 Persiapan Liburan
31 Kembali ke Tempat Kenangan
32 Sehari Tanpa Kesibukan
33 Kenangan di Bawah Langit Malam
34 Jangan Panggil Aku Tante
35 Tante yang Mulai Berdandan
36 Tawaran dari Negeri Seberang
37 Investor yang Datang Langsung
38 Pertemuan dengan Investor
39 Jamuan Makan Bersama Investor
40 Nama yang Membawa Masa Lalu
41 Jejak yang Tertinggal
42 Kebenaran yang Mulai Terungkap
43 Rahasia yang Harus Disimpan
44 Kepergian Gavin Wijaya
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Mantan Sultan dan CEO Berwajah Dingin
2
Layar Retak dan Mimpi Nasi Wagyu
3
Makan Malam yang Hambar
4
Pertemuan Pertama (Kopi Hitam dan Noda Blazer)
5
Di Bawah Hujan Taipei
6
Surat Pemecatan dan Siasat Sang CEO
7
Titik Terendah dan Keputusan Nekat
8
Tawar-Menawar dengan Tante Kaya
9
kontrak Maut Sang Tante
10
pernikahan Dengan Tante ceo
11
Operasi Brondong Sultan
12
Wajah Baru Gavin Wijaya
13
topeng karismatik Sang Menantu
14
Ujian Makan Malam
15
Kedatangan Pelayan Kepercayaan Keluarga Chen
16
Kode dan Sandiwara Siang Hari
17
Ujian Malam Pertama
18
Kehangatan Larut Malam
19
Polusi Camilan dan Anggaran Sultan
20
Ritme yang Terbentuk
21
Kemunculan Suami Sang CEO
22
Secangkir Kopi di Meja Kerja
23
Misteri Sang Menantu
24
Hadiah Kecil dari Sang Suami Kontrak
25
Detektif dan Rahasia Tante
26
Perintah Dadakan dan Perdebatan Kecil
27
Jamuan Makan Malam Chen Corp
28
Runtuhnya Topeng Sang CEO
29
Hadiah Liburan dari Nyonya Chen
30
Persiapan Liburan
31
Kembali ke Tempat Kenangan
32
Sehari Tanpa Kesibukan
33
Kenangan di Bawah Langit Malam
34
Jangan Panggil Aku Tante
35
Tante yang Mulai Berdandan
36
Tawaran dari Negeri Seberang
37
Investor yang Datang Langsung
38
Pertemuan dengan Investor
39
Jamuan Makan Bersama Investor
40
Nama yang Membawa Masa Lalu
41
Jejak yang Tertinggal
42
Kebenaran yang Mulai Terungkap
43
Rahasia yang Harus Disimpan
44
Kepergian Gavin Wijaya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!