BAB 4: Kelompok Baru dan Taring Babi Hutan

Kota Gada adalah tempat yang bising, kontras dengan kesunyian hutan yang baru saja ditinggalkan Askara. Dinding kotanya kokoh terbuat dari batu hitam, dijaga oleh para prajurit dengan tombak berpendar sihir. Di sepanjang jalan, aroma masakan kedai bercampur dengan kepulan asap dari bengkel pandai besi yang sibuk menempa senjata.

Tujuan utama Askara ke kota ini adalah mengumpulkan informasi tentang hutan sihir yang lebih dalam. Tanpa pengetahuan yang cukup, kemampuannya menyerap sihir justru bisa menjadi bumerang jika dia salah mengukur kapasitas staminanya.

Langkah kakinya membawa Askara ke sebuah papan pengumuman besar di dekat alun-alun kota. Di sanalah para petualang biasanya berkumpul. Di sudut kerumunan, perhatian Askara tersita oleh adegan perdebatan sekelompok orang yang mengenakan zirah ringan.

"Sialan! Kenapa si bodoh itu bisa salah merapalkan mantra sampai kakinya sendiri meledak?" kutuk seorang pemuda berambut cepak dengan kapak besar di punggungnya. "Besok kita harus berangkat ke dungeon baru itu, dan sekarang kita kekurangan satu orang!"

"Tenang, Jaka. Berteriak tidak akan menyembuhkan kakinya," seru seorang pria paruh baya dengan bekas luka segaris di pipinya. Pria itu tampak tenang, mengenakan jubah kulit bersimbol kepala babi hutan—lambang Guild Wild Boar.

Mendengar kata "dungeon baru", mata Askara berbinar. Ini adalah kesempatan emas untuk menguji kekuatannya dan mendapatkan uang. Tanpa ragu, Askara melangkah mendekati kelompok tersebut.

"Permisi," potong Askara dengan suara tegas. "Aku mendengar kalian kekurangan anggota. Jika kalian tidak keberatan, aku menawarkan diri untuk bergabung."

Kelompok itu seketika menoleh. Jaka, pemuda berkapak tadi, menatap Askara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengendus udara di sekitar Askara, mencoba merasakan aliran mana atau energi sihir di tubuh pemuda tujuh belas tahun

itu. Detik berikutnya, tawa remeh keluar dari mulutnya.

"Kau? Bergabung dengan kami?" Jaka mendengus. "Hei, Bocah. Tubuhmu memang tegap, tapi aku sama sekali tidak merasakan aliran mana di dalam dirimu. Kau seorang Nirmala—manusia tanpa sihir, kan? Jangan bercanda! Masuk ke dungeon bersama orang cacat sepertimu sama saja dengan bunuh diri!"

Askara tetap tenang, tidak terpancing. Tatapan meremehkan seperti itu sudah menjadi makanannya sehari-hari sejak kecil.

Namun, sebelum Askara membalas, pria paruh baya yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan Jaka untuk diam. Ia menatap lekat-lekat sepasang mata Askara yang dingin dan penuh percaya diri.

"Jaka benar tentang satu hal, kau tidak punya mana," ucap sang pemimpin dengan suara berat. "Tapi aku melihat sesuatu yang lain. Gerakanmu efisien, kapalan di tanganmu adalah kapalan seorang pekerja keras, dan tatapanmu bukan tatapan orang lemah. Siapa namamu?"

"Askara," jawabnya singkat.

"Aku Guntur, ketua kelompok ini," pria itu mengulurkan tangannya yang besar. "Kebetulan kami memang sangat mendesak membutuhkan satu anggota lagi untuk menjelajahi dungeon yang baru ditemukan di dekat kota ini. Aturan komisi mengharuskan tim kami penuh. Aku setuju kau bergabung."

"Ketua! Kau gila?!" protes Jaka meradang. "Dia bisa mati dalam sekali kayuh oleh monster dungeon!"

"Kalau dia mati, itu urusannya. Tapi jika dia bisa bertahan, dia bisa menjadi pengalih perhatian yang bagus dengan fisik tegapnya itu," jawab Guntur dingin, namun ada kilat kalkulasi di matanya. Guntur kemudian kembali menatap Askara. "Tapi sebelum kita berangkat besok pagi, ada satu syarat. Kau harus mendaftarkan dirimu secara resmi sebagai anggota kelompok kami di bawah bendera Guild Wild Boar hari ini. Jika tidak, pihak serikat kota tidak akan mencairkan bayaranmu setelah misi selesai."

Askara mengangguk setuju. "Adil bagiku."

Satu jam kemudian, Askara sudah berdiri di dalam kantor cabang Guild Wild Boar yang bernuansa kayu tua. Berbeda jauh dengan kemegahan Guild Golden Eagle tempat Rose diterima, Wild Boar terasa lebih membumi, penuh dengan aroma bir, keringat, dan tawa kasar para petualang kelas menengah ke bawah.

Di depan meja resepsionis, Askara menempelkan telapak tangannya pada sebuah batu kristal pendaftaran. Kristal itu tidak memancarkan warna elemen apa pun—menegaskan kembali statusnya sebagai manusia tanpa sihir dasar di mata petugas guild yang hanya bisa menggelengkan kepala heran.

Meski begitu, proses administrasi tetap berjalan. Sebuah lencana besi bergambar taring babi hutan diserahkan kepada Askara.

"Selamat datang di Wild Boar, Askara," ucap Guntur sambil menepuk pundak Askara hingga berdentum. "Istirahatlah malam ini. Simpan tenagamu baik-baik. Besok pagi, kita akan melihat apakah modal fisikmu itu cukup untuk membuatmu tetap bernapas di dalam dungeon."

Askara menggenggam lencana besinya erat-erat. Jauh di dalam dadanya, sisa-sisa energi sihir yang ia serap di perjalanan sebelumnya bergolak pelan, seolah ikut tidak sabar. Dungeon baru menantinya besok, dan Askara tahu, tempat berbahaya itu akan menjadi panggung yang sempurna untuk menguji batas kemampuan "pemangsa" miliknya.

Episodes
1 BAB 1: Wadah yang Kosong
2 BAB 2: Langkah Pertama dan Sayap Emas
3 BAB 3: Hutan, Taring, dan Percobaan Pertama
4 BAB 4: Kelompok Baru dan Taring Babi Hutan
5 BAB 5: Langkah di Kegelapan dan Kobaran Api Dungeon
6 BAB 6: Pelindung Tak Terlihat dan Tebasan Pamungkas
7 BAB 7: Penyangkalan dan Tatapan yang Mengawasi
8 BAB 8: Kegelapan di Altar Kuno dan Keputusasaan Tim
9 BAB 9: Peleburan Terakhir dan Runtuhnya sang Penjaga
10 BAB 10: Runtuhnya Labirin dan Penghormatan yang Layak
11 BAB 11: Pesta Perpisahan dan Petunjuk Menuju Kegelapan
12 BAB 12: Desa di Batas Jalan dan Tangisan yang Terabaikan
13 BAB 13: Jalan Menuju Bukit dan Pembalasan sang Pengelana
14 BAB 14: Sengatan Kilat dan Hantaman Vital
15 BAB 15: Api Unggun di Keheningan Malam Hutan
16 BAB 16: Penawaran di Jalur Dagang dan Taruhan Nyawa
17 BAB 17: Bukit Terakhir dan Hadangan Gagak Merah
18 BAB 18: Kilatan Bilah Sihir dan Senjata dari Kereta Dagang
19 BAB 19: Tarian Tiga Elemen dan Duel Melawan Mantan Kesatria
20 BAB 20: Tebasan Pemutus Angin dan Hancurnya Bilah Baja
21 BAB 21: Gerbang Kota Toga dan Petunjuk sang Pandai Besi Legendaris
22 BAB 22: Pertemuan di Bengkel Distrik Bawah
23 BAB 23: Ujian Pertama, Menjaga Tungku Inti
24 BAB 24: Berburu Bijih Besi Meteorit di Gua Terlarang
25 BAB 25: Ujian Kontrol
26 BAB 26: Janji Sang Maestro
27 BAB 27: Kabar Dari Sayap Emas
28 BAB 28: Sunya dan Karsa
29 BAB 29: Uji Coba Sunya dan Perjalanan Sayap Emas
30 BAB 30: Gerbang Nol dan Informasi Cahaya
31 BAB 31: Jebakan Tanah Hidup dan Pertarungan di Gerbang Nol
32 BAB 32: Tebasan Kehampaan di Gerbang Nol
33 BAB 33: Cerita dari Sang Maestro dan Gerbang Kedua
34 BAB 34: Perisai Absolut dan Tarian Pedang Sunya
35 BAB 35: Jejak Kehampaan dan Pertemuan di Gerbang Satu
36 BAB 36: Pertemuan di Bawah Bayang-Bayang Maut
37 BAB 37: Kerja Sama Dua Bintang dan Hancurnya Perisai Absolut
38 BAB 38: Pelukan di Bawah Hujan Kabut
39 BAB 39: Pilihan Menuju Inti Kegelapan
Episodes

Updated 39 Episodes

1
BAB 1: Wadah yang Kosong
2
BAB 2: Langkah Pertama dan Sayap Emas
3
BAB 3: Hutan, Taring, dan Percobaan Pertama
4
BAB 4: Kelompok Baru dan Taring Babi Hutan
5
BAB 5: Langkah di Kegelapan dan Kobaran Api Dungeon
6
BAB 6: Pelindung Tak Terlihat dan Tebasan Pamungkas
7
BAB 7: Penyangkalan dan Tatapan yang Mengawasi
8
BAB 8: Kegelapan di Altar Kuno dan Keputusasaan Tim
9
BAB 9: Peleburan Terakhir dan Runtuhnya sang Penjaga
10
BAB 10: Runtuhnya Labirin dan Penghormatan yang Layak
11
BAB 11: Pesta Perpisahan dan Petunjuk Menuju Kegelapan
12
BAB 12: Desa di Batas Jalan dan Tangisan yang Terabaikan
13
BAB 13: Jalan Menuju Bukit dan Pembalasan sang Pengelana
14
BAB 14: Sengatan Kilat dan Hantaman Vital
15
BAB 15: Api Unggun di Keheningan Malam Hutan
16
BAB 16: Penawaran di Jalur Dagang dan Taruhan Nyawa
17
BAB 17: Bukit Terakhir dan Hadangan Gagak Merah
18
BAB 18: Kilatan Bilah Sihir dan Senjata dari Kereta Dagang
19
BAB 19: Tarian Tiga Elemen dan Duel Melawan Mantan Kesatria
20
BAB 20: Tebasan Pemutus Angin dan Hancurnya Bilah Baja
21
BAB 21: Gerbang Kota Toga dan Petunjuk sang Pandai Besi Legendaris
22
BAB 22: Pertemuan di Bengkel Distrik Bawah
23
BAB 23: Ujian Pertama, Menjaga Tungku Inti
24
BAB 24: Berburu Bijih Besi Meteorit di Gua Terlarang
25
BAB 25: Ujian Kontrol
26
BAB 26: Janji Sang Maestro
27
BAB 27: Kabar Dari Sayap Emas
28
BAB 28: Sunya dan Karsa
29
BAB 29: Uji Coba Sunya dan Perjalanan Sayap Emas
30
BAB 30: Gerbang Nol dan Informasi Cahaya
31
BAB 31: Jebakan Tanah Hidup dan Pertarungan di Gerbang Nol
32
BAB 32: Tebasan Kehampaan di Gerbang Nol
33
BAB 33: Cerita dari Sang Maestro dan Gerbang Kedua
34
BAB 34: Perisai Absolut dan Tarian Pedang Sunya
35
BAB 35: Jejak Kehampaan dan Pertemuan di Gerbang Satu
36
BAB 36: Pertemuan di Bawah Bayang-Bayang Maut
37
BAB 37: Kerja Sama Dua Bintang dan Hancurnya Perisai Absolut
38
BAB 38: Pelukan di Bawah Hujan Kabut
39
BAB 39: Pilihan Menuju Inti Kegelapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!