BAB 5: Langkah di Kegelapan dan Kobaran Api Dungeon

Fajar baru saja menyingsing ketika gerbang kayu Kota Gada ditinggalkan oleh kelompok kecil dari Guild Wild Boar. Tujuan mereka adalah sebuah celah batu di kaki perbukitan terpencil yang baru saja runtuh beberapa hari lalu, menyingkap sebuah pintu masuk kuno menuju dungeon yang belum terjamah.

Suasana di dalam dungeon terasa dingin dan lembap. Dinding-dinding lorongnya terbuat dari batuan purba yang ditumbuhi lumut berpendar redup, memberikan pencahayaan yang minim. Langkah kaki bot mereka bergema, menciptakan irama tegang yang konstan.

Di barisan depan, Guntur berjalan dengan kapak besarnya yang sesekali memercikkan aliran energi sihir pelindung.

Sementara Jaka, yang masih menatap Askara dengan pandangan sinis, berjalan di tengah sambil memegang obor sihir. Askara sendiri sengaja mengambil posisi paling belakang. Dia memilih untuk tetap diam dan menjaga jarak, sengaja menyembunyikan hawa keberadaannya. Di mata rekan-rekan barunya, dia hanyalah seorang Nirmala pembawa barang yang tidak berguna jika pertarungan sihir pecah.

"Dengar semuanya," bisik Guntur, menghentikan langkahnya sejenak di sebuah persimpangan lorong. "Sebelum berangkat tadi, aku sempat membeli informasi rahasia dari informan serikat. Dungeon ini bukan tempat berburu biasa. Di pusat inti dungeon tersembunyi sebuah item sihir langka kuno."

Mata Jaka langsung berbinar serakah. "Item sihir langka? Kita akan kaya jika berhasil membawanya pulang, Ketua!"

"Jangan senang dulu, Jaka," potong Guntur dengan nada serius. "Item itu dijaga oleh monster sihir tingkat tinggi. Informan tidak tahu pasti jenis monster atau sihir apa yang digunakannya. Yang jelas, laporannya mengatakan belum ada satu pun tim pengintai yang kembali hidup-hidup setelah mendekati ruang inti."

Askara mendengarkan dalam diam. Monster tingkat tinggi dengan sihir misterius. Jantungnya berdegup pelan. Bagi penyihir biasa, ketidaktahuan adalah maut. Namun bagi Askara, ruang inti itu terdengar seperti prasmanan sihir yang sangat besar jika dia bisa bertahan hidup untuk menyerapnya. Tapi untuk sekarang, dia harus tetap menahan diri dan menghemat staminanya.

Setengah jam pertama berlalu dengan sunyi. Anehnya, mereka belum bertemu dengan satu pun monster penghuni dungeon. Lorong-lorong batu itu kosong melompong, seolah sengaja membiarkan mereka masuk lebih dalam ke dalam jebakan. Ketenangan yang tidak wajar ini justru membuat bulu kuduk Askara merinding.

Ketakutan mereka terbukti saat mereka mencapai sebuah ruangan luas di pertengahan dungeon.

ROOOAARRR!

Sebuah raungan menggelegar dari kegelapan di ujung ruangan. Udara dingin dungeon seketika berubah menjadi sangat panas dan menyesakkan. Dari balik pilar batu besar, sesosok makhluk bertubuh kekar seperti gorila namun berkulit lava merah menyala melangkah keluar. Itu adalah Inferno Kong—monster penjaga pertengahan yang terkenal dengan manipulasi sihir api murninya.

"Sial! Jaka, ambil posisi bertahan!" teriak Guntur.

Sebelum Jaka sempat mengangkat perisainya, monster itu menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Gelombang api berkobar hebat melesat di atas lantai batu, mengarah langsung ke arah mereka.

BOOM!

Jaka terpental akibat gelombang hawa panasnya, membuat obor sihirnya terlempar. Melihat anggotanya terdesak, Guntur tidak punya pilihan lain. Dia maju ke depan, merapalkan mantra sihir tanah tingkat menengahnya.

"Dinding Kerak Bumi!"

Sebuah barikade batu tebal bangkit dari lantai, menahan gempuran api susulan dari sang Inferno Kong. Benturan antara api dan batu itu menciptakan ledakan yang memekakkan telinga.

Guntur menggeram, otot-otot lengannya menegang hebat. Pertarungan ini memaksa Guntur menguras sebagian besar energi sihirnya hanya dalam beberapa menit awal demi menjaga agar timnya tidak terpanggang hidup-hidup.

Di sudut ruangan, Askara merapat ke dinding batu. Matanya tidak lepas dari kobaran api yang dimuntahkan monster itu. Tangannya bergetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena insting di dalam dadanya mendesak untuk bergerak. Udara di sekitarnya dipenuhi oleh sisa-sisa sihir api yang sangat padat.

Belum saatnya, bisik Askara pada dirinya sendiri. Dia meremas jemarinya kuat-kuat. Guntur masih bisa menahannya, dan keadaan belum benar-benar mendesak. Askara memilih untuk terus memperhatikan, mengukur kekuatan monster, dan yang paling penting: menunggu momen di mana ayunan kapak Guntur tidak lagi mampu membendung amukan api tersebut.

Episodes
1 BAB 1: Wadah yang Kosong
2 BAB 2: Langkah Pertama dan Sayap Emas
3 BAB 3: Hutan, Taring, dan Percobaan Pertama
4 BAB 4: Kelompok Baru dan Taring Babi Hutan
5 BAB 5: Langkah di Kegelapan dan Kobaran Api Dungeon
6 BAB 6: Pelindung Tak Terlihat dan Tebasan Pamungkas
7 BAB 7: Penyangkalan dan Tatapan yang Mengawasi
8 BAB 8: Kegelapan di Altar Kuno dan Keputusasaan Tim
9 BAB 9: Peleburan Terakhir dan Runtuhnya sang Penjaga
10 BAB 10: Runtuhnya Labirin dan Penghormatan yang Layak
11 BAB 11: Pesta Perpisahan dan Petunjuk Menuju Kegelapan
12 BAB 12: Desa di Batas Jalan dan Tangisan yang Terabaikan
13 BAB 13: Jalan Menuju Bukit dan Pembalasan sang Pengelana
14 BAB 14: Sengatan Kilat dan Hantaman Vital
15 BAB 15: Api Unggun di Keheningan Malam Hutan
16 BAB 16: Penawaran di Jalur Dagang dan Taruhan Nyawa
17 BAB 17: Bukit Terakhir dan Hadangan Gagak Merah
18 BAB 18: Kilatan Bilah Sihir dan Senjata dari Kereta Dagang
19 BAB 19: Tarian Tiga Elemen dan Duel Melawan Mantan Kesatria
20 BAB 20: Tebasan Pemutus Angin dan Hancurnya Bilah Baja
21 BAB 21: Gerbang Kota Toga dan Petunjuk sang Pandai Besi Legendaris
22 BAB 22: Pertemuan di Bengkel Distrik Bawah
23 BAB 23: Ujian Pertama, Menjaga Tungku Inti
24 BAB 24: Berburu Bijih Besi Meteorit di Gua Terlarang
25 BAB 25: Ujian Kontrol
26 BAB 26: Janji Sang Maestro
27 BAB 27: Kabar Dari Sayap Emas
28 BAB 28: Sunya dan Karsa
29 BAB 29: Uji Coba Sunya dan Perjalanan Sayap Emas
30 BAB 30: Gerbang Nol dan Informasi Cahaya
31 BAB 31: Jebakan Tanah Hidup dan Pertarungan di Gerbang Nol
32 BAB 32: Tebasan Kehampaan di Gerbang Nol
33 BAB 33: Cerita dari Sang Maestro dan Gerbang Kedua
34 BAB 34: Perisai Absolut dan Tarian Pedang Sunya
35 BAB 35: Jejak Kehampaan dan Pertemuan di Gerbang Satu
36 BAB 36: Pertemuan di Bawah Bayang-Bayang Maut
37 BAB 37: Kerja Sama Dua Bintang dan Hancurnya Perisai Absolut
38 BAB 38: Pelukan di Bawah Hujan Kabut
39 BAB 39: Pilihan Menuju Inti Kegelapan
Episodes

Updated 39 Episodes

1
BAB 1: Wadah yang Kosong
2
BAB 2: Langkah Pertama dan Sayap Emas
3
BAB 3: Hutan, Taring, dan Percobaan Pertama
4
BAB 4: Kelompok Baru dan Taring Babi Hutan
5
BAB 5: Langkah di Kegelapan dan Kobaran Api Dungeon
6
BAB 6: Pelindung Tak Terlihat dan Tebasan Pamungkas
7
BAB 7: Penyangkalan dan Tatapan yang Mengawasi
8
BAB 8: Kegelapan di Altar Kuno dan Keputusasaan Tim
9
BAB 9: Peleburan Terakhir dan Runtuhnya sang Penjaga
10
BAB 10: Runtuhnya Labirin dan Penghormatan yang Layak
11
BAB 11: Pesta Perpisahan dan Petunjuk Menuju Kegelapan
12
BAB 12: Desa di Batas Jalan dan Tangisan yang Terabaikan
13
BAB 13: Jalan Menuju Bukit dan Pembalasan sang Pengelana
14
BAB 14: Sengatan Kilat dan Hantaman Vital
15
BAB 15: Api Unggun di Keheningan Malam Hutan
16
BAB 16: Penawaran di Jalur Dagang dan Taruhan Nyawa
17
BAB 17: Bukit Terakhir dan Hadangan Gagak Merah
18
BAB 18: Kilatan Bilah Sihir dan Senjata dari Kereta Dagang
19
BAB 19: Tarian Tiga Elemen dan Duel Melawan Mantan Kesatria
20
BAB 20: Tebasan Pemutus Angin dan Hancurnya Bilah Baja
21
BAB 21: Gerbang Kota Toga dan Petunjuk sang Pandai Besi Legendaris
22
BAB 22: Pertemuan di Bengkel Distrik Bawah
23
BAB 23: Ujian Pertama, Menjaga Tungku Inti
24
BAB 24: Berburu Bijih Besi Meteorit di Gua Terlarang
25
BAB 25: Ujian Kontrol
26
BAB 26: Janji Sang Maestro
27
BAB 27: Kabar Dari Sayap Emas
28
BAB 28: Sunya dan Karsa
29
BAB 29: Uji Coba Sunya dan Perjalanan Sayap Emas
30
BAB 30: Gerbang Nol dan Informasi Cahaya
31
BAB 31: Jebakan Tanah Hidup dan Pertarungan di Gerbang Nol
32
BAB 32: Tebasan Kehampaan di Gerbang Nol
33
BAB 33: Cerita dari Sang Maestro dan Gerbang Kedua
34
BAB 34: Perisai Absolut dan Tarian Pedang Sunya
35
BAB 35: Jejak Kehampaan dan Pertemuan di Gerbang Satu
36
BAB 36: Pertemuan di Bawah Bayang-Bayang Maut
37
BAB 37: Kerja Sama Dua Bintang dan Hancurnya Perisai Absolut
38
BAB 38: Pelukan di Bawah Hujan Kabut
39
BAB 39: Pilihan Menuju Inti Kegelapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!