Sistem Keuntungan Usaha

Sistem Keuntungan Usaha

Bab 1: Arga

​Asap rokok mengepul dari mulut seorang pria berusia kepala empat. Matanya tampak lelah dengan kantung mata yang tebal.

​"Sia-sia saja hidupku ini... Pada akhirnya usahaku tidak pernah dihargai dan penuh kegagalan," gumamnya.

​Pria bernama Arga itu menghela napas panjang. Dia baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya karena sudah sangat lelah.

Keluarganya tidak pernah peduli padanya karena ia lahir dari hubungan gelap ayahnya.

Gara-gara status itu pula, ibu tiri dan saudara-saudara tirinya sangat membencinya.

Sementara sang ayah sama sekali tidak peduli dan cuma bisa menurut pada mereka.

​"Yah, sedari awal... ini semua memang bukan salahku. Ini salah ayah sialan itu! Jadi kenapa mereka membenciku? Seharusnya mereka meluapkannya kepada pria yang tidak bisa menjaga burungnya itu," ketusnya.

​Jika mengingat masa lalu, Arga ingat betul masa sekolahnya dihabiskan hanya untuk belajar dan bekerja terus-menerus, sampai ia tidak bisa menikmati masa mudanya.

​"Seharusnya dulu aku mencari teman, walaupun cuma satu," pikirnya dengan sedikit penyesalan.

​Saat tiba di pinggir jalan, ia melihat sebuah layar reklame besar yang menampilkan wajah saudara-saudaranya yang telah sukses—ada yang jadi pengusaha, artis, hingga model. Arga tersenyum getir.

​Namun, saat hendak melangkah maju, dadanya tiba-tiba terasa sangat sakit. Napasnya mendadak sesak.

Di saat itulah ia teringat bahwa beberapa bulan lalu ia divonis mengidap penyakit jantung akibat gaya hidupnya yang tidak teratur.

​Arga terhuyung, ambruk ke tanah, dan perlahan kehilangan kesadarannya.

Di saat ia baru saja sadar untuk berubah dan berhenti mengejar pengakuan keluarga, ia malah harus mati.

Rasa sakit di dadanya bahkan tidak sebanding dengan rasa penyesalan yang mendalam.

​Seandainya waktu bisa diulang, ia hanya ingin hidup untuk dirinya sendiri dan menikmati hidup tanpa banyak beban pikiran.

Matanya terpejam. Arga mati sendirian tanpa ada satu pun orang yang peduli.

​[Sistem Keuntungan Usaha diaktifkan!]

​[Mohon nikmati hidup tanpa penyesalan dan bangunlah usaha Anda dengan tangan Anda sendiri.]

​Sebuah suara mekanis yang aneh terdengar, membuat Arga merasa heran sekaligus risih. Namun anehnya, ia justru bisa membuka mata kembali.

Napasnya memburu. "Hah?" Dia meraba wajahnya sendiri, lalu menatap sekeliling dengan panik.

​Tempat ini bukan rumah sakit. Di sekelilingnya, ada banyak remaja yang sedang duduk memakai seragam SMA. Mereka semua menatap Arga dengan heran.

​"Eh? Dia kenapa?"

​"Wajahnya pucat banget."

​"Memangnya kalian gak tahu? Dia kan obsesi banget belajar buat ngalahin kakak-kakaknya. Mungkin kurang tidur."

​Arga benar-benar bingung. Di depan kelas, seorang pria paruh baya berseragam PNS warna cokelat membentak, "Kamu tidur di jam kelas saya, Arga?! Keluar dan berdiri di koridor sampai jam istirahat!"

​"Hah?" Arga hanya bisa planga-plongo kebingungan. "Pak Bima? Lah, bukannya Bapak sudah mati karena kecelakaan, ya?"

​"Apa kamu bilang?! Sembarangan banget kalau ngomong! Cepat keluar atau kamu saya keluarkan dari sekolah!"

​Arga berdiri, entah kenapa dia malah menurut saja. 'Aneh, ini terlalu nyata untuk disebut mimpi,' pikirnya. Semua murid di kelas melongo heran, saling pandang dengan penuh rasa bingung.

​Sementara itu, Arga berjalan ke luar kelas dan berdiri di koridor. Ia menggaruk kepalanya. "Ini lucid dream, kah? Katanya kalau mengalami hal kayak gini, kita bisa berpikir jernih walaupun lagi mimpi."

​Arga menoleh ke bawah lantai. Di sana tergeletak sebuah bungkus rokok beserta korek gasnya. "Rokok siapa ini? Lumayan," gumamnya.

​Tanpa rasa berdosa, ia langsung menyalakan rokok tersebut. "Yah, mau ini nyata atau cuma mimpi, setidaknya aku bisa merokok untuk terakhir kalinya."

​Ia mengembuskan asapnya ke udara. Arga terus asyik merokok sampai bel jam istirahat berbunyi.

Pintu kelas terbuka, dan keramaian para murid mulai terdengar.

Begitu melangkah keluar, mata mereka langsung melotot tidak percaya. Arga sedang berdiri santai sambil merokok dengan wajah malas.

​"K-kamu merokok di sekolah?!"

​"Astaga! Pak Bima, Arga ngerokok!"

​"Haah?" gumam Arga cuek.

​Pak Bima yang mendengar teriakan itu langsung melotot. Beliau mendadak ingat dengan rokoknya yang hilang, tampaknya memang jatuh di koridor tadi.

​"Apa?! Arga merokok?! Berani banget anak itu!" Dengan langkah tegas, Pak Bima menghampiri dan ikut melotot gusar. "Berani banget kamu, Arga!"

​"Berani apa, Pak? Santai saja. Lagian kita kan sudah sama-sama di alam akhirat? Nih Pak, masih ada satu batang lagi. Tadi saya nemu di bawah," ucap Arga santai sambil menyodorkan bungkus rokok tersebut.

​Semua orang yang melihat itu syok. Arga yang biasanya pendiam, fokus belajar, dan tidak suka diganggu, kenapa tiba-tiba jadi seaneh ini?

​Bahu Pak Bima gemetar menahan amarah, tangannya mengepal kuat. "Kamu salah makan, ya?! Ikut saya ke ruang BK! Orang tuamu harus diberi tahu!"

​Arga ditarik paksa. Bukannya panik, dia malah melangkah santai sambil terus mengembuskan asap rokoknya. Di belakang mereka, para murid langsung berbisik-bisik bingung.

​"Dia sudah gila, ya?"

​"Apa karena keseringan belajar makanya otaknya rusak?"

​"Mungkin dia depresi gara-gara kurang kasih sayang."

​"Kasihan, masih muda sudah gak waras."

​Di ruang BK, Arga duduk didampingi oleh Pak Bima. Di depannya sudah ada guru BK yang menatapnya tajam.

​"Jadi... kamu merokok di depan kelas?"

​Dengan wajah kelewat santai, Arga malah mengembuskan asap rokoknya tepat ke arah wajah guru BK tersebut. "Jadi guru BK juga sudah mati? Baru tahu aku."

​Guru BK itu langsung naik pitam. "Gak sopan sekali kamu!" Beliau menatap Pak Bima, tetapi Pak Bima hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu harus merespons apa.

​Guru BK berusaha menghela napas panjang untuk menahan emosi. "Begini, Arga... Kamu itu siswa yang rajin dan pintar. Walaupun mungkin tidak sejenius kakak-kakakmu, pencapaianmu sudah luar biasa. Jadi jangan berkecil hati sampai putus asa begini."

​"Lalu?" tanya Arga datar.

​Pak Bima menepuk jidatnya sendiri, sementara sang guru BK rasanya ingin sekali menampol murid di depannya ini. "Jadi, saya akan melaporkan masalah ini ke orang tuamu!"

​"Oh, oke, Pak. Tapi... bukannya mereka semua masih hidup, ya? Kok bisa ditelepon? Canggih juga ya di akhirat bisa telepon orang hidup," sahut Arga polos.

​Mendengar ucapan itu, Pak Bima dan guru BK langsung terdiam lama dengan rahang menganga.

​Beberapa saat kemudian, Arga akhirnya diizinkan keluar dari ruangan setelah rokoknya disita dan pelanggarannya dilaporkan ke orang tua. Di koridor sekolah, Arga merogoh saku celananya.

​"Wow, ada ceban. Beli bakso ah. Kalau gak salah ingat, di kantin ada bakso sepuluh ribuan."

Episodes
1 Bab 1: Arga
2 Bab 2: Kantin
3 Bab 3: Ruang Bk lagi
4 Bab 4: Jualan apa
5 Bab 5: Hadiah keuntungan dari sistem
6 Bab 6: Reyhan
7 Bab 7: Bertengkar
8 Bab 8: Hari libur
9 Bab 9: Wawan
10 Bab 10: Lupa diri
11 Bab 11: Ketemu lagi kita
12 Bab 12: Wkwk
13 Bab 13: Teringat
14 Bab 14: Tiara
15 Bab 15: Semena-mena
16 Bab 16: Olahraga ringan(1)
17 Bab 17: Olahraga ringan (2)
18 Bab 18: Diskors
19 Bab 19: Rencana jahat
20 Bab 20: Beli kopi
21 Bab 21: Anak kecil
22 Bab 22: Ambillah
23 Bab 23: Jalani saja
24 Bab 24
25 Bab 25: Rencana gagal
26 Bab 26:
27 Bab 27
28 Bab 28: Investasi untuk dua tahun ke depan
29 Bab 29: Pembalasan (1)
30 Bab 30: Pembalasan (2)
31 Bab 31
32 Bab 32: Tantangan
33 Bab 33: Pak Bima pusing
34 Bab 34: Hukuman
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36
37 Bab 37: Perubahan
38 Bab 38: Memperbaiki
39 Bab 39: Retak
40 Bab 40: Pecah
41 Bab 41: Tertahan
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44: Perasaan
45 Bab 45
46 Bab 46: Rasa Lega
47 Bab 47
48 Bab 48: Pulang
49 Bab 49: Lebih ramai
50 Bab 50: Kesenangan sejenak
51 Bab 51: Pergi dengan Reza
52 Bab 52
53 Bab 53: Kesenangan (1)
54 Bab 54:Kesenangan(2)
55 Bab 55: Kesenangan (3)
56 Bab 56: Kembang api
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60: Ngerjain orang (1)
61 Bab 61: Ngerjain orang (2)
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64: Lesu
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67: Datang lagi mereka
68 Bab 68: Alesha (1)
69 Bab 69: Alesha (2)
70 Bab 70: Nemuin orang pingsan
71 Bab 71: Niatnya mau kabur, malah sama saja
72 Bab 72
73 Bab 73: Ketiduran malah begini
74 Bab 74: Gelembung mimpi
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77: Hadiah terima kasih
78 Bab 78: Ngehilangin
79 Bab 79
80 Bab 80: Kekuatan hukum
81 Bab 81:
82 Bab 82
83 Bab 83: Pertaruhan
84 Bab 84: Epilog
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Arga
2
Bab 2: Kantin
3
Bab 3: Ruang Bk lagi
4
Bab 4: Jualan apa
5
Bab 5: Hadiah keuntungan dari sistem
6
Bab 6: Reyhan
7
Bab 7: Bertengkar
8
Bab 8: Hari libur
9
Bab 9: Wawan
10
Bab 10: Lupa diri
11
Bab 11: Ketemu lagi kita
12
Bab 12: Wkwk
13
Bab 13: Teringat
14
Bab 14: Tiara
15
Bab 15: Semena-mena
16
Bab 16: Olahraga ringan(1)
17
Bab 17: Olahraga ringan (2)
18
Bab 18: Diskors
19
Bab 19: Rencana jahat
20
Bab 20: Beli kopi
21
Bab 21: Anak kecil
22
Bab 22: Ambillah
23
Bab 23: Jalani saja
24
Bab 24
25
Bab 25: Rencana gagal
26
Bab 26:
27
Bab 27
28
Bab 28: Investasi untuk dua tahun ke depan
29
Bab 29: Pembalasan (1)
30
Bab 30: Pembalasan (2)
31
Bab 31
32
Bab 32: Tantangan
33
Bab 33: Pak Bima pusing
34
Bab 34: Hukuman
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36
37
Bab 37: Perubahan
38
Bab 38: Memperbaiki
39
Bab 39: Retak
40
Bab 40: Pecah
41
Bab 41: Tertahan
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44: Perasaan
45
Bab 45
46
Bab 46: Rasa Lega
47
Bab 47
48
Bab 48: Pulang
49
Bab 49: Lebih ramai
50
Bab 50: Kesenangan sejenak
51
Bab 51: Pergi dengan Reza
52
Bab 52
53
Bab 53: Kesenangan (1)
54
Bab 54:Kesenangan(2)
55
Bab 55: Kesenangan (3)
56
Bab 56: Kembang api
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60: Ngerjain orang (1)
61
Bab 61: Ngerjain orang (2)
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64: Lesu
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67: Datang lagi mereka
68
Bab 68: Alesha (1)
69
Bab 69: Alesha (2)
70
Bab 70: Nemuin orang pingsan
71
Bab 71: Niatnya mau kabur, malah sama saja
72
Bab 72
73
Bab 73: Ketiduran malah begini
74
Bab 74: Gelembung mimpi
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77: Hadiah terima kasih
78
Bab 78: Ngehilangin
79
Bab 79
80
Bab 80: Kekuatan hukum
81
Bab 81:
82
Bab 82
83
Bab 83: Pertaruhan
84
Bab 84: Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!