Bab 5: Hadiah keuntungan dari sistem

​"Santai saja. Hebat juga kamu, gak gengsi jualan begini," ucap Arga santai.

​Dimas menatap Arga dengan bingung. Setahunya, Arga adalah anak dari keluarga kaya raya meskipun statusnya kurang baik di rumah.

Kakak-kakaknya selalu tampil mentereng dengan barang-barang mahal.

Namun sekarang, Arga justru duduk di halte bus sambil memegang gitar kusam layaknya seorang pengamen.

​"Malah melamun. Namamu siapa? Aku belum tahu," tegur Arga memecah lamunan Dimas.

​Dimas tertegun sejenak. "Oh! Namaku... Dimas. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?"

​"Yah, tadinya cuma mau santai, eh malah dikira pengamen sama orang-orang. Tapi lumayan jugalah sensasinya. Ayo lanjut jualan, aku ikut sekalian mau cari minimarket lain," ajak Arga.

​"H-hah? Ikut?" tanya Dimas bingung.

​"Iya, ayo jalan."

​Akhirnya Dimas hanya bisa pasrah dan berjalan berdampingan dengan Arga.

Sepanjang jalan, Arga iseng memainkan gitarnya untuk memecah keheningan.

Menariknya, petikan musik Arga justru memancing perhatian orang-orang sekitar.

Beberapa pejalan kaki yang awalnya hanya berniat mendengarkan musik, akhirnya malah berakhir membeli dagangan Dimas.

Lama-kelamaan, permainan gitar Arga menjadi jauh lebih lancar.

​"Jago juga kamu main gitar. Belajar dari kapan, Ga?" tanya Dimas kagum.

​Arga menoleh sekilas. "Bertahun-tahun lalu saat masih SMA," jawabnya jujur.

​Dimas makin bingung. "Kan sekarang kamu juga masih SMA?"

​"Sama saja rasanya," sahut Arga pendek.

​Begitu melihat sebuah minimarket, mereka menepi sejenak.

Arga menggunakan uang receh hasil ngamennya tadi untuk membeli satu bungkus rokok paling murah.

Mereka kemudian duduk berdua di sebuah bangku pinggir jalan yang cukup ramai.

​"Kamu merokok? Memangnya orang tuamu gak marah?" tanya Dimas ragu-ragu.

​Arga menyalakan korek gasnya lalu mengembuskan asap pertama. "Jangan terlalu dekat, Dim, nanti bajumu bau rokok," peringat Arga.

"...Kalau ditanya marah atau enggak, ya pasti marah. Tapi santai sajalah. Hidup kalau terlalu mikirin omongan orang lain itu gak ada enaknya. Sekarang aku cuma ingin hidup bebas tanpa terkekang. Lagipula, ini sebetulnya lagi proses ngurangin rokok kok."

​Dimas heran mendengarnya. Gaya bicara dan pemikiran Arga terasa sangat dewasa, seperti seseorang yang sudah kenyang pengalaman hidup. "Memangnya biasanya kamu habis berapa batang sehari?" tanya Dimas penasaran.

​"Dulu sempat habis dua bungkus sehari. Makanya sampai punya riwayat penyakit jantung parah. Kalau sekarang sih, niatnya paling cuma tiga batang sehari."

​Dimas langsung melotot kaget. "Riwayat jantung?! Sekarang kamu—"

​"Sekarang sehat-sehat saja, gak usah terlalu dipermasalahkan," potong Arga cepat. "Ngomong-ngomong, kamu jualan begini buat bantu orang tua, ya?"

​Dimas merasa Arga adalah orang yang aneh, terlalu blak-blakan tapi sulit ditebak. "Yah, begitulah. Orang tuaku punya warung makan ayam goreng. Lumayan ramai sih, tapi aku gak mau terlalu merepotkan mereka untuk uang jajan."

​Arga mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Keren. Pokoknya kalau si Hendra atau gengnya ganggu kamu lagi, bilang saja ke aku. Nanti biar kuhajar mereka!" Arga kemudian mematikan rokoknya dan berdiri. "Ayo, kita habisin dulu daganganmu."

​Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan. Kombinasi permainan gitar Arga dan kegigihan Dimas ternyata sangat efektif menarik pembeli.

Tepat jam 5 sore, seluruh dagangan di kotak Dimas habis terjual tanpa sisa.

Dimas tampak sangat senang, matanya bahkan agak berkaca-kaca saat menghitung uang hasil penjualan.

​"Gak nyangka semuanya bisa habis dalam beberapa jam. Ini semua berkat bantuanmu, Ga."

​Arga saat itu sedang mengisap rokoknya yang keempat, tampaknya ia masih agak kesulitan menahan kecanduannya sepenuhnya. "Mana ada, itu semua karena kerja kerasmu sendiri."

​Saat Dimas hendak membagi setengah dari total uang hasil penjualan hari itu, Arga langsung menolaknya. "Ambil saja semuanya. Aku sudah cukup terhibur cuma dengan ikut jalan-jalan tadi."

​Dimas terdiam sesaat, merasa tidak enak. "Eh? Kalau begitu... terima kasih banyak ya, Ga."

​"Sama-sama."

​Baru saja mereka hendak berbalik untuk pulang, sebuah suara lantang menghentikan langkah mereka. "Lah, ini dia anaknya! Dari mana saja kamu?! Bukannya langsung ke sini, ini kerjaan sudah numpuk tahu!"

​Dimas dan Arga menoleh serentak. Seorang pria paruh baya dengan pakaian yang penuh noda oli berjalan mendekat.

​'Ah, sekarang aku ingat. Ini Bang Jay,' batin Arga.

Dulu, ia memang mengambil pekerjaan sampingan di bengkel motor milik pria ini untuk mencari uang tambahan.

Jika diingat-ingat kembali, di masa lalunya Arga memang gila kerja dan mengambil banyak pekerjaan sekaligus.

​Jaya menatapnya kesal. "Cepat kerjakan semua motor itu!"

​"Oh, oke, Om Jay," jawab Arga santai.

​Tanpa banyak protes, Arga langsung bergerak menuju area kerja bengkel.

Ia memperbaiki beberapa sepeda motor dengan cekatan hingga jam menunjukkan pukul 8 malam.

Dimas sendiri ternyata memilih tidak langsung pulang. Ia duduk di pojok bengkel sambil memperhatikan Arga bekerja dengan heran karena temannya itu tampak ahli dalam banyak hal.

​"Gak pulang? Ini sudah malam lho," tanya Arga di sela kesibukannya.

​"Ah, itu... iya, lupa. Tapi nanti saja sekalian," jawab Dimas sambil terkekeh pelan.

​Arga akhirnya berdiri dan mengelap tangannya yang penuh noda hitam menggunakan kain lap. "Kalau gitu ayo balik, semua kerjaan juga sudah beres." Ia berteriak ke arah dalam ruangan bengkel, "Om Jay, sudah beres semua! Saya pulang duluan, ya!"

​Saat mereka berdua berjalan meninggalkan area bengkel, langkah Arga mendadak terhenti. Matanya melotot kaget karena sebuah layar hologram biru tiba-tiba muncul mengambang tepat di depan wajahnya.

​[Usaha jualan jajanan ringan + membereskan beberapa motor di bengkel selesai. Menghitung keuntungan...]

[Total penjualan jajanan ringan: Rp120.000]

[Total pendapatan bengkel: Rp300.000]

[Keuntungan dilipatgandakan 5 kali lipat. Total: Rp1.620.000]

[Uang telah ditransfer langsung ke tangan Anda.]

​Arga menunduk dan seketika terperangah melihat segepok uang tunai yang tebal mendadak sudah berada di genggaman tangannya.

Dimas yang merasa heran melihat reaksi Arga langsung menoleh, lalu ikut syok melihat apa yang dipegang temannya itu. "Eh?! Kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?!"

​Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arga menunjuk ke arah udara kosong di depannya. "Dari sini."

​"Mana? Gak ada apa-apa di situ," sahut Dimas kebingungan.

​Tanpa banyak bicara, Arga langsung membagi uang tersebut dan menyerahkan satu juta rupiah kepada Dimas, sementara sisanya ia kantongi sendiri.

​"Kenapa malah dikasih ke aku?! Gak enak lah, ini kan uang hasil kerjamu sendiri, woi!" protes Dimas menolak.

​"Ambil saja. Lagi pula ini hasil kerja keras kita berdua hari ini. Anggap saja layar aneh ini adalah bos kita. Kembali ke masa lalu saja sudah gak normal, apalagi cuma soal layar biru ini," jawab Arga santai.

​Dimas menghela napas panjang. Ia akhirnya menerima uang tersebut meskipun pikirannya masih dipenuhi rasa heran yang luar biasa mengenai ucapan Arga tentang layar biru misterius itu.

Terpopuler

Comments

Gege

Gege

ada duyungnya engga ini Thor.. itu duyung belom di temukan lagi kah Thor..

2026-07-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Arga
2 Bab 2: Kantin
3 Bab 3: Ruang Bk lagi
4 Bab 4: Jualan apa
5 Bab 5: Hadiah keuntungan dari sistem
6 Bab 6: Reyhan
7 Bab 7: Bertengkar
8 Bab 8: Hari libur
9 Bab 9: Wawan
10 Bab 10: Lupa diri
11 Bab 11: Ketemu lagi kita
12 Bab 12: Wkwk
13 Bab 13: Teringat
14 Bab 14: Tiara
15 Bab 15: Semena-mena
16 Bab 16: Olahraga ringan(1)
17 Bab 17: Olahraga ringan (2)
18 Bab 18: Diskors
19 Bab 19: Rencana jahat
20 Bab 20: Beli kopi
21 Bab 21: Anak kecil
22 Bab 22: Ambillah
23 Bab 23: Jalani saja
24 Bab 24
25 Bab 25: Rencana gagal
26 Bab 26:
27 Bab 27
28 Bab 28: Investasi untuk dua tahun ke depan
29 Bab 29: Pembalasan (1)
30 Bab 30: Pembalasan (2)
31 Bab 31
32 Bab 32: Tantangan
33 Bab 33: Pak Bima pusing
34 Bab 34: Hukuman
35 Bab 35: Rumah sakit
36 Bab 36
37 Bab 37: Perubahan
38 Bab 38: Memperbaiki
39 Bab 39: Retak
40 Bab 40: Pecah
41 Bab 41: Tertahan
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44: Perasaan
45 Bab 45
46 Bab 46: Rasa Lega
47 Bab 47
48 Bab 48: Pulang
49 Bab 49: Lebih ramai
50 Bab 50: Kesenangan sejenak
51 Bab 51: Pergi dengan Reza
52 Bab 52
53 Bab 53: Kesenangan (1)
54 Bab 54:Kesenangan(2)
55 Bab 55: Kesenangan (3)
56 Bab 56: Kembang api
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60: Ngerjain orang (1)
61 Bab 61: Ngerjain orang (2)
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64: Lesu
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67: Datang lagi mereka
68 Bab 68: Alesha (1)
69 Bab 69: Alesha (2)
70 Bab 70: Nemuin orang pingsan
71 Bab 71: Niatnya mau kabur, malah sama saja
72 Bab 72
73 Bab 73: Ketiduran malah begini
74 Bab 74: Gelembung mimpi
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77: Hadiah terima kasih
78 Bab 78: Ngehilangin
79 Bab 79
80 Bab 80: Kekuatan hukum
81 Bab 81:
82 Bab 82
83 Bab 83: Pertaruhan
84 Bab 84: Epilog
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Arga
2
Bab 2: Kantin
3
Bab 3: Ruang Bk lagi
4
Bab 4: Jualan apa
5
Bab 5: Hadiah keuntungan dari sistem
6
Bab 6: Reyhan
7
Bab 7: Bertengkar
8
Bab 8: Hari libur
9
Bab 9: Wawan
10
Bab 10: Lupa diri
11
Bab 11: Ketemu lagi kita
12
Bab 12: Wkwk
13
Bab 13: Teringat
14
Bab 14: Tiara
15
Bab 15: Semena-mena
16
Bab 16: Olahraga ringan(1)
17
Bab 17: Olahraga ringan (2)
18
Bab 18: Diskors
19
Bab 19: Rencana jahat
20
Bab 20: Beli kopi
21
Bab 21: Anak kecil
22
Bab 22: Ambillah
23
Bab 23: Jalani saja
24
Bab 24
25
Bab 25: Rencana gagal
26
Bab 26:
27
Bab 27
28
Bab 28: Investasi untuk dua tahun ke depan
29
Bab 29: Pembalasan (1)
30
Bab 30: Pembalasan (2)
31
Bab 31
32
Bab 32: Tantangan
33
Bab 33: Pak Bima pusing
34
Bab 34: Hukuman
35
Bab 35: Rumah sakit
36
Bab 36
37
Bab 37: Perubahan
38
Bab 38: Memperbaiki
39
Bab 39: Retak
40
Bab 40: Pecah
41
Bab 41: Tertahan
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44: Perasaan
45
Bab 45
46
Bab 46: Rasa Lega
47
Bab 47
48
Bab 48: Pulang
49
Bab 49: Lebih ramai
50
Bab 50: Kesenangan sejenak
51
Bab 51: Pergi dengan Reza
52
Bab 52
53
Bab 53: Kesenangan (1)
54
Bab 54:Kesenangan(2)
55
Bab 55: Kesenangan (3)
56
Bab 56: Kembang api
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60: Ngerjain orang (1)
61
Bab 61: Ngerjain orang (2)
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64: Lesu
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67: Datang lagi mereka
68
Bab 68: Alesha (1)
69
Bab 69: Alesha (2)
70
Bab 70: Nemuin orang pingsan
71
Bab 71: Niatnya mau kabur, malah sama saja
72
Bab 72
73
Bab 73: Ketiduran malah begini
74
Bab 74: Gelembung mimpi
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77: Hadiah terima kasih
78
Bab 78: Ngehilangin
79
Bab 79
80
Bab 80: Kekuatan hukum
81
Bab 81:
82
Bab 82
83
Bab 83: Pertaruhan
84
Bab 84: Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!