Sepucuk Surat

Pagi ini terasa sedikit berbeda, hujan semalam yang mengguyur seluruh kota membuat cuaca pagi menjadi sejuk. Semua aktivitas sudah di mulai pagi ini, suara anak-anak bersepeda menuju sekolah sudah terdengar. Suara mobil tetangga yang dihidupkan juga sudah terdengar. Pada sebuah rumah terlihat seseorang dengan  rambut yang mulai memutih sedang sibuk memberikan makan dan minum burung-burung kesayangannya, tak ketinggalan juga kopi hitam panas dan roti tanpa isian yang sudah setia menemi di atas meja. Sesekali ia membalas sapaan tetangga.

"Pak Dirga!" teriak salah satu tetangga yang hendak berangkat kerja.

"Yo, hati-hati." Dirga membalas sapaan dengan satu tangannya yang ia angkat untuk melambai.

Lalu kembali Dirga memercikkan air pada salah satu burung.

"Eh ada Pak Dirga," sapa seorang tetangga lagi.

"Dalem Bu Siti," jawabnya dengan logat khas jawanya.

"Ini Pak, saya ada sedikit hadiah buat Dek Laila yang kemarin wisuda." Bu Siti memberikan sebuah paperbag, lalu lanjut memberikan rantang pada Dirga.

"Waduh banyak sekali Bu Siti, terima kasih loh ini. Jadi merepotkan Ibu."

Dirga yang merasa tak enak hati karena diberikan hadiah sebanyak itu untuk putrinya.

"Apalah Bapak ini, wong ndak merepotkan Pak, ini ikhlas saya beri untuk Dek Laila."

"Mana Dek Lailanya Pak?" tanya Bu Siti.

"Sedang merayakan wisuda dengan teman-temannya Bu, sekalian menginap mereka."

"Oalah, pantas saja ndak keliatan dari kemarin. Ya sudah saya permisi dulu Pak."

"Baik Bu, terima kasih sekali lagi ya Bu," ucap Dirga.

Bu Siti mengangguk sembari berjalan menuju pagar.

Tak lama setelah kepergian Bu Siti, berhenti sebuah taksi tepat di depan pagar rumah Dirga. Ia sudah menduganya, tepat sesaat sosok putrinya muncul keluar dari taksi itu. Hatinya tenang melihat putrinya pulang dengan selamat, bohong sekali bahwa dia tidak khawatir dengan putri satu-satunya itu. Yang kemarin ia katakan pada Arjuna agar tenang itu hanya untuk menenangkan Arjuna saja, jauh di lubuk hatinya, Dirga tetap khawatir sebagai seorang ayah.

Laila berjalan dengan cepat, wajahnya sudah menggambarkan bagaimana mood-nya saat ini.

"Ehh anak Papi sudah pulang."

Laila bahkan tidak menoleh sedikti pun pada Ayahnya.

"Lala, gimana kemarin pesta wisuda sama teman-teman? Pasti seru ya?" tanya Dirga basa-basi.

Laila menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik mendekati Ayahnya.

"Apanya yang seru Pi, justru Papi hancurin semua jadwal kita kemarin!"

Wajah Laila merah padam, dadanya naik turun dengan cepat.

"Maksud Papi tu apa sih, bawa orang asing ke acara wisuda Lala terus ngenalin itu orang sebagai calon suami di depan sahabat-sahabat aku."

"Dia bukan orang asing Laila."

Mendengar kalimat Ayahnya itu, membuat emosi Laila naik.

"Itu bagi Papi, gak bagi aku Pi."

Mata Laila sudah mulai berkaca-kaca, namun setengah mati ia menahannya agar tidak turun.

"Papi tau aku sudah punya pacar, terus kenapa tiba-tiba jodohin aku kayak gini?"

Mendengar suara gaduh itu, beberapa orang yang lewat sampai menoleh ke arah mereka.

"Sebaiknya kita masuk ke rumah dulu Nak," ajak Dirga.

"Gak, jelasin sekarang Pi, Laila mau tau alasan Papi," tegas Laila.

"Papi memang tau tentang pacarmu itu, tapi Papi tidak suka dengan dia Laila."

"Kenapa? Apa salahnya sama Devan?"

"Firasat Papi gak baik tentang anak itu."

"Firasat? sejak kapan Papi percaya hal yang belum diketahui gitu, bukannya Papi selalu pakai logika dalam berpikir."

"Sejak Papi punya kamu Laila."

Laila mengerutkan dahi.

"Dan sejak... Mamimu meninggalkan kita untuk selamanya," lanjut Dirga.

Air mata yang sedari tadi Laila tahan akhirnya turun juga, kalau sudah membahas soal Ibunya Laila tak bisa kalau tak menangis.

"Kenapa harus bahas Mami sekarang, ini gak ada hubungannya sama Mami!"

"Jangan bikin Mami sebagai tameng buat nutupin kesalahan dan maunya Papi."

Sudah tak tahan lagi dengan situasi yang semakin kacau dan pembicaraan yang tak berarah ini, Laila memutuskan meninggalkan Ayahnya dan masuk ke rumah.

Dirga yang mengerti tidak mencoba untuk menghentikan Laila yang semakin hilang dari pandangan memasuki rumah, ia memberikan ruang lagi pada putrinya untuk menenangkan diri dan akan mencoba mengajak berbicara setelahnya.

Laila yang sudah di dalam kamar semakin jadi tangisnya, dadanya terasa sesak. Entahlah, rasanya ia seperti dikhianati oleh Ayahnya sendiri.

...****************...

Saat malam tiba, terdengar suara berisik dari arah dapur. Tak lama tercium aroma makanan yang membuat perut Laila lapar karena sedari pagi belum di isi apapun. Tenaganya terkuras habis setelah seharian menangis, suara keroncongan terdengar keras dari perutnya.

"Laper banget lagi."

Laila berjalan menuju pintu kamarnya, namun sesaat sebelum membuka pintu ia mengurungkan niatnya itu. Gengsinya sangat tinggi saat ini, rasanya belum sanggup untuk berhadapan dengan Ayahnya.

Namun kalau sudah soal perut mana bisa ia menahannya lebih lama lagi. "Si Papi bisa aja lagi bikin ngiler di jam rawan gini," celetuk Laila.

Mau tak mau Laila memaksakan dirinya untuk pergi menuju dapur. Dari kejauhan sudah terlihat sosok Dirga yang sedang sibuk di depan kompor sedang memasak sesuatu. Sementara di atas meja makan ada beberapa hidangan yang sudah siap untuk disantap.

Suara kursi ditarik mengejutkan Dirga yang tengah fokus menghadap kompor. Ia baru tersadar kalau putrinya sudah ada di meja makan.

"Silahkan dinikmati tuan putri," godanya pada Laila.

Laila dengan wajah tanpa ekspresi andalannya saat ngambek tak bergeming saat digoda oleh Ayahnya. Ia hanya fokus mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.

"Beberapa masakan ini Bu Siti yang kasih, Papi cuma ngangetin aja." Dirga menaruh makanan yang ia masak sendiri ke atas meja. "Nah, kalau yang ini Papi masak sendiri khusus buat anak Papi," lanjutnya.

Capcai sayur dengan udang adalah masakan kesukaan Laila yang Dirga masak khusus untuk putrinya itu. Saat Laila menyendok beberapa capcai itu ke piringnya membuat Dirga tersenyum.

"Gimana, enak?" tanya Dirga untuk memastikan rasa masakan hasil buatannya.

Laila hanya membalas dengan sebuah anggukan. Dirga pun mengambil piring dan makan bersama.

Setelah santapan malam yang hening itu, mereka kembali duduk berhadapan di atas meja makan, Laila menatap tajam pada Ayahnya. Menuntut penjelasan pada sang Ayah.

"Jadi, kenapa Papi tiba-tiba jodohin aku sama orang itu?" Laila langsung to the point.

Dirga menyodorkan sebuah amplop yang terlihat sedikit usang kepada Laila, di salah satu sisi surat tertulis 'untuk anakku Laila Agni Dania'. Membaca itu langsung Laila mengambil amplop itu. Ia baca kata demi kata di surat itu, diikuti dengan derasnya air yang keluar dari pelupuk mata.

"Papi gak asal saja menjodohkan kamu dengan Arjuna." Dirga mulai menjelaskan alasannya.

"Perihal firasat yang Papi bilang, entahlah perasaan itu muncul saja saat melihat kebersamaan kamu dengan Nak Devan sebelumnya. Mungkin ini intuisi seorang ayah yang tidak bisa dijelaskan dengan logika."

"Beberapa bulan lalu Papi menemukan surat itu saat membongkar barang-barang lama Mamimu yang baru-baru ini sudah berani Papi bongkar dan rapikan." Selama kepergian Istrinya, hidup Dirga sangat hancur bahkan sempat merasa kehilangan arah hidup, namun Laila membuatnya kembali sadar bahwa hidup harus terus berjalan dan dia harus kuat menjalaninya.

Barulah beberapa bulan lalu ia memberanikan diri untuk merapikan dan membersihkan barang-barang mendiang istrinya yang sedari dulu takut ia pegang karena tak mau kembali merasakan rapuhnya menerima kenyataan bahwa istrinya benar-benar sudah meninggalkan mereka selamanya.

"Dari sebuah diary Mamimu, Papi menemukan amplop surat itu, setelah membacanya Papi bertekad untuk mewujudkan harapan terakhir Mamimu La. Papi harap kamu mengerti dan mau bekerjasama untuk mewujudkan itu," jelas Dirga.

Isi diary Ibunya sangat menyentuh Laila, dimana tertulis semua curahan hati Mami saat pertemuannya dengan Ayahnya, masa-masa bahagia mereka, hingga memiliki Laila di tengah mereka.

Namun, yang membuat Laila lama duduk termenung di meja riasnya, adalah isi surat yang ada di amplop usang peninggalan Ibunya. Dibacanya berkali-kali surat yang ada di amplop itu. Berkali-kali pula ia mencocokkan tulisan di surat itu dengan tulisan yang ada di diary Ibunya, semua sama. Ayahnya tidak berbohong, surat itu memang tulisan tangan sang Ibu. Karena awalnya Laila kira ini akal-akalan Ayahnya untuk menjodohkan dia.

Pada surat itu tertulis:

Dear Lala,

Hari ini hati Mami gelisah, pandangan Mami tidak bisa beralih dari Lala. Setelah mengetahui keadaan Mami dari Dr.Arumi, rasanya dunia Mami hancur. Mami ingin sekali menemani tumbuh kembang Lala sampai dewasa. Selalu ada di saat senang dan sedihnya Lala. Tapi keinginan Mami hanya tinggal keinginan semata yang tidak akan bisa Mami gapai. Maafkan Mami ya Lala sayang. 

Mami sedih sekali tidak bisa mewujudkan satu hal yang sangat ingin Mami lakukan, yaitu mengantar Lala menuju meja akad bersama Papi. Mengantarkan Lala kepada orang yang tepat untuk hidup Lala, karena Mami tau dunia di luar sana sangat kejam jika dihabiskan dengan orang yang tidak tepat. Lala sayang, meski Mami tidak akan bisa melihat Lala mencapai usia dewasa, melihat Lala bersanding di pelaminan, apakah Mami masih layak untuk meminta satu hal pada Lala. Permintaan Mami hanya satu, kelak menikahlah dengan orang pilihan Papi ya La, karena Mami percaya pada orang pilihan Papi.

'menikahlah dengan orang pilihan Papi'

Kalimat itu terus berputar di kepala Laila. Membuatnya terus berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Tentu sebagai anak ia ingin memenuhi harapan terakhir Ibunya, tapi apakah dengan cara merelakan kehidupannya sendiri.

...Bersambung... ...

Episodes
1 Kabar Buruk
2 Stalking Tipis-tipis
3 Sepucuk Surat
4 Trip Bali
5 Pria Itu Lagi
6 Sunset
7 Senyumannya Tak Berubah
8 Cemburu
9 Liburan Seru
10 Kebenaran yang Terungkap
11 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
12 Rencana Besar
13 Seberkas Cahaya
14 Kebohongan Dimulai
15 Yakin?
16 Mengulur Waktu
17 Surat Izin Kawin
18 Semangkuk Mie Ayam
19 Pengakuan
20 Serangan Trio Macan
21 Misi Gagal
22 Pelarian Tengah Malam
23 H-1
24 Hari Pernikahan
25 Pertemuan Singkat
26 Malam Pertama?
27 Bertemunya Duo Kocak
28 Alasan
29 Kepulangan Budhe
30 Rencana Pindah Rumah
31 Realita Baru
32 Keruntuhan Hati Seorang Devan
33 Normal Day
34 Curhatan Hati
35 Pertengkaran Pertama
36 Gengsi Setinggi Langit
37 Pertanyaan Keramat
38 Sidak Pengantin Baru
39 Uno Game
40 First Date?
41 Kabar Baik
42 Tekad Sudah Bulat
43 Sisi Baik Yang Mulai Terlihat
44 Ketegangan Menyelimuti
45 Kecerobohan Keira
46 Donat Pelepas Penat
47 Bastian
48 Girls Time
49 Peluang
50 Segala Hal Punya Waktunya
51 The Power Of 'Orang Dalam'
52 Kesamaan Hobi
53 Bekal Dari Ibu
54 Dibalik Senyuman
55 Bekal Titipan
56 Kegagalan Bukan Kekalahan
57 Rasa Cemburu
58 Batasan Yang Jelas
59 Melepas Rindu
60 Melepas Rindu 2
61 Bohong
62 Amarah Yang Meledak
63 Tekad Menyelamatkan Pernikahan
64 Keegoisan Laila
65 Man To Man
66 Kebohongan Devan
67 Hilang Kendali (17+)
68 Kebohongan Besar
69 Harus Berpura-pura
70 Kehangatan di Gelapnya Malam
71 Terjerat Janji Manis
72 Janji Palsu Sang Manipulator
73 Pengakuan
74 Kecewa
75 Lelah Hati, Lelah Fisik
76 Runtuhnya Ego
77 Rencana Membuat Perangkap
78 Masuk Perangkap
79 Percobaan Lari Gagal
80 Pengecut Level Dewa
81 Mengikhlaskan
82 Perubahan Besar
83 Kejutan
84 Sisi Nakal
85 Teman Lama
86 In This Economy
87 Cerita Nostalgia
88 Saran Yang Tak Diminta
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Kabar Buruk
2
Stalking Tipis-tipis
3
Sepucuk Surat
4
Trip Bali
5
Pria Itu Lagi
6
Sunset
7
Senyumannya Tak Berubah
8
Cemburu
9
Liburan Seru
10
Kebenaran yang Terungkap
11
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
12
Rencana Besar
13
Seberkas Cahaya
14
Kebohongan Dimulai
15
Yakin?
16
Mengulur Waktu
17
Surat Izin Kawin
18
Semangkuk Mie Ayam
19
Pengakuan
20
Serangan Trio Macan
21
Misi Gagal
22
Pelarian Tengah Malam
23
H-1
24
Hari Pernikahan
25
Pertemuan Singkat
26
Malam Pertama?
27
Bertemunya Duo Kocak
28
Alasan
29
Kepulangan Budhe
30
Rencana Pindah Rumah
31
Realita Baru
32
Keruntuhan Hati Seorang Devan
33
Normal Day
34
Curhatan Hati
35
Pertengkaran Pertama
36
Gengsi Setinggi Langit
37
Pertanyaan Keramat
38
Sidak Pengantin Baru
39
Uno Game
40
First Date?
41
Kabar Baik
42
Tekad Sudah Bulat
43
Sisi Baik Yang Mulai Terlihat
44
Ketegangan Menyelimuti
45
Kecerobohan Keira
46
Donat Pelepas Penat
47
Bastian
48
Girls Time
49
Peluang
50
Segala Hal Punya Waktunya
51
The Power Of 'Orang Dalam'
52
Kesamaan Hobi
53
Bekal Dari Ibu
54
Dibalik Senyuman
55
Bekal Titipan
56
Kegagalan Bukan Kekalahan
57
Rasa Cemburu
58
Batasan Yang Jelas
59
Melepas Rindu
60
Melepas Rindu 2
61
Bohong
62
Amarah Yang Meledak
63
Tekad Menyelamatkan Pernikahan
64
Keegoisan Laila
65
Man To Man
66
Kebohongan Devan
67
Hilang Kendali (17+)
68
Kebohongan Besar
69
Harus Berpura-pura
70
Kehangatan di Gelapnya Malam
71
Terjerat Janji Manis
72
Janji Palsu Sang Manipulator
73
Pengakuan
74
Kecewa
75
Lelah Hati, Lelah Fisik
76
Runtuhnya Ego
77
Rencana Membuat Perangkap
78
Masuk Perangkap
79
Percobaan Lari Gagal
80
Pengecut Level Dewa
81
Mengikhlaskan
82
Perubahan Besar
83
Kejutan
84
Sisi Nakal
85
Teman Lama
86
In This Economy
87
Cerita Nostalgia
88
Saran Yang Tak Diminta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!