Trip Bali

Sesuai dengan wishlist yang sudah dibuat oleh Laila dan kedua sahabatnya, setelah wisuda mereka akan lanjut untuk trip ke Bali selama satu minggu. Meski ada kegaduhan kemarin, perjalanan ini akan tetap dilaksanakan sebagaimana sudah direncanakan dari jauh hari oleh mereka.

Yang membuat trip kali ini istimewa bagi Laila adalah adanya Devan yang ikut serta bersama mereka. Devan akhirnya berhasil mendapat cuti kerja selama satu minggu khusus untuk menemani para gadis itu berlibur.

Baru saja tidur selama dua jam, Laila sudah mulai mempersiapkan keperluan trip. Sebenarnya sebagian besar persiapan sudah selesai, hanya saja dia harus mempersiapkan diri seperti mandi dan make up yang membutuhkan waktu sedikit lama.

Suara ketukan pintu dari luar kamar membuyarkan fokus Laila yang sedang memasang eyeliner. "Masuk aja, gak dikunci," sahut Laila.

Ayahnya masuk dengan membawa beberapa perbekalan makanan untuk Laila bawa pagi ini.

"La, ini Papi sudah siapkan bekal untuk sarapan atau mungkin bisa untuk makan siang nanti, siapa tau nanti belum sempat kamu ketemu makanan yang pas."

"Iya Pi." Laila melanjutkan aktivitas memasang eyeliner. Laila menatap kaca untuk memastikan eyeliner terpasang dengan simetris antara kiri dan kanan mata. Namun, ia mengernyitkan dahi karena melihat pantulan Ayahnya di cermin yang belum kunjung meninggalkan kamarnya, seperti ada sesuatu yang ingin beliau katakan pada Laila.

"Kenapa Pi?" tanya Laila.

"Hmmm La, Papi harap kamu mempertimbangkan perjodohan kamu dengan Arjuna ya. Bukan tanpa alasan Papi memilih dia sebagai calon suamimu, Pap-"

Belum sempat Ayahnya selesai berbicara, Laila sudah memotong, "Pi stop, jangan bahas itu dulu. Laila mau seneng-seneng loh hari ini dan tujuh hari ke depan, jadi please jangan beratkan Laila dengan hal itu dulu."

Ayahnya hanya membalas dengan anggukkan, tak lama keluar dari kamar Laila.

Laila bertekad untuk bersenang-senang dan menghilangkan beban pikirannya untuk tujuh hari ke depan dan baru akan mempertimbangkan lagi perjodohan itu setelahnya.

Tepat pukul setengah lima pagi, taksi jemputan Laila sudah berada di depan rumah. Di dalam taksi sudah ada Keira dan Tasya, mereka turun sebentar untuk menyapa Ayah Laila.

"Om." Sapa keduanya dan lanjut salam dengan Ayah Laila.

"Selamat bersenang-senang kalian, tetap saling jaga satu sama lain ya."

"Siap Om!" Kompak Keira dan Tasya bersikap seperti prajurit memberi hormat kepada atasannya.

Ayah Laila hanya terkekeh melihat tingkah keduanya.

Laila memeluk erat Ayahnya, sejauh ini baru kali ini Laila berkonflik sedikit lama dengan sang Ayah. Karena biasanya Laila adalah anak ceria yang manja sekali pada Ayahnya.

"Papi jaga kesehatan, jangan lupa olahraganya dikencengin," pinta Laila. Bukan tanpa alasan Laila berkata demikian, karena akhir-akhir ini kesehatan Ayahnya mulai menurun.

Dirga berdiri cukup lama di luar pagar untuk melihat kepergian putrinya yang cukup jauh kali ini.

Sementara itu di dalam mobil taksi, Tasya memastikan lagi pada Laila bahwa Devan juga sudah berangkat menuju bandara. "La, Devan udah berangkat ke bandara kan?"

"Udah Sya tenang aja, gue udah wanti-wanti kok ke dia biar gak telat," jawab Laila.

Hari ini mereka memilih penerbangan pagi, dengan tujuan sampai Bali nanti masih bisa eksplor sebentar sebelum istirahat.

"Btw girls, gue minta ke kalian buat rahasiain dulu ya tentang perjodohan gue itu dari Devan," pinta Laila. "Gue butuh waktu buat ngomong sendiri nanti sama Devan," lanjut Laila.

"Tenang aja La, rahasia lo aman sama kita," ucap Keira. Tasya mengacungkan jempolnya pertanda setuju.

"Jadi gimana kemarin itu La, si Arjuna itu beneran mau dijodohin sama lo?" tanya Tasya.

"Iya Sya, tapi teori liar lo yang kemarin lusa itu salah besar ya. Si Arjuna itu emang pure dipilih Papi gue buat dijodohin sama gue karena itu harapan Mami gue di surat peninggalannya."

"Hah? Surat?" Kedua sahabat Laila bingung mendengar kata surat yang Laila sebut.

"Iya lo gak salah denger, gue dijodohin karena surat yang jatohnya itu surat wasiat dari Mami gue. Semalem Papi gue nunjukin surat peninggalan Mami, yang isinya kurang lebih mau gue menikah dengan pilihan Papi. Karena Mami percaya kalau pilihan Papi itu yang terbaik buat gue," jelas Laila.

Dia memberi jeda setelah menjelaskan, "Dan yang dipilih Papi buat dijodohin ke gue itu, ya si Arjuna itu."

"Okei, gue udah mulai nangkep nih alasan dibalik perjodohan lo yang tiba-tiba itu. Tapi La, apakah harus saat ini juga lo menikah sama si Arjuna itu?" tanya Keira.

"Terus, gimana nasibnya Devan La," sambung Tasya.

Laila menatap lekat kedua sahabatnya itu, matanya kembali berkaca-kaca. "Gue gak tau Kei, Sya. Gue bingung banget sama situasi sekarang."

Laila yang duduk di tengah kedua sahabatnya lekas dipeluk oleh keduanya untuk menenangkan Laia.

"Yaudah, pikirin itu nanti aja sepulang dari Bali. Sekarang sampe tujuh hari ke depan mari kita hanya bersenang-senang aja, kayak yang Papi lo bilang tadi," ujar Tasya.

"Iya Sya, maunya gue juga gitu. Semoga pas ketemu Devan nanti, gue bisa perlahan melupakan masalah ini sebentar," ucap Laila berharap.

...****************...

Sesampainya di bandara, Laila bertemu Devan. Matanya tak bisa membohongi kerinduan yang telah lama ia pendam untuk pacarnya itu. Laila berlari sambil memanggil Devan dan berakhir dalam pelukannya. Mereka cukup lama berpelukan erat melepas rindu, karena Devan beberapa minggu belakangan melakukan perjalanan dinas kerjanya di Bandung.

"Sayang aku kangen banget," ucap lembut Laila.

Devan menyelipkan beberapa helai rambut panjang Laila yang sedikit tertiup angin karena berlari ke arahnya tadi. "Aku juga kangen sayangku," balas Devan.

Sementara itu di belakang menyusul Tasya dan Keira yang mendorong troli penuh dengan barang-barang mereka untuk ke Bali.

"Udah udah, lanjut nanti aja mesra-mesraannya pas di Bali," sindir Tasya yang melewati mereka.

"Iya nih, duo bucin udah kebelet pacaran berdua," timpal Keira.

Sementara Laila dan Devan hanya bisa tersenyum canggung karena kedua sahabat Laila tadi.

Setelah menempuh perjalanan udara sekitar satu jam lebih, Laila dan yang lainnya sampai juga di Bali. Mereka melanjutkan perjalanan darat sekitar empat puluh menit untuk benar-benar sampai ke tempat tujuan yaitu Canggu. Mereka memilih penginapan yang dekat dengan semua tempat yang ingin mereka tuju selama seminggu nanti.

Selesai membongkar barang keperluan di kamar dan beristirahat beberapa menit, Laila dan yang lainnya memutuskan untuk bersantai di kafe sekitaran penginapan.

"Gue pesen mineral aja sama matcha satu, soalnya mau ngabisin bekel dari Papi."

Laila seperti terburu-buru melepas tas ke atas meja dan memilih pesanan untuknya. Melihat itu membuat Devan pacarnya heran. "Kamu kenapa sayang?" tanyanya.

"Aku kebelet sayang, guys gue ke toilet bentar ya," ucap Laila.

"Ehh mau ikut juga gue." Keira mengejar langkah Laila menuju toilet. Namun sebelum itu ia sudah memberitahukan pesanannya pada Tasya.

Beberapa menit setelahnya Laila dan Keira selesai dengan urusan mereka di toilet.

"Akhirnya lega banget gue," ujar Laila.

"Yok balik La," ajak Keira. Mereka kembali menuju meja sembari mengobrol.

"Gue udah gak sabar banget kita eksplor Canggu La, pasti seru banget yaa."

"Iya nih, apalagi nanti kita mau selancaran di pantai," ucap Laila excited.

Karena asyik mengobrol dengan Keira, Laila tak sadar ada orang di hadapannya dan tanpa bisa dihindar Laila menabrak seorang pria. Alhasil Laila hampir terjatuh ke belakang, namun dengan sigap pria yang bertabrakan dengannya tadi menangkap Laila.

Beberapa detik Laila bertatap mata dengan pria itu, sempat Laila terpesona dengan bola mata indah pria itu yang dominan dengan warna cokelat mencolok. Saat tatapan Laila berpindah ke wajah pria itu, wajah itu terlihat familiar.

"Lo!" teriak Laila.

...Bersambung... ...

Episodes
1 Kabar Buruk
2 Stalking Tipis-tipis
3 Sepucuk Surat
4 Trip Bali
5 Pria Itu Lagi
6 Sunset
7 Senyumannya Tak Berubah
8 Cemburu
9 Liburan Seru
10 Kebenaran yang Terungkap
11 Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
12 Rencana Besar
13 Seberkas Cahaya
14 Kebohongan Dimulai
15 Yakin?
16 Mengulur Waktu
17 Surat Izin Kawin
18 Semangkuk Mie Ayam
19 Pengakuan
20 Serangan Trio Macan
21 Misi Gagal
22 Pelarian Tengah Malam
23 H-1
24 Hari Pernikahan
25 Pertemuan Singkat
26 Malam Pertama?
27 Bertemunya Duo Kocak
28 Alasan
29 Kepulangan Budhe
30 Rencana Pindah Rumah
31 Realita Baru
32 Keruntuhan Hati Seorang Devan
33 Normal Day
34 Curhatan Hati
35 Pertengkaran Pertama
36 Gengsi Setinggi Langit
37 Pertanyaan Keramat
38 Sidak Pengantin Baru
39 Uno Game
40 First Date?
41 Kabar Baik
42 Tekad Sudah Bulat
43 Sisi Baik Yang Mulai Terlihat
44 Ketegangan Menyelimuti
45 Kecerobohan Keira
46 Donat Pelepas Penat
47 Bastian
48 Girls Time
49 Peluang
50 Segala Hal Punya Waktunya
51 The Power Of 'Orang Dalam'
52 Kesamaan Hobi
53 Bekal Dari Ibu
54 Dibalik Senyuman
55 Bekal Titipan
56 Kegagalan Bukan Kekalahan
57 Rasa Cemburu
58 Batasan Yang Jelas
59 Melepas Rindu
60 Melepas Rindu 2
61 Bohong
62 Amarah Yang Meledak
63 Tekad Menyelamatkan Pernikahan
64 Keegoisan Laila
65 Man To Man
66 Kebohongan Devan
67 Hilang Kendali (17+)
68 Kebohongan Besar
69 Harus Berpura-pura
70 Kehangatan di Gelapnya Malam
71 Terjerat Janji Manis
72 Janji Palsu Sang Manipulator
73 Pengakuan
74 Kecewa
75 Lelah Hati, Lelah Fisik
76 Runtuhnya Ego
77 Rencana Membuat Perangkap
78 Masuk Perangkap
79 Percobaan Lari Gagal
80 Pengecut Level Dewa
81 Mengikhlaskan
82 Perubahan Besar
83 Kejutan
84 Sisi Nakal
85 Teman Lama
86 In This Economy
87 Cerita Nostalgia
88 Saran Yang Tak Diminta
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Kabar Buruk
2
Stalking Tipis-tipis
3
Sepucuk Surat
4
Trip Bali
5
Pria Itu Lagi
6
Sunset
7
Senyumannya Tak Berubah
8
Cemburu
9
Liburan Seru
10
Kebenaran yang Terungkap
11
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
12
Rencana Besar
13
Seberkas Cahaya
14
Kebohongan Dimulai
15
Yakin?
16
Mengulur Waktu
17
Surat Izin Kawin
18
Semangkuk Mie Ayam
19
Pengakuan
20
Serangan Trio Macan
21
Misi Gagal
22
Pelarian Tengah Malam
23
H-1
24
Hari Pernikahan
25
Pertemuan Singkat
26
Malam Pertama?
27
Bertemunya Duo Kocak
28
Alasan
29
Kepulangan Budhe
30
Rencana Pindah Rumah
31
Realita Baru
32
Keruntuhan Hati Seorang Devan
33
Normal Day
34
Curhatan Hati
35
Pertengkaran Pertama
36
Gengsi Setinggi Langit
37
Pertanyaan Keramat
38
Sidak Pengantin Baru
39
Uno Game
40
First Date?
41
Kabar Baik
42
Tekad Sudah Bulat
43
Sisi Baik Yang Mulai Terlihat
44
Ketegangan Menyelimuti
45
Kecerobohan Keira
46
Donat Pelepas Penat
47
Bastian
48
Girls Time
49
Peluang
50
Segala Hal Punya Waktunya
51
The Power Of 'Orang Dalam'
52
Kesamaan Hobi
53
Bekal Dari Ibu
54
Dibalik Senyuman
55
Bekal Titipan
56
Kegagalan Bukan Kekalahan
57
Rasa Cemburu
58
Batasan Yang Jelas
59
Melepas Rindu
60
Melepas Rindu 2
61
Bohong
62
Amarah Yang Meledak
63
Tekad Menyelamatkan Pernikahan
64
Keegoisan Laila
65
Man To Man
66
Kebohongan Devan
67
Hilang Kendali (17+)
68
Kebohongan Besar
69
Harus Berpura-pura
70
Kehangatan di Gelapnya Malam
71
Terjerat Janji Manis
72
Janji Palsu Sang Manipulator
73
Pengakuan
74
Kecewa
75
Lelah Hati, Lelah Fisik
76
Runtuhnya Ego
77
Rencana Membuat Perangkap
78
Masuk Perangkap
79
Percobaan Lari Gagal
80
Pengecut Level Dewa
81
Mengikhlaskan
82
Perubahan Besar
83
Kejutan
84
Sisi Nakal
85
Teman Lama
86
In This Economy
87
Cerita Nostalgia
88
Saran Yang Tak Diminta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!